Novel ini berkisah tentang pencarian seseorang dalam menemukan Tuhan-nya. Seorang tersebut adalah mantan seorang preman kawakan.
Namanya Hazri. Pemuda asal Jombang, Jawa Timur, itu merantau ke Jogja hanya untuk menuntut ilmu. Tapi, nasib membawanya menjadi ketua geng preman kelas atas ternama di Jogja, Kopen.
Kemampuan tenaga dalam yang dimiliki Hazri membuatnya disegani. Sebagai ketua geng Hazri pun akrab dengan kehidupan super keras dan kejam.
Suatu ketika, ia terpaksa membunuh seorang anggota geng di Jepang. Hal itu membuatnya harus menjalani pelarian selama berbulan-bulan. Dan, selama perjalanan itulah, perjalanan Hazri dalam mencari Tuhan pun dimulai. Dari sekedar risih tidak sholat sedangkan yang lain sholat, Hazri pun mulai menjalankan ibadah wajib tersebut.
Lantas bagaimana kisah selanjutnya? Putus asakah Hazri dalam mencari Tuhan-nya? Bagaimana pula dengan nasib geng Kopen dan anak buahnya?
Simaklah perjalanan sang tokoh dan pergolakan psikologinya. Selamat membaca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon azhar muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. perburuan 2
Sekarang malam ketiga. Kemarin Day belum juga nongol di Blandongan. Seperti dua malam sebelumnya, malam ini pun Hazri duduk di teras depan. Dua minuman suplemen dan berbatang-batang rokok telah menemaninya sejak pukul delapan malam tadi. Untuk mengisi waktu, dia membersihkan Desert Eagle Mark XIX nya. Hampir lima tahun sudah pistol itu disandangnya sebagai simbol ketua Kopen. Hazri mengamati gambar kepala macan yang terukir timbul di kiri kanan lapisan baja gagang pistol itu. Kepala macan yang siap menerkam mangsanya. Gambar ini pula yang dijadikan sebagai lambang Kopen dan Baret.
Sekarang sudah hampir jam sebelas malam. Hazri menarik sebatang rokok lagi. Saat hendak disulut, tiba-tiba HP berdering. Yudi! Darah pemuda ini mendesir pelan. Klik, panggilan itu diterima...
“Kopi Item habis!” Klik, HP langsung diputus. Cukup. Hazri segera mengontak Romi. “Bergerak!” perintahnya. Romi dan anak-anak baret yang sudah bersiaga sejak kemarin langsung bergerak dengan cepat dan senyap.
“Cepat, masuk mobil, jangan buat perhatian!” perintahnya. Para Baret pun segera masuk ke kendaraan masing-masing tanpa bicara dan mengundang perhatian orang. Tenang tapi serius. Romi melihat Simon. Patnernya itu mengangguk sambil mengangkat jempol. Kendaraan berangkat satu persatu menuju titik yang telah disepakati. Setiap mobil diberi jeda lima menitan agar tidak tampak bergerombol. Tidak butuh waktu lama, Romi telah berada di posisi masing-masing. Stand by menunggu sasaran buruan.
Di kosnya, Hazri mengusap-usap wajah. Batang rokok yang belum sempat dinyalakan tadi, kini jadi disulut lalu diisap dalam-dalam. Asap pun mengebul tebal dari mulutnya dan hidungnya. Desert Eagle Mark XIX sudah ditaruh lagi dalam laci mobil yang kini telah dia beli mengikuti saran teman-temannya. Hazri duduk tenang menunggu kabar dari Simon....
Di sana, Romi memeriksa lagi pistolnya. Magasin FN 45 itu dibuka, peluru penuh. Klek, magasin dimasukkan lagi ke tempatnya, lalu sreek...klek, pistol pun siap kembali. Dua anak buahnya di mobil itu yang pegang pistol juga melakukan hal yang sama.
Waktu terus berjalan maju. Romi dan para Baret masih menunggu ikan buruannya keluar. Malam kian larut, satu persatu pengunjung warkop yang kebanyakan mahasiswa itu keluar, Day belum muncul. Hingga tengah malam lewat, Day masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Romi menghela napas, mengendalikan kesabaran setelah menunggu hampir setengah jam, akhirnya mangsa itu nongol juga. Tampak di sana, Day menggandeng dua wanita muda yang diyakini Romi sebagai wanita penghibur. Kapri dan kawannya yang juga berkulit hitam itu, masing-masing juga memeluk seorang wanita penghibur.
Darah Romi berdesir, matanya memerah marah. “Itu dia! Sergap!” Romi segera turun dari mobil diikuti anak buahnya, yang dari mobil satunya juga keluar. Simon bergerak maju. Day belum sadar kalau bahaya telah mengancam dirinya. Dia masih terus asyik bergenit ria dengan dua wanita penghibur itu. Kapri dan kawannya juga terlena...
Jarak Romi semakin dekat. Sesaat kemudian Kapri sadar bahaya yang datang, reflek dia bergerak mencabut pistolnya. Dor...! terlambat, pistol Romi menyalak duluan. Kapri terjengkang. Dor! Dor! Terdengar tembakan lagi dari anak buah Romi. Si hitam itu pun jatuh tersungkur bersimbah darah. Suasana langsung berubah kacau. Para wanita menjerit-jerit histeris...
Tiga Baret berseragam loreng bergerak cepat mengamankan pintu utama masuk warkop. Dari dalam warkop tiba-tiba datang seseorang memegang revolver. Namun belum sempat dia beraksi, salah seorang Baret mendahuluinya. “Diam kau! Atau kau mati!” bentaknya keras sambil menodongkan pistol ke kepala orang itu. Dia tidak berkutik, senjatanya dirampas lalu kepalanya dipukul dengan gagang pistol. Nggelosor pingsan.
Bersamaan dengan itu, lima orang Baret meringkus Day. Tidak terlalu suit sebab Day dalam keadaan mabuk. Orang Jepang itu diseret kasar menuju mobil yang telah disiapkan. Simon bersiap. Begitu Day dan Baret masuk, mobil pun langsung melesat pergi. Cepat.
Dari sudut matanya, Romi mengamati pencidukan Day oleh anak buahnya. Puas, mangsa utamanya telah berhasil diamankan. Masih ada waktu, dia pun bergegas mendatangi Kapri yang dilihatnya masih bergerak-gerak. Darah mengucur deras dari leher pemuda berkulit hitam itu. Tembakan Romi tadi ternyata mendarat di situ rupanya. Si Kapri memegang lehernya, seperti hendak berkata-kata namun suara yang keluar hanya ‘ghrook...ghrook...’ seperti sapi yang disembelih. Romi memandang dingin lawannya tanpa ekspresi. Dor! Dor! Dor! Tiga peluru mendarat di dada dan kepala si Kapri ini. Mati seketika.
Romi mengambil pistol Kapri yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Mundur!” dia memberi perintah. Delapan anggota Baret itu pun segera mundur sambil melepaskan beberapa tembakan ke udara, kembali ke mobil masing-masing yang telah siap menunggu untuk kabur. Setelah semua masuk, kedua Panther itu segera meluncur cepat. Berpencar melarikan diri.
Sepeninggal mereka, suasana di pelataran parkir warkop Blandongan semakin kacau. Wanita-wanita itu terus menjerit histeris. Pengunjung dan para karyawan warkop pun berhamburan keluar. Ingin tahu apa yang terjadi. Yudi dan Tika terlihat di sana. Begitu mereka melihat mayat mengenaskan berlumuran darah yang tergeletak di sana maka jeritan-jeritan histeris pun semakin riuh. Yudi terbelalak ngeri, Tika mencoba menutup mulutnya agar tidak ikut menjerit.
