evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Baca buku bersama
Setelah kesepakatan pertemanan yang sederhana itu, suasana di perpustakaan terasa jauh lebih santai.
Evelyn berjalan ke salah satu rak favoritnya lalu mengambil beberapa buku. Sebagian adalah novel, sebagian lagi buku sejarah dan filsafat yang sering ia baca berulang kali.
Ia kemudian menoleh pada Cristian. “Kalau aku membaca, kamu juga bisa ikut membaca.”
Cristian yang sedang berdiri di dekat rak lain mengangkat alis. “Itu perintah atau ajakan?”
“Ajakan.”
“Kalau begitu saya terima.”
Tanpa terlalu memikirkan pilihan, Cristian mengambil sebuah buku secara acak dari rak terdekat.
Mereka lalu duduk di meja baca yang panjang. Evelyn di satu sisi, Cristian di sisi seberangnya.
Ruangan kembali hening. Hanya suara lembaran kertas yang sesekali dibalik. Namun beberapa menit kemudian, Evelyn tanpa sengaja melihat sampul buku yang berada di tangan Cristian. Matanya langsung berhenti di sana.
"Tentang Dendam dan Akibatnya"
Evelyn berkedip pelan.
Apakah dia sengaja mengambil buku itu?
Namun setelah memperhatikan ekspresi Cristian yang tampak sama sekali tidak menyadari isi bukunya, Evelyn mulai berpikir itu hanya kebetulan.
Tetap saja...
Kebetulan yang sangat ironis. Karena di kehidupan sebelumnya, tidak ada yang lebih mendominasi hidup Cristian selain dendam.
Evelyn menutup bukunya perlahan. Sebuah ide muncul di kepalanya. Jika ia ingin mengubah masa depan, maka ia harus memahami luka yang dimiliki Cristian. Dan untuk memahami luka seseorang...
Ia harus membuat orang itu mau bercerita.
“Ian?”
Cristian mengangkat pandangan dari bukunya. “Ya, Nona?”
“Kalau kita teman, jangan panggil aku Nona terus.”
Cristian tersenyum tipis. “Baiklah. kalau begitu...Evelyn.”
Mendengar namanya disebut begitu saja membuat Evelyn merasa sedikit puas.
“Menurutmu...” Evelyn melirik buku di tangan Cristian. “Apa dendam itu selalu buruk?”
Cristian terdiam beberapa detik. Matanya turun ke sampul buku yang baru sekarang benar-benar ia perhatikan. Ia tampak sedikit heran karena baru sadar buku yang diambilnya membahas topik itu.
“Pertanyaan yang sulit,” jawabnya akhirnya.
“Kenapa?”
Cristian menyandarkan punggung ke kursi. “Karena kadang dendam lahir dari ketidakadilan.”
Evelyn memperhatikan wajahnya dengan saksama.
“Kalau seseorang kehilangan orang yang dicintainya karena perbuatan orang lain...” lanjut Cristian pelan, “wajar kalau dia marah.”
Nada suaranya tetap tenang. Namun ada sesuatu yang berat di balik kata-kata itu. Evelyn bisa merasakannya.
“Lalu kalau kemarahan itu berlangsung bertahun-tahun?”
Cristian tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Mungkin itu bukan lagi kemarahan.”
“Lalu apa?”
“Luka yang tidak pernah sembuh.”
Jawaban itu membuat Evelyn terdiam. Karena untuk sesaat, ia merasa sangat yakin Cristian tidak sedang berbicara tentang orang lain. Ia sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu pria itu, Evelyn merasa ia sedang melihat sedikit celah menuju rahasia yang selama ini disembunyikan Cristian.
Evelyn terdiam beberapa saat setelah mendengar jawaban Cristian tentang luka yang tidak pernah sembuh.
Jemarinya masih memegang buku, tetapi matanya tidak lagi membaca barisan kata-kata di halaman itu. Ia justru memikirkan Cristian. Tentang pria yang duduk di seberangnya. Tentang masa lalu yang disembunyikannya. Dan tentang dendam yang kelak akan menghancurkan banyak orang.
Evelyn menarik napas pelan. Ia harus lebih berhati-hati. Jika terlalu terburu-buru, Cristian akan curiga. Karena itu ia memilih pertanyaan yang lebih halus.
"Ian..."
"Hmm?"
Cristian mengangkat pandangan dari bukunya.
Evelyn tersenyum kecil. "Kamu tadi bicara seperti seseorang yang pernah terluka."
Cristian terdiam.
Evelyn melanjutkan dengan nada ringan, seolah hanya mengobrol biasa. "Apa kamu punya luka hati yang masih kamu ingat sampai sekarang?"
Suasana mendadak sedikit hening. Cristian tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke halaman buku yang terbuka di depannya. Untuk sesaat, bayangan masa lalu kembali muncul.
Mobil yang ringsek.
Tubuh ayahnya.
Tangisan ibunya.
Dan dirinya yang hanya bisa menyaksikan semuanya.
Namun ekspresi di wajahnya tetap tenang. Sangat tenang. Hingga sulit ditebak apa yang sedang dipikirkannya.
"Luka hati?" ulang Cristian pelan. Kemudian ia tersenyum tipis. "Mungkin."
Evelyn menunggu.
"Tidak ada yang istimewa," lanjut Cristian santai. "Hanya beberapa hal kecil waktu masih anak-anak."
"Apa kamu masih ingat?"
Cristian mengangkat bahu. "Tidak terlalu."
