Ria seorang gadis berdarah Aceh yang berasal dari keluarga sederhana. Saat duduk di SMP ia menemukan cinta pertamanya.
Di masa SMA Ria membentuk sebuah persahabatan antara dua perempuan dan satu laki-laki. Laki-laki tersebut berasal dari keluarga yang kaya raya, diam-diam laki-laki ini mulai jatuh cinta kepadanya. Bahkan, ketika Ria mendapatkan beasiswa kuliah ke Jakarta ia selalu mengikuti kemana Ria pergi.
BUGH...
Ria terjatuh di kamar kosnya.
Apa yang terjadi dengan Ria?
Siapakah yang akan menjadi belahan jiwanya?
Cinta pertama atau sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Farida Ariani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30 Berkahilah
Happy Reading untuk Crazy Up nya
😀😀😀
Enta langsung masuk ke dalam mobil bagian depan sebelah kanan, tempat setir mobil berada.
Aku masuk sebelah kiri mobil bagian belakang, sedangkan Farisya masuk kesebelah kanan mobil bagian belakang tepat dimana Enta duduk. Dan ia langsung duduk di sampingku.
"Kita makan dulu ya, rujak Blang Bintang suka?" Tawar Enta kepada Kami.
"Aku lapar nih Enta..". Ngeluh Farisya.
"Disitu juga ada makanan berat kok Far". Elak Enta.
Aku hanya tersenyum geli melihat tingkah laku Farisya, yang tidak bisa menyembunyikan rasa laparnya.
Dia mencubit tanganku, karena akhirnya Aku menertawakannya.
Enta hanya tersenyum melihat tingkah Kami dari kaca kecil yang ada di depannya yang berfungsi untuk melihat kendaraan lain yang ada dibelakang mobil.
Didalam mobil, Farisya sangat bersemangat bercerita. Sedangkan Aku dan Enta sekali-kali menanggapi apa yang dikatakan Farisya.
Akhirnya sampai juga Kami pada tempat yang dijanjikan Enta. Kami turun bersamaan lalu Enta menekan tombol kunci di kunci mobilnya. Secara otomatis Mobil Enta telah terkunci dengan sendirinya.
"Ayo.. Kita duduk disana saja. Biar bisa lihat pemandangan pesawat yang akan landas terbang atau mendarat". Bertiahu Enta.
Aku dan Farisya. sambil bergandengan tangan mengikuti arah jalan Enta.
Kami duduk tepat dipinggir sawah. Ada semacam saungan kecil berupa lesehan yang sengaja dibuat oleh pemiliknya. Untuk memanjakan si pelanggan yang datang.
Aku dan Farisya duduk berdampingan. Sedangkan Enta duduk di hadapanku yang dipisahkan oleh sebuah meja ditengah-tengah Kami.
"Kamu sering kesini ya Enta?".
"Iya Ria, Papa sering mengajak Kami kesini".
"Aku lapar, mana menunya". Ucap Farisya.
"HAHAHAHA". Enta kini tertawa terbahak-bahak, tak bisa menahannya lagi.
"Ria, Enta tu"
"Hehehe, sabar Far sayang". Farisya menutup wajahnya yang mulai memerah dengan kedua tangannya.
Aku dan Enta saling berpadangan sambil tertawa.
Lalu seorang pelayan datang mengantar menu makanan kepada Kami. Setelah mengantarkan menu. Dia meninggalkan Kami.
Ku berikan buku menu ke tangan Farisya, dan dia mulai asyik memilih makanan yang akan dipesannya.
"Aku mau nasi goreng pakai telur dadar saja, dan segelas teh manis dingin".
"Aku sama ya Enta".
Dengan cepat Enta menulis menu pesanan Kami di buku menu dengan pulpen yang diberikan pelayan tadi.
"Aku pesankan rujak juga buat kalian ya, enak rujak disini, sudah sangat terkenal".
"Berbagi saja Kami Enta, sepiring berdua, ya kan Farisya???".
"Iyes".
"Oke".
Lalu Enta langsung bangun, menuju ke pelayan yang sedang menunggu dekat meja kasir.
#20 menit kemudian
Semua pesanan sudah sampai dan dihidangkan rapi diatas meja.
"Terima kasih Bang" Ucap Enta.
"Kamu tidak makan Enta?".
"Aku masih kenyang, Aku pesan jus dan makan rujak saja, lagi pingen". Senyumnya merekah hingga tampak gigi putihnya.
"Seperti orang ngidam" Ledek Farisya.
Aku hanya tersenyum geli meihat tingkah para sahabatku ini.
"Berkahi persahabatan Kami Ya Allah" Hatiku berbisik seraya mengucapkan do'a dalam hati.
---0o0---
"Shhhrreeeeetttttttttt...........".
Suara bising sangat besar tiba-tiba keluar dari bandara hendak landas terbang meninggalkan daratan dan menuju langit lepas.
"Lihat.... ada pesawat....". Pekik Farisya kegirangan seperti anak kecil sambil menunjuk ke arah pesawat sedang lepas landas hendak terbang.
Aku dan Enta bersamaan melihat ke arah yang ditunjuk Farisya, dan pesawat itu sedang terbang dengan gagah perkasanya.
Aku masih terdiam melihat pesawat itu secara dekat. Sangat dekat. Suaranya seakan memekakkan telinga, sangat bising sehingga tak terdengar suara apapun selain suara pesawat itu sendiri.
"Aku belum pernah naik pesawat". Lirihku.
"Aku belum pernah naik pesawat". Sebut Farisya.
Enta hanya tersenyum.
Aku dan Farisya melihat kearahnya penuh tanya. Menunggu pengakuan darinya juga.
"Kenapa? Kenapa kalian melihatku seperti itu?" Gagap Enta bertanya kebingungan melihat Kami seperti janjian melihat kearahnya menuntut sebuah jawaban.
"Kamu pernah naik itu?". Tanyaku cepat.
"Apa?"
"Pesawat Enta.. Pesawat" Imbuh Farisya lagi tidak sabar.
"Oh..".
"Terus....". Aku mulai kesal dibuatnya.
"Mau tahu saja, atau mau tahuu.. banget???". Ucapnya mulai menjengkelkan.
"Ya sudahlah.. gak us...". Enta menyela jawbannku.
"Aku sekeluarga dulu pernah dibawa Papaku ke Jawa, Ke kampung Mama di Solo. Kami juga ada jalan-jalan ke Ibu Kota". Jelasnya kurang tertarik.
Enta melanjutkan untuk memakan rujaknya.
Aku dan Farisya tidak melanjutkan pembicaraannya. Kami tahu, Enta sedang tidak mau diajak bercerita.
Aku dan Farisya segera menghabiskan rujak yang dipesan Enta tadi.
"Benar-benar enak Enta ya rujaknya". Kataku senang.
"Dan tidak pedas". Imbuhku lagi.
"Aku tahu kalian tidak suka makan pedas, makanya Aku pesan ke Abang itu cabe rawitnya cukup 1 saja dan banyakin kacangnya". Enta mengangkat alisnya sebelah dan menyungging senyum hanya disebelah bibirnya saja.
Aku dan Farisya tersipu malu.
"Aku ke kasir dulu, Aku tunggu di mobil ya".
Segera Ku habiskan rujak yang tersisa 1 sendok lagi dan segera meminum air putih dan segera bangun lalu berjalan menuju mobil Enta bersama Farisya.
Aku dan Farisya masuk kedalam mobil, sudah ada Enta didepan sedang menyalakan starter mobilnya. Seketika mobil menjadi sangat dingin karena Enta sengaja menghidupkan pendingin udara di dalam mobilnya.
"Terima kasih banyak ya Enta, atas traktirannya". Ucapku bergantian dengan ucapan Farisya.
"Iya sama-sama". Dibelokkan mobilnya langsung ke arah kanan dan melajukan mobilnya dengan cepat sangat mahir dalam mengendarai mobil.
