Seorang mahasiswa baru yang bernama Alex mendapatkan panggilan jiwa untuk membela hak-hak rakyat yang dirampas oleh penguasa, perjuangan yang direalisasikan dengan turun ke jalanan menentang kebijakan yang tidak sesuai.
Hingga di suatu titik dia menemukan bunga revolusi bernama Diana yang menjadi pusaran semestanya. Ibarat kapal yang mengarungi samudra luas, dia menemukan pelabuhan untuk berlabuh dan menurunkan jangkar hatinya.
Alex yang terus berkembang hingga menjadi panglima perang di parlemen jalanan, dan selalu siap bertempur melawan ketidak adilan bagi rakyat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Syah Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prosa Asmara
Cinta, sebuah kata yang memiliki sejuta arti dan rasa. Seperti yang dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer. “Setiap benda memiliki bayangan, tak terkecuali dengan cinta. Cinta juga selalu dibayang-bayangi oleh rasa sakit dan penderitaan”.
Alex yang sedang dalam kereta untuk kembali dalam realitas kenyataan dan aktivitasanya lantas berpikir, bahwa jika cinta yang memiliki bayangan rasa sakit seperti yang dia alami belakangan ini, apakah dirinya harus takut untuk jatuh cinta?.
Betapa lemah dirinya jika harus takut kepada bayangan yang bahkan tidak dapat menyentuhnya. Bahkan benda mati juga memiliki bayangan, lantas apakah mereka takut pada bayangan mereka sendiri.
Inilah uniknya manusia, mereka terlalu banyak berpikir mengenai sesuatu yang bahkan hal itu tidak terjadi sama sekali. Hubungan Alex dan Diana saat masih berstatus teman, lantas mengapa pikirannya terlalu frontal hingga membuatnya terdistorsi mengenai rasa sakit yang berlebihan.
Kesadaran sekecil itu baru dia temukan setelah melalukan pendakian yang amat sulit, padahal jika dia dapat berpikir lebih dewasa sedikit saja, pemikiran itu akan muncul dengan sendirinya sambil rebahan di kamar yang hangat.
Sambil menertawakan dirinya sendiri, Alex sadar bahwa semesta sedang berkonspirasi untuk mengajarkan dirinya sebuah ilmu baru, khususnya ilmu kehidupan yang tak mungkin didapat pada sebuah buku.
Tetapi ada sesuatu hal yang paling penting harus dia lakukan ketika sampai nanti, yaitu menjelaskan dan meminta maaf. Itu yang dapat mengubah pemikiran, pandangan, dan rasa sakit untuk mereka yang mungkin berpikiran berlebihan tanpa mempertimbangkan.
Senja kian terbenam, hanya terdengar suara kereta yang sedang melintasi rel bebatuan. Alex yang pikirannya kini sudah tak terbebani oleh pemikiran yang tidak penting, merebahkan tubuhnya untuk dapat masuk ke alam mimpi.
***
Alex dan Beni telah tiba dikota tempat seluruh aktivitas harian mereka dimulai. Alex yang berencana setelah pulang bekerja nanti kembali ke rumah sakit untuk menjelaskan pada Diana.
Namun saat ini dia akan menjelaskan terlebih dahulu kepada Rosa mengenai isi hatinya dan kenyataan yang dia alami. Sambil mendengarkan dosen yang sedang mengajar di depan, Alex menjelaskan pada Rosa yang duduk di sampingnya.
“Rosa, ada hal penting yang harus saya jelaskan padamu. Meski kamu tidak mau mendengarkannya saya tetap akan menjelaskannya” (Alex)
“Kamu mau menjelaskan apa lagi Alex?, bukankah semuanya sudah cukup jelas sekarang!” (Rosa)
“Yang pertama saya saat ini hanya berteman dengan Diana, meskipun saya menaruh perasaan lebih terhadapnya. Kamu harus paham akan perasaan saya, seperti yang saya bilang kemarin bahwa perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan. Maaf jika itu membuat kamu terluka tetapi inilah apa adanya” (Alex)
Terlihat raut wajah kesal dari Rosa yang membuat Alex semakin tegang, akan tetapi bukankah menjelaskan lebih baik dari pada hanya diam dan harus tersiksa akan pikiran yang tak menentu.
“Baiklah Alex, saya mengerti. Mungkin saya cuma butuh waktu untuk dapat menerima semua itu” (Rosa)
Terdapat perasaan lega dalam hati Alex saat ini, Rosa akhirnya dapat mengerti mengenai isi hatinya. Namun tugas masih belum berakhir, masih ada Diana dan orang tuanya yang mungkin tidak menerima kedatangannya nanti.
Selepas bekerja Alex langsung bergegas menuju ke rumah sakit, hati yang berdebar sangat kencang dalam dada membuat dirinya ragu. Bisa jadi cacian dan makian dari ayah Diana akan memekakkan telinganya.
Setibanya di rumah sakit Alex terkejut karena melihat kamar Diana yang kosong, rasa penasaran dalam hati mengharuskan dirinya untuk bertanya kepada seorang suster.
“Permisi suster, saya mau tanya. Pasien yang bernama Diana ke mana ya?, saya barusan ke kamarnya tetapi tidak ada orang” (Alex)
“Pasien tadi pagi baru saja pulang mas, karena kondisinya yang sudah pulih selepas operasi jadi dokter mengizinkannya untuk kembali pulang” (Suster)
“Terima kasih informansinya suster” (Alex)
Tiga hari tak bertemu ternyata Diana telah selesai operasi, penasaran mengenai kondisi sang pujaan hati yang kian membaik Alex melesat menuju ke rumah Diana. Dengan berbekal martabak manis yang dia beli di jalan, berharap dapat sedikit meluluhkan hati ayah Diana nanti.
