NovelToon NovelToon
Rose And Orchid

Rose And Orchid

Status: tamat
Genre:Romantis / Romansa-Percintaan bebas / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:88.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Jiel Ruu

Bagaimana jika kamu menjalankan kehidupan yang sama tapi semuanya tidak serupa lagi?

Ini adalah kisah dari Gill, wanita muda yang mengalami jatuh bangun di kehidupannya saat harus memilih antara jujur atau menyembunyikan identitasnya sebagai ibu muda dari seorang anak di luar nikah.

Apakah semua ini sudah digariskan oleh takdir?

Saat Gill harus terpuruk kembali oleh perbuatan sang mantan, dia mendapatkan pertolongan dari pria bernama Vince, orang yang memiliki latar belakang yang kuat dan ternyata juga telah memiliki seorang anak.

Vince menghadapi permasalahan yang melilitnya dan tepat disaat itu, dia juga membutuhkan wanita yang bisa membantunya.

Apakah Vince hanya mengambil keuntungan dari Gill dengan mendekatinya? Atau adakah yang Vince inginkan lebih dari itu?

Kisah keduanya seperti anggrek dan mawar. Yang satu bertahan hidup untuk tumbuh di berbagai medan sulit dan berusaha untuk mekar, dan yang satunya lagi terlihat cantik mempesona, tapi durinya yang tajam bisa melukaimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jiel Ruu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 Benang yang terhubung bagian (2)

Saat Vince mencoba menenangkan dirinya, berlahan dia memejamkan matanya. Memori lama yang pernah terjadi sebelumnya masih teringat dengan jelas.

Kejadian 10 tahun yang lalu, rumah sakit bersalin, tanggal 12 Maret.

"S-Suster, bagaimana persalinannya? Semua berjalan lancar bukan?"

"Tenang saja tuan, persalinannya lancar. Apakah anda suaminya Nyonya Mira?"

"I-Iya! Saya Vince suaminya, bolehkah saya masuk?"

"Tentu saja, silahkan sebelah sini."

Kenangan yang kembali berputar seperti piringan hitam yang telah terpasang. Vince teringat kembali di saat dia merasa pengorbanannya terasa sia-sia.

Vince masuk ke ruangan persalinan di rumah sakit itu. Dalam hatinya dia memang tidak mencintai Mira, tapi Vince sepenuh hati memperhatikan kandungannya.

"BAWA PERGI INI!!!" teriak seorang wanita sambil menangis dengan tubuhnya yang masih terbaring lemas.

"T-Tapi nyonya, bayi anda harus bersama anda," ucap seorang perawat dengan gugup sambil menggendong bayi yang baru saja lahir itu.

"Dia bukan bayiku, dia BUKAN ANAKKU! Bawa dia menyingkir dari sini,"

Vince melangkah masuk, bukan kejutan baginya lagi jika Mira akan meluapkan emosinya seperti ini.

"T-Tapi,"

"Suster, bisakah saya menggendong bayinya sebentar?"

"Ah, tentu anda ayahnya? Selamat tuan, bayi anda laki-laki dan dia sehat sekali,"

"Terimakasih,"

Suster itu menyerahkan bayi mungil itu ke dekapan Vince. Bayi kecil yang tidak berdaya, begitu tenang saat Vince menggendongnya di balut dengan selimut yang hangat. Hati siapa yang tidak terharu akan keajaiban yang di berikan langit seperti ini.

"Suster, bisa tinggalkan kami sebentar? Saya perlu bicara dengan istri saya."

"Tentu, tapi sementara bayi anda harus di bawa ke ruangan khusus bayi. Anda bisa mengurus dokumennya nanti,"

"Baiklah, saya minta tolong ya,"

Vince menyerahkan bayi itu dan ruangan yang di tinggalkan para suster menyisakan mereka berdua. Dia mengambil sebuah kursi dan duduk tidak jauh dengan Mira yang memalingkan pandangannya.

"Apa kamu puas sekarang?" tanya Vince.

Mira tidak menjawab, ruangan terasa sunyi. Yang terdengar sekilas hanya suara langkah kaki di koridor rumah sakit.

"Sepertinya usahamu berhasil kali ini. Selamat, bayi itu sudah keluar dari rahimmu."

"Ke sini hanya ingin menekan aku?"

