NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Udara subuh di Desa Sota menusuk hingga ke sumsum tulang. Kabut tebal turun menyelimuti rimbunnya pepohonan yang mengelilingi balai desa, menciptakan suasana mistis khas pedalaman Papua.

Cia menggeliat pelan di atas tikar pandan yang dilapis matras spon tipis. Ia membuka mata dengan enggan. Hal pertama yang ia sadari adalah tubuhnya terbungkus rapat oleh sebuah jaket taktis tebal berwarna hijau lumut yang ukurannya kebesaran, menyebarkan kehangatan dan aroma kayu pinus yang familier.

Namun, sisi matras di sebelahnya kosong.

Cia bangkit duduk, mengusap matanya yang masih mengantuk. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling balai desa. Dr. Rian dan dua perawat lokal masih tertidur pulas di sudut lain, menggulung diri dalam selimut.

Gadis itu berdiri, melangkah pelan keluar dari balai desa. Di halaman tanah berumput, api unggun semalam telah menyisakan bara merah yang berasap tipis. Dan tak jauh dari sana, duduk di atas batang kayu yang dipotongnya kemarin, adalah Mayor Ren Adhyaksa.

Pria itu sudah terjaga—atau mungkin tidak tidur sama sekali. Ia mengenakan kaus oblong hitam, celana cargo, dan sepatu larasnya sudah terpasang sempurna. Di tangannya, Ren sedang membersihkan bilah pisau survival menggunakan kain kecil dengan gerakan mekanis yang sangat tenang. Matanya memindai sekeliling batas hutan, menembus kabut dengan kewaspadaan yang telah mendarah daging.

"Nggak tidur, Mas?" sapa Cia pelan, melangkah mendekat sambil merapatkan jaket taktis Ren yang membalut tubuhnya.

Ren menghentikan gerakannya, menyimpan pisau itu kembali ke sarung di pinggangnya, lalu menoleh. Raut waspadanya seketika menguap, digantikan oleh kelembutan yang hanya ia sediakan untuk gadis di depannya.

"Saya tidur empat jam semalam. Itu sudah lebih dari cukup," jawab Ren, menepuk ruang kosong di batang kayu sebelahnya.

Cia duduk di samping suaminya, menyandarkan kepala di bahu kokoh pria itu. "Di sini aman, Mas. Kamu nggak perlu jaga shift malam kayak lagi di daerah rawan kontak senjata."

Ren mengusap punggung Cia pelan. "Insting, Almeera. Di mana pun saya berada, jika kamu tidur di bawah pengawasan saya, saya harus memastikan tidak ada satu pun nyamuk hutan atau binatang melata yang berani mendekatimu."

Cia tersenyum geli, mendongak menatap rahang tegas suaminya yang kini ditumbuhi sisa-sisa jambang tipis. "Kamu tahu nggak, kamu itu bodyguard yang overqualified banget."

"Dan kamu adalah bos yang membayarnya hanya dengan segelas teh manis," balas Ren santai, ujung bibirnya melengkung. "Sangat merugikan secara finansial."

"Oh, jadi minta naik gaji nih?" Cia berjinjit, mengecup rahang suaminya dengan cepat. "Udah, lunas ya."

Ren terkekeh pelan, melingkarkan lengannya di pinggang Cia untuk menahan gadis itu agar tidak beranjak. Namun, sebelum Ren sempat membalas kecupan itu, suara teriakan panik dari arah jalan setapak memecah keheningan subuh.

"Tolong! Dokter! Bapak Mantri!"

Cia dan Ren serentak berdiri. Insting profesional keduanya menyala bersamaan.

Seorang pemuda lokal berlari terengah-engah mendekati balai desa. Pakaiannya basah oleh embun dan noda lumpur, wajahnya pucat pasi. Dr. Rian dan para perawat yang mendengar teriakan itu langsung terbangun dan berhamburan keluar.

"Ada apa, Kakak? Siapa yang sakit?" tanya dr. Rian cepat.

"Bapak saya... bapak saya kena perangkap babi hutan di dalam hutan sana!" pemuda itu menunjuk ke arah kegelapan pepohonan dengan tangan gemetar. "Lukanya besar sekali, darahnya keluar banyak kayak air mancur! Saya nggak kuat gendong Bapak ke sini. Tolong, Dok!"

Wajah dr. Rian seketika pias. "Perangkap babi hutan? Di kedalaman hutan? Berapa kilometer dari sini?"

"Kira-kira dua kilometer masuk ke dalam, Dokter. Medannya licin habis hujan semalam," jawab pemuda itu putus asa.

