cinta? bagi ku, cinta itu adalah suatu rasa yang memang tidak pandang kepada siapapun rasa itu akan berlabuh, rasa itu akan bersemayam, dan bahkan rasa itu kepada siapa akan menetap. yang aku tahu, aku mencintai mu, aku mencintai dia dengan tulus dan penuh ikhlas. walau aku tahu kemungkinan aku dan dia akan bersatu dan akan hidup bersama sebagai pasangan suami istri sangatlah tipis. aku berusaha melupakannya, tapi sulit. dia masih saja ada dalam hati dan pikiran ku. aku mencintai mu, dia yang ada di hati ku sampai detik ini. rasa cinta yang sebenarnya dari awal sudah jelas sangatlah SALAH.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taurus girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Riyan linglung, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain memeluk Niya erat sambil mengusap punggungnya dengan lembut. Riyan tidak tahu apa yang baru saja terjadi dengan Niya tapi sepertinya keadaan Niya tidak baik baik saja.
"Mas, aku takut. Aku takut, Mas, hiks..."
Isak tangis Niya terdengar menyayat hati. Riyan tidak bisa berkata apa apa. Hanya bisa menenangkan lewat sentuhan dan pelukan.
"Ayah. Bunda, kenapa?"
Riyan menoleh menatap Zona yang ada diambang pintu kamar. Riyan menaruh telunjuk dibibirnya memberikan isyarat agar Zona diam dan tidak banyak bertanya.
"Sayang, aku ambilkan baju dulu. Ganti bajumu ya,"
Riyan berbisik tepat ditelinga istrinya. Niya mengangguk. Tapi tatapan matanya masih seperti ketakutan bahkan badannya terlihat menggigil. Dia berjalan masuk kedalam kamar mandi untuk mengguyur badannya yang kotor.
"Niya, ini bajumu."
Itu suara Riyan, perlahan Niya menyudahi membilas badannya memakai handuk yang sudah ada dibelakang pintu kamar mandi. Kemudian membuka pintu. Menerima pakaian yang suaminya bawakan untuknya.
Niya menutup kembali pintunya. Kemudian memakai pakaian yang Riyan ambilkan. Sesudah itu Niya keluar kamar mandi dan langsung berjalan mendekati suaminya yang kini duduk ditepian tempat tidur sambil menatap kearahnya.
"Kau tidak apa apa Niya?"
Niya menggeleng. "Tidak apa apa. Zona mana Mas? Arfi sebentar lagi pulang. Mau dijemput tidak?"
"Zona kusuruh main didepan. Apa yang sebenarnya terjadi Yang?"
"Tadi ada pria Mas kesini, dia mencarimu. Aku pikir dia adalah orang kantormu karena memanggilmu dengan sebutan Bapak. Tapi...tapi dia...dia itu...dia...dia---"
"Dia apa? Dia apa Niya?"
"Saat aku sedang membuat minuman sambil menelepon mu, Dia tiba tiba memeluk ku dari belakang Mas. Ku pikir itu kau tapi bukan. Yang ku ingat dia membekap ku dan pandangan ku langsung gelap. Setelah itu aku tidak tahu apa apa lagi dan aku kembali sadar sudah dalam keadaan terikat di kamar Mas makanya aku takut."
Rahang Riyan mengeras mendengar Niya bercerita. Masalah satu belum Riyan selesaikan tapi sudah timbul masalah baru. Apalagi ini menurutnya sudah keterlaluan karena membawa bawa Niya. Jika dia orang kantor tapi siapa?
Apa Nino?
Jika benar dia Nino dia benar benar sudah keterlaluan. Dia sudah membuat ku di pecat dari pekerjaan dan sekarang berani datang ke rumah dan membuat Niya ketakutan. Kurang ajar!
Sementara itu di tempat yang berbeda. Seorang wanita dan dua orang pria sedang berpesta merayakan keberhasilannya dalam bertugas. Mereka sangat puas dengan hasil yang telah mereka rencanakan sejak dulu.
"Akhirnya apa yang kita inginkan sudah tercapai Kak. Aku sudah sedikit puas untuk hasil ini." kata si Wanita.
"No! Aku belum puas. Aku ingin lebih mengusahakan lagi yang lebih baik. Semoga rencana ku yang ini berhasil." ucap Pria yang paling tua.
"Apa yang mau kau usahan lagi Kak? Bukannya ini sudah puncak kejayaan ya?" tanya Pria kedua dia lebih muda dari pria yang paling tua.
"Pokoknya ada lah. Kalian liat saja besok."
