NovelToon NovelToon
Teruji Dengan Nikmat

Teruji Dengan Nikmat

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / One Night Stand / Hamil di luar nikah
Popularitas:22.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eva Siboro

ikatan pernikahan yang pada umumnya dilakukan oleh manusia normal, adalah ikatan yang memiliki kekuatan dasar yakni tujuan dan perasaan yang sama, keterikatan seseorang dengan pernikahan tentunya sudah melalui proses yang matang dan melibatkan logika yang kuat, tidak hanya emosi semata. seseorang berani mengambil sikap untuk menikah tentunya sudah mempertimbangkan baik dan bahkan buruknya. maka aku melakukan hal yang berbeda. menikah bagiku adalah menikah. tidak ada perdebatan dan pertimbangan karena memang tidak ada yang bisa dipertimbangkan dan diperdebatkan semua seakan sudah harus dipaksa seperti itu, mengalir begitu saja. bahkan aku muallaf pun seakan berjalan begitu saja tanpa ada paksaan dan kesadaran dari diri. semua sudah seperti diskenariokan begitu, aku hanya mengikuti arahan sutradara kemana hidupku akan dibawa dan harus menerima ujian begitu saja, sampai aku harus benar - benar masuk dalam peran dan menjiwai dengan begitu nikmat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva Siboro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perlakuan berbeda

Pada lebaran pertama, cukup banyak keluarga yang bersilaturahmi kerumah mertuaku, sehingga tak membuat aku harus berhadapan dengan mama dan keluarga.

Semua sibuk menerima tamu, ada rekan ayah mertuaku, ada kerabat - kerabat yang aku sendiri tidak mengenalnya.

Tak ada sedikitpun niatku untuk membantu dalam penyuguhan hidangan ke tamu yang datang, semua kubiarkan dikerjakan adik iparku karena aku juga merasa bahwa aku adalah tamu saat itu.

Apalagi semenjak aku menyadari bahwa ada perbedaan yang begitu menonjol yang dilakukan oleh mertuaku, masih terkait pakaian cucu yang tidak disediakannya untuk putriku.

Lagipula, aku merasa sudah cukup bagiku untuk menjadi pelayan utama dirumah itu, pada saat aku tinggal bersama dengan mereka.

Ketika kedua mertuaku sibuk bersilaturahmi dengan tamunya, dan adik iparku juga sibuk dengan dunianya, pelan- pelan aku keluar dari pintu dapur pergi kerumah nenek.

Nenek pada saat yang bersamaan juga sedang menerima tamu, aku beranjak ke dapur lalu pergi kerumah salah satu adik kandung ayah mertuaku, yang biasanya kupanggil paklik.

"Assalamualaikum....", sahutku

" Walaikumsalam ",sahut istri paklik.

Paklik dan istrinya menyambut hangat kedatanganku, Aku memberikan oleh - oleh yang sebelumnya sudah niat kuberikan kepada paklik dan istrinya.

Aku sangat banyak hutang budi kepada mereka, pada saat aku hamil, istri paklik yang memberiku beberapa stelan baju hamil, yang dimintanya dari bosnya. Istri paklik kerja dirumah orang cina sebagai tukang masak dan tukang cuci yang pulang hari. Begitu pun dengan pakaian bayi putriku saat itu.

Mereka begitu sangat perduli padaku, padahal keadaan ekonomi mereka pun sangat sulit, paklik bekerja sebagai pemulung, dan istrinya sebagai pembantu. Mereka dikaruniai tiga anak perempuan. Dan anak- anaknya pun sangat baik dan sayang padaku, juga putriku.

Karena keasyikan bercerita, tidak terasa waktu sudah menjelang sore dan tamu - tamu mertuaku pun sudah pulang. Mungkin mereka menyadari ketidakadaanku dalam rumah, sehingga Aan mencariku.

Aan tau persis kemana akan mencariku, jika tidak dirumah nenek,maka dirumah paklik.

Begitu Aan menemukan kami, ia langsung tersenyum.

" Aku sangat yakin kalau tidak dirumah nenek, pasti disini", ucapnya.

"Memang sejak kapan istrimu tau tempat lain? lagian wajar kan datang kemari? apa disuruh pulang sama mamamu?",

Istri paklik langsung mencecar Aan.

"Iya lek...mama nyari - nyari...",

Jawab Aan dengan polosnya.

" Mamamu tu ya...gak berubah dari dulu anti kali sama keluarga nenek bahkan mantunya pun diusahakannya agar berjarak dengan kami",

Istri paklik mengomel.

"Bukan gitu lek..kami dari semalam belum ada mengobrol, jadi maksud mama biar cerita - cerita dulu", jawab Aan.

Aku segera pulang kerumah.

Ayah mertuaku hanya tersenyum melihatku. Untuk menghindari terlalu banyak komunikasi, aku menyibukkan diri dengan menyiapkan makanan untuk putriku dan segera memandikannya.

Setelah makan dan mandi, putriku akan langsung tidur, dan benar saja, tidak perlu memakan banyak waktu, putriku pun tertidur.

Aku berniat untuk membersihkan diriku, maka akupun keluar kamar.

Terlihat ayah, mama dan Aan berada dimeja makan, mengobrol sambil makan.

Sementara adik - adik iparku berada di depan TV sambil bermain dengan anak adik iparku.

Aku hendak masuk kamar mandi, ketika suara Ayah terdengar memanggilku dan menyuruhku untuk bergabung dengan mereka.

Melihat raut wajah Aan , aku yakin ada sesuatu yang akan dibicarakan.

"Kak besok kita piknik ya , ada sungai yang jernih yang dekat dengan lahan kita",

Ayah mulai akan membuka perbincangan, batinku dalam hati.

" Semenjak dibeli, lahan itu belum pernah dilihat sama mama, jadi sekalian mama mau lihat- lihat, barangkali ada ide usaha yang cocok untuk dibuat disana",

Lanjut ayah lagi.

Aku tidak tertarik samasekali. Aku menjelaskan ke ayah jika kami akan pulang sesuai dengan rencana yang telah disepakati, aku menambahkan jika usaha jual buah lumayan diminati jadi kami tidak boleh lama - lama tutup, apalagi suasana lebaran seperti ini, pastinya akan ramai pembeli.

Namun ayah tetap meminta kami untuk ikut, dengan alasan supaya kami tau juga lahan itu.

Ayah juga mengatakan kalau tempat pengambilan buah yang menjadi langganannya masih tutup hari kedua lebaran.

Aan sangat berharap sekali agar menunda kepulangan kami, tiga lawan satu. Apalah dayaku, suamiku pun sudah ingkar akan janjinya. Ya sudahlah.

************

Pagi itu semua sibuk mempersiapkan segala hal.

Hanya aku yang tetap santai. Mereka semua sangat antusias.

Seperti biasa, suamiku Aan akan berperan lagi sebagai ajudan mereka yang merangkap sebagai tukang angkat barang. Hampir semua barang - barang bahkan kebutuhan pribadi mereka sekalipun, Aan yang membawanya kedalam mobil.

Suami adik iparku, hanya terlihat membawa diri saja. Dia sangat diistimewakan, tidak dibiarkan untuk mengerjakan apapun selama kami berkumpul. Luarbiasa!

Pada saat ditengah perjalanan, mama meminta untuk singgah dirumah anak angkatnya, aku hanya pendengar yang baik selama dalam perjalanan.

Tiba dirumah anak angkatnya,

Kami langsung disambut dengan suara anak - anak.

" oma....opa....", sahut mereka serempak sambil berhamburan memeluk mertuaku.

Anak angkat mertuaku memiliki dua anak, yang pertama, laki - laki umur 5 tahunan, yang kedua anak perempuan, umur 3 tahunan.

Mereka tinggal dirumah dinas tentara, karena suaminya adalah tentara, sekaligus atasan suami adik iparku.

Setelah duduk dan berbincang - bincang, mama mengajak mereka untuk ikutan kesungai, namun mereka tidak ikut karena sudah ada kegiatan yang harus mereka hadiri.

Entah mengapa ada rasa lega dalam hatiku mendengar bahwa mereka tidak ikut. Itu artinya aku tidak akan banyak melihat perlakuan - perlakuan yang berbeda antara si yang punya dan yang tidak.

"Sayang...sini, oma ada bawa hadiah untuk kalian",

Mama mertuaku memanggil anak - anak dari anak angkatnya.

Mereka berlari menghampiri mama mertuaku, dan menerima bungkusan yang akupun tidak tau itu apa.

" Oma, buka ya...?", ucap anak paling besar.

" Sabar sayang, nanti saja...", kata mamanya.

" Aku mau sekarang!!!", rengek putranya.

Mama pun mengiyakan tanda menyetujui.

Kedua anak itu langsung sibuk membuka, sekilas aku melihat ada mainan dan pakaian, melihat hal itu aku masih santai saja. Sampai pada titik dimana aku melihat ada pakaian yang sama yang seperti mereka kenakan di hari pertama lebaran.

Hal itu mulai mengganggu pikiranku.

" Yang itu baju seragam, oma opa dan yang lain punya, jadi nanti jika ada undangan bisa kembaran gitu",

Ucap mama mertuaku.

Eni sekilas melirik kearahku, namun pura - pura aku tidak tau.

Setelah semua pemandangan indah yang menyakitkan itu terjadi, maka kami melanjutkan perjalanan menuju lahan yang dibicarakan ayah mertuaku.

Tiba ditempat yang dituju.

Aku hanya memilih duduk , tidak bergabung dengan mereka yang sudah sibuk dengan kegiatan masing - masing.

Adik iparku sengaja langsung menyerahkan anaknya ke mama mertuaku, sementara aku tetap menggendong putriku. Putriku terlihat kegirangan melihat air sungai.

"Sini sama opa sayang....",

Ayah mertuaku datang dan segera mengambil putriku dari gendonganku. Ayah mertuaku segera menuju sungai.

Anak adik iparku menangis begitu melihat putriku digendong oleh ayah mertuaku.

"Opa.....ada yang cemburu", sahut mama

"Kan sudah sama oma, jadi biar kakak kecil sama opa dong", sahut ayah

" Mau dua -duanya opa....", sahut adik iparku.

Eni langsung menyela ucapan dari adiknya. Mengajarkan adiknya untuk tidak mendidik anak itu serakah. Semua punya hak yang sama. Eni juga seakan sangat mengerti posisiku,

"Anakmu itu cerminan dirimu, jika ia tumbuh menjadi seperti sekarang, itu karena kamu mendidiknya seperti itu", ucap Eni.

Adik iparku yang kedua mendengar kakaknya mengoceh jadi merasa tersinggung.

" Apa maksudmu?, mana ada kuajarkan anakku begitu?",

sahutnya dengan nada ketus.

" Tidak kau ajarkan, tapi kau dukung, terbukti dari caramu menanggapinya tadi, harusnya kau kasi pengertian anakmu supaya bisa mengerti",

Semakin panas mereka memulai perdebatannya.

Aku segera berlalu, dan hendak mengambil putriku dari ayah mertuaku, tapi ayah mertuaku tidak membiarkan aku mengambil putriku.

Ayah mertuaku malah menyerahkan putriku ke mama, dan mengambil anak adik iparku bersamanya.

Aku hanya diam melihat cara ayah mertuaku melakukan semua itu, setidaknya itu lebih adil pikirku.

Ayahku segera menyuruh Eni melanjutkan kegiatannya mencari kerang, sementara itu adiknya masih terlihat tidak terima,

"Bilang saja kamu yang iri dengan orang lain!", teriaknya.

Eni berhenti dan berbalik badan.

" Apa yang harus ku irikan darimu hah? apakah aku harus iri dengan caramu yang licik untuk mendapatkan segala kemauanmu? mengancam bahkan sampai ke dukun segala, hah?",

Bentak Eni pada adiknya.

"Kakak!cukup!", teriak mama.

Aku spontan menoleh ke arah mama, aku melihat ada kekhawatiran yang terpampang nyata diwajahnya.

"Kenapa ma? mama takut semua terbongkar? mama takut bakal ketahuan jika mama juga mendukung semua itu? ",

Eni yang sudah terlanjur tersinggung, sudah tidak mampu menahan dirinya.

" Mama itu tidak adil tau! mama memperlakukan anak kandung mama sendiri, pilih kasih!apalagi ke menantu?",

Cecarnya lagi.

Ayah mertuaku menjadi pusing dan bingung. Sepertinya banyak hal yang terjadi dalam keluarganya yang tidak diketahuinya sebagai kepala keluarga.

Mama menangis, aku menarik Eni agar menjauh tapi Eni tetap bertahan.

"Kakak jangan menghalangiku, keputusan kakak untuk pindah dan jauh dari keluarga ini adalah hal yang paling tepat! karena apa? karena jika kakak tau yang sebenarnya kakak bisa menjadi gila!",

Sekarang Eni mengarahkan pembicaraannya kepadaku.

" Sudahlah ni, ayo...kita cerita ditempat lain aja",

Aku berusaha membuat Eni agar tidak berkata- kata kasar lagi.

" Kak...kelak kamu akan mengerti , sebelum kamu menjadi seorang ibu , bagaimanapun mama menjelaskan kamu tidak akan mengerti, tapi mama yakin kelak kamu akan mengerti",

Ucap mama sambil menangis.

Aku segera membawa Eni menjauh.

Setelah kami menjauh, Eni hendak mau mengatakan sesuatu.

"Bun...disini ternyata",

Aan tiba - tiba muncul.

1
Asyamora Sanjaya
semangat lanjutin ceritanya...
Vie Desta
kayaknya emng gitu kalo kluarga suami ya ampe cucupun di bedakan lucu tp bner ini ceritanya sering dialamin hahah..
Eva Siboro
mohon dukungan like dan komen ya...
Endang Yusiani
alurnya bagussss
Eva Siboro: terimakasih bu
total 1 replies
Eva Siboro
mohon bantuan dukungannya...supaya lebih semangat belajar nulisnya...
Eva Siboro
mohon bantu like dan komennya guys...biar semangat!
Ishi
Keren abis! Thor pasti punya imajinasi yg luar biasa!
Yue Sid
Kyaah, ga sabar buat lanjut!
Eva Siboro: terimakssih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!