Yudi bergegas masuk kembali ke dalam warkop. Duduk dan mengatur napasnya yang memburu sambil mengusap wajahnya. Sungguh tidak terbayang dalam benaknya akan seperti ini kejadiannya. Dia menyangka kalau Hazri hanya mengambil Day saja, tidak pakai acara membantai segala. Namun, itu yang terjadi. “Tidak main-main ternyata Bang Hazri” katanya dalam hati. Dalam ketakutannya, Yudi berniat untuk tutup mulut. Dia ingat pesan Hazri, asal konsisten tutup mulut maka dia aman. Dan, itulah yang dipilih Yudi.
Sirine polisi meraung-raung terdengar dari kejauhan. Pihak Blandongan yang menghubungi mereka. Tidak beberapa lama kemudian tiga mobil polisi pun tiba dan langsung mengamankan area, garis polisi pun dibentang mengelilingi TKP. Dua polisi yang lain meminta keterangan dari saksi mata. Namun, tidak ada yang bisa memberi keterangan pasti tentang kejadian itu, sebab kejadiannya begitu cepat. Romi dan anggota Baretnya memang hanya perlu waktu kurang dari tiga menit saja.
Simon menghubungi Hazri sesaat setelah melewati jalanan kota. Setelah menerima laporan itu, Hazri segera menghubungi Ajay dan Sapri untuk segera bergerak menjalankan rencana penyerangan. Kemudian dia menghubungi Romi menentukan tempat bertemu.
“Ya, Bang. Di Gejayan ..,” kata Romi.
“Oke, aku ke sana,” jawab Hazri. Dia pun bergegas berangkat.
Dia mengambil sebuntal plastik hitam lebar bekas bungkus barang elektronik yang dibelinya belum lama ini dan sebuah lakban hitam dari dalam kamarnya. Plastik dan lakban itu diletakkan pada bagasi. Mesin Pajero dipanaskan sebentar, tak lama dia menginjak pedal gas meluncur ke arah Gejayan.
Sementara itu pasukan Ajay dan Sapri telah bersama-sama berangkat menuju target lokasi dari markasnya masing-masing. Seratus anak buah Ajay dan Sapri telah siap tempur. Sekian hari menunggu dan menahan mabuk sungguh menyiksa mereka. Bagi mereka mati itu urusan gambang, lebih susah hidup tapi tidak bisa teler. Hampir semua anak buah membawa senjata tajam. Pedang, golok, celurit, dan benda tajam sejenisnya. Sebagian lain ada yang cuma bawa balok kayu seukuran lengan. Namun bukan balok biasa, karena sudah dipasangi paku.
Di sebuah perempatan jalan daerah Kampus Orange, kedua kelompok pasukan itu bertemu. Tanpa berhenti, truk-truk itu terus melaju ke arah markas Kapri dengan tetap mengatur jarak. Detik-detik kehancuran geng Kapri telah berdentang. Seolah mereka lah rombongan malaikat maut akan segera datang berpesta.
“Serbu...!” teriak Ajay dan Sapri bersamaan. Maka, dengan begitu banyaknya preman segera menyerbu tanpa tebang pilih. Merangsek masuk tidak terbendung seperti air bah. Anak buah Kapri pun kocar-kacir. Antara kaget dan takut, mereka berlarian menyelamatkan diri bahkan ada yang terpaksa melawan semampunya. Sungguh, mereka semua tidak ada yang siap dengan serbuan ini. Mereka memang jaga-jaga, tapi tidak menduga malam ini. Oleh sebab itu banyak yang sedang mabuk.
Sungguh pemandangan yang mengerikan. Lenguhan-lenguhan kematian terus terdengar, diiringi dengan teriakan-teriakan bengis para pembantaiannya. Barang-barang dalam rumah yang dijadikan markas mereka hancur tak bersisa. Kaca pecah berserakan, darah bermuncratan di lantai dan dinding. Ajay dan Sapri sibuk menembaki anggota Kapri yang mencoba melarikan diri keluar dari tempat pembantaian. Semuanya langsung mereka bereskan tanpa ampun, entah langsung mati atau tidak, yang jelas tergeletak diam di tanah yang kemudian darah merembes keluar.