"Aku kesini karena keinginanku sendiri,"

"Bohong, kamu bahkan tidak memperhatikan aku Vince,"

Vince menghela nafasnya, matanya menatap kosong ke arah wanita yang terbaring di depannya. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, reputasi sang kakak, dan harga diri wanita ini, Vince mengorbankan masa mudanya untuk menikahi Mira.

"Rupanya aku memang tidak pernah baik padamu ya,"

Mira tersentak, tubuhnya terlihat gemetaran tapi dia tidak mengeluarkan suara apapun.

"Aku mungkin mengatakannya lagi, tidak masalah untukku menikahimu dan tanggung jawabku kini sudah kupenuhi. Bayi itu juga sudah lahir dengan baik,"

"Aku menyesal sudah menikah denganmu,"

"Itu salahmu. Tentu aku tidak bisa membiarkan Federick yang terjebak dan juga membiarkanmu begitu saja di hotel saat itu,"

Alasan Vince menikahi Mira adalah karena dia mengasihaninya. Mira yang hampir di jual terselamatkan karena Vince mau mengakui bahwa dialah yang sudah melakukan itu pada Mira dan akan menikahinya.

"Jadi kamu mau menyalahkan aku? Percuma saja aku menikah dengan kamu! Kamu bahkan tidak pernah menyentuhku sebagai istrimu, aku hanya menyandang status darimu, jika saja Federick,"

"Jangan menyeret Federick, jelas karena kamu juga tau alasannya,"

"Cih, kamu selalu lebih pintar dariku, Federick beruntung punya adik seperti dirimu. Seorang adik yang bisa melakukan semua hal bahkan mengorbankan dirinya. Vince, sebenarnya aku juga merasa kasihan padamu, apa kamu tidak memiliki seseorang yang kamu cintai?"

"Jawaban yang tidak penting untuk aku berikan,"

"Pffftt, hahaha! Aku bahkan tidak bisa membuatmu jatuh cinta padahal dengan status resmi istrimu, luar biasa."

Vince mendiamkan Mira, dia bangkit dari kursi dan beranjak dari ruangan itu. Mira menatap pria itu dengan ekspresi kesal di wajahnya.

"Jadi kamu mau menghindar lagi,"

"Tidak, kamu tidak menginginkan bayinya kan?"

"Wah, ternyata kamu sangat penyayang ya, sebelumnya aku sudah mengatakannya Vince, aku tidak menyukai bayi itu bahkan saat di dalam perut. Karena bayi itulah aku harus terjebak dengan kamu!"

"Katakan saja sesuka hatimu Mira,"

"Apa kamu mengacuhkan aku lagi?! Dasar pria sinting! Kamu bahkan tidak punya hasrat pada perempuan, bagaimana kamu akan mengurus seorang bayi?!"

"Itu lebih baik daripada ibu yang tidak menginginkannya. Istirahat lah, kamu akan membutuhkannya,"

"Hei! Kamu tidak mendengarkan aku ya?! Kamu pasti akan selalu menderita juga kalau dekat dengan bayi-,"

"Theodore, aku akan menamainya Theodore. Setidaknya dia keluar dari rahimmu, jadi aku akan memberitahukannya juga padamu," ucap Vince yang langsung memotong perkataan Mira.

Vince keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Mira. Hatinya sudah bertekad dari awal akan mengurus anak yang terlahir itu walaupun Mira tidak menginginkannya.

Buah dari cinta ya? Kalau saja buah itu tidak harus menanggung kebencian dari cinta itu sendiri maka akan terasa lebih baik.

Kembali ke masa saat ini

Suara hujan terdengar semakin deras dengan angin yang bertiup kencang. Suara petir yang bergemuruh pertanda hujan tidak akan reda dalam waktu dekat. Vince masih terduduk di sofa sambil menutup wajahnya dengan selimut tadi.

"Vince, Vince? Apa kamu baik-baik saja?" ucap Gill saat itu setelah selesai dengan urusannya dan membawakan dua cangkir teh panas.

Vince melihatnya dan mengangguk. Gill meletakkan cangkir itu di meja dan duduk berseberangan dengan Vince.

"Hujannya kayaknya makin lebat, kamu tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa."

Gill mengambil sesuatu dari bawaannya tadi. Dia memberikan Vince sebuah bantalan kompres air hangat.

