Alya Mahendra, gadis kota yang harus menjalani KKN di Desa Sukamaju, sebuah desa pelosok yang jauh dari kehidupan nyamannya. Karena tingkahnya yang sering mengeluh dan tak terbiasa hidup sederhana, teman-temannya mulai menjulukinya “Nona Kota.”
Di tengah hari-hari KKN yang penuh tantangan, ada Arga Pratama, cowok dingin dan kaku yang diam-diam sering membantu Alya meski wajahnya selalu terlihat tak peduli. Namun saat konflik mulai muncul di posko, mampukah Alya bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29.
Setelah hampir dua jam bekerja, Alya akhirnya duduk beristirahat di bawah rindangnya sebuah pohon.
Ia mengusap peluh di dahinya sambil mengatur napas.
Tak lama kemudian, terdengar suara seorang ibu memanggilnya dari arah dapur umum yang didirikan di dekat balai desa.
“Sini, Nak Alya!”
Alya langsung menoleh.
“Iya, Bu?”
“Sini bantuin kami sebentar.”
“Iya, Bu!”
Alya segera berdiri lalu berjalan menghampiri para ibu yang sedang sibuk memasak makan siang.
Sekarang waktu sudah menunjukkan sekitar pukul sepuluh pagi.
Di bawah tenda sederhana itu, beberapa ibu tampak sedang memotong berbagai bahan masakan.
Saat tiba di sana, Alya memperhatikan buah berwarna kuning yang sedang dikupas.
“Itu apa, Bu?” tanyanya penasaran.
“Oh, ini buah cempedak, Nak.”
“Mau kami masak jadi sayur.”
Alya tampak terkejut.
“Hah?”
“Cempedak bisa dijadiin sayur?”
Para ibu langsung tertawa kecil.
“Bisa, dong.”
“Kalau di sini sudah biasa.”
“Oh…”
Alya berjongkok di samping mereka sambil terus memperhatikan proses memasaknya.
Melihat rasa penasaran Alya, salah seorang ibu mengambil semangkuk kecil masakan yang sudah matang.
“Sini, coba buahnya dulu.”
“Ini buahnya yang udah matang.”
Alya langsung menghampiri.
“Nah, dimakan aja.”
Alya mengambil satu biji lalu mengendus aromanya.
“Hm…”
“Aromanya nyengat ya, Bu.”
Beberapa ibu tersenyum menunggu reaksinya.
Beberapa detik kemudian, mata Alya langsung membulat.
“Eh…”
“Enak banget, Bu!" ucapnya antusias.
Mendengar itu, para ibu ikut tertawa.
“Kalau suka, makan yang banyak.”
“Iya, Bu.”
Alya pun ikut menemani mereka sambil sesekali membantu mengambilkan bahan masakan.
Suasana dapur umum dipenuhi obrolan hangat dan tawa para ibu.
Tak jauh dari sana, Laura yang masih menyapu halaman tanpa sengaja melihat Alya sedang duduk bersama para ibu.
Keningnya langsung berkerut.
“Kita di sini masih kerja…”
“Dia malah enak-enakan duduk makan.”
Nadia ikut melirik ke arah yang sama.
“Iya tuh.”
“Enak banget hidupnya.”
Padahal mereka tidak tahu kalau Alya dipanggil sendiri oleh para ibu untuk membantu di dapur umum.
Di saat yang bersamaan, Adrian yang hendak mengambil minum berjalan ke arah dapur.
Melihat Alya sedang makan sesuatu, ia langsung mendekat.
“Lagi makan apa, Al?”
“Cempedak.”
“Enak loh.”
“Nih, coba.”
Alya menyodorkan sepotong cempedak kepada Adrian.
Adrian langsung menerimanya lalu mencicipinya.
“Hahaha…”
“Iya, enak.”
“Tapi ini nangka, nggak sih?”
Alya langsung menggeleng.
“Bukan. Kata ibu-ibu ini cempedak.”
Para ibu yang mendengar percakapan mereka langsung tertawa melihat ekspresi bingung Adrian.
Laura masih memperhatikan Alya dari kejauhan.
Tatapannya tidak lepas dari gadis itu yang sedang duduk bersama ibu-ibu sambil membantu menyiapkan masakan.
“Kita masih kerja di sini…”
“Dia malah enak-enakan duduk makan,” bisik Laura pelan.
Nadia ikut melirik ke arah yang sama.
“Iya.”
“Lihat aja, dari tadi ketawa-ketawa sama ibu-ibu.”
“Padahal kita masih bersih-bersih.”
Laura mengembuskan napas pelan.
“Entah kenapa…”
“Orang-orang gampang banget akrab sama dia.”
Nadia hanya mengangkat bahu.
“Udahlah.”
“Biar aja dulu.”
“Kita lanjutin kerja.”
Laura mengangguk pelan, meski tatapannya masih sesekali mengarah ke Alya sebelum akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara itu, Alya sama sekali tidak menyadari dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan.
Ia masih asyik membantu ibu-ibu di dapur umum.
“Bu, ini sayurnya taruh di mana?” tanyanya sambil membawa baskom berisi potongan sayur.
“Taruh di meja itu aja, Nak.”
“Iya, Bu.”
Alya meletakkan baskom tersebut, lalu kembali membantu mengaduk masakan yang ada di wajan besar.
“Pelan-pelan ya, Nak.”
“Takutnya nanti tumpah.”
“Iya, Bu.”
Tak lama kemudian, aroma masakan mulai menyebar ke seluruh halaman balai desa.
Beberapa warga yang sedang kerja bakti mulai melirik ke arah dapur.
“Wah, harum banget.”
“Perut jadi laper,” celetuk Dion sambil mengusap perutnya.
Adrian yang sedang menyapu di dekatnya langsung tertawa.
“Sabar.”
“Belum waktunya makan.”
“Laper juga tetap harus kerja.”
“Kerja mulu.”
“Perut gue udah demo dari tadi.”
Mendengar itu, beberapa warga ikut tertawa.
Di sisi lain, Arga yang sedang mengangkut karung berisi sampah lewat di dekat dapur.
Tanpa sengaja pandangannya bertemu dengan Alya.
Alya yang sedang mengaduk masakan langsung melambaikan tangan kecil.
“Ar!”
“Udah capek?”
Arga menghentikan langkahnya sebentar.
“Lumayan.”
“Kamu ngapain di sini?”
“Bantu ibu-ibu masak.”
Arga mengangguk pelan.
“Jangan terlalu dekat sama apinya.”
“Nanti kena minyak.”
“Iya.”
Jawaban singkat itu membuat salah seorang ibu tersenyum geli.
“Mas Arga perhatian juga, ya.”
Mendengar ucapan itu, Alya hanya tersenyum kecil, sementara Arga memilih melanjutkan langkahnya tanpa memberikan tanggapan.
Dari kejauhan, Laura kembali menangkap momen tersebut.
Ia menarik napas panjang, berusaha mengabaikannya.
Namun, perasaan tidak nyaman di dalam hatinya justru semakin kuat.
Tak lama kemudian, kerja bakti dihentikan sejenak.
“Sudah, semuanya istirahat dulu!” seru Pak Arya.
“Mari makan dulu sebelum dilanjutkan lagi.”
Mendengar itu, warga yang sejak tadi bekerja langsung meletakkan peralatan mereka.
Sapu, cangkul, dan karung berisi sampah dikumpulkan di pinggir halaman.
Satu per satu mereka berjalan menuju tenda tempat makan yang telah disiapkan.
Di sana, ibu-ibu sudah menata berbagai hidangan di atas meja panjang.
Ada nasi hangat, sayur cempedak, ayam bumbu kuning, ikan goreng, sambal, lalapan, dan kerupuk.
“Silakan diambil, Nak,” ujar salah seorang ibu.