Satu menit telah berlalu, mereka masih terus membantai musuh-musuhnya itu. Percuma saja perlawanan yang diberikan orang-orang Kapri. Selain karena tidak adanya kesiapan, jumlah mereka juga kalah telak. Ditambah kondisi mereka yang sedang mabuk. Lengkaplah sudah semua syarat kekalahan mereka. Anak buah Ajay dan Sapri sampai harus celingak-celinguk mencari lawan yang masih berdiri atau sekedar masih bisa bergerak untuk dihajar lagi.
Setelah kelihatan semua sudah menempel tanah bersimbah darah. Ajay dan Sapri memerintahkan mundur pasukannya. “Mundur...!” seru Ajay. “Mundur..., mundur...!” Sapri menimpali. Maka, semua anak buah mereka bergerak mundur, kembali ke truknya masing-masing. Beberapa orang diantaranya menyisir arena mencari teman mereka yang mungkin mati atau terluka. Didapatkan ada dua orang luka cukup parah, tapi masih bisa berjalan ke truk walau harus dipapah.
Lengkap, semua sudah kembali. Ajay dan Sapri berpelukan erat, kemudian masuk truk masing-masing dan segera kabur meninggalkan arena pembantaian itu. Mengambil jalan berpencar sesuai rencana awal. Sayup-sayup suara erangan anak buah Kapri menjemput ajalnya mengiringi kepergian mereka...
Di lokasi lain, di pinggir jalan Gejayan, Hazri menunggu kedatangan Romi sambil merokok. Tidak butuh waktu lama kemudian Romi pun datang, turun dari Panther yang langsung melesat lagi tanpa basa-basi. Hazri menghidupkan mesin dan membuang sisa rokoknya. “Lama, Bang?” tanya Romi. Hazri menggeleng. Pajero pun bergerak langsung melesat ke Magelang.
Belum lama mereka meluncur, HP Hazri berdering. Ajay...
“Semua sudah dibereskan, Bang,” kata Ajay dari sana.
Hazri memutuskan pembicaraan tanpa berkata apa-apa. Tarikan napas panjangnya itu mengungkapkan kepuasannya.
“Si Kapri sama kawannya sudah mampus...,” kata Romi.
“Ceritakan.”
Romi pun menceritakan apa yang terjadi di pelataran Blandongan tadi. Hazri serius menyimak, sambil tetap memacu Pajeronya.
“Kita dapat dua pistol,” Romi memperlihatkan kedua pistol yang mereka rampas. Satu revolver, yang lain FN 45 seperti miliknya.
“Punya siapa revolver itu?” tanya Hazri.
“Entahlah, tadi anak buahku yang jaga pintu cerita kalau ada orang yang tiba-tiba nongol sambil bawa pistol ini. Ya sudah, sekalian di buat tidur saja.”
“Mati?”
“Pingsan.”
Hazri mengamati revolver itu, ada nomor serinya. “Kayaknya punya polisi...”
Romi mengangguk. “Kupikir juga begitu.”
Hazri manggut-manggut. “Benar nggak mati?”
Romi mengangguk lagi, mengiyakan.
Pajero terus melesat kencang. Jarum speedometer menunjuk angka 150 km/jam. Mesin 2000 cc itu pun menggerung seram. Lengang betul, mobil lain yang melintas bisa dihitung dengan jari. Tidak lama kemudian merek tiba di kota Magelang. Cuma butuh waktu kurang dari tiga puluh menit sejak berangkat dari Gejayan tadi. Lepas dari situ, si putih pun mendaki ke Tidar....
favorit
👍❤