Untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada orang tua angkatnya, Arabella bersedia menyamar dan menikah dengan Fardhan, lelaki yang sebenarnya dijodohkan dengan kakak angkatnya.
Fardhan adalah lelaki berhati dingin yang terluka karena cinta sebelumnya. Meskipun dia tahu keluarga angkat Bella telah menipunya, tapi dia tetap menikahi gadis itu.
Tapi cinta masa lalu Fardhan hadir kembali, merusak apa yang sudah terjalin dan membuat dia dilema. Sementara Bella merasa bersalah karena sudah membohongi Fardhan dan Ibunya.
Akankah Fardhan dan Bella mampu mempertahankan rumah tangga mereka setelah semua rahasia terbongkar?
Atau justru berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZiOzil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Fardhan yang sedang diperjalanan pulang tiba-tiba teringat pada Bella, dia tahu wanita itu pasti marah karena kelakuannya tadi. Dan terbesit satu ide dibenaknya saat melewati deretan toko yang menjual perlengkapan wanita.
Hadiah, sepertinya setiap mahkluk yang berlabel wanita pasti menyukai hadiah. Tentunya termasuk Bella pastinya.
Iya, Fardhan akan meminta maaf melalui sebuah hadiah, tanpa perlu menyampaikan maksudnya. Bella pasti luluh.
Begitu tiba di rumah, Fardhan langsung mencari sosok Bella, tapi wanita itu tak ada dimana-mana.
"Bu, dia dimana?"
"Karina?"
Fardhan mengangguk.
"Tadi katanya mau ke mini market sebentar, ada yang mau dia beli." jawab Ranti.
"Mini market mana?"
"Paling ke alfamaret. Sebentar lagi juga pulang, soalnya perginya sudah dari tadi." sahut Ranti.
"Ooh."
"Kenapa pulang-pulang langsung nyariin Karin? Kangen, ya?" goda Ranti.
"Ibu apaan sih?" Fardhan melengos dan bergegas kabur.
Ranti tersenyum geli melihat wajah merah sang putra.
Sementara itu di dalam kamar, Fardhan menyimpan hadiah yang dia belikan untuk Bella di atas meja hias, dia menulis sebuah pesan di secarik kertas lalu menyelipkannya di bawah hadiah itu.
"Semoga kau menyukainya dan memaafkan ku." ucap Fardhan penuh harap.
***
Bella baru saja keluar dari mini market dan sedang berdiri menunggu angkutan umum, tepat saat itu Danar kebetulan lewat didepannya.
"Bukankah itu istrinya Fardhan? Sedang apa dia?" Danar mengernyit heran.
Danar segera menepikan mobilnya dan bergegas turun menghampiri Bella.
"Hai, Nona. Kau ini istrinya Fardhan kan?"
Bella memandang Danar dengan tatapan bingung. "I-iya. Kau ini siapa?"
Danar memperkenalkan diri. "Aku Reksa, temannya Fardhan."
"Oh, maaf, aku nggak tahu. Aku Karina." balas Bella.
"Karina, namamu secantik orangnya." puji Danar sambil tersenyum penuh arti.
Bella hanya tersenyum, tanpa membalas perkataan Danar itu.
"Maaf, waktu itu nggak datang ke acara pernikahan kalian, aku sedang di luar kota." ujar Danar bohong.
"Nggak apa-apa."
"Oh iya, kau sedang apa disini?" tanya Danar.
"Aku mau pulang, habis belanja." jawab Bella sembari menunjukkan bawaannya.
"Kalau begitu, mari aku antar pulang?"
Bella menggeleng. "Eh, nggak usah! Aku bisa pulang sendiri kok, lagian entar nggak enak dilihat orang.
"Tapi aku kan temannya suamimu, sepertinya nggak masalah kalau cuma sekedar mengantarkan pulang."
"Tapi tetap saja kau itu bukan mahram ku, kau orang lain yang jelas akan menimbulkan fitnah jika aku pulang bersamamu. Jadi maaf, aku nggak bisa menerima ajakan mu."
Danar terkesima mendengar ucapan Bella. Dia berusaha menenangkan diri agar terlihat baik. "Ok, aku minta maaf. Aku nggak bermaksud apa-apa, cuma ingin menawarkan tumpangan."
"Nggak apa-apa kok, aku menghargai niat baikmu dan sebagai teman suamiku. Kalau begitu aku permisi dulu, angkotnya sudah datang." Bella bergegas pergi.
"Iya, hati-hati." Danar memandangi kepergian Bella dengan tatapan yang tak terbaca.
"Cantik, sederhana dan terhormat. Sepertinya aku berubah pikiran." ujar Danar sambil menyeringai.
***
Bella sudah pulang, setelah mengucapkan salam, dia segera berjalan ke dapur dan meletakkan barang belanjaannya di meja makan.
"Banyak sekali belanjaannya?" tanya Ranti demi melihat beberapa kantong plastik penuh dengan barang-barang kebutuhan pokok.
"Mumpung keluar, Bu. Jadi sekalian aja beli yang dibutuhkan." jawab Bella. "Kalau begitu aku ke kamar dulu, mau ganti baju."
