Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Sisa Nafas Finansial
"Tiga kontraktor utama tol lingkar luar mencabut nama Dion dari daftar vendor pagi ini," kata Herman sambil menarik kursi plastik.
Regan mengambil gelas kopi, meniup permukaannya lambat. Lidahnya mengecap rasa pahit murni. "Siapa saja?"
"PT Waskita, Amarta Karya, sama satu konsorsium swasta milik Astra," Herman membuka lembaran laporan manual hasil ketikan mesin tik. "Mereka mengalihkan seluruh alokasi pengadaan kabel tembaga ke vendor proksi kita, PT Samudera Inti. Dion kehilangan potensi omzet senilai empat puluh juta rupiah dalam waktu dua jam."
Regan membalik halaman laporan keuangan itu dengan jemari mudanya yang stabil. Otak pria lima puluh delapan tahun di dalam dirinya menghitung sisa napas finansial Dion. Di kehidupan lalu, Dion menggunakan modal dari penipuan ini untuk memijat jaringan birokrat pelabuhan. Kali ini, Regan menyumbat nadinya sebelum darah itu sempat mengalir.
"Gimana cara lu meyakinkan orang-orang Waskita?" Herman condong ke depan, matanya penuh rasa takjub yang tertahan. "Dion punya rekomendasi langsung dari pejabat daerah."
"Rekomendasi itu tidak ada gunanya kalau pasokan barangnya terbukti ilegal, Bang," jawab Regan datar. Ia menyesap kopinya kembali. "Gue cuma kirim salinan manifes manifes palsu dari pelabuhan Tanjung Perak yang dipakai supplier Dion di Surabaya. Kontraktor bumn paling takut sama audit kejaksaan. Mereka coret nama Dion sebelum jam kantor dimulai."
Nara masuk membawa tumpukan map hukum dari arah tangga ruko. Langkah kaki gadis itu terdengar tegas di atas lantai tegel kusam. Ia menaruh tas kanvasnya di atas meja, langsung melirik lembaran angka merah di depan Regan.
"Ini bukan sekadar persaingan bisnis, Re," kata Nara, menarik kursi besi di sebelah Regan. "Lu memotong jalur suplai Dion sampai dia nggak punya ruang buat bergerak."
Regan menatap iris mata cokelat Nara. "Dia yang melempar lumpur ke toko bapak lu lewat koran nasional, Ra. Gue cuma mengembalikan lumpurnya dalam bentuk tagihan bank."
Nara melipat tangan di dada. "Gue tahu Dion bajingan. Tapi klausa kontrak yang lu pasang di dokumen kemarin... lu sadar lu bisa menyita rumah ibunya kalau proyek ini gagal total?"
Regan bersandar pada sandaran kursi. Pandangan matanya sedingin es. "Dunia bisnis Jakarta tidak menyediakan ruang buat orang kasihan, Ra. Dion menaruh tanda tangan tanpa membaca pasal penutup karena dia serakah. Keserakahan selalu punya harga yang mahal."
"Lu dingin banget," bisik Nara. Ada gesekan ketegangan yang pekat di antara mereka. Nara tidak pasif, ia menatap ulu hati mental Regan, mencari sisa kebaikan pemuda yang ia kenal. "Lu membuat gue berpikir lu menganggap semua orang di ruangan ini cuma bidak catur."
"Kecuali lu," jawab Regan rendah, artikulasinya jernih mengunci fokus Nara.
Pipi Nara bersemu kemerahan, rona panas menjalar cepat hingga ke daun telinganya. Ia memalingkan wajah ke arah jendela ruko, menyembunyikan detak jantungnya yang mendadak melompat liar. Sinar matahari siang Menteng membakar kaca jendela yang buram oleh debu, memantulkan visual Jakarta tahun sembilan puluh tiga yang sibuk dan bising.
"Herman," panggil Nara, mengalihkan gugupnya dengan suara tegas. "Dokumen investasi sepuluh juta dari CV Net Baru buat agensi iklan gue udah siap? Gue mau bawa ke kantor dinas perpajakan sore ini."
Herman merogoh tas kulitnya, menyerahkan tiga rangkap kertas bermeterai enam ribu. "Udah beres, Neng Nara. Nama perusahaan lu tercatat sebagai rekanan eksklusif jaringan komunikasi data kita."
"Bagus," Nara menyambar berkas itu, memasukkannya ke dalam tas kanvas. "Gue nggak mau agensi gue jalan pakai uang bakti sosial. Uang sepuluh juta ini bakal gue kembalikan beserta profitnya dalam enam bulan."
Regan memperhatikan gerakan tangan Nara yang lincah. Kebanggaan halus merayap di dadanya. Nara memiliki harga diri yang tinggi, menolak tunduk atau menjadi beban. Itulah alasan mengapa Regan mencintainya di dua kehidupan.
