Bertemu dengan cinta pertama di ajang reuni sekolah, menumbuhkan kembali cinta lama yang memang belum terkubur sepenuhnya.
Wirra yang masih berstatus sebagai seorang suami, nyatanya tidak bisa melupakan pesona seorang Meyta setelah bertemu kembali dengan wanita itu.
Bagaimana akhir kisah Wirra dan Meyta? Sudikah Meyta menjadi yang kedua dari seorang Wirra? Atau, wanita itu akan meminta Wirra untuk meninggalkan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Asviana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30 - bagai disambar petir di siang bolong
“Kamu sudah meninggalkan aku selama hampir dua Minggu. Masa kamu akan kembali lagi ke sana setelah tiga malam? Ini tidak adil, Wir!”
Wirra menghela napas berat. Dia tau Meyta akan mempermasalahkan hal itu.
“Aku sudah berjanji pada Anna, Sayang. Aku tidak mungkin terus menerus ingkar padanya. Apa kamu ingat, kamu pernah memintaku untuk tinggal selama tiga Minggu? Padahal aku berjanji padanya hanya tinggal selama dua Minggu di sini. Dan aku kembali mengingkari janji karena ternyata aku tinggal bersama kamu selama satu bulan,” jelas Wirra.
“Aku tidak mau terus menerus ingkar janji pada Anna, Mey. Dia juga istriku,” lanjut pria itu.
Meyta mendengus kesal. Dengan gegas wanita itu memakai pakaiannya kembali. “Kalau begitu, kamu mending kembali ke sana sekarang saja. Atau sekalian saja kamu menceraikan aku!” ketus wanita itu.
Wirra kembali menghela napas berat. Kenapa Meyta tak pernah berusaha untuk mengerti kondisi dirinya? Wanita itu selalu keras kepala.
Wirra mengusap kasar wajahnya. Ternyata menikahi dua wanita tak semudah itu. Tapi, dia juga tidak mau kembali kehilangan Meyta. Dulu, dia pernah merasa sangat hancur karena kehilangan wanita itu. Dan Wirra tak akan membiarkan hal itu terjadi dua kali dalam hidupnya. Dia akan terus mempertahankan pernikahannya dengan Meyta.
Wirra pun menegakkan badannya dan mendekap erat Meyta.
“Sayang ... Apa kamu tau bagaimana aku bisa kembali ke sini, hari ini? Itu semua karena Anna sudah berbaik hati membujuk ibu. Dia tidak mau terus menerus melihat aku gelisah karena merindukan kamu. Aku tidak tega untuk kembali membohonginya,” lirih Wirra.
“Kalau kamu menceraikan aku, kamu tidak akan perlu lagi untuk membohongi dia!” ketus Meyta.
“Sayang ... Kalau pun aku menuruti keinginan kamu, kali ini. Pasti ibu tidak akan tinggal diam. Ibu mungkin akan datang ke menemui kamu dan mengamuk. Ibu sudah mengatakan hal itu.”
Meyta menoleh. Wanita itu memang begitu takut pada sang ibu mertua. Perbuatan yang dia lakukan dulu pada Wirra, membuat Meyta terus dihantui rasa bersalah.
“Tolong untuk mengerti aku, Sayang. Aku mohon. Kali ini saja, aku mohon kamu untuk mengerti. Aku akan mengunjungi kamu sesuai jadwal. Begitu juga dengan Anna. Dengan begitu, aku akan menepati janjiku pada Anna dan juga padamu. Aku juga ingin menjadi suami yang adil pada istri-istriku. Please... bantu aku, Mey.”
Mau tak mau Meyta menganggukkan kepala. Wanita itu akan berusaha untuk mengerti. Bukan karena Wirra memohon padanya. Meyta melakukannya karena dia takut akan ancaman sang ibu mertua. Dia tak mau mertuanya itu mendatangi dirinya dan mengamuk. Meyta takut jika sang ibu mertua akan membeberkan status dirinya sebagai istri kedua.
Saat dirinya masih menjadi kekasih Wirra dulu, pria itu pernah bercerita jika sang ibunda pernah mempermalukan wanita yang telah merebut suaminya.
Meyta pun bergidik saat mengingatnya. Dia tidak mau memiliki masalah dengan mertuanya yang ketus itu.
Dan Wirra pun merasa lega. Akhirnya dia bisa meyakinkan Meyta. Pria itu tak mau kembali ingkar janji pada Anna. Dia juga ingin memberikan kebahagiaan pada Anna seperti dia membahagiakan Meyta. Dia akan berlaku adil. Dan itu bisa terwujud jika Meyta bisa mengerti dirinya seperti Anna yang begitu mengerti dirinya.
