Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Jose menelan ludah. Keringat dingin menitik keluar dari pori-pori di punggungnya, bergulir turun sampai pinggang. Jantungnya berdebar kencang.
Aku harus pergi.
Ia menyingkirkan helai rambut di depan keningnya, kemudian memutar pergelangan kaki dan bersiap untuk loncat, tepat ketika pergelangan tanganya dicekal dan ia ditarik mundur selangkah ke belakang.
Jose hampir terjengkal. Ia menoleh kaget, mendapati baik Marco maupun Rolan sudah ada di belakangnya. Rolan mencengkeram pergelangan tangan kirinya.
“Apa yang kau lakukan di sini, Jose?” Rolan bertanya heran. Wajahnya lunak dan ramah, tetapi cengkeraman tangannya mengeras. Jose meringis.
“Mengendap-endap seperti tikus di sarang kucing," Marco mengomentari dengan kritis.
Sebenarnya dua orang tersebut adalah kombinasi yang lucu dilihat bagi Jose. Marco mengenakan setelan formal yang kaku, dengan kemeja dilapis vest serta jas hitam terbuka dan celana kain hitam seperti hendak melayat. Bahkan dasi longgar pun terikat di kerah kemejanya. Di sisi lain, Rolan terlihat sangat kasual. Ia memakai celana hitam lusuh dan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku. Rambut cokelatnya terlihat berantakan secara alami, mengusung kesan ramah natural. Tangan kirinya membawa cangkir teh yang sudah kosong. Hanya ada sisa air keemasan di dasar cangkir keramik tersebut.
“Kau hilang tanpa pamit, ternyata masih ingat pulang untuk sarapan,” Rolan berkata ceria. Tangan kanannya melepaskan cengkeraman di pergelangan tangan Jose secara perlahan, seolah tidak mau membuat gerakan mengejutkan yang akan membuat Jose kabur.
Jose melirik, baru menyadari arah matahari. Matahari ada di samping kirinya sejak tadi, membuat bayangannya jatuh memanjang pada sisi kanan tikungan tembok. Paman-pamannya pasti sudah melihat bayangan itu, makanya mereka mengalihkan topik jadi ke soal cuaca dan panas yang membosankan.
Setidaknya tanganku tidak dicekal lagi, pikir Jose lega. Ada sesuatu yang mengerikan dalam cara Rolan mencekalnya barusan. Tangan itu seperti penjepit besi yang dingin dan keras.
“Kapan kau pulang?” tanya Marco dengan pandangan menyelidik.
Pamannya yang satu itu memang selalu memberi pandangan menyelidik atau mengkritisi, tetapi Jose merasa yang sekarang ini terasa lebih menakutkan. Kulit punggungnya meremang dan kakinya serasa ingin segera loncat menjauh dari situ. Ia menggeleng pelan, tertawa sambil berkata kaku, “Aku baru saja sampai. Kenapa memangnya? Paman sedang pesta minum teh di luar?”
“Oh, aku tadi cuma iseng saja,” jawab Rolan saat melihat arah pandang Jose tertuju ke cangkir tehnya yang sudah kosong. “Marco bilang, minum teh sambil melihat tumbuhan akan terasa nikmat. Bagiku tidak ada bedanya.”
Kedipan mata Rolan terasa bersahabat, tetapi aliran dingin yang menyelip di antara mereka membuat Jose menggigil. Ia tertawa lagi, kali ini dipaksakan. “Sekarang sudah jam sarapan, sebaiknya kita ke ruang makan.”
Sebenarnya perutnya sekarang terasa mulas dan tak nyaman, tetapi tentu saja Jose tidak akan mengatakan hal tersebut. Ia berjalan melewati kedua pamannya. Baru lima langkah kakinya menapak, Rolan sudah memanggil.
“Kenapa?” Jose tidak berpaling. Ia bisa merasakan debar jantungnya menguat.
“Tidak, aku cuma ingin bertemu dengan Maria. Kalian masih sering mengobrol, kan? Sudah lama kami tidak bertemu.”