Aku sangat nyaman saat didalam mobil yang dikendarai oleh Enta.
"Jadi kita foto Ria?". Enta masih menyetir mobilnya lurus kedepan dengan tenang.
"Jadi ya!".
Tiba-tiba mobilnya berhenti tepat di depan studio foto "xxx" namanya.
"Yok turun, kita sudah sampai".
"Eh... sudah sampai saja ya".
Enta sengaja duduk ditengah, Aku dan Farisya berdiri tepat di belakangnya. Kami tersenyum manis dan...
"Klekkkk". bunyi kamera.
Selesai.
Flashback.
"Gimana nih posisinya?" Kataku.
"Kita berdiri saja semua". Bantah Farisya.
"Biar Aku yang duduk ditengah ya". Pintaku.
Enta salah tingkah dibuatnya.
Abang fotografer sampai tersenyum geli melihat tingkah kami yang sedang kebingungan.
"Bang, tolong atur gimana bagusnya?". Suara Enta menghentikan Aku dan Farisya yang sedang berselisih tentang posisi foto.
"Sedikit menunduk".
"Oke sip".
"Smile....".
Ucap Abang fotografer beruntun sangat bersemangat.
Flashback off.
Setelah membayar di kasir, Aku langsung keluar mengikuti jalan Enta dan Farisya menuju mobil dan bersamaan masuk kedalam mobil.
"Insya Allah, 3 hari lagi selesai fotonya". Jelasku tanpa diminta.
"Mau kemana lagi Nona-Nona?".
"Alhamdulillah Aku senang, makasih Enta". Kata Farisya.
"Alhamdulillah... Barakallah". Tambahku.
"Kita antar Farisya ya".
"Sip, sudah jam 17.30 nih". Lirikku ke jam yang tertempel ditangan kiriku.
"Makasih semua, Assalamu'alaikum". ucap Farisya sambil melambaikan tangan ke arah mobil yang segera melaju kedepan.
Aku masih duduk di belakang. Enta di depan.
Hpku berbunyi.
"Wa'alaikumussalam Ria, Aku lagi di gate nih. Kamu apa kabar?". One message received.
Aku tidak menghiraukannya.
"Kenapa Kamu tidak duduk di sampingku Ria sayang?, Aku berharap Kamulah yang akan berada di sampingku selamanya."Batin Enta berteriak.
"Makasih Enta untuk semuanya, Aku senang sekali". Ucapku di dalam mobil sebelum membuka pintu mobilnya.
"Sama-sama".
"Assalamu'alaikum". Aku melambaikan tanganku ke arahnya ketika sudah turun dari mobil dan menutup mobil juga berdiri menjauhi mobil tersebut.
Enta hanya mengklakson mobilnya tanda menjawab salamku dan pamit pulang.
Aku masuk ke rumah dengan mengucapkan salam dan langsung mencari kamus bahasa inggrisku.
"Gate". Ucapku lirih.
"Pagar". Bibirku melebar sangat senang telah menemukan artinya.
Selesai magrib, Ku buka kembali Handphone tadi. Aku berniat untuk membalas message yang belum sempat Ku balas tadi.
"Alhamdulillah Aku kabar baik. Dayat, gimana caranya agar Allah bisa memudahkan semua keinginan kita?" Ketikku sungguh pelan-pelan dengan hati yang sangat berbunga-bunga.
#5 menit kemudian
"Dekati sang Pemilik Perencana yang sesungguhnya. Seperti tahajud, Dhuha dan sering tilawah. Aku sering membaca surah Al-Waqi'ah setiap selesai magrib. Maka Allah akan memberikan apa yang kita mau. Insya Allah". Ku baca dengan penuh seksama dari balasannya.
"Makasih Dayat, ntar malam Kita tahajud ya".
Dan tidak ada balasan lagi.
Sudah ada beberapa nomor Hp temanku di Kontak Hp Ku. Termasuk Farisya dan Enta.
