Seorang gus bernama Ali Mahendra adalah putra kiyai kharismatik yang dipersiapkan menjadi penerus pesantren—jatuh cinta pada Nayla Malika seorang gadis yang terjebak dalam dunia Mafia karena masa lalunya yang rumit antara ibunya wanita Indonesia dan sang ayah pria Arab Saudi.
Sang Kiyai yang tahu jika Putra tunggalnya mencintai Nayla, berusaha mencarikan calon istri yang baik---anak dari Kiyai di pesantren lain.
Ning Syifa Maulida seorang anak Kiayai yang akan di nikahkan oleh Gus Ali.
Mampukah Ali dan Nayla bersama dalam perbedaan dunia sosial dan lingkungan. Atau Bagaimana Ali mengatasi masalah ini agar tak kehilangan Nayla
Cinta mereka bukan hanya tentang dua hati, tapi tentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sajadah dan senjata, doa dan darah, dzikir dan dendam semuanya menjadi satu dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Kepolisian malang, ruangan Inspektur Jendral Polres Malang.
Sore ini ruangan terasa tegang dan khawatir, di hadapannya seorang Inspektur Jendral berhadapan dengan Syekh Khaled bin Muhammad Al-Harrits.
Keduanya tengah duduk dengan suasana tegang dan juga Fahad duduk di samping sang ayah.
Wajahnya tenang.
Namun rahangnya mengeras, di sampingnya Fahad mengenakan kemeja putih yang sudah lecek karena memikirkan saudarinya.
Sorot mata keduanya menatap tajam ke arah layar monitor yang menampilkan peta di wilayah Jawa Barat.
"Terakhir di lihat keberadaan Nayla, ada di sebuah Tol Ciawi."
Mata Khaled dan Fahad saling menatap satu sama lain, keduanya pernah melewati tol Ciawi untuk perjalanan Bisnis.
"Apa nama desanya Inspektur?" tanya Fahad.
"Cikadut."
Mendengar nama desa itu Fahad hanya mengernyitkan keningnya, sementara Khaled hanya membulatkan mata dan menelan salivanya.
"Nayla juga membuka pabrik minuman keras berupa Alkohol, selain ganja dan sabu."
Inspektur Jendral menjelaskan kepada Khaled dan Fahad keduanya hanya bisa menghela napas.
Khaled sangat kaget mendengar dimana Nayla tinggal sekarang dan menjalani bisnis haramnya, itu adalah Desa dimana Ratna berasal.
Ratna sengaja menjauh dari Desa itu untuk menghilangkan masa lalunya, dan memilih pindah ke Malang.
Sekaligus mencari putrinya yang sudah Ratna jual kepada Mafia, Ratna mendengar jika rumah Suradinata ada di Jawa Timur.
Namun, Ratna secara pribadi tak tahu persis dimana alamat atau letak kotanya.
Hanya tahu jika rumah Aditya Suradinata seorang boss Mafia yang di takuti, rumahnya ada di Jawa Timur.
Khaled sengaja membelikan rumah di Malang untuk istri dan anak-anak mereka, juga di urus secara negara.
"Wilayah itu sangat terpencil ada indikasi aktivitas ilegal di sana."
Fahad tak tahu jika Nayla menjalankan bisnis ilegal disana hanya untuk membalas dendam.
Rasa sakit hatinya kepada warga desa terbawa sampai dewasa, Nayla membangun bisnis prostitusi, Kasino dan pembuatan tato.
Tapi berkat Nayla Desa itu berkembang menjadi wisata, dan bahkan sebentar lagi menjadi "s*x tourism" pendapatan warga desa menjadi meningkat setelah Mafia mengambil alih wilayah itu.
Pendapatan meningkat, namun penghasilannya apakah halal.
"Astagfirullah," ucap Khaled mengelus dada.
Karena Khaled barusan mendapatkan informasi apa saja aktivitas yang Nayla lakukan bersama Gani, di desa itu.
Sungguh Nayla tak ada ampun, banyak ormas yang mati. Dan pemerintah Daerah tak bisa berbuat banyak karena sudah menerima suap dari Nayla.
Tak lama ponsel Khaled berdering---Ponsel Khaled.
Pria yang sudah berumur itu langsung mengecek ponselnya, panggilan itu ternyata dari Ratna.
Khaled langsung izin menjauh dari sana, biar soal Nayla akan di urus oleh Fahad.
“Assalamu’alaikum, habibti.”
Di rumah megah mereka, Ratna Al-Harrits tengah duduk di ruang keluarga.
Tubuhnya terbalut anggun mengenakan gamis warna navy dengan bordiran emas halus di bagian lengan dan dada. Selendang tipis warna senada menutupi kepalanya anggun.
Di kanan dan kirinya, ada dua putranya bernama Muhammad dan Fayez---kedua adik biologis Nayla.
Keduanya sedang fokus menonton televisi, bersama ibu mereka.
"“Wa’alaikumussalam,” jawab Ratna lembut, namun ada kegelisahan di suaranya.
“Anta masih di kantor polisi?” tanya Ratna.
"Na'am." (Iya)
Khaled menyahut panggilan istrinya, dan pria itu mengatakan jika putrinya berada di Desa Cikadut.
Mendengar nama desa kelahirannya, Ratna langsung berdiri dan membulatkan matanya.
"Madha?!" (Apa?!") teriak Ratna secara spontan.
Muhammad dan Fayez langsung menatap ibu mereka dengan heran.
Menyadari hal itu Ratna segera bangkit dan meninggalkan kedua putra mereka menonton televisi.
"Kalian disini dulu, Mama mau ke kamar ambil sesuatu, oke?" ujar Ratna.
"Oke," jawab keduanya serempak.
Ratna sengaja menjauh karena dirinya tak mau bila kedua putranya mendengar percakapan----yang hanya untuk orang dewasa.
"Lahzat min fadlik ya eazizati, sa'adhhab 'iilaa ghurfati li'anah lan yakun min allatif 'an yasmae al'atfal ma 'aqula." ("Sebentar sayang aku akan ke kamar karena tak enak bila anak-anak dengar,") ucap Ratna.
Langkah Ratna terburu-buru meninggalkan ruang tamu, lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Setelah di kamar dirinya langsung, melanjutkan percakapan bersama suaminya.
"Madha wajadtum eind alshurta?" ("Apa yang kamu temukan bersama para polisi?") tanya Ratna dengan memejamkan matanya.
Ratna siap mendengar apa sang suami temukan, dan apa yang telah di lakukan putrinya.
Wanita itu siap mendengar kelakuan putrinya yang pasti sangat buruk, karena ini semua kesalahannya sebagai seorang ibu.
Sebelum menjelaskan Khaled menarik napas dalam.
"Ratna, abnatuna faealat 'ashya' kathirat taduru bialakhrin. baye almukhadirat wa'iidarat kazinu fi qaryatiki." ("Ratna, putri kita sudah melakukan banyak tindakan yang merugikan orang lain. Penjualan Narkoba dan bisnis Kasino di Desamu,") jelas Khaled.
Deg.
Mendengar itu rasanya, tubuh Ratna seperti di bakar hidup-hidup.
Putrinya---Nayla sudah sejauh ini, saat membeli rumah ini Nayla memang sempat membantu mengusir Ormas dan Sengketa.
Namun, sejak saat itu Ratna merasa bersalah di hatinya.
Putri yang selama ini sudah di jual menjadi berjasa baginya, namun putri itu yang melempar kotoran ke wajahnya.
Nayla Malika, tumbuh menjadi gadis Mafia yang liar dan keras kepala.
"Astagfirullah," ucap Ratna mengigit jarinya.
"'iidha kunt turid aldhahab 'iilaa qaryati, fasa'adhhab maeak li'akhdh abntina." ("Kamu mau ke desaku, aku akan ikut denganmu mengambil putri kita.")
"La." (Tidak.)
Khaled melarang istrinya karena soal ini biar dirinya dan pihak kepolisian yang urus, jika Nayla berontak maka terpaksa Khaled melepaskan peluru berisi obat bius ke dalam tubuh gadis ini.
"Mataa turidin aldhahab 'iilaa hunak ya eazizti?" ("Kapan kamu mau kesana sayang?") tanya istrinya.
"Allaylati." ("Malam ini,") tegasnya.
Ratna menggenggam ponselnya semakin erat, memejamkan matanya sesaat.
"La tafeal 'aya shay' min shanih 'an yubeidah eank 'akthara... fahu la yazal min lahmik wadimk." (“Jangan lakukan sesuatu yang akan membuatnya semakin menjauh… Dia tetap darah dagingmu.”)
Ucapan itu membuat Khaled menoleh sekilas ke arah Fahad yang masih berdiskusi serius dengan Inspektur Jendral.
"Aeatni bial'atfali." ("Jaga anak-anak,") ujarnya.
Khaled langsung mematikan ponselnya seolah itu adalah perkataan terakhir.
Kali ini hati seorang ayah mengatakan jika harus menyelamatkan putrinya.
Ratna semakin menggenggam ponselnya, matanya berkaca-kaca---Nayla akan kembali hatinya terus berdoa agar suami dan putrinya selamat.
*
*
*
*