Cia tidak membuang waktu. Ia langsung berbalik dan berlari masuk ke dalam balai, menyambar ransel medis daruratnya. "Dr. Rian, siapkan hecting set (alat jahit), kassa gulung ekstra, cairan infus, dan obat hemostatik. Darah yang muncrat seperti air mancur berarti ada arteri yang robek. Kita berpacu dengan waktu sebelum pasien syok hipovolemik."

"Tapi Dok," Rian menyusul Cia dengan ragu. "Masuk ke hutan jam segini bahaya. Kita nggak tahu jalurnya, dan medannya pasti curam."

"Lalu kita mau biarkan bapaknya mati kehabisan darah di sana?!" Cia menatap Rian tajam, menyelempangkan ransel medisnya dengan mantap. "Saya yang pergi."

Tepat saat Cia membalikkan badan menuju pintu keluar balai, Ren sudah berdiri di sana.

Sang Mayor telah mengenakan ransel survival-nya. Di tangan kanannya, ia memegang sebilah parang pinjaman dari warga yang sudah ia asah. Wajahnya sama sekali tidak memancarkan keraguan atau kepanikan. Hanya ada fokus dan kalkulasi yang dingin.

Ren menatap Cia, lalu beralih pada dr. Rian dan perawat.

"Dokter Rian, Anda dan perawat standby di sini, siapkan tempat untuk resusitasi dan tindakan lanjutan," perintah Ren mutlak. Pria itu kemudian menatap pemuda lokal yang masih gemetar. "Kamu jalan di depan, tunjukkan arahnya. Saya yang akan membuka jalan."

Ren menoleh pada Cia, matanya mengunci pandangan sang istri. "Ayo, Dokter. Waktu kita tidak banyak."

Tanpa banyak bicara, operasi gabungan yang tak pernah direncanakan itu dimulai.

Perjalanan menembus hutan tropis Papua di pagi buta adalah ujian ketahanan fisik yang brutal. Pemuda lokal itu berjalan di depan, sementara Ren berada tepat di belakangnya, menebas sulur-sulur pohon dan ranting berduri yang menghalangi jalan menggunakan parang. Gerakan Ren sangat efisien, menghemat tenaga namun menghasilkan jalur yang cukup lebar untuk dilewati Cia yang berada di belakangnya.

Jalanan tanah merah itu sangat licin. Beberapa kali kaki Cia terpeleset, namun setiap kali itu terjadi, tangan kiri Ren yang kuat selalu berhasil menangkap lengan atau pinggang istrinya, menariknya kembali ke titik keseimbangan tanpa menghentikan langkah.

"Hati-hati, pijak akar pohon yang besar. Jangan menginjak lumut basah," instruksi Ren tanpa menoleh, napasnya tetap teratur meski ia membuka jalan sambil membawa beban.

"S-siap," napas Cia tersengal, dadanya naik turun meraup oksigen. Jas putihnya sudah kotor oleh percikan lumpur, namun fokusnya tetap pada nyawa pasien yang menunggu di depan sana.

Setelah dua puluh menit berjalan cepat menembus medan yang curam, mereka akhirnya tiba di sebuah cekungan lembah kecil.

Di atas tanah berlumpur, seorang bapak paruh baya mengerang kesakitan, memegangi paha kanannya. Darah segar menggenang membasahi dedaunan kering di sekitarnya. Sebatang besi karatan dari perangkap tradisional tampak menancap dalam dan merobek jaringan ototnya. Wajah bapak itu sudah sangat pucat, kesadarannya mulai menurun.

"Bapak!" pemuda itu langsung bersimpuh di samping ayahnya.

"Minggir, biar saya tangani!" Cia menjatuhkan ransel medisnya ke tanah berlumpur, berlutut di samping pasien. Instingnya mengambil alih. Ia menekan area pangkal paha pasien dengan kedua tangan untuk menghentikan pendarahan secara manual. "Darahnya keluar terlalu deras! Arteri femoralisnya kena. Saya butuh tourniquet!"

Cia baru saja akan merogoh ransel medisnya mencari tali karet penahan darah, namun sebuah tangan besar bersarung tangan taktis sudah lebih dulu bergerak.

Ren berlutut di sisi brankar alam itu. Dari saku celana cargo-nya, sang Mayor menarik keluar sebuah Tactical Tourniquet militer (CAT)—alat penghenti pendarahan berstandar tempur yang selalu ia bawa.

"Angkat tanganmu sedikit, Cia," perintah Ren cepat.