“Iya, Bu. Terima kasih,” jawab mereka bergantian.
Mahasiswa KKN, anggota karang taruna, dan warga desa pun mulai mengambil makanan masing-masing.
Dion langsung berseri-seri melihat meja penuh lauk.
“Buset...”
“Ini baru namanya rezeki.”
“Dari tadi gue nunggu momen makan.”
Adrian yang berada di sampingnya terkekeh.
“Dasar.”
“Perut mulu yang dipikirin.”
“Ya iyalah.”
“Kerja bakti dari pagi bikin tenaga gue habis.”
Ucapan Dion langsung mengundang tawa beberapa warga.
Sementara itu, Alya masih membantu ibu-ibu membagikan piring dan sendok.
Setelah semua warga mendapatkan bagian, barulah ia mengambil sepiring nasi untuk dirinya sendiri.
Alya menoleh ke kanan dan kiri, mencari tempat duduk yang masih kosong.
Saat itulah Arga yang sudah lebih dulu duduk menggeser sedikit posisinya.
“Duduk sini.”
Alya menatap Arga sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Boleh?”
Arga hanya mengangguk singkat.
Alya pun duduk di sampingnya.
Pemandangan itu kembali ditangkap oleh Laura.
Ia sempat ingin menghampiri Arga, tetapi langkahnya terhenti.
Akhirnya Laura memilih duduk bersama Nadia, meski sesekali pandangannya masih mengarah ke Arga dan Alya.
Suasana makan siang berlangsung hangat.
Semua menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh ibu-ibu desa.
Sementara itu, Alya terlihat begitu lahap menikmati sayur cempedak.
“Bu, ini enak banget,” pujinya.
“Baru pertama kali aku makan, tapi langsung suka.”
Salah seorang ibu tersenyum bangga.
“Kalau begitu nanti sering-sering main ke sini, Nak.”
Alya mengangguk semangat.
“Pasti, Bu!”
Tiba-tiba, Alya mengambil ponselnya.
“Aku mau kirim video ke Papi dulu.”
Tanpa menunggu lama, ia mulai merekam.
“Halo, Papi...” ucapnya ceria sambil mengarahkan kamera ke dirinya sendiri.
“Ini Alya lagi makan bareng warga sama teman-teman KKN habis kerja bakti.”
“Terus... Alya baru nyobain sayur cempedak.”
“Enak banget, Papi!”
Alya tersenyum lebar.
“Papi beliin Alya kebun cempedak ya.”
Ucapan polos itu membuat beberapa orang yang mendengarnya langsung menoleh.
Alya lalu mengarahkan kamera ke sekeliling.
Saat kamera berhenti di depan Dion, cowok itu langsung melambai ke arah ponsel.
“Halo, Papinya Alya!”
“Kalau butuh bodyguard buat Alya, rekrut saya aja, ya!”
“Saya siap menjaga putri Bapak dengan gaji dua digit!”
“Hahaha...”
Tawa langsung pecah di sekitar mereka.
Alya sampai ikut tertawa sambil menggoyangkan kamera.
Tak lama kemudian kamera beralih ke Adrian.
Adrian langsung berdeham, seolah sedang diwawancarai.
“Halo, Papinya Alya.”
“Kalau Bapak butuh pekerja buat ngerawat kebun cempedaknya, saya siap kerja.”
“Asal gajinya dua digit juga.”
“Hahaha...”
Kali ini tawa mereka terdengar semakin keras.
Bahkan beberapa ibu-ibu ikut tertawa melihat tingkah dua mahasiswa itu.
Setelah selesai merekam, Alya mematikan kameranya.
Belum sempat ia menyimpan ponsel, Dion langsung menggeleng sambil tertawa.
“Emang beda yah kalo orang kaya minta sesuatu.”
“Langsung kebunnya yang mau dibeli.”
Ucapan Dion kembali membuat suasana makan siang dipenuhi gelak tawa.