Kisah Princess Mahreen dan Collin Lange
Mahreen Al Khalifa putri bungsu Malik dan Milly Al Khalifa adalah putri Sheikh yang suka hidup bebas tanpa aturan istana hingga Malik harus memberikan Collin Lange sebagai bodyguardnya. Tanpa keluarga Al Khalifa tahu, Collin adalah agen MI6 yang menyamar masuk ke istana Al Khalifa untuk mencari buronan internasional yang bersembunyi di Bahrain. Mahreen dan Collin bagaikan air dan minyak hingga gadis itu tahu misi sebenarnya pria tersebut. Setelah Collin menyelesaikan misinya, dia kembali ke Inggris namun Mahreen bertekad untuk mendapatkan bodyguardnya yang ternyata agen rahasia itu kembali ke dalam pelukannya.
Generasi Delapan Klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan Dari Kenneth
Collin melangkah pelan ke dalam ruangan, suara sepatunya hampir tak terdengar di atas lantai rumah sakit yang bersih. Cahaya lampu neon yang redup menyinari wajah Mahreen yang pucat namun tetap memancarkan kemarahan yang membara. Napasnya masih berat, bukan hanya karena luka-luka fisiknya, tapi juga karena luka di hatinya.
“Jangan mendekat,” bisik Mahreen, suaranya serak namun penuh ketegasan. Matanya, yang biasanya begitu hangat dan penuh tawa, kini dingin membeku seperti es di padang pasir. “Kau bohong padaku. Kau adalah agen MI6. Segala yang kita alami … apakah itu semua sandiwara?”
Collin berhenti beberapa langkah dari tempat tidur. Wajahnya tampak lelah, garis-garis kekhawatiran terukir jelas di sekitar matanya yang bewarna abu-abu. “Tidak,” jawabnya, suaranya rendah namun jelas. “Tidak ada yang palsu dari perasaanku padamu, Princess. Tidak satu pun.”
Dia mengambil satu langkah lagi, lalu satu lagi, mendekati tempat tidur. Mahreen mencoba memalingkan wajahnya, tapi tubuhnya yang masih lemah membuat gerakannya terbatas. Collin berlutut di samping tempat tidur, tangannya yang kasar namun lembut meraih tangan Mahreen yang dingin.
“Aku tahu kau marah. Aku tahu kamu terluka karena aku menyembunyikan siapa diriku yang sebenarnya,” ucap Collin, matanya tak lepas dari wajah Mahreen. “Tapi tolong percayalah, setiap senyumanmu, setiap tawamu, setiap debu pasir yang menempel di rambutmu, saat aku menyelamatkan kamu yang kram hingga ke pantai… semua itu nyata bagiku. Lebih nyata daripada misi apa pun.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Mahreen, namun dia berusaha menahannya. Kemarahan dan kebingungan bertarung dalam hatinya. Collin adalah orang yang membawanya ke dalam bahaya, tapi dia juga orang yang melindunginya dengan nyawanya sendiri.
“Aku bukan agen MI6 ketika aku bersamamu,” lanjut Collin, suaranya semakin lembut. “Aku hanya seorang pria yang jatuh cinta pada seorang princess yang berani, cerdas, dan membuatnya lupa bahwa dunia ini penuh dengan rahasia dan bahaya.”
Dia mendekatkan wajahnya perlahan. Mahreen bisa mencium aroma sabun rumah sakit yang melekat pada kulit Collin, bercampur dengan aroma khasnya yang selama ini memberinya rasa aman. Dia ingin menolak, ingin mendorongnya pergi, tapi tubuhnya seperti kehilangan kekuatan.
Dan kemudian, dengan sangat perlahan, Collin menempelkan bibirnya pada bibir Mahreen.
Bukan ciuman yang penuh gairah atau penuh nafsu. Ini adalah ciuman yang penuh penyesalan, permintaan maaf, dan pengakuan. Hangat, lembut, dan penuh dengan segala perasaan yang tak terucapkan. Di balik rasa marah dan sakitnya, Mahreen bisa merasakan ketulusan dalam sentuhan itu. Dia bisa merasakan getaran di bibir Collin, seperti seorang pria yang sedang menggantungkan seluruh jiwanya pada sebuah harapan.
Saat Collin menarik diri, matanya berkaca-kaca. “Aku mencintaimu, Mahreen binti Al Khalifa. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikannya, jika kau memberiku kesempatan.”
Mahreen menatapnya lama, konflik dalam hatinya perlahan mereda, digantikan oleh kelelahan dan … sebuah benih pengertian. Dia tidak menjawab, tidak juga mengusirnya. Tapi dalam diamnya yang baru, ada sebuah pintu yang terbuka sedikit, cukup untuk sebuah harapan, cukup untuk sebuah awal yang baru.
Suara gedoran di pintu terdengar dan suara Kenneth terdengar disana. Mau tidak mau Collin berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Tampak wajah marah Kenneth di hadapannya. Collin hanya memasang wajah dingin seperti biasanya.
"What the f**** are you doing here?" hardik Kenneth gemas. Dia tahu Collin sama kacaunya dengan Mahreen karena sama-sama patah hati tapi tidak begini juga!