"Tapi Kak. Tadi kau apakan si wanita itu? Tidak kau pakai kan di kamarnya?" si wanita bertanya dia cukup penasaran karena tadi pria yang dia sebut kak lama sekali di dalam kamar.
"Ah kepo banget kau ini. Itu urusan ku bukan urusan mu,"
"Hei, tapi kan aku ingin tahu. Lagi pula aku tidak sudi ya kalau dia sampai melahirkan anak mu,"
"Aku ini lebih tua dari mu. Aku ini lebih tahu dari pada diri mu. Dasar anak kecil,"
"Aku bukan anak kecil aku sudah dewasa,"
"Hei, sudah sudah. kalian kok malah ribut. Malu di dengar orang," pria kedua menengahi karena bosan melihat mereka berdua selalu berdebat.
Keesokan harinya.
Niya sudah berperan seperti biasa. Dia menjadi wanita super duper sibuk di pagi hari. Tanpa tahu jika dia di perhatikan dari jauh oleh suaminya. Riyan merasa lega karena Niya sudah terlihat ceria seperti hari hari kemarin.
Sibuk perhatikan istri, Riyan terlonjak saat ada sesuatu yang menarik ujung kaosnya. Dan saat Riyan menoleh ternyata Zona yang menariknya dia dan juga Arfi yang baru saja bangun tidur.
"Ayah lagi apa?" tanya Zona sambil mengucek satu matanya. Hawa mengantuk masih menguasai dirinya. Jika tidak ingat pagi ini ada materi sekolah mungkin Zona masih tidur nyenyak.
"Iya. Ayah lagi apa? Kenapa cuma liatin Bunda? Kenapa tidak ikut bantu Bunda?" ini Arfi yang bicara dia heran karena Ayah hanya pandang Bunda dari kejauhan sementara Bunda kelihatan kerepotan di dapur sana.
Riyan tersenyum. Dia jongkok di depan kedua anaknya. "Kalian anak Ayah kenapa pintar sekali hn?" mengacak rambut Arfi dan Zona.
Zona manyun. "Ayah nggak jawab."
Matanya masih nyari ke arah dapur, tempat Niya lagi ngaduk sayur.
Arfi lebih peka. Dia meluk pinggang Riyan. "Ayah, Bunda kenapa? Tadi malem Bunda nangis ya? Arfi denger."
Dada Riyan sesak. Dia narik napas, narik kedua anaknya ke pelukan. "Bunda nggak apa-apa. Cuma tidak enak badan saja,"
Riyan noleh ke Niya. Tatapan mereka ketemu. Niya tersenyum. Senyum seperti sediakala.
"Sekarang yuk bantu Bunda siapin sarapan, biar Bunda nggak repot."
"Siap, Kapten!" Arfi lari ke dapur. Zona ngikutin sambil masih cemberut.
Riyan berdiri. Kakinya berat. Matanya nggak lepas dari bekas memar samar di pergelangan tangan Niya yang ketutup lengan panjang.
Nino. Nama itu berputar di kepala Riyan kayak bor.
Di pecat gara-gara dia. Sekarang dia dateng ke rumah, nyentuh istrinya.
Tangan Riyan ngepal sampe buku jarinya putih.
"Mas?"
Suara Niya pelan. Dia udah di depan Riyan, nyodorin susu jahe hangat. Mata sembabnya ditutupin bedak, tapi Riyan hafal. Itu mata yang semaleman nggak tidur.
"Kamu duduk dulu," kata Riyan. "Biar Mas yang—"
"Nggak usah, Mas." Niya senyum. Getir. "Kalo aku diem, aku malah kepikiran terus. Mending sibuk."
Riyan ngerebut cangkir dari tangan Niya, naruh di meja. Terus narik Niya ke pelukan. Erat. Dagunya di atas kepala Niya.
"Maaf," bisik Riyan. Suaranya pecah. "Mas nggak jaga kamu. Mas janji nggak bakal kejadian lagi."
"Dia nggak bakal balik," geram Riyan. "Mas pastiin."
"Yah! Bunda! Telurnya gosong!" teriak Arfi panik.
Niya narik diri dari pelukan Riyan, ngusap air mata buru buru. "Aduh anak Ayah." Dia lari ke dapur.
Riyan masih diem. Ngeliat punggung istrinya yang sok kuat.
Terus ngeluarin HP. Buka kontak: Galih - Security Kantor Lama.
Bro, butuh bantuan. Tanyain CCTV tanggal 27. Ada yang ngaku-ngaku temen kantor dateng ke rumah. Namanya Nino. Urgent.
pesan dari siapa?