Dan setelah tiga malam menginap di kediaman Meyta, Wirra kembali ke pelukan Anna. Wajah Anna begitu berseri saat melihat sang suami menepati janjinya. Hubungan antara Wirra dan Anna pun semakin hari semakin hangat. Begitu juga dengan kehidupan ranjang mereka. Hal itu membuat Anna semakin bahagia dari hari ke hari.
Namun, tidak begitu dengan Meyta. Wanita itu terus merasa resah karena Wirra tak lagi memprioritaskan dirinya. Pria itu bahkan terlihat selalu nyaman ketika menginap di kediaman Anna. Wirra bahkan tak lagi mau menjawab panggilan video darinya setiap malam.
Meyta pikir, setiap malam, ponsel Wirra ditahan oleh sang mertua. Namun, akhirnya Meyta mengetahui jika ibu mertuanya sudah tak lagi menginap di kediaman Anna sejak istri pertama Wirra itu sudah benar-benar pulih.
Jadi, kenapa sang suami tak pernah menjawab panggilan video dari dirinya setiap malam? Apakah dia sedang bersenang-senang dengan istri pertamanya? Apa pria itu tak mau waktunya bersama Anna tak mau diganggu?
“Apa yang dilakukan Anna pada Wirra? Wirra tak mungkin mengabaikan aku jika bukan karena takut pada ibunya. Apa Anna selalu mengadu pada mertua kami?!”
Meyta pun memutuskan untuk menanyakan hal tersebut, setelah satu bulan Wirra tak pernah menggubris panggilan video darinya setiap pria itu menginap di kediaman Anna.
“Aku hanya berusaha untuk bersikap adil, Sayang. Di saat aku dengan kamu, aku tak mau Anna mengganggu kebersamaan kita. Di saat aku sedang bersama Anna, aku pun hanya mau berfokus pada dia.”
Bagai petir di siang bolong, Meyta terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh Wirra padanya. Wirra berubah. Sejak pria itu mengurusi Anna di rumah sakit, Wirra benar-benar berubah. Wirra tak lagi menjadikan dirinya sebagai prioritas. Kata keadilan lah yang menjadi alasan pria itu. Padahal selama tiga bulan awal pernikahan, Wirra selalu menjadikan dirinya sebagai prioritas. Wirra selalu melakukan apapun yang dia minta.
Wirra selalu mengatakan jika dirinya adalah satu-satunya wanita yang dia cinta sejak dulu hingga kini.
Apakah sekarang sudah lagi? Apa kekurangan dirinya hingga Wirra berubah hanya dalam waktu tiga bulan. Padahal pria itu selalu terlihat agresif saat bersama dengannya. Tapi, Wirra tak memedulikan dirinya saat pria itu tengah bersama istri pertamanya.
“Apa Wirra mulai mencintai Anna?” tanya Meyta pada dirinya sendiri. Meyta pun seketika menggelengkan kepalanya. “Tidak. Itu tidak mungkin terjadi. Mereka sudah bertahun-tahun menikah tapi Wirra tak mencintainya. Mana mungkin kalau Wirra jatuh cinta padanya saat ini.”
Meyta kembali menggelengkan kepalanya. Dia tak mau menerka-nerka. Wanita itu langsung menanyakannya pada Wirra.
“Aku tidak tau apa ini cinta atau bukan. Hanya saja, dia benar-benar berubah sekarang. Walau tak seagresif kamu, tapi dia tak se kaku dulu.”
Meyta kembali terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan oleh sang suami. Tak pernah dia menduga jika Anna bisa membuat Wirra jatuh cinta. Padahal, sebelum menikah dengan Wirra, Meyta sangat yakin dapat merebut Wirra dari Anna dan memiliki pria itu hanya untuknya seorang.
Rupanya wanita itu sengaja merubah diri agar Wirra tak meninggalkannya.
Tangan Meyta mengepal. Dia merasa tak rela jika Wirra mulai membuka hatinya untuk Anna. Walau Anna adalah istri pertama sang suami, tapi dirinya adalah cinta pertama bagi Wirra. Dia tak mau cinta dan perhatian Wirra berkurang padanya karena Anna.
Aku harus bisa hamil. Aku akan kembali menarik perhatian Wirra. Wirra pasti senang jika aku mau mengandung anaknya. Bu Yulia juga pasti senang karena aku akan memberikannya cucu.
siapa tau meya bisa didepak
ngapain inget dia terus