"Dion sekarang pasti lagi keliling Glodok cari pinjaman darurat," kata Herman, memutus keheningan hangat di antara Regan dan Nara. "Giro kosongnya di Bank Dagang Negara jatuh tempo besok senin jam sepuluh pagi. Kalau dia nggak bisa setor dua belas juta, namanya masuk daftar hitam bank sentral."
Regan menaruh gelas kopinya yang tinggal ampas. "Dia nggak bakal dapat sepeser pun di Glodok. Gue udah suruh Koh Aliong kasih tahu semua tengkulak komputer dan elektronik kalau Dion punya sengketa hukum di kejaksaan. Siapa yang kasih dia pinjaman, bakal ikut diaudit sama orang pajak."
Herman menggelengkan kepala, separuh ngeri melihat kekejaman taktis Regan. "Lu menutup semua pintu penyelamatan dia."
"Ini permainan yang kotor, Bang," ucap Regan pelan, monolog batinnya dipenuhi bayangan tubuh tua sebatang karanya yang mati di lantai marmer puluhan tahun kemudian akibat pengkhianatan Dion. "Tapi pemain yang lebih kotor yang memulainya di masa lalu. Gue cuma menyelesaikan permainan sebelum dia sempat berbuat curang."
Nara berdiri, memeluk tas kanvasnya erat. "Gue balik ke kampus dulu, Re. Ada kelas hukum acara perdata jam dua siang."
"Gue antar sampai halte."
"Ngak usah. Lu urus aja jaringan tol digital lu itu," tolak Nara cepat, namun sudut bibirnya mengukir senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Jangan sampai komputer lemari lu itu mati kehabisan daya."
Regan melepas kepergian Nara dengan tatapan mata yang hangat. Begitu bayangan kemeja flanel merah gadis itu hilang di balik pintu ruko bawah, kehangatan di wajah Regan lenyap tak berbekas. Aura predator bisnis kembali menguasai tubuh mudanya.
Sementara itu, di sebuah ruko sewaan sempit kawasan Salemba, udara terasa mencekik.
Dion Hartawan berdiri di dekat meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan kertas brosur seminar yang lecek. Kemeja garis-garisnya basah oleh keringat dingin, dasi poliester birunya sudah ditarik longgar hingga menggantung miring di leher.
Telepon putar di atas mejanya berdering nyaring berulang kali. Suara bel mekaniknya memekakkan telinga.
Dion menyambar gagang telepon itu dengan sentakan beringas. "Halo! Iya, dengan Dion di sini! Pak, tolong dengar penjelasan saya dulu, pengiriman kabel dari Surabaya itu-"
"Nggak ada penjelasan lagi, Dion!" suara serak manajer pengadaan PT Waskita bergaung keras dari balik kabel spiral. "Legalitas supplier lu cacat. Manifes kontainer lu di Tanjung Perak bermasalah sama bea cukai. Kami cabut kontrak pengadaan kabel tembaga hari ini. Jangan telepon saya lagi!"
Klik.
Nada sambung terputus berbunyi tut-tut-tut yang monoton.
Dion membanting gagang telepon itu hingga dudukannya retak. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan liar. Darah seakan tersedot habis dari kepalanya, menyisakan rona merah padam akibat amarah dan rasa malu yang membakar harga dirinya.
"Sialan! Bajingan!" pekik Dion, suaranya melengking frustrasi di dalam kantornya yang gerah tanpa ac.
Pintu kantornya didorong terbuka. Anton masuk dengan wajah pucat, memegang selembar kertas memo dari Bank Dagang Negara. Tangannya bergetar hebat.
"Yon... proyek kabel kita hancur," kata Anton, suaranya parau, nyaris menangis. "Tiga kontraktor besar mencabut dana uang muka mereka. Bank barusan telepon, kalau besok senin jam sepuluh pagi kita nggak setor dua belas juta buat nutup giro, rumah keluarga lu disita sesuai klausul jaminan di kontrak."
Dion merampas memo itu, membacanya dengan mata nyalang. Kepalanya pusing, pandangannya berkunang-kunang melihat deretan angka tagihan yang mustahil ia lunasi dalam sisa waktu dua puluh empat jam.
Ia ingat kontrak yang ia tanda tangani di kantin bersama Regan minggu lalu. Pasal penutup tulisan tangan pulpen Parker itu. Rencana bisnis yang ia pikir sebagai tiket emas menuju lingkaran elit Jakarta, kini bermetamorfosis menjadi tali gantungan yang siap mencekik leher keluarganya.
"Ini pasti gara-gara Regan," desis Dion, suaranya parau penuh kebencian pekat. "Anak buruh pabrik itu... dia yang merancang semua ini dari awal! Dia memotong jalur gue!"
"Gimana caranya, Yon?" Anton menyeka air matanya yang menetes ke lantai tegel. "Regan cuma anak kontrakan miskin di Bendungan Hilir. Mana punya kekuatan buat menggerakkan bea cukai sama kontraktor bumn? Ini murni karena supplier kita di Surabaya yang curang!"