Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
Dua minggu berlalu dalam keheningan yang menyembuhkan.
Luka di perut Damian telah menutup, menyisakan bekas parut kemerahan yang akan menjadi pengingat abadi akan malam badai tersebut. Sesuai dengan tekadnya yang baru, sang Jenderal Agung secara resmi mengambil cuti panjang dari tugas militernya. Ia membatalkan segala agenda di ibu kota dan bersumpah untuk menghabiskan waktu di kota pelabuhan ini, bertekad untuk menebus dosa-dosanya dengan cara yang paling sederhana: kehadiran yang tidak memaksa.
Pagi itu, udara pelabuhan terasa segar dan asin. Damian berdiri di depan pintu mansion sementara yang mereka sewa, mengenakan kemeja linen putih sederhana tanpa atribut militer, menunggu Aurelia. Ia berencana membawa wanita itu ke perbukitan di pinggiran kota untuk berpiknik dan menikmati musim semi yang baru saja tiba. Ia ingin memanjakan istrinya, menghapus trauma, dan mengisi hari-hari mereka dengan keceriaan.
Namun, saat Aurelia keluar dari pintu, wanita itu mengenakan celemek rotinya yang biasa.
"Aku ingin kembali ke toko," ucap Aurelia lembut namun tegas. Ia menatap Damian dengan tatapan yang sudah jauh lebih tenang, tidak lagi dipenuhi teror. "Toko itu adalah kehidupanku, Damian. Aku tidak bisa berhenti begitu saja."
Damian terdiam sejenak. Keinginan egoisnya untuk mengurung Aurelia dalam kenyamanan mansion harus ia tekan dalam-dalam. Ia menarik napas panjang, menekan hasrat obsesifnya, lalu mengangguk hormat. "Baiklah. Jika itu yang membuatmu merasa utuh, aku akan ikut membantumu."
Hari-hari berikutnya di toko roti adalah pelajaran bagi sang Jenderal tentang kerendahan hati.
Di dalam dapur yang penuh aroma ragi dan mentega, Damian yang terbiasa memegang pedang tajam kini harus belajar memegang penggilas adonan. Ia melakukan kesalahan berkali-kali. Tangannya yang besar dan kasar seringkali terlalu keras menguleni adonan roti hingga hancur, membuat Aurelia sesekali terkekeh pelan—sebuah suara tawa langka yang membuat jantung Damian berdegup kencang karena kebahagiaan yang murni.
"Bukan seperti itu, Damian," Aurelia mendekat, jemarinya yang lentik menuntun tangan Damian di atas meja kayu. "Kau harus lembut. Roti ini seperti perasaan; jika kau memaksanya dengan keras, ia tidak akan mengembang dengan baik."
Damian menatap jemari Aurelia yang bersentuhan dengan tangannya, lalu beralih menatap wajah wanita itu dari samping. Ia bisa melihat bayangan lembut dari sinar matahari pagi yang menerpa kulit Aurelia. Ia belajar untuk tidak terburu-buru. Setiap hari, ia akan merapikan rak-rak toko, mengangkat kantong-kantong tepung yang berat tanpa mengeluh, dan menjaga pintu masuk agar tidak ada orang asing yang berani mengganggu ketenangan istrinya.
Ia menjadi sosok yang sabar. Ia mendengarkan keluhan Aurelia tentang harga gandum, ia belajar menghitung sisa koin di laci kasir, dan ia belajar untuk menempatkan keinginan Aurelia di atas ambisi pribadinya sendiri.
Warga kota mulai terbiasa dengan pemandangan sang Jenderal yang kini tampak jauh lebih manusiawi. Tidak ada lagi aura dingin yang mencekam. Damian adalah seorang suami yang sedang belajar mencintai dari nol.
Damian merengkuh pinggang istrinya dari belakang, membenamkan wajahnya di ceruk leher istrinya, mengendus pelan aroma khas yang menguar dari Aurelia.
Aurelia mencoba melepaskan dirinya tapi kekuatan Aurelia tidak sebanding dengan Suaminya.
"Damian, awas dulu aku lagi buat adonan." Damian tidak menuruti permintaan Aurelia malahan dia semakin menjadi jadi. Seperti mengecup leher, menjilat, bahkan menggigit hingga timbul kissmark. Aurelia sendiri dia berusaha menahan suara laknat yang ingin keluar dari bibirnya.
Tangan Damian tak tinggal diam, dia menggerayangi tubuh Aurelia.
Aurelia berjalan mendekati wastafel dengan susah payah, membersihkan tangannya, kemudian mengelap tangannya menggunakan kain bersih, dan berbalik. Aurelia bisa melihat tatapan Damian yang gelap, bergairah, dan menahan hasrat.
Aurelia menuntun Damian ke ruangannya, Aurelia memang memiliki ruangan khusus untuk dirinya bisa dibilang ruangan untuk boss, tapi juga memiliki kasur, sofa dan kamar mandi, alasannya simpel jika Aurelia Damian tidak ada di Mansion Valerius dia akan menginap di toko rotinya. Menutup pintu. Dan Damian mencium Aurelia dengan rakus seakan tak ada hari esok. Damian mencurahkan segalanya pada ciuman ini. Aurelia juga ikut terbuai dia mengalungkan kedua tangannya ke leher Damian, meremas pelan rambutnya.
Tangan kiri Damian merengkuh pinggang istrinya, sedangkan tangan kanannya berada di tengkuk Aurelia, untuk memperdalam ciuman mereka.
Damian menghempaskan Aurelia di kasur yang tersedia, kemudian melepas bajunya dan—
•
•
•
•
mampir diceritaku juga ya😊