Menikah karna ingin balas dendam. Inilah yang Verdiansyah lakukan pada seorang gadis cantik. Ia sengaja menikahi gadis tersebut untuk membalaskan dendam adiknya yang telah meninggal dunia.
Apakah yang akan terjadi? Akan kah Verdi mampu melanjutkan dendamnya? Atau malah jatuh cinta pada gadis yang ia nikahi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
"Bagaimana Nak Mela, apa sudah memberitahu Tuan Verdi, jika Nak Mela hamil?" tanya Bibi pada Melati saat keduanya kini sedang berada di ruang setrika. Bibi Menyetrika sedangkan Melati melioat baju yang telah bibi Setrika.
"Belum Bi." Jawab Melati sambil melipat pakaian.
"Loh Nak, kenapa? Harusnya kabar gembira segera disampaikan."
"Tapi Bi! aku takut kalau sampai.."
"Yakin lah, pasti Tuan Verdi bahagia mendengar kabar kalau kau hamil Nak."
Melati menghela nafas. "Semoga Bi." Ucap nya. "Tapi bukan itu yang aku takutkan Bi! aku takjt jika kemudian aku melahirkan dan harus dipisahkan dengan bayiku." Batin Melati sambil memgusap perutnya yang masih datar.
"Ouh iya Bi apa aku boleh bertanya?"
"Ada apa Nak? tanyakan saja."
"Bi, sebenarnya apa penyebab Veli meninggal? karna saat itu aku berada dikampung dan tidak tahu apa-apa."
"Nak Seli .." Ucapan Bibi terpotong kala Verdi tiba-tiba berdiri di depan pintu dan berhadem. Dan membuat keduanya menoleh kearah Pintu.
"Tuan." Sapa Bibi, sambil menunduk.
"Buatkan aku kopi." Titahnya dan melangkah pergi dari sana.
"Biar aku saja Bi." Timpal Melati sambil menahan tangan Bibi yang hendak pergi membuat kopi.
"Baiklah, kalau begitu Bibi lanjut menyetrika saja."
"Iya Bi."
Setelah membuat kopi. Kini Melati membawa kopi tersebut kekamar Verdi, Malati mengetuk pintu menunggu jawaban dari dalam sana tapi tidak ada sama sekali. Membuat Melati terpaksa memnuka pintu meskipun tanpa ada titah.
Melati berjalan perlahan sambil membawa nampan yang berisi secangkir kopi.
"Tidak sopan!" Kata Verdi
Melati terdiam mendengar ucapan Verdi barusan.
"Kau tidak sopan! Masuk kamar tanpa permisi. Dimana etika mu?"
"Tapi, tadi .."
"Tidak usah banyak bicara. Aku benci perempuan seperti dirimu"
"Memang sejak kapan kau menyukaiku?" Batinelati lalu meletakkan cangkir kopi di atas meja.
Verdi yang duduk di kursi memerhatikan tingkah Melati. Mata Verdi bahkan tidak berkedip sama sekali, membuat Melati salah tingkah. "Masih ada lagi?" Tanya Melati.
"Kapan kau hamil? Aku sudah bosan melihatmu!" ucapnya dengan tegas membuat Melati merasa geram.
"Hamil? tidak, tidak! Verdi tidak boleh tahu jika saat ini aku sedang hamil. Karna jika ia tahu maka..."
"Kenapa hanya diam saja, hhmm?"
"Aku belum hamil."
"Dasar mandul" Ejek Verdi. "Kau memang wanita yang tidak berguna sama sekali. Sudah membunuh adikku, dan tidak bisa hamil, cihhh."
"Apa maksudmu dengan membunuh Veli? aku tidak tahu sama sekali tentang adikmu." Bantah Melati.
"Mana ada pencuri yang mengaku. Maka penjara akan penuh"
"Aku tidak membunuh dan tidak pernah membunuh adikmu." Teriak Melati tegas. "Membunuh binatang kecil saja aku tidak bisa dan tak tega, apalagi jika membunuh manusia!"
Verdi yang tak terima di bentak dari Melati, langsung berdiri dan menghampiri Melati. Verdi mencengkram kedua pipi Melati dengan satu tanganya. Hingga membuat Melati sulit untuk berucap.
"Jangan sekali-kali berani teriak di depan ku."
"Hhmm, Hhmmm" Melati berusaha melepas cengkraman Verdi namun sangat sulit.
"Jika kau seperti itu lagi, maka tidak segan-sengan aku melenyapkan mu." sentak Verdi dan melepaskan cengkramannya di pipi Melati.
"Silahkan! Silahkan lenyapkan saja nyawaku. Biar hidup ku tidak lagi menderita bersama setan seperti dirimu "
'Plakkkkk' Satu tamparan mendarar dipipi mulus Melati, membuat Melati memengang pipinya yang terasa panas. Dan darah segar mengalir dari sudut bibir Melati.
"Kau!" Lirih Melati
"Sekali lagi kau teriak dihadapanku maka....
smw pada gantung ceritanya