Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar Gelap di Tengah Samudra
Aroma garam yang pekat dan suara deburan ombak yang menghantam dinding besi yang tebal perlahan mengembalikan kesadaran Miya Fynezayn. Kepala Miya terasa luar biasa berat akibat efek obat penenang dosis tinggi yang disuntikkan ke tubuhnya di sekolah tadi.
"Ah... shit," umpat Miya lirih dengan logat asingnya yang mendadak serau. Dia mencoba menggerakkan tangannya, namun suara gemerincing besi langsung terdengar. Kedua pergelangan tangannya telah diborgol ke sebuah tiang besi vertikal di dalam ruangan yang remang-remang.
"Gak usah banyak gerak, lo cuma bakal bikin pergelangan tangan lo lecet," sebuah suara lembut yang sangat tenang terdengar dari sudut ruangan yang gelap.
Miya menoleh tajam. Di samping lajurnya, Fyrline Zyornaland duduk dengan posisi bersandar pada dinding besi. Kacamata baca Fyrline sudah hilang, menampilkan sepasang mata dengan tatapan yang sangat tajam, bebas dari topeng kutu bukunya. Rambut sanggulnya sedikit berantakan, namun ekspresi wajahnya tetap sedamai air di dalam botol.
"Fyrline? You... lo kok bisa setenang ini?" tanya Miya, bauran bahasa Indonesia dan Inggrisnya terdengar bingung. "Kita diculik! Kita di mana sekarang?"
"Dilihat dari getaran konstan di bawah lantai dan bau air asin yang pekat... gue asumsikan kita ada di dalam ruang palka kapal kargo yang sedang berjalan di tengah laut," jawab Fyrline santai, seolah-olah dia sedang mendiskusikan cuaca pagi.
"Bagaimana lo bisa tahu?" Miya menyipitkan matanya yang biru jernih, menatap Fyrline dengan pandangan menilai yang baru. "Dan gaya bahasa lo... berubah. Di mana siswi kutu buku yang manis yang duduk di sebelah gue tadi pagi?"
Fyrline tersenyum tipis, sebuah senyuman manipulatif yang membuat bulu kuduk Miya merinding samar. "Topeng sekolah sudah selesai sejak kita masuk ke dalam van hitam itu, Miya. Lagipula, lo sendiri juga bukan sekadar anak ekspatriat kaya yang manja, kan? Tendangan tumit lo di gerbang sekolah tadi... itu teknik melumpuhkan sendi rahang khas militer Eropa Timur."
Miya terdiam, bibirnya yang penuh dikatupkan rapat. Ketegangan psikologis di antara mereka kembali terbangun, namun kali ini di bawah tekanan situasi sebagai tawanan.
"Siapa sebenarnya yang mereka incar?" tanya Miya, mencoba mengalihkan topik sembari memeriksa kekuatan borgol besinya.
"Mereka mengincar gue," sebuah suara datar memotong dari kegelapan sudut lain. Eriza Tryanaz melangkah keluar dari bayang-bayang palka kapal. Borgol di tangannya... entah bagaimana caranya, sudah terlepas dan menggantung longgar di jari telunjuknya. Kulit putih porselennya tampak pucat di bawah lampu pijar kuning ruangan, memancarkan aura kematian yang pekat.
Miya dan Fyrline secara serentak menatap Eriza.
"Gue Eriza. Anak dari Arland dan Ryana," lanjut Eriza tanpa ekspresi, memperkenalkan diri dengan nama aslinya untuk pertama kali. "Para penculik ini adalah bagian dari sindikat saingan orang tua gue. Mereka mau pakai gue sebagai sandera. Tapi karena sistem sekolah mengunci enam data murid baru sekaligus, mereka bingung yang mana wajah gue. Jadi, mereka bawa lo semua."
"Sialan," umpat Miya, bersandar pasrah pada tiang besi. "Jadi gue kena culik cuma gara-gara salah sasaran? This is bisnis konyol!"
"Bukan salah sasaran, Miya," Fyrline menimpali, tatapan matanya berkilat penuh intrik. "Ini namanya takdir. Dan karena kita semua sudah berada di kapal yang sama... kurasa ini saat yang tepat untuk melihat seberapa kuat cakar yang kalian sembunyikan di balik seragam putih-abu-abu itu."
Eriza tidak menyahut. Dia berjalan mendekati pintu palka besi yang terkunci dari luar, menempelkan telinganya ke permukaan logam yang dingin untuk menghitung jumlah langkah kaki penjaga di luar. Ketegangan romantis yang gelap dan dramatis mulai merayap di dalam ruangan itu enam gadis dari dunia hitam, terkunci di tengah lautan lepas, bersiap untuk menunjukkan siapa sebenarnya penguasa malam yang sesungguhnya.