Aku tekan tombol new message.
"Assalamu'alaikum Enta, ni nomor Hp ku ya. By Ria"
"Wa'alaikumussalam, oke". Hanya dalam beberapa detik, Enta sudah membalasku.
Lalu Ku tekan lagi tombol new message.
"Assalamu'alaikum chubby, ini nomor Hp Ria ya, disave ya syg".
"Cie... Hp baru ni ye. Ok Sayang". Balas Farisya cepat.
Ku rebahkan tubuhku di atas kasur, dan Aku tersenyum bahagia. Begini rasanya punya Hp ya sahabat.
😅😅😅
#Pukul 02.00
"Dayat, tahajud yok".
One message sent. Selesai Aku tahajud dan berdo'a. Ku ambil hp di rak kecil tepat disebelah kananku dimana Aku shalat.
"Ria,,, bangun tahajud :)".
Enta mengirimkan Aku sebuah pesan.
"Alhamdulillah, terima kasih Enta". Aku membalas pesannya segera.
Lalu Aku tertidur kembali.
#Senin
Libur seminggu setelah bagi rapor.
"Hoammmmmm". Aku menguap besar sekali.
Kakak dan Adik sudah tidak ada di kiri kananku.
Ku lirik dinding dikamarku. Masih jam 07.00. Segera ku beranjak dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi, membasuh muka dan menggosok gigi.
Aku keluar dari kamar. Adik sedang asyik menonton acara tv kesayangannya. Ku lewati Dia dan Aku langsung menuju ke dapur. Ada Kakak sedang membantu Ibu di dapur.
"Masak apa Bu?". Ibu sedang asyik membolak-balikkan nasi dengan sendok goreng cukup besar ditangannya.
"Eh Ria, nasi goreng kampung Nak".
Aku duduk dikursi ruang makan, sambil melihat Kakak sedang memotong telur dadar yang sudah digoreng Ibu.
"Ria, uang 200.000 pemberian Nenek mau mau beli apa?" Tiba-tiba Kakak bertanya penasaran.
"Aku belum tahu". Aku lupa ada menyimpan uang dengan Ibu.
"Kakak kan ulang tahun. Buat acara ultah aja kak". Nyeletuk Adik dari ruang tv yang letaknya sebelahan dengan dapur.
"Memangnya boleh Bu?".
"Boleh, kalau pakai uang sendiri".
"Kuenya minta bantu Liani, dia kan pintar buat cake coklat yang enak". Kakak memberi saran yang brilian menurutku.
"Sweet seventeen" Imbuh Kakak lagi.
Aku hanya tersenyum.
"Aku bisa mengundang Dayat dan teman-teman SMP ku dulu". Lirih hatiku.
#Sore
Selesai shalat, Ku datangi rumah Liani dengan sepeda miniku. Sangat bersemangat berharap bisa bertemu dengannya sore ini. Sejak beda sekolah. Aku sangat jarang bisa bertemu apa lagi bercengkrama dengannya.
"Ria.. mau kemana?". Teriak Liani dari depan rumahnya yang sedang menyiram bunga.
Ku belokkan sepedaku ke dalam halaman rumahnya.
"Aku mau kesini". Spedaku tepat berhenti di depannya yang sedang berdiri dan sedikit mundur kebelakang, takut ditabrak oleh sepedaku.
"Eitsss". Besit Liani.
"Apa kabar Liani? Maaf Aku jarang main kerumahmu!". Wajahku sedikit ku tekuk tanda menyesal.
Liani tersenyum lebar sangat manis.
"Namanya juga sudah kelas 3, mana kita beda sekolah lagi. Aku juga minta maaf Ria".
"Ayo kita duduk disini". Ajak Liani lagi.
😁
suka banget sama karya kaka
salam dari *make sure you love me*
karya baru kak..
Tentang Kenangan💙 disini
Salam dari ❤️Sepenggal Kisah di Negeri Jiran❤️
di tunggu feedbacnya.. 😊