Di teras rumah terlihat ayah Diana yang sedang menyeruput kopi sambil membaca majalah yang diterangi oleh sinar cahaya lampu remang-remang membuat hati Alex kian berdebar kencang. Ada rasa keraguan untuk melangkah masuk, namun kembali dia bulatkan tekatnya.
“Selamat malam pak…” (Alex)
“Kamu lagi!, untuk apa kamu datang ke sini. Mau bikin anak saya sakit hati lagi?” (Ayah Diana)
“Tidak pak, justru saya ke sini untuk menjelaskan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kita” (Alex)
Mendengar keributan yang terjadi di luar rumah, ibunda Diana segera keluar. Berbanding terbalik dengan ayah Diana, ibunda Diana menyambut kedatangan Alex dengan hangat.
“Aduh, ada apa ini ribut-ribut. Malu didengar sama tetangga nanti. Nak Alex ayo masuk dulu, kita bicara di dalam saja” (Ibunda Diana)
Perlahan namun pasti, Alex melangkah masuk ke dalam rumah. Tatapan penuh kebencian masih saja ayah Diana berikan kepadanya, suasana hening menyelimuti ruang tamu kala itu.
Alex menaruh martabak yang dia belikan di atas meja dan memulai menjelaskan mengenai hubungan Rosa dan dirinya. Setelah panjang lebar menjelaskan, akhirnya ayah Diana dapat mengerti tentang problematika yang menimpa Alex.
Ibunda Diana kembali dari dapur dan bergabung besama mereka di ruang tamu, baru saja ibunda Diana meletakkan nampan minumana di atas meja. Ayah Diana melontarkan pertanyaan yang membuat Alex diam membeku.
“Jadi kamu serius dengan anak saya?” (Ayah Diana)
Pertanyaan yang monohok tersebut membuat Alex tidak bisa berkata-kata, ingin rasanya dia menjawab “iya”. Tetapi bibir dan lidahnya seakan membatu.
“Ayah!!!, jangan tanyakan itu pada nak Alex. Biarkan saja mereka menjalani dulu, kita orang tua tidak usah ikut campur masalah anak muda” (Ibunda Diana)
“Bukan begitu, setidaknya kita udah tau keseriusan dia pada anak kita. Jangan sampai nanti anak kita jatuh pada orang yang salah” (Ayah Diana)
Alex yang tidak tau harus menjawab bagaimana, berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
“Oh iya bu, Diana bagaimana kondisinya sekarang?” (Alex)
“Diana sudah pulih kok, cuma belum bisa keluar rumah dulu selama 3 hari. Nanti setelah 3 hari Diana harus kembali ke rumah sakit untuk melepaskan perbannya, baru dia boleh keluar rumah” (Ibunda Diana)
“Boleh saya menjenguk Diana bu?” (Alex)
“Boleh kok, masuk aja ke kamarnya. Paling juga dia lagi main handphone di dalam kamar. Oh iya nak Alex, terima kasih ya udah bantu biaya operasi Diana. Nanti kalau ibu udah punya uang pasti ibu ganti uang nak Alex kok” (Ibunda Diana)
“Tidak usah dipikirkan bu, saya ikhlas membantu Diana” (Alex)
Terlihat pintu kamar Diana yang sedikit terbuka, wangi khas kamar seorang gadis tercium dari balik pintu. Tanpa mengetuk Alex langsung masuk ke kamar tersebut hingga membuat Diana kaget.
“Hayo…, lagi ngapain kamu!!!” (Alex)
“Alah..., kamu bikin saya kaget aja. Ngapain kamu ke sini?” (Diana)
Telihat pujaan hatinya yang ngambek sampai-sampai memalingkan wajahnya, namun pancaran mata penuh kerinduan mengatakan isi hatinya dengan sangat jujur.
Sambil mendekat dan duduk di pinggir kasur Alex menjelaskan mengenai hubungan antara Rosa dan dirinya. Diana yang awalnya enggan melihat Alex kini mulai luluh hatinya, dan dengan serius mendengarkan penjelasan Alex.
“Jadi mengapa kamu menghilang 3 hari belakangan ini, dan baru sekarang menjelaskannya?” (Diana)
“Saya bukan menghilang, tetapi mengumpulkan keberanian untuk dapat menjelaskan semuanya pada orang tua kamu. Kenapa, kamu rindu sama saya ya?” (Alex)
“Kalau iya emangnya kenapa?, ada yang marah” (Diana)
“Tidak ada sih, saya pikir kamu….” (Alex)
Diana lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Alex, hingga membuat Alex tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Diana memberikan kehangatan yang belum pernah Alex rasakan sebelumnya.
Jarak dan waktu memang membuat seseorang semakin merasakan kerinduan yang hebat, tak ada satupun yang dapat menyembuhkan kerinduan, kecuali sebuah pertemuan dengan orang yang di rindu.
Gak suka bgt sama senior, staf kampus bahkan dosen yang suka mengintimidasi atau menggunakan kekuasaanya untuk mengintimidasi mahasiswa. Mahasiswa yang katanya akan menjadi "akademisi" dituntut untuk mengikuti pandangan² tertentu dari senior/orang² berkuasa di kampus. Dan ironisnya para mahasiswa akhirnya tunduk pada birokrasi yang ada, agar bisa lulus cepat dengan tidak mencari masalah dan tidak ingin di bully oleh senior secara langsung maupun tidak langsung oleh senior/tidak ingin terasing di kehidupan sosialnya di kampus.