"I-Ini, ehem. Ini kompres untuk pipimu, sepertinya agak sedikit bengkak ya," ucap Gill dengan nada bersalah.

Ah, dia begini juga gara-gara aku, beneran jadi ngak enak hati.

"Oh? Terimakasih. Tapi tenaga kamu kuat juga ya? Kayaknya walaupun aku ngak sampai di sana tepat waktu, mantanmu juga sudah cedera ringan," ujar Vince sambil menempelkan bantalan itu ke pipinya.

"Ya itu karena kau juga harus bisa ngelindungi diri kan. Aku tidak bisa selalu berharap akan ada orang yang membantuku di saat genting begitu,"

"Tapi kenapa kamu kepikiran untuk menelponku?"

"Ha? Apa? Aku tidak menelpon kamu, ...."

Tunggu, apa?! Aku kan telpon Renata, kenapa bisa jadi nyasar ke Vince? Jadi suara yang beda waktu itu memang bukan Renata gitu?

"Kamu minta aku jemputkan?"

"T-Tunggu! Itu ngak seperti itu, aku ngak bermaksud telpon kamu kok! Coba aku cek dulu deh,"

Aku sedikit panik, aku mengambil ponsel dari saku dan memeriksa kontak keluar yang ku hubungi sebelumnya.

Astaga! Bukan Renata?! Ini nomor Vince yang baru aku tambahin ke kontak, yang benar saja sih, pikiranku kemana sih.

Aku terdiam tanpa kata dan sepertinya memang aku yang salah sekarang. Padahal dia pria yang belum benar-benar aku kenal, tapi dia sudah banyak sekali menolongku.

"Sudah-sudah, yang penting kamu selamat kan? Ya walaupun aku mendapatkan sedikit insiden juga," ucap Vince kemudian dengan wajah datarnya melihatku terdiam.

Tolonglah, sementara aku sudah merasa tidak enak banget, sekarang ditambah ungkit-ungkit insiden tamparan itu jadi makin numpuk deh rasa bersalahku.

"Tapi bukannya kamu minta di jemput di kafe? Tapi kenapa kamu bisa di tepi jalan?"

"Aku kabur soalnya bala bantuannya telat datang,"

"Sudah seperti buronan saja kamu,"

"Aku juga terpaksa tau, tapi kenapa kamu juga bisa di jalan itu? Perasaan aku sudah lari jauh dari kafe lho,"

"Aku ngak sengaja lihat kucing liar nyebrang jalan,"

"Hah? Apa?"

"Saat aku sampai di kafe, kalian sudah tidak ada di sana. Aku bawa mobil sambil nelusurin jalan karena berpikir insiden lari-larian kamu di gedung pertokoan waktu itu bisa saja terjadi lagi. Aku lihat kamu nyebrang, jadi aku lari ngejar kamu dari belakang,"

Oke, gini. Jadi yang dimaksud dia kucing liar itu aku?!

"Wah, sebelumnya aku berterimakasih karena sudah menolong, tapi aku ngak nyangka kamu suka perhatikan kucing liar menyebrang juga ya,"

Pffft! Apa dia marah aku menyebutnya kucing liar? ; batin Vince sambil menahan tawanya dengan tersenyum.

Ah gila, kayaknya dia senang banget ngerjain aku sampai bisa senyum kayak gitu, seneng kamu ya.

"Apa kamu punya rencana lain untuk menyingkirkan mantanmu itu?"

"Ah, jangan sebut mantan, aku beneran ngak mau dengar itu lagi. Saat ini aku belum punya rencana, tapi aku akan memikirkannya,"

"Hm, sepertinya kamu harus usaha lebih keras deh,"

"Ya begitulah. Bicara soal itu, bagaimana kamu sendiri?"

"Apa?"

"Aku belum benar-benar kenal kamu, pertama kita ketemu waktu di bar saat Raian ngamuk. Siapa kamu, dari mana kamu juga aku ngak tau,"

Vince mendiamkan pertanyaan Gill, dia sedang memikirkan sesuatu dan jadi melamun sendiri.

Hoi! Kok malah bengong sendiri, aku lagi butuh jawaban tau!

"Kalau aku bilang aku pria kelahiran campuran asal Hong Kong yang tinggal di Indonesia dan bertempat tinggal di Villa Golden Lion Park, bekerja di perusahaan permata JE. Jewelery and co. Design House, punya satu saudara, ayah asal China-Hong dan ibu asal Jepang-Indonesia bagaimana?"

Buset dah, aku cuma tanya dia siapa dan dari mana tapi dia sampai nyebutin silsilah keluarganya? Bener-bener dah orang ini,

"Aha ha ha ... .Kayaknya itu sudah cukup deh. Oh, apa bantalannya sudah tidak hangat lagi? Aku akan ambilin yang lain di dalam, tunggu sebentar ya,"

Vince benar-benar hanya bisa memasang ekspresi datar, aku sampai tidak bisa menebak apapun.

Aku masuk ke dapur dan mengambil bantalan kompres yang aku masukan ke wadah air panas tertutup agar menyerap panas. Suara gemuruh petir semakin menjadi, kilatan cahaya yang kuat tersambar seperti langsung terpantul dari luar.

JEEEDAAAAAARRR !!!

Listrik perumahan langsung mati dan semuanya menjadi gelap seketika. Aku sangat terkejut dan tanpa sadar tanganku tercelup ke wadah air panas tadi,

"Kyaaaaa!!!"

PRAAANGGG!!!!

Refleks aku langsung mengibaskan tanganku, wadah air panas itu tumpah ke lantai. Seketika tanganku terasa sakit, Vince dari ruang tamu langsung berlari masuk mendengar teriakan ku tadi.

"Apa yang terjadi?!"

"T-Tidak apa-apa! Awas ada air panas yang tumpah!"

Di sini benar-benar gelap! Aku bahkan tidak bisa melihat apa-apa. Aku menelusuri jalan dengan hati-hati sambil berpegangan pada dinding.

"Kamu yakin ngak apa?" terdengar suara Vince yang khawatir.

"Iya, tetaplah di sana. Aku akan coba cari korek api atau senter,"

Air yang tumpah membuat lantainya licin, aku dengan hati-hati berjalan keluar meninggalkan dapur karena berbahaya.

Petir menyambar lagi, dengan suaranya yang nyaring dan kilatan cahayanya yang kuat terdengar menakutkan. Aku benar-benar terkejut dibuatnya, langsung saja tancap gas dan lari ; aku kan hafal rumah ini!

BRUKKKK!

Aku menabrak sesuatu sampai membuat hidungku sakit dan kehilangan keseimbangan. Sesuatu meraih pinggangku dan langsung memeluk tubuhku.

"Aku menangkapmu,"

Suara yang terdengar seperti bisikan yang sangat dekat dengan telingaku, detak jantung yang kuat dan nafas yang memberat. Semuanya benar-benar gelap tidak terlihat tapi aku bisa merasakannya. Vince mendekapku dalam pelukannya yang erat, tubuhnya terasa hangat dan aku seperti bisa mencium aroma tubuhnya saat ini.

1
anan
lanjut tor
Hiu_Ramah
ko dikit amat udh tamat..
@Lala
hahahahahahahahahahahahahahahahahahaahahahahaahahahahaha
✦:𝓦⃟֯𝓓𝐞𝐥𝐯𝒚𝒐𝒐𝒏𝒂𐀔¡!
Kerenn🤩
✦:𝓦⃟֯𝓓𝐞𝐥𝐯𝒚𝒐𝒐𝒏𝒂𐀔¡!
Ceritanya bagus kakヾ(^-^)ノ
Jika berkenan, novel saya menunggu kehadiran author untuk mampir sejenak. Aleesya: My Hubby, My KetBok datang memberi bintang 5 untuk kakak. Semangat ya, GBU😇🙏🏻
Yukity
Hadir Thor..

salken dari GADIS TIGA KARAKTER
Dhina ♑
Besok lanjut lagi
Dhina ♑
Author
Dhina ♑
Dah nangis kan
Dhina ♑
Thor
Dhina ♑
Eh eh
Dhina ♑
Eeeeee
Dhina ♑
Oiiiii
Dhina ♑
Hey Author
Dhina ♑
Author
Dhina ♑
Boleh yaaaaa
Dhina ♑
jawab sih Thor
nuna_ruu: aa.... ada apa ya? 😅
total 1 replies
Dhina ♑
apa harus marah dulu
Dhina ♑
Please ya Thor
Dhina ♑
Boleh ga Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!