Di negara barat, menyewa rahim sudah menjadi hal lumrah dan sering didapatkan.
Yuliana adalah sosok ibu tunggal satu anak. Demi pengobatan sang anak, ia mendaftarkan diri sebagai ibu yang menyewa rahimnya, hingga ia dipilih oleh satu pasangan.
Dengan bantuan alat medis canggih, tanpa hubungan badan ia berhasil hamil.
Bagaimana, Yuliana menjalani kehamilan tersebut? Akankah pihak pasangan itu menyenangkan hatinya agar anak tumbuh baik, atau justru ia tertekan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kinamira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
"Sean, tolong jelaskan pada Mommy ya. Aku tidak melanggar aturan," pinta Yuliana memohon.
Sean menghela nafas kasar. "Mommy tidak akan mengetahui kejadian itu, kalau kamu tidak cerita," ucap Sean sembari melajukan mobilnya.
"Tapi, kalau Mommy melihatku begini. Dia pasti akan bertanya, dan aku tidak tau berbohong," ucap Yuliana membuat Sean terdiam beberapa saat.
Pria itu melirik Yuliana. Jelas ia tau soal karakter itu. Yuliana sangatlah jujur dan mengatakan apapun pada ibunya.
Laju mobil perlahan memelan. Pria itu memutar kemudi mobil memasuki pekarangan rumah melewati pagar besar yang mengelilingi rumah.
Yuliana diam dalam kebisuan sembari mengusap perutnya.
"Sudah jangan khawatir, Mommy tidak akan marah. Ayo turun!" ucap Sean melepaskan self belt yang melindungi tubuhnya.
Yuliana menghela nafas pelan, dan segera menyusul turun dari mobil. Kakinya yang melangkah pelan, membuat Sean harus turut menyeimbangkan langkah kaki kecilnya untuk memastikan wanita itu baik-baik saja.
Saat mereka melangkah semakin memasuki rumah. Suara keributan di dalam terdengar memekik di seluruh ruangan.
"Di mana wanita itu Mommy!" teriak Clara dengan pakaian modis dan ketatnya yang tampak baru saja kembali.
"Cukup Clara! Jangan menyakiti Anna! Suamimu yang salah masuk kamarnya!" ucap Jessy dengan tegas memperingati.
"Itu karena wanita sialan itu pasti menggodanya!" balas Clara semakin emosi, dengan suara yang semakin meninggi.
"Clara, jangan berteriak di depan istriku!" ucap William menatap tajam.
Clara mengepalkan tangannya, nafasnya yang memburu serta wajahnya yang memerah menjelaskan emosi yang besar di sana.
Sean dan Yuliana yang baru datang terkejut dengan kejadian itu. Barang-barang di rumah yang pecah dan berhamburan menjadi saksi keributan hebat telah terjadi.
"Mommy, kita sama-sama menantu di keluarga Sawyer, harusnya Mommy bisa menjaga perasaanku, dengan memberi pelajaran pada wanita sialan itu!" ucap Clara dengan penuh emosi.
Sean menghela nafas pelan, ia segera mendekati mereka. "Clara!" Serunya membuat mereka sontak menoleh.
"Akhirnya kau muncul juga sialan!" ucap Clara tertuju pada Yuliana.
Ia berlari ke arah Yuliana, namun beruntung Sean segera menahannya.
"Lepaskan aku Sean! Aku harus menghajarnya, dia sudah berani menggodamu!" teriak Clara memberontak.
"Sudah Clara, kita bicara berdua, di atas," ucap Sean berusaha menahan pemberontak Clara.
"Kenapa Sean? Apa kamu juga mau membela si jalang itu!" bentak Clara memandang tajam pada suaminya.
"Bukan seperti itu Clara, kita bicara dulu," bujuk Sean terus berusaha menahan Clara.
"Aku tidak mau! Aku ingin menghajar wanita itu!" teriak Clara semakin memberontak. Sean yang tidak ingin kasar, semakin kesulitan menahannya.
Yuliana diam memandang, merapatkan jas Sean yang membalut tubuhnya. Hal itu membuat Clara sadar akan pakaian Yuliana.
"Dia, dia memakai jasmu ...." Clara memandang Sean dengan wajah tak percaya. "Apa dia kembali menggodamu? Kalian melakukannya lagi?" tanyanya mendesak sebuah jawaban.
"Tidak Clara, tadi dia hanya ada sedikit masalah," jelas Sean semakin bingung untuk membujuk.
Sedangkan Jessy segera menghampiri Yuliana. "Sayang kamu tidak apa kan?" tanya Jessy dengan lembut mengusap wajah Yuliana.
Yuliana menggeleng pelan. Kembali memperhatikan Sean yang tengah berusaha menenangkan Clara.
"Clara!" suara Sean meninggi, saat kesabarannya telah usai, namun Clara tidak takut, ia malah menantang.
"Kenapa, kamu juga mau membelanya? Apa kau menyukainya? Katakan!" ucap Clara mengeratkan rahangnya, sorot matanya menajam tanpa rasa takut.
"Tidak Clara, tidak. Kita bicara di atas dulu!" Suaranya kembali merendah, Sean memohon dan membujuk.
"Aku tidak mau Sean. Aku butuh jawaban, kalau kamu menyukainya, kita bercerai, dan silahkan bersamanya!" ucap Clara dengan tegas membuat Sean seketika diam.
"Kalau kau memilihku, lepaskan aku, biarkan aku memberi wanita itu pelajaran!" tambah Clara membuat Sean semakin diam dalam kebimbangan.
Ia menatap bola mata tajam yang selalu menatapnya dengan penuh godaan. Lalu kepalanya bergerak menatap Yuliana dengan bola matanya yang kadang kesal, kadang lembut dan menenangkan.
"Sean! Kamu memilih siapa?" Tanya Clara membuat Sean kembali memandangnya.
Pikirannya jelas memilih Clara, membuatnya mengikuti perintah itu, perlahan melepaskan tangan Clara.
"Kenapa hatiku malah sebimbang ini untuk memilih?" batin Sean merasakan keheranan pada dirinya sendiri.
Semangat kak bikin ceritanya! aku tunggu episode selanjutnya.🔥
𝚖𝚊𝚊𝚏 𝚓𝚗𝚐𝚗 𝚝𝚎𝚛𝚜𝚒𝚗𝚐𝚐𝚞𝚗𝚐 thur
Semangat bikin kelanjutan ceritanya kak🔥💪
lanjut
Semangat kak Bikin ceritanya! 💪🏻🔥
kapan ya part sean tau clara berkhianat sama anak yg di kandung clara bukan anak sean, biar menyesal seumur hidup sean,