Yuri, gadis polos yang menjadi korban kedengkian sepupunya, harus kehilangan kekasih bahkan pergi meninggalkan keluarga dalam keadaan hamil. Lima tahun kemudia, Yuri kembali bersama anak laki-lakinya yang cerdas. Yuri kini telah berubah, dia kembali untuk menemukan ayah dari anaknya serta mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Yuri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoemi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemauan Kei
Yuri tiba di apartemen Hana dikawal anak buah Kei. Sebenarnya Yuri sangat tidak nyaman dengan keberadaan anak buah calon suaminya tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hana begitu Yuri masuk ke apartemen. Demi menunggu kedatangan Yuri, hari ini Hana megambil cuti kerja. Jatah cuti tahunan yang biasanya tidak pernah dia ambil.
"Laki-laki itu memang menyebalkan! Aku sangat membencinya," ujar Yuri.
Hana mengerutkan dahinya, pertanda masih merasa belum mengerti maksud sang teman.
"Semalam kalian tidak pulang. Sejujurnya aku sangat cemas meski kau mengatakan menginap di rumah Tuan Muda Yamamoto." Hana menunjukkan empatinya. "Apa mereka memperlakukanmu dan Lucas dengan baik?" tanya Hana lagi.
Yuri tak menjawab. Wajahnya ditekuk, tampak tak senang. Selain itu, bibir Yuri juga sudah manyun sedari tadi. Hal itu tentu sudah cukup memberi gambaran tentang suasana hati dan perasaan ibu satu anak tersebut.
"Di luar juga banyak pengawal, apa Tuan Muda Yamamoto tidak percaya padamu? Atau apa?" Hana semakin penasaran.
"Bantu aku mengemasi barang-barangku dan Lucas."
Yuri tak memberi jawaban atas pertanyaan beruntun sahabatnya. Wanita itu justru mengalihkan pembicaraan sembari sibuk membongkar almari dan memasukkan baju ke koper.
"Kau mau ke mana?" tanya Hana yang bertambah bingung dan heran.
Dengan sebal, Yuri menghentikan pekerjaannya. Dia lalu menatap Hana dengan mata berkaca-kaca. Sejenak kemudian, emosi Yuri meluap. Dipeluknya sang sahabat dengan erat.
"Terima kasih untuk semua bantuanmu selama ini. Mulai sekarang, aku harus pindah ke rumah laki-laki sombong itu," terang Yuri lirih.
Mendengar penjelasan sahabatnya, Hana malah terlihat sumringah dan penuh semangat.
"Jadi, kau dan Lucas akan tinggal di rumah Tuan Muda Yamamoto? Apa kalian akan segera menikah?"
Yuri semakin manyun melihat kegembiraan di wajah teman dekatnya itu. Dia merasa bahwa Hana justru memihak kepada Kei.
"Eh, apa kau memang lebih bahagia saat melihatku menderita?" protes Yuri. Matanya melotot memandang Hana. Ada raut ketidaksukaan, tetapi sebenarnya itu bukan sebuah ekspresi kemarahan. Yuri tentu tidak akan sungguh-sungguh marah pada satu-satunya teman paling setia tersebut.
"Tidak perlu cemberut seperti itu. Sebentar lagi kau akan menjadi nyonya dari keluarga Yamamoto, kau seharusnya bahagia. Tidak akan ada orang yang berani menindasmu lagi kelak." Hana meyakinkan sahabatnya.
"Jika bukan karena Lucas, aku tidak akan bersedia menikah dengan laki-laki sesombong dan seangkuh itu!" gerutu Yuri sambil melanjutkan pekerjaannya mengemasi baju.
Hana menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
"Banyak wanita yang tergila-gila dan ingin menikah dengan Tuan Muda Yamamoto, kau yang beruntung bisa mendapatkannya malah terlihat tidak suka," goda Hana.
"Wanita-wanita itu pasti tidak normal otaknya. Bagaimana mungkin mereka bisa jatuh cinta pada orang sombong, tidak tahu diri, egois, dan keras kepala seperti itu!"
Yuri justru mengomel. Tak ada satu kebaikan pun tentang diri Kei yang bisa terlintas dalam ingatan Yuri. Memori wanita itu penuh dengan sisi negatif dari ayah kandung anaknya.
"Eh, jangan terlalu membencinya seperti itu. Bisa-bisa kelak kau akan mencintainya hingga merasa setengah gila. Hahaha ..." canda Hana.
"Tidak akan!" tegas Yuri dengan cepat. "Sudah, jangan bicarakan laki-laki menyebalkan itu lagi. Bantu aku berkemas. Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat dan menemui manusia sombong itu lalu membuat kesepakatan."
"Iya ... iya ... akan kubantu mengemasi barang-barangmu dan Lucas." Hana pun mulai meraih beberapa barang dan menatanya ke dalam koper. "Kesepakatan apa yang ingin kau buat dengan lelaki tampan itu?" Rasa ingin tahu Hana tampaknya tak terbendung lagi.
"Kesepakatan untuk melindungi diriku dan Lucas," jawab Yuri enteng.
Hana tak melanjutkan pertanyaan lagi meski masih penasaran. Dia mengerti jika sahabatnya itu masih belum bisa menerima Kei dengan baik. Beberapa kali bertemu dengan Kei, Yuri memang selalu memperoleh pengalaman buruk. Hana paham, Yuri pasti butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan sikap Tuan Muda arogan yang ternyata adalah ayah kandung Lucas.
...****************...
Di tempat lain, Kei menyuruh sekretarisnya pergi ke pusat perbelanjaan. Tuan Muda yang tidak paham selera wanita itu, meminta sekretarisnya berbelanja aneka kebutuhan wanita, mulai dari baju, parfum, aksesoris, sepatu, tas, dan lain-lain. Termasuk perhiasan mahal. Semua itu tentu diperuntukkan untuk Yuri. Kei ingin menyenangkan hati Yuri dengan membelikan barang-barang yang wanita sukai dan butuhkan.
Sang sekretaris pun tentu tidak dapat menolak perintah bosnya tersebut. Lagi pula, dia juga merasa senang karena dapat berjalan-jalan di waktu kerja. Setidaknya dapat membuat otaknya sedikit santai tanpa beban kerja yang luar biasa berat di perusahaan. Lebih dari itu, pada dasarnya tidak ada satu orang pun yang bisa membantah kemauan Kei.
Berdasarkan apa yang didengar dari Shin, wanita yang baru setahun terakhir menjadi sekretaris itu tidak yakin jika Yuri akan menyukai barang-barang mahal yang dibeli Kei. Selain itu, dia juga sudah banyak membaca berita yang beredar di internet. Dalam penilaiannya, calon istri sang CEO bukanlah wanita materialistis. Membelikan banyak barang mewah bukanlah sebuah ide bagus untuk merebut hati wanita yang demikian. Namun, siapa yang berani menentang kemauan Kei? Tak ada yang berani, kecuali jika dia ingin kehilangan pekerjaan dan hidup menderita.
ceritanya bagus, tidak bertele-tele...dan seru...👏👏👏
keren bet Thor 👏🙏👏🙏👏