Nayla Putri Atmaja (21) seorang gadis riang yang tengah menempuh pendidikan di sebuah universitas swasta di kota Jakarta, tak pernah menyangka hidupnya akan serumit ini setelah ia bertemu dengan Bayu Pratama (30). Seorang dosen muda yang mengisi mata kuliah di semester lima. Selain menjadi seorang dosen Bayu merupakan seorang pengusaha muda. Pria yang cukup sukses dan berpendidikan tinggi, namun menyandang status duda beranak satu.
Entah disengaja ataupun tidak pertemuan mereka di kampus menjadi awal kisah cerita mereka dimulai. Hidup Bayu yang semula terlihat begitu datar, kini berubah menjadi sangat menyebalkan ketika takdir mempertemukan dirinya dengan sosok Nayla yang memiliki sikap menjengkelkan, merepotkan, banyak maunya, bicara sembarangan dan blak-blakan. Sangat berbanding terbalik dengan kehidupan Bayu yang terlihat begitu tenang, datar dan tertutup.
Mau tau kelajutan kisah mereka selanjutnya? Yuk simak terus cerita Jodoh Tak Diundang...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saputri90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JTD Bab 30
"Kenapa lo sewot banget kayanya, Nit?" tanya Anto yang sedang mengobrol dengan teman sales wanitanya yang lain.
"Tuh ada customer, gak mau gue layanin, dia maunya dilayanin sama cowok, lo ajah gih yang layanin dia," ucap Nita sembari menunjukkan keberadaan Nayla bersama putra sambungnya dan pengasuh putra itu yang kini tengah berdiri di depan salah satu mobil yang di pajang di showroom itu.
"Ok deh, makasih Nit, nanti kalau gol, lo gue jajanin bakpau deh ya," jawab Anto tersenyum senang melihat kearah Nayla.
Anto begitu senang Nita menyodorkan customernya itu untuk dirinya, "Akhirnya gue dapat customer juga hari ini, karena sejak kemarin gue apes banget belum dapat customer satu pun, keliatannya orang kayoh beneran nih, pasti beli gak cuma liat dan janji-janji besok balik lagi mau beli, tau-taunya gak balik dan tenggelam tanpa kabar," batin Anto yang terlihat begitu gembira.
"Iya. Udah gih sana samperin," perintah Nita yang mendorong Anto segera menghampiri Nayla.
Anto berjalan menghampiri Nayla bersama dengan Nita, dengan sopannya Nita memperkenalkan Anto sebagai sales marketing yang akan membantu Nayla untuk memilih mobil yang ia inginkan. Setelah selesai memperkenalkan Nita kembali berdiri di dekat pintu masuk untuk menyambut customer yang datang.
Tak lama ia berdiri di depan pintu, Bayu pun datang. Kedatangan Bayu membuat Nita dengan sigap segera menyapa Bayu, Nita tersenyum sangat ramah menyambut kedatangan Bayu dan tak lupa satu hal selain keramahan dalam menyambut kedatangan Bayu. Nita juga sangat mengagumi ketampanan Bayu seperti wanita lainnya di luar sana, meski wajah dingin dan muka datar seperti tembok yang ia pancarkan dari wajah tampannya tetap tak mengurangi pesona seorang Bayu.
"Ganteng banget tapi auranya gini amat ya, jadi horor gue," batin Nita yang mengagumi wajah tampan Bayu tapi merasa takut dengan aura dingin yang terpancar dari sikap Bayu yang ia tonjolkan.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu," sapa Nita pada Bayu yang sedang mengedarkan pandangannya mencari sosok istri kecilnya dan juga putranya.
"Kemana mereka? Bersembunyi dimana istriku dan para sekutunya?" tanya Bayu pada dirinya sendiri karena tak melihat satu oun batang hidung mereka.
Nita yang terus memperhatikan Bayu tanpa sadar mengikuti arah pandangan mata bayu yang mengedar ke seluruh penjuru ruangan itu.
"Maaf Tuan, ada yang bisa saya bantu? Tuan sedang mencari siapa?" tanya Nita sekali lagi kepada Bayu yang kini sedang memegangi ponselnya, tanpa memperdulikan keberadaan Nita yang sejak tadi bertanya dan menunggu satu jawaban dari mulut Bayu. Rasanya sakit sekali saat Bayu kembali mengacuhkan pertanyaan Nita.
"Ini dia tuli,budek, apa sombong ya? Dari tadi gue dikacangin aja, untung ganteng, coba kalau gak dah gue tendang dari sini," umpat Nita yang kesal dua kali diabaikan pertanyaannya oleh Bayu.
Bayu sadar betul Nita sedang mengumpati sikap acuhnya pada sales marketing itu. Alih-alih membalas, Bayu lebih memilih memainkan ponselnya, dari pada menjawab pertanyaan Nita, walau pun hanya menggunakan bahasa tubuh sepertinya Bayu berat untuk melakukannya. Tanya kenapa? Karena dia sangat membenci wanita, dan hanya pada Nayla sajalah rasa benci itu tak bisa ia rasakan.
Meskipun diabaikan Nita masih tak menyerah untuk mendekati Bayu, ia terus memperhatikan calon customernya itu, bukan calon laki ya. Bisa dijadiin sate taichan nanti sama Nayla, jika dia berani macam-macam dengan suaminya itu.