Cia menurut. Dalam hitungan kurang dari lima detik, Ren memasukkan tourniquet itu ke paha atas pasien, mengencangkan strap velcro-nya, lalu memutar tongkat pengunci plastik dengan tenaga kuat hingga pendarahan yang menyembur itu berhenti seketika. Ren mengunci tongkat itu ke dalam klipnya. Selesai. Bersih, cepat, dan presisi.

Cia menatap suaminya dengan takjub selama sedetik. Kombinasi pengetahuan anatomi medisnya dan perlengkapan taktis Ren adalah perpaduan yang mematikan bagi sang maut.

"Pendarahan utama berhenti. Waktu pemasangan 05.45," lapor Ren datar, mundur selangkah memberikan ruang penuh bagi Cia untuk bekerja. "Tugasmu sekarang, Dokter."

"Bagus," Cia segera mengambil cairan antiseptik, kassa, dan alat jahit dari ranselnya. "Saya harus melakukan ligasi (pengikatan) darurat pada pembuluh darahnya di sini sebelum kita bawa dia turun. Kalau tidak, dia tidak akan selamat di perjalanan."

Di tengah hutan yang lembap dan dingin, Cia bekerja dengan konsentrasi penuh. Tangan mungilnya yang berlumuran darah bergerak lincah menjepit pembuluh darah yang robek, membersihkan luka dari tanah dan karat, lalu menjahit jaringan otot yang terbuka. Tidak ada kepanikan, tidak ada keraguan.

Ren berdiri diam beberapa langkah di belakang istrinya. Mata elangnya mengawasi sekitar, memastikan tidak ada ancaman hewan buas, namun fokus utamanya tetap pada punggung gadis yang sedang berjongkok itu.

Melihat bagaimana Cia bertarung nyawa demi orang asing di tengah hutan belantara, rasa hormat Ren pada istrinya bertambah berkali-kali lipat. Dulu, ia selalu berpikir bahwa medan perang yang sebenarnya hanya ada di ujung laras senapan. Namun hari ini, ia menyadari bahwa medan perang Cia sama beratnya, menuntut keberanian yang sama besarnya, hanya saja senjata gadis itu adalah jarum bedah dan keikhlasan.

"Selesai!" Cia memotong benang jahit terakhirnya, mengusap peluh di keningnya dengan punggung lengan. Ia membalut luka itu dengan perban tebal. "Kita harus segera mengevakuasi bapak ini ke balai desa untuk transfusi cairan infus. Tapi kita nggak punya tandu."

"Pemuda, ambilkan saya dua batang dahan pohon yang lurus dan kuat sebesar lengan. Panjang dua meter," perintah Ren pada anak pasien tersebut.

Ren segera melepas ransel carrier-nya. Ia mengeluarkan seutas tali paracord militer dan dua buah terpal bivak berukuran sedang. Saat pemuda itu kembali membawa dahan pohon yang diminta, Ren dengan sigap merangkai terpal dan dahan tersebut, mengikatnya menggunakan simpul tali temali yang sangat rumit namun kokoh.

Dalam waktu lima menit, sebuah tandu darurat ala pasukan survival tercipta.

"Angkat perlahan," instruksi Ren. Ia dan pemuda itu memindahkan tubuh sang bapak ke atas tandu.

Perjalanan pulang terasa jauh lebih berat karena mereka harus membawa beban pasien. Ren mengambil posisi di depan, memanggul ujung tandu di bahunya yang sebenarnya belum sembuh total dari luka jahit operasi. Namun, sang Mayor tidak menunjukkan ekspresi kesakitan sedikit pun. Wajahnya tegar bak pahatan batu karang.

Cia berjalan di sisi tandu, terus memantau kesadaran pasien sambil memegang botol infus yang ia gantungkan pada sebatang kayu kecil.

Saat mereka akhirnya tiba di halaman balai desa, dr. Rian dan para perawat langsung menyambut mereka dengan brankar darurat. Warga desa bersorak lega melihat bapak tersebut masih bernapas.

"Luar biasa..." gumam dr. Rian saat melihat jahitan darurat Cia dan tourniquet taktis yang terpasang rapi di paha pasien. "Kerja yang sangat luar biasa, Dr. Cia."

Cia tersenyum lelah, menoleh ke arah Ren yang baru saja menurunkan beban tandu dari bahunya. Pria itu mengusap peluh di lehernya, dadanya naik turun dengan ritme cepat.

"Bukan cuma saya, Dokter Rian," ucap Cia bangga. "Ekspedisi ini nggak akan berhasil tanpa Komandan saya."

Malam terakhir di Desa Sota.