"Iya, pergilah. Fardhan juga sudah nungguin kamu."
Bella mengernyit heran. "Nungguin aku?"
"Iya, tadi pulang-pulang dia nyariin kamu. Mungkin ada perlu, sudah sana temui dulu."
"Oh. Iya, Bu. Aku ke kamar dulu."
Ranti mengangguk sambil tersenyum senang.
Bella masuk ke kamar dan mendapati Fardhan sedang duduk di sisi ranjang sambil memainkan ponselnya.
"Kata Ibu, tadi kau nyariin aku. Ada apa?" tanya Bella tanpa basa-basi.
"Nggak ada apa-apa." jawab Fardhan tak acuh, dia masih fokus pada layar ponselnya.
"Aneh sekali, nyariin tapi nggak ada perlu apa-apa." gerutu Bella sambil berjalan ke lemari pakaian.
"Kenapa kau lama sekali?" Fardhan bertanya dengan nada datar.
"Oh, tadi aku bertemu dengan temanmu dan mengobrol sebentar. Namanya Reksa." Ratu membuka lemari dan memilih sepotong kaos lengan pendek dan rok plisket selutut.
Fardhan sontak menoleh Bella dengan alis yang tertaut. "Temanku? Reksa?"
"Iya. Kenapa bingung begitu?"
"Tapi seingatnya, aku nggak punya teman yang namanya Reksa."
"Tapi dia mengaku sebagai temanmu, dia juga mengenaliku sebagai istrimu. Bahkan dia menawarkan diri untuk mengantarkan aku pulang, tapi aku tolak karena aku nggak mau jadi fitnah."
Fardhan bergeming, dia berusaha mengingat mungkin saja pernah berteman atau mengenal seseorang yang bernama Reksa. Sebab nama itu seperti tidak asing ditelinga nya.
"Aku benar-benar nggak punya teman yang bernama Reksa." ujar Fardhan saat otaknya tak mampu mengingat apapun.
"Tapi kenapa dia bilang begitu? Dia juga kenal aku. Aneh sekali." Bella juga ikut-ikutan berpikir.
"Nanti aku akan cari tahu. Pokoknya mulai sekarang jangan sembarangan berbicara dengan orang yang nggak kau kenal, walaupun dia mengaku temanku atau pun teman semua orang. Bisa saja itu orang jahat yang ingin mencelakakan dirimu. Mengerti?"
Bella mengangguk patuh, meski sedikit bingung karena Fardhan mendadak cemas dan perduli kepadanya, padahal biasanya cuek. Lelaki itu memang seperti bunglon, bisa berubah-ubah.
Setelah menasihati Bella, Fardhan bergegas keluar kamar. Bella pun berjalan ke kamar mandi, tapi netranya menangkap sesuatu di atas meja hias. Sebuah kotak berwarna merah muda dengan pita di atasnya.
"Kado untuk siapa ini?" Bella memungut hadiah itu dan memperhatikannya dengan seksama. Dan matanya tertuju pada secarik kertas yang bertuliskan ....
^^^UNTUK KARINA.^^^
AKU MINTA MAAF UNTUK KEJADIAN TADI. SEMOGA KAU MENYUKAINYA.
^^^^^^FARDHAN^^^^^^
Bella tersenyum dan membuka kotak merah muda itu, dia terpana demi melihat sebotol parfum merk terkenal. Bella membuka tutup parfum itu dan menghirup aromanya yang begitu menawan dan terkesan elegan.
"Dia manis juga." ucap Bella sambil tersipu.
Bella pun menyimpan parfum itu kembali dan segera masuk ke kamar mandi.
Sementara itu di tempat lain, Keyla sedang berjalan lemah tak tentu arah sambil menyeret kopernya, air matanya tak berhenti menetes karena rasa sakit dan kesedihan yang teramat sangat.
Tapi tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di sampingnya dan seorang lelaki turun lalu menarik Keyla masuk ke dalam mobil.
"Hei, kau mau apa?" sergah Keyla sambil memberontak.
"Masuk!!! Atau kau akan mati!" ancam lelaki itu sambil menodongkan sebilah pisau.
Keyla yang ketakutan mau tak mau masuk, dan kemudian mobil itu melesat pergi.
***
jadi begini misalnya suami author punya teman cewek yang perhatian pada suami author (kayak perhatian raka dan bella) dan suami author dengan senang hati menerima segala kebaikan cewek itu, dan suami author berinteraksi dengan cewek itu kayak intraksi raka dan bella
bagaimana perasaan author
coba tanyakan pada dirimu thor
*jika kau Terima suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain (kayak interaksi raka dan bella) maka pola pikir mu tidak ada masalah
*tapi jika kau tidak suka suamimu berteman dan berinteraksi dengan cewek lain ( kayak interaksi raka dan bella), maka pola pikir mu ada masalh thor
renungkan lah
saat di novelmu, kau membenarkan seorang istri berteman dan diperhatikan pria lain dan semua interkasi sang istri dengan pria lain kau benarkan maka tanya kan pada dirimu sendiri apakah kau Terima juga jika suamimu punya teman cewek dan diperhatikan oleh cewek lain
renungkan lah