Dianjurkan membaca Novel TK berjudul Lelaki Berkacamata agar lebih paham jalan cerita novel berikut ini.
Annemie, biasa di panggil Anne. Dia adalah anak yang cerdas, ceria dan baik hati. Dia dibesarkan di panti asuhan sejak masih bayi. Entah dari mana asalnya.
Berbanding terbalik dengan Anna teman sebayanya di panti asuhan. Meskipun Anna juga anak yang cerdas tapi dia lebih pendiam dan juga perasa.
Seiring berjalannya waktu, banyak cinta yang datang dengan cara yang tidak biasa. Ada Alan, Larry, dan Dinda yang mengelilingi mereka membuat cinta menjadi lebih rumit. Apakah mereka masih akan bertahan sebagai saudara atau saling benci karena cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab XXIX
Waktu memang tidak bisa berdusta
Waktu juga tidak bisa menipu
Apapun yang terjadi
Semua adalah ketentuan takdir
Aku sadar jika ada luka
Aku tahu hatiku tidak utuh
Aku mengerti jika semua tidak lagi sama
Aku hanya berharap hatiku tidak pernah goyah
*****
Bel istirahat berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas masing-masing. Ada yang lari ke kamar kecil, langsung pergi ke kantin, pergi ke kelas teman atau geng yang biasa bersama dan ada juga yang hanya diam di tempat duduknya.
"Kantin yuk!" ajak Alan pada Anna yang masih memberikan buku-buku pelajaran dan tugasnya.
"Aku lagi malas Al" jawab Anna tanpa menoleh.
"Ya udah ke koperasi saja beli Snack!" kata Alan lagi. Dia ingin mengajak Anna keluar kelas agar tidak bosen dan siapa tahu nanti ada Dinda yang datang dan membuly lagi.
"Tapi..." Anna tidak meneruskan kata-katanya karena di depan pintu ada Dinda yang berdiri bersama teman-temannya yang lain.
"Ya sudah ayok!" Akhirnya Anna berdiri dan menyetujui ajakan Alan. Tentu saja ini membuat Alan tersenyum senang. Padahal Anna hanya bermaksud menghindari masalah dengan Dinda.
Saat melewati Dinda yang masih berdiri di depan pintu mereka berdua menghentikan langkahnya. Dinda yang sebenarnya menghentikan dengan cara menegur Alan.
"Mau kemana kak?" tanya Dinda pada Alan yang berjalan beriringan dengan Anna.
"Kantin." Alan jawab singkat.
"Penuh!" Dinda memberi informasi tentang keadaan kantin.
"Biarin!" jawab Alan santai tanpa menghiraukan Dinda yang melihat ke arahnya dengan tajam.
"Kak!" Seru Dinda kesal.
"Apa sih? orang deket juga pake teriak gitu!" Alan sedikit kesal dengan tingkah Dinda yang tidak bisa berubah juga.
"Dinda sudah kasih tahu ya!" kata Dinda dengan mode ngambek.
"Sudah minggir, kami mau lewat!" Alan mencoba meminta jalan karena Dinda dan kawan-kawan masih berdiri di depan pintu sehingga tidak ada celah untuk lewat.
"Terus kenapa meski sama asisten?" tanya Dinda dengan menunjuk kearah Anna.
"Dia bukan asisten, dia pacar kakak!" jawab Alan sekenanya. Tentu saja jawaban Alan membuat Anna terkejut, begitu juga dengan Dinda dan kawan-kawanya yang lain.
"Serius kak, kapan jadian?" tanya Dinda penasaran.
"Barusan tadi!" Alan semakin membuat semua orang jadi penasaran dan juga tidak percaya begitu saja.
"Boong deh!" Dinda mengeleng beberapa kali karena merasa ada yang tidak beres.
"Beneran gitu Ann?" tanya Dinda yang beralih pada Anna. Dia yakin jika Anna tidak mungkin ikut permainan Alan yang membohongi dirinya.
"Eh... Ak... aku... aku..." Anna berkata dengan gugup karena tidak biasa berbohong. Tapi dia juga tidak mungkin membuat Alan malu saat ini.
"Tuh kan ketahuan boongnya!" sergah Dinda cepat karena reaksi jawaban dari Anna yang tidak biasa.
"Dia tentu saja malu Dinda!" jawab Alan membantu Anna yang wajahnya sudah terlihat pucat.
"Udah deh, entar kakak traktir kamu pulang sekolah di bakso dekat kompleks!" Alan mencoba menyakinkan Dinda kembali.
"Yeeee kok cuma Dinda, kita mana?" kata teman Dinda yang lain.