"Memeriksa kondisi Princess," jawab Collin dingin. "Permisi."
Kenneth melihat kepergian sahabat dan rekannya itu dengan perasaan ingin mengeplak kepalanya saking gemasnya. "Dasar!"
Imah bergegas menghampiri Mahreen dan memeriksa kondisinya. "Princess baik-baik saja?"
Mahreen bergegas mengusap air matanya. "Aku baik-baik saja Imah."
"Apakah Agen Lange menyakiti Anda? Atau luka Anda yang sakit? Perlu saya panggil dokter Gallagher?" Imah mencecar Mahreen dengan nada khawatir.
"Tidak ... tidak usah Imah. I'm fine." Mahreen melihat wajah misterius Kenneth.
"Imah, bisa tinggalkan kami berdua?" pinta Kenneth.
"Baik Lord Ferguson." Imah pun keluar dan pintu ditutup pelan.
Kenneth menatap Mahreen dan mengambil sebuah kursi lalu menariknya dekat tempat tidur adiknya. Kenneth pun duduk dan melihat wajah Mahreen yang tampak galau.
"Aku tidak mau tahu apa yang sudah dilakukan Collin padamu karena aku melihat bibirmu bengkak. Mahreen, Mas Ken tahu kalian sebenarnya saling suka kan? Selama kamu kuliah juga tidak ada pacar sama sekali." Kenneth memegang tangan Mahreen.
"Mas Kenneth ngadi-ngadi," jawab Mahreen sambil melengos.
"Mahreen ... Apa kamu tahu. Collin sudah mualaf."
Mata hijau Mahreen terbelalak. "Mualaf?"
"Yup. Dua tahun lalu dia resmi mualaf dan hanya aku serta imam mesjid yang tahu." Kenneth menatap lembut ke Mahreen. "Dia yang orang Irlandia dengan keyakinan yang sangat kental, rela pindah karena tahu, Oom Malik tidak mau berbeda bukan?"
"Sok yakin dia akan jadi pasangan aku!" cebik Mahreen meskipun hatinya menghangat karena Collin sebegitu niatnya.
Kenneth tersenyum tipis. "Justru karena dia yakin, makanya dia berani."
Mahreen hanya memajukan bibirnya. "Aku benci dia Mas!"
"Tidak usah munafik, sayang. Mas tahu soal kamu," kekeh Kenneth.
Mahreen hanya melengos.
***
Malam telah larut ketika lorong rumah sakit mulai sepi. Lampu-lampu putih menerangi koridor yang nyaris kosong, hanya sesekali terdengar suara roda troli perawat yang melintas.
Collin berdiri di dekat pintu kamar Mahreen dengan kedua tangan terlipat di dada. Matanya tetap waspada, mengamati setiap orang yang keluar masuk area perawatan. Meskipun pihak keamanan rumah sakit telah memastikan tidak ada ancaman, naluri seorang pengawal membuatnya tidak bisa lengah.
Di dalam kamar, Mahreen tertidur dengan tenang setelah hari yang melelahkan. Wajahnya terlihat jauh lebih damai dibandingkan beberapa hari terakhir.
Seorang perawat menghampiri Collin sambil membawa berkas. "Anda belum pulang juga?" tanyanya heran.
Collin menggeleng pelan. "Tugas saya belum selesai."
"Padahal kondisi Princess Mahreen sudah stabil."
"Syukurlah," jawab Collin singkat. "Tapi selama dia masih di sini, saya tetap berjaga."
Perawat itu tersenyum kecil sebelum melanjutkan pekerjaannya.
Tak lama kemudian, Kenneth datang membawa dua cangkir kopi. Dia menyerahkan salah satunya kepada Collin.
"Kau sudah berdiri di sini hampir enam jam," katanya.
Collin menerima kopi itu. "Aku baik-baik saja."
"Itu jawaban yang selalu kau berikan."
Untuk pertama kalinya malam itu, Collin tersenyum tipis.
Kenneth menggelengkan kepala. "Kadang aku heran. Tidak ada ancaman, tidak ada laporan intelijen, tidak ada orang mencurigakan. Tapi kamu tetap berjaga seperti benteng."
Collin menatap ke arah pintu kamar Mahreen.
"Karena tugas seorang pengawal bukan hanya bereaksi saat bahaya datang," ujarnya tenang. "Tugasnya memastikan bahaya itu tidak pernah sempat mendekat."
Kenneth tertawa kecil. "Kamu itu agen MI6, C."
"Sama saja! Tugas aku melindungi Mahreen," jawabnya tegas.
Di balik pintu kamar, Mahreen yang sempat terbangun mendengar sebagian percakapan itu. Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum ia kembali menyandarkan kepala ke bantal.
Sementara itu, di lorong yang sunyi, Collin kembali mengambil posisinya. Malam masih panjang, dan ia berniat mengawasi hingga matahari terbit. Tidak peduli ada ancaman atau tidak, ia akan tetap berada di sana, menjaga Mahreen dengan kesetiaan yang tidak pernah goyah.
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kayak jam3s bond dong😄
duh bahagianya papanya Kenz dan Elina jadi role model suami idaman para gadis Pratomo
dok Lucky makin songong tu dijadiin role model pria ter green flag se klan Pratomo 😆🤭