Setelah memastikan pasien stabil dan siap dirujuk ke RSUD besok pagi menggunakan perahu, Cia akhirnya bisa beristirahat. Gadis itu berjalan menuju tepian sungai kecil yang tak jauh dari balai desa untuk membersihkan diri.

Suasana malam itu sangat sunyi, hanya diterangi oleh cahaya bulan purnama yang memantul di permukaan air sungai yang tenang.

Cia baru saja membasuh wajahnya dari noda darah dan lumpur ketika ia mendengar suara langkah ranting yang terinjak. Ia menoleh dengan waspada, namun langsung mendesah lega saat melihat siluet tegap suaminya muncul dari balik pepohonan.

Ren berjalan mendekat. Pria itu membawa sehelai handuk kecil bersih di tangannya. Ia berjongkok di samping Cia yang masih duduk di atas batu kali.

Tanpa mengatakan apa-apa, Ren menyelupkan ujung handuk itu ke air sungai yang jernih, memerasnya, lalu mulai mengusap lembut sisa-sisa lumpur di leher dan lengan Cia. Sentuhan pria itu begitu hati-hati, seolah Cia adalah benda pusaka yang sangat berharga.

"Bahumu nggak apa-apa, Mas?" tanya Cia cemas, menahan tangan Ren. "Kamu tadi angkat tandu berat banget di depan. Jahitannya nyeri lagi, kan?"

Ren menatap mata istrinya, ujung bibirnya melengkung tipis. "Hanya pegal biasa. Kamu tidak perlu mencemaskan saya, Dokter Almeera. Hari ini... kamu benar-benar membuat saya kehabisan kata-kata."

Cia tersipu, merapatkan lututnya. "Aku cuma ngelakuin tugasku, Mas."

"Dulu, saya selalu berpikir bahwa tugas seorang suami adalah melindungi istrinya dari kerasnya dunia," Ren menghentikan usapannya, menangkup sebelah pipi Cia dengan tangan kanannya. Ibu jarinya membelai lembut tulang pipi gadis itu. "Tapi hari ini saya belajar, kadang cara terbaik untuk melindungimu bukanlah dengan menyembunyikanmu di balik punggung saya, melainkan dengan berdiri di sampingmu, dan memastikan jalan di depanmu aman untuk kamu lewati."

Cia menatap lekat-lekat mata elang yang memantulkan cahaya bulan itu. Rasa cinta yang membuncah di dadanya tak bisa lagi ia bendung. Ia mencondongkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di bahu Ren, membiarkan kehangatan pria itu menyelimutinya di tengah dinginnya malam hutan Papua.

"Mas Ren..." panggil Cia lirih.

"Hm?"

"Cuti tiga minggumu udah mau habis, ya?" tanya Cia, suaranya mengandung nada sedih yang tak bisa disembunyikan.

Ren menghela napas panjang, merengkuh tubuh istrinya erat-erat. "Ya. Lusa, saya harus kembali ke Jawa. Melapor ke Pusat Pendidikan untuk memulai tugas baru saya sebagai instruktur."

Cia mendongak, berusaha memaksakan sebuah senyum tegar, persis seperti yang selalu ia latih sejak menjadi istri prajurit. "Berarti kita LDR-an lagi dong, selama sisa empat bulan internsip-ku."

Ren menunduk, mengecup dahi istrinya lama dan penuh perasaan. "Hanya empat bulan, Cia. Waktu itu akan berlalu lebih cepat dari yang kamu bayangkan. Dan selama kamu berada di sini..."

Ren menyentuh dog tag yang mengalung di leher Cia.

"...pastikan kamu menjaga nyawa saya baik-baik. Fokus pada pasienmu, selesaikan tugasmu dengan kehormatan. Sementara itu, di Jawa nanti, saya akan mulai menyiapkan rumah baru kita. Sebuah rumah yang sebenarnya, bukan rumah dinas transit."

Mata Cia berbinar cerah, air mata haru menggenang di pelupuknya. "Rumah kita?"

"Ya. Rumah kita," ulang Ren mantap. Pria itu memiringkan wajahnya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lambat, manis, dan dipenuhi oleh janj-janji masa depan yang cerah.

Di bawah langit perbatasan timur yang dipenuhi bintang, diiringi suara aliran sungai dan jangkrik malam, Ren dan Cia menutup lembaran petualangan mereka di tanah Papua. Tidak ada lagi rasa takut atau keraguan akan jarak. Karena mereka tahu, empat bulan hanyalah sebuah hitung mundur menuju sebuah kebahagiaan yang utuh, di mana tak ada lagi misi militer atau rotasi medis yang bisa memisahkan mereka.

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!