Hari pernikahan menjadi hari malapetaka yang akan membuatmu menjadi sosok yang begitu mengerikan.
Maria, itu adalah nama wanita itu, dan sang suami bernama Budi. di malam pernikahannya, Budi telah merencanakan sesuatu yang akan membuat kehidupan Maria benar-benar menjadi malapetaka yang begitu luar biasa.
"Kau harus tau, kalau kekasih dan keluarga kekasihmu telah menjualmu padaku!" seru pria yang bernama Alex Juan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shafrilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dasar ekor buntung
"Berani sekali kau!!" teriak Rina.
"Memangnya kenapa, dasar ekor buntung." jawab Maria yang kemudian pergi dari mini market tersebut.
Sedangkan orang-orang yang ada di minimarket nampak mereka terus menertawakan Rina yang disebut sebagai ekor buntung.
"Dasar ekor buntung!!" seru orang-orang yang ada ada di minimarket yang terus-menerus menghina Rina.
"Mungkin itu adalah karma dari semua kelakuan Rina, bahkan hari ini terasa Rina dipermalukan begitu hebat oleh Maria, padahal kata-kata Maria tidak ada kemarahan sama sekali. begitu santai hingga membuat orang-orang yang ada di minimarket itu terus tertawa hingga mereka keluar dari tempat itu.
Maria kini melangkahkan kakinya, wanita itu kembali ke perusahaan milik Fathan, tatapan mata seorang pria menatap Maria yang baru memasuki perusahaan milik Fathan.
"Nona Maria!!" seru salah satu partner bisnis Fathan. namanya adalah Riko dia adalah salah satu partner bisnis dari Fathan pria yang berusia 30 tahun. Pria itu benar-benar sangat terpesona dengan sekretaris Fathan tersebut.
"Aku benar-benar tidak mengira Kalau bertemu dengan Nona Maria disini." ucap Riko.
"Bagaimana kita tidak bertemu di sini Tuan, sedangkan di sini adalah tempat kerjaku dan anda adalah rekan bisnis dari atasan ku." jawab Maria.
"Anda sangat benar Nona." jawab Rico yang kemudian tersenyum sembari menatap Maria.
"Apakah anda mempunyai keperluan dengan Tuan Fathan?" tanya Maria.
Riko menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian wanita itu tersenyum sembari mempersilahkan Riko untuk masuk. tatapan matahari Riko menatap Maria yang menenteng tas belanjaan.
"Mari saya bantu Nona." ucap Riko.
"Tidak usah Tuan Riko, saya bisa membawanya saya akan menitipkan di resepsionis saja." jawab Maria.
Akhirnya Riko membantu Maria untuk membawa belanjaan tersebut ke resepsionis.
Sebuah senyum benar-benar telah mengembang, wanita itu akan menjadi idola di perusahaan Fathan dan beberapa pembisnis.
"Oh ya Nona Maria, Apakah nanti malam kau akan datang ke penjamuan para pengusaha?" tanya Riko.
"Entahlah Tuan, kau tahu sendiri kan saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dari tuan Fathan." jawab Maria.
"Baiklah kalau begitu Nona Maria, sebaiknya kita masuk ke dalam perusahaan. nanti malah Tuan Fathan mencarimu." ucap Riko.
Suara canda tawa terdengar dari kedua orang tersebut, hingga tatapan mata seorang pria yang sudah keluar untuk mencari keberadaan Maria. Terlihat Fathan menatap wanita itu.
"Kau dari mana saja Maria?" tanya Fathan.
"Nanti saja saya ceritakan Tuan, karena ada Tuan Riko yang ingin menemui Anda." jawab Maria yang kemudian mempersilahkan Riko.
"Apakah kau sudah minum kopi?" tanya Maria kepada Fathan.
"Belum, dari tadi aku menunggumu." jawab Fathan.
"Ya sudah kalau begitu akan kubuatkan terlebih dahulu." jawab Maria yang kemudian pergi untuk membuatkan Fathan kopi.
Tatapan mata Fathan menatap Riko yang sudah berada di perusahaannya,
"Apa yang anda lakukan di tempatku Riko?" tanya Fathan kepada Riko.
"Tidak apa-apa Tuan, saya hanya ingin berkunjung ke perusahaan anda saja." Jawab Riko yang tidak mungkin mengatakan kalau dia ingin bertemu dengan Maria.
"Apakah ada yang perlu kita bicarakan?" tanya Fathan.
"Saya hanya ingin mengajak anda untuk melihat salah satu lahan yang akan kita kosongkan dan akan kita bangun menjadi di perumahan." jawab Riko.
"Jangan hari ini Riko, Nanti malam kita akan ada pertemuan dengan para pembisnis, aku tidak ingin terlalu capek dan tidak bisa datang ke tempat itu." jawab Fathan.
Riko menganggukkan kepalanya, sesaat kemudian akhirnya pria itu berpamitan kepada Fathan.
"Kalau begitu saya akan pergi Tuan." ucap Rico.
"Tentu." jawab Fathan.
Tatapan mata Fathan terus menatap Riko yang telah pergi meninggalkan perusahaannya.
"Aku tahu kau ke sini bukan ingin bertemu denganku, aku yakin kau ke sini karena kau ingin mendekati Maria.." gerutu Fathan yang melihat punggung Rico telah menjauh. pria itu benar-benar merasa kesal karena melihat para pria terus mendekati Maria tanpa merasa bersalah kepada Fathan.
"Ada apa mas, Kenapa Wajahmu seperti itu? apakah ada seseorang yang telah membuatmu marah?" tanya Maria.
Tentu saja Fathan menatap wajah Maria sambil menghela nafas begitu kasar, wanita ini benar-benar tidak pernah merasa sama sekali,
"Bagaimana caraku untuk mendapatkan dia?" guman Fathan dalam hati sambil menerima kopi yang dibawa Maria.
"Ada apa mas?" tanya Maria.
"Nanti malam kau ikut denganku untuk menemaniku ke pertemuan para pembisnis itu." pinta Fathan.
"Apakah harus aku melakukan hal itu?" tanya Maria.
"Tentu saja kau harus melakukan hal itu, Sedangkan aku tidak punya teman wanita sama sekali. lalu Apakah kau mau membiarkan aku pergi sendirian tanpa pasangan." ucap Fathan yang membuat Maria menghela nafasnya begitu kasar.
"Kata-katamu seperti seorang balita yang kehilangan ibunya Mas." jawab Maria yang kemudian memberikan beberapa berkas kepada Fathan.
"Nanti aku akan menjemputmu sekitar jam 7, kau harus sudah bersiap-siap." ucap Fathan. Maria menganggukkan kepalanya, akhirnya wanita itu menerima permintaan Fathan untuk pergi bersamanya.
** bersambung **