Jawaban singkat itu terdengar biasa. Tetapi Evelyn tahu itu bohong. Bukan kebohongan yang buruk. Melainkan kebohongan seseorang yang belum siap membuka luka lamanya.
Karena Evelyn tahu persis. Cristian mengingat semuanya. Sangat jelas. Mungkin bahkan lebih jelas daripada hari kemarin. Namun ia memilih menyimpannya sendiri.
Evelyn tidak memaksa. Ia hanya tersenyum kecil lalu menunduk kembali pada bukunya.
"Begitu ya."
Percakapan itu berakhir sampai di sana. Mereka kembali membaca dalam keheningan. Lampu perpustakaan memancarkan cahaya hangat di antara rak-rak buku yang tinggi. Sesekali terdengar suara halaman yang dibalik atau langkah pelayan yang lewat di luar ruangan.
Evelyn kembali menatap bukunya. Tetapi dalam hati ia membuat keputusan. Hari ini bukan waktunya. Besok mungkin juga belum. Namun suatu hari nanti...
Ia akan mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Cristian.
Dan saat hari itu tiba, mungkin ia akhirnya bisa memahami bagaimana cara menyelamatkan diri dari pria yang terus hidup bersama luka masa lalunya.
Waktu berlalu tanpa terasa. Suasana perpustakaan tetap tenang, hanya ditemani suara halaman buku yang dibalik sesekali. Di luar jendela, langit sudah benar-benar gelap.
Hingga...
Grrrttt...
Suara perut yang berbunyi memecah keheningan. Cristian langsung membeku.
Evelyn yang sedang membaca mengangkat kepalanya perlahan. Beberapa detik mereka saling menatap.bLalu wajah Cristian terlihat sedikit canggung.
Evelyn menahan senyum. "sepertinya Perutmu lapar."
Cristian berdeham pelan. "Sepertinya begitu."
Evelyn menutup bukunya. "Kamu harus makan."
Cristian melirik jam dinding. Memang sudah hampir pukul sembilan malam.
"Lalu Anda?" tanyanya. "Apa tidak makan malam bersama keluarga?"
Pertanyaan itu membuat senyum tipis Evelyn perlahan memudar.nIa menunduk sesaat sebelum menjawab.
"Tidak ada makan malam bersama di rumah ini."
Cristian terdiam.
"Evelyn..." suara Cristian tertahan.
"Ayah biasanya pulang larut," lanjut Evelyn dengan nada biasa, seolah sedang menceritakan hal yang sudah sangat lumrah baginya. "Rachel, Lauren, dan Charlie bahkan lebih larut dari kepulangan ayah."
Ia tersenyum kecil.
"Jadi semua orang makan sendiri-sendiri."
Entah kenapa jawaban sederhana itu membuat dada Cristian terasa sedikit sesak.
Rumah sebesar ini. Keluarga sekaya ini. Tetapi bahkan makan malam bersama pun tidak ada.
"Kalau begitu saya akan menunggu Anda selesai membaca."
Evelyn menggeleng pelan.
"Tidak perlu ian."
"Tidak masalah evelyn."
"Tapi kamu sudah lapar kan!"
"Saya masih bisa menunggu."
Evelyn memperhatikannya beberapa saat. Lalu akhirnya ia tertawa kecil.
"Dasar Keras kepala."
Cristian hanya tersenyum.
Melihat pria itu tidak berniat pergi, Evelyn akhirnya menutup buku yang sedang dibacanya. "Baiklah. Kita akhiri sampai di sini."
Mata Cristian sedikit melebar. "Hanya karena saya lapar?"
"Kamu sudah berdiri, mengantar, menjaga, dan menemaniku seharian."
Evelyn bangkit dari kursinya. "Sekarang giliran kamu yang istirahat."
Cristian tidak membantah lagi. Mereka mulai membereskan meja baca. Namun sebelum kembali ke kamar, Cristian mengambil beberapa buku pilihan Evelyn lebih dulu.
"Biar saya yang membawa."
Tumpukan buku itu cukup banyak.
"baiklah."
Mereka pun keluar dari perpustakaan. Perjalanan menuju kamar Evelyn di lantai atas cukup jauh. Lorong-lorong mansion yang luas membuat jarak terasa lebih panjang dari rumah biasa.
Saat mereka berjalan, beberapa pelayan wanita yang sedang bekerja sempat menoleh diam-diam. Sebagian bahkan berbisik kecil setelah Cristian lewat.
Sulit untuk tidak memperhatikannya. Posturnya tinggi dan tegap. Wajahnya tampan dengan garis rahang tegas, sementara sikapnya tenang dan sopan. Bahkan seragam sederhana yang dikenakannya tidak mampu mengurangi daya tariknya.
Cristian sendiri sama sekali tidak menyadari perhatian itu. Fokusnya hanya pada buku-buku di tangannya dan langkah Evelyn di depannya.
Sedangkan Evelyn... Ia justru memperhatikan semuanya.
Beberapa pelayan yang tersipu. Tatapan-tatapan penasaran yang mengikuti Cristian. Dan entah kenapa, ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Perasaan yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.
Untungnya, sebelum ia sempat memikirkannya lebih jauh, mereka akhirnya sampai di depan kamar Evelyn.
Cristian meletakkan buku-buku itu di meja dekat jendela.
"Nah, tugas selesai."
Evelyn tersenyum kecil. "Terima kasih, Ian."
Dan untuk sesaat, Cristian merasa lelah seharian ini menjadi jauh lebih ringan hanya karena mendengar ucapan sederhana itu.