Nita terus melihat pergerakan Bayu, sepertinya ia sedang ingin menghubungi seseorang, dan benar saja, Nita melihat Bayu menghubungi seseorang yang entah siapa, ia pun tak mengerti. Jiwa kepo Nita yang meronta-ronta, membuat dirinya tetap berada disana untuk mendengar siapa orang yang sangat beruntung bisa dihubungi oleh Bayu, si pria tampan berwajah datar dingin dan tajir itu.
"Kamu dimana?" tanya Bayu pada Nayla yang sedang melihat interior mobil yang diinginkannya.
"Di showroomlah masa di sekolah Sultan," jawab Nayla dengan gaya nyolotnya.
Nayla belum sama sekali merubah cara bicaranya terhadap suaminya itu. Tidak ada kelembutan saat ia bicara dengan suaminya. Dia bisa lembut jika ada maunya saja. Bahkan saat sesi bercinta saja dia masih berbicara dengan gaya bar-barnya, sungguh Nayla adalah istri yang sangat unit dan memuaskan bagi Bayu.
"Ya maksudnya Mas, kamu ada di sebelah mana?" tanya Bayu lebih terperinci.
"Nah gitu, kalau nanya yang jelas, jangan irit bicara Mas, kamu gak akan jadi kaya kalau kamu irit bicara seperti itu," jawab Nayla dengan omelannya sampai ia lupa memberitahukan keberadaannya, bukan lupa sebenarnya tapi memang sengaja melupakan.
"Gak usah ceramah, kamu bukan Mama Dedeh, sekarang katakan kamu dimana? Jangan berharap Mas cari kamu, buang tenaga dan waktu tau gak," tanya Bayu yang harus ekstra sabar menghadapi Nayla yang selalu berbelat-belit.
"Iyalah tenaga Mas kan sudah habis buat ngadon adiknya Sultan tadi di mobil ya kan? Lagi pula aku gak usah di cari karena aku sudah ada dihati mu kan sayang?" ledek Nayla dengan tawa ditahannya, dia sudah mengetahui bahwa dia sudah menyulut emosi suaminya itu.
"NAYLA!!" pekik Bayu yang kesal terhadap istrinya yang tidak langsung to the poin memberitahukan keberadaannya dan malah bicara ngalor-ngidul seperti ini yang mungkin terdengar oleh putranya, pengasuh putranya bahkan salaha seorang sales marketing yang kini bersamanya.
"Nayla mulut kamu memang benar-benar harus di beri hukuman, agar tidak bicara sembarangan mengenai hal ranjang kita di depan umum," batin Bayu merutuki istrinya.
"Jangan marah Papi! Sabar dong sayang, aku masih di sini gak kemana-mana, takut banget sih kamu kehilangan aku," sahut Nayla yang makin memompa emosi Bayu dengan kembalinya ia menggoda sang suami dengan ucapannya yang tak jelas.
"Nay, sabar Mas ada batasnya, kamu gak jawab kamu ada dimana, oke. Mas akan tinggalin kamu, kalau begini caranya?" ancam Bayu yang berharap Nayla segera memberitahukan keberadaannya.
Jujur saja ia malas mencari istrinya kesana kemari, ia berharap menelepon istrinya akan jauh lebih mudah menemukannya tapi ternyata tidak Furguson. Nayla malah bertingkah menyebalkan dengan tak langsung memberitahu keberadaannya.
"Dah Papi hati-hati dijalan ya, biar nanti aku pulang di antar Mas-mas marketing yang muda dan ganteng ini, pasti dia akan lebih energik dibandingkan kamu yang sudah tuwir hahaha...yang mudah cape, dengkul lemas tak mampu berjalan mencari keberadaan istrinya," jawab Nayla yang seketika membuat emosi Bayu pecah.
Rahangnya terlihat mengeras dan menonjol begitu pula dengan urat tangan yang terlihat keluar jelas, saat ia mengepalkan tangannya. Tanpa banyak mengeluarkan kata-kata, Bayu segera menutup panggilan teleponnya, ia berjalan dengan langkah penuh emosi mencari keberadaan sang istri.
Nayla yang berada di belakang mobil seorang diri, terkikik geli membayangkan ekspresi Bayu yang marah pada dirinya.
"Pasti sekarang dia lagi darting gara-gara omongan gue hahahaha..." gumam Nayla dengan tawa renyahnya. Ia tak menyadari jika suaminya sudah ada di belakang dirinya. Mencari keberadaannya secepat kilat dengan bantuan Nita tentunya.
Segera Bayu menarik daun telinga istrinya itu sampai Nayla membalikkan tubuhnya menghadap dirinya, tarikan Bayu yang begitu kuat pada telinga istrinya itu, hingga membuat istrinya meringis kesakitan, "Aduh...duh, sakit Mas lepasin. Ampun..." rintih Nayla dengan menangkupkan kedua tangan di dadanya.
"Nakalnya mulut kamu Nay, selalu menggoda Mas dengan lelucon mu yang tidak lucu, kamu liat saja nanti ketika kita sudah sampai di rumah, Mas akan menghukum mu hingga tak bisa berjalan dengan benar," ucap Bayu saat melepaskan daun telinga Nayla dengan mata yang menyeringai.
"Hehehe...Maafin Nayla ya, Mas Papi," Nayla memeluk tubuh Bayu dengan manja. Kepalanya mendongak menatap wajah tampan suaminya yang nampak kesal pada dirinya itu.
"Tak ada maaf bagi mu, kamu harus di hukum," balas Bayu tanpa mau menatap wajah sang istri.
emang bener-bner si Nayla