"Ogah!" jawab Alan cepat. Dia mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengusir gerombolan Dinda dan kawan-kawan yang masih menjadi penghalang pintu.
Dengan wajah ragu, Dinda menyingkir dari pintu. Memberikan jalan pada Alan yang segera mengandeng tangan Anna untuk segera pergi dari situ. Memamerkan kebersamaannya bersama Anna yang berwajah bingung.
Di perjalanan ke koperasi Anna mencoba melepas tangan Alan. Dia risih juga dilihat beberapa siswa siswi yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
"Al, lepas ih!" Anna meminta Alan yang masih saja memegang tangannya sedari tadi.
"Eh ya, maaf!" Alan segera melepaskan tangannya begitu sadar dengan permintaan Anna.
"Aku pikir kamu juga suka digandeng." Alan berkata dengan cengengesan dan tanpa rasa bersalah atas perbuatannya yang tadi.
"Alan, maksud kamu tadi apa coba ngaku gitu sama Dinda?" Anna bertanya tentang apa yang sedari tadi menjadi pertanyaan dirinya.
"Apa?" Tapi Alan malah pura-pura tidak tahu apa yang sedang ditanyakan oleh Anna.
"Kenapa tadi ngaku gitu sama Dinda?" tanya Anna memperjelas pertanyaannya.
"Oh, gak apa-apa. Biar dia gak macem-macem aja sih!" Alan berkata dengan entengnya. Dia tidak berpikir jika ada satu hati yang sedikit kecewa dengan penjelasan yang dia katakan.
Anna mengangguk mengerti. Dia sadar jika semua hanya perasaan semu untuknya.
Setelah keduanya sampai di koperasi, ternyata rame juga dan ada beberapa anak yang kenal dengan Alan juga.
"Woi bro, sejak habis tanding tak terlihat. Gimana kabarnya?" tanya Doni, teman satu tim di olah raga basket.
"Ahh biasa kak, tidak sibuk juga!" jawab Alan sambil tertawa kecil.
"Eh Al, gebetan nih?" tanya Doni saat melihat ke arah Anna yang hanya diam di sebelah Alan.
"Eh, teman sekelas. Biasa lah kak!" jawab Alan ambigu.
"Awas, jangan kadalan ya!" Doni memperingatkan Alan dengan nada bercanda.
"Wkwkwk... apaan kak?" tanya Alan sok polos. Padahal dia tahu apa yang di maksud oleh Doni.
"Oh ya, Dinda tuh sepupu kamu kan Al?" Tiba-tiba Doni ingat soal Dinda yang dia taksir.
"Dinda yang sekelas dengan aku kan?" tanya Alan memastikan.
"Iyalah, dinda mana lagi aku kenal?" Doni malah bertanya memberikan teka-teki.
"Siapa tahu ada Dinda yang lain yang kakak kenal. Nama Dinda kan gak hanya sepupu aku!" Alan tidak mau kalah berargumen.
"Iya, Dinda yang itu kok maksud aku." Akhirnya Doni mengalah juga.
"Kenapa, kakak naksir Dinda?" tanya Alan menebak.
"Kan udah lama Al!" Doni menjawab apa adanya.
"Eh, kenapa gak langsung saja ngomong anaknya?" Alan mempertanyakan sikap Doni yang sepertinya tidak gentle.
"Bukan gitu Al, tahu sendiri gimana sepupu kamu kan?" Doni berkata seperti seseorang yang kalah perang.
"Hahahaha.... Aku pikir kakak gak hanya jago di lapangan. Jago juga naklukin cewek. Kok malah begini ceritanya?" Alan tidak habis pikir dengan apa yang menjadi masalahnya.
"Dinda itu beda Al, jinak-jinak merpati gitu!" Doni memberikan alasan.
"Ya udah, pepet aja terus!" Alan memberikan dukungannya.
"Yakin bisa?" tanya Doni ragu.
"Hehehe... gak tahu juga." Alan cengengesan menjawab pertanyaan Doni.
"Ah... sial kamu!" Doni pun ikut tertawa dengan reaksi Alan.
"Ya sudah, kami mau jajan dulu kak!" Alan berpamitan karena merasa waktunya sudah terbuang lama.
"Ok, maaf menyita waktunya!" Doni pun melangkah keluar dari koperasi karena apa yang dia cari sudah dia dapatkan juga.
"Ann, buruan ambil yang mau kamu ambil. Nanti kita makan di taman saja." Alan memberikan waktu pada Anna untuk memilih makanan yang dia inginkan.
"Tapi Al..." belum sempat Anna meneruskan kata-katanya, Alan sudah melihatnya dengan mata memicing.
"Baiklah..." Anna pun mengalah karena tahu jika Alan sedang tidak mau dibantah.
lanjut...