Kali ini Jose membalikkan seluruh tubuhnya. Ia menatap Rolan tegang. “Untuk apa?”
“Tidak apa-apa, cuma ingin ketemu saja,” Rolan mengedikkan bahu. “Kalian kan teman sejak kecil. Aku ingat, terakhir kali bertemu dengannya, dia masih setinggi ini,” Dia mengukur tinggi sampai ke perut, kemudian melemparkan senyum ceria. “Bagaimana? Bisa tidak? Tanyakan padanya, ya? Bilang aku mengundangnya makan siang. Kalau kau yang mengundang, dia pasti datang.”
“Baiklah, akan kusampaikan,” jawab Jose, lega karena ternyata pamannya tidak mengungkit hal-hal yang aneh atau bertanya macam-macam. Setidaknya persoalan Maria akan membuatnya melupakan sejenak soal kasus Higgins dan Sir William.
Sir William.
Bukankah Maria mengincar orang itu? Jose tidak berani menoleh. Ia menaiki tangga batu berwarna hitam, menyusup masuk ke dalam rumah melalui koridor samping. Benaknya ribut memikirkan apa yang akan terjadi. Apa Paman Rolan mengundangnya karena sudah mengetahui hal itu? Apa yang mau dilakukannya pada Maria?
Namun tidak ada gunanya memikirkan itu sekarang. Ia sudah telanjur berjanji kepada pamannya untuk mengundang Maria makan siang.
Jose menelepon Maria pukul sembilan pagi, berharap saat itu Maria sedang pergi. Setidaknya ia bisa berkata bahwa ia sudah mencoba menghubungi tapi tidak tersambung.
Harapannya tidak terkabul. Pelayan Garnet menyambungkannya kepada Maria.
“Halo, Jose, kenapa?”
“Hei, aku tidak mengganggumu?"
“Tidak. Aku ada kelas musik nanti siang, tapi sekarang tidak melakukan apa-apa. Tumben kau menelepon." Maria tertawa renyah di seberang, terdengar semerdu malaikat. “Kenapa? Kau butuh sesuatu?”
“Tidak, hanya saja ... kau tahu, pamanku yang dari pihak ibu, yang jadi dokter itu ... kau masih ingat dia?” Jose berharap Maria akan berkata tidak.
“Dokter Rolan, kan? Tentu saja ingat! Dia orang yang sangat ramah dan baik! Kenapa dengannya? Oh, jangan bilang terjadi sesuatu yang buruk! Ini bukan kabar buruk, kan?”
Jose mendesah. Ia masih tidak tahu apakah ini akan jadi kabar buruk atau tidak. “Tidak, kok. Dia mengundangmu makan siang selagi berada di Bjork. Itu saja. Dia sering ke sini tapi kalian kan jarang sekali bertemu."
"Bukan jarang, tapi memang sudah tidak pernah bertemu sejak ... berapa, ya? Empat tahun, kurasa?"
"Tapi kalau kau ada kelas, akan kubilang bahwa kau tidak bisa. Tidak perlu sungkan.”
“Kelasnya mulai jam dua. Makan siangmu dimulai jam berapa?”
“Jam satu, tidak perlu dipaksakan, aku tidak mau kau jadi terburu-buru nanti.”
“Ah kau bicara seperti dengan siapa! Ini kan aku, Maria! Jadi, nanti jam satu, ya? Apa aku harus pakai pakaian tertentu? Ini makan siang dalam rangka apa?”
“Makan siang biasa,” Jose tersenyum kecil. “Pakai pakaian biasa saja, pamanku cuma butuh seseorang untuk mendengarnya menyombongkan diri. Dia cerewet sekali dan aku harap tidak akan membuatmu mati bosan.”
“Yang benar saja!” Maria tertawa lagi. “Paman Rolan selalu jadi kesukaanku! Dulu dia biasa memberiku permen lolipop! Oke, aku akan ke sana jam satu tepat!”
“Tidak, aku yang akan menjemputmu.”
***
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