Bagaimana jika manusia diibaratkan seperti es krim? Es krim itu dingin dan manis. Akan tetapi, itu adalah es krim dan es krim jelas berbeda dengan manusia yang memiliki hati dan emosi.
Bagaimana jika dingin dan manis, hati dan emosi itu dilebur menjadi satu? Kemudian dibumbui sedikit rasa traumatis yang begitu membekas hingga membuat kisahnya menjadi dramatis.
Ini adalah Ambar dan itu adalah Damar. Ambar adalah penikmat es krim yang sangat menyukai perpaduan manis dan dingin. Sedangkan Damar yang dingin tapi diam-diam manis dan dipenuhi emosi yang dramatis.
Ketika salah satu dari mereka menyadari keberadaan yang lain, itu hanya pertemuan singkat yang melibatkan sebuah kecelakaan kecil. Iya, itu hanya kecelakaan kecil. Namun, bagaimana jika selanjutnya mereka terlibat dalam serangan panik hingga percobaan bunuh diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Istik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 9. S o b e r U p
“Ini tinggal nunggu konfirmasi dari panitia. Tante Amara masih di rumah sakit, kan? Kamu bisa pulang dulu,” ucap Putri setelah selesai mengirim hasil pekerjaan Ambar menggunakan surel yang khusus digunakan anak jurnalistik untuk mengikuti lomba-lomba mereka yang kebanyakan dilakukan secara daring.
“Oke.” Ambar bersiap pergi dengan mengambil tasnya yang tergeletak di lantai. Kemudian dia melirik sekilas teman-temannya yang masih membahas tema mading lalu kembali menatap Putri yang ternyata sejak tadi masih memperhatikan Ambar. “Nanti tolong pamitin ke temen-temen, ya. Gak enak mau ganggu mereka.”
Sesudah melihat Putri menganggukkan kepala, Ambar berjelan menuju pintu. Namun, kemudian suara Putri kembali terdengar yang membuat Ambar menahan langkahnya. “Seminggu lagi bakal ada pemilihan ketua esktra sama anak OSIS. Lo sama Gilang ikut, ya?”
Ambar sebenarnya sudah sejak lama ingin menolak posisi itu. Dia tidak ingin kehilangan lebih banyak waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan teman-temannya. Selain itu Ambar ingin fokus pada kompetis-kompetisi yang hadiahnya lumayan untuk tambah-tambah biaya pengobatan dan simpanan Ambar jika sewaktu-waktu ada kepentingan mendesak jadi gadis itu tidak harus merepotkan ayahnya.
Namun, jika Ambar menjelaskan sekarang, itu akan jadi perdebatan yang cukup panjang dengan Putri. Nanti dia tidak bisa segera kembali ke rumah sakit. Untuk sekarang lebih baik jika dia menyetujui dulu keinginan Putri. “Oke, Kak,” teriak Ambar tanpa berbalik.
Kemudian Ambar buru-buru memakai sepatu dan pergi menuju gerbang sekolah. Seperti pesan yang ambar kirim tadi siang, ayahnya sudah menjemput di depan sekolah. “Ayo, cepat, Ambar!” panggil ayahnya tampak bersemangat. Pria itu memanggil putrinya sembari tersenyum.
Ambar mengerutkan dahi, berpikir sejenak apa yang membuat ayahnya begitu senang. Dia langsung berlari lalu cepat-cepat masuk mobil “Ada apa, Yah?” tanya Ambar setelah menutup pintu mobil.
Riyandra menjawab pertanyaan Ambar setelah mulai menjalankan mobilnya. “Nanti kamu akan tau sendiri.”
Ayahnya mengebut habis-habis di jalan yang tidak macat. Kemudian saat melihat kemacetan, pria itu segera memutar balik mobilnya dengan gila-gilaan. Ambar belum pernah merasakan ayahnya menyetir segila ini. Hal itu karena Riyandra lebih sering pulang tanpa mobil dinasnya, dia lebih memilih pulang dan berangkat menggunakan ojek online.
Setelah itu tanpa mempedulikan kepala Ambar yang seperti diputar-putar, mereka buru-buru masuk ke dalam rumah sakit menuju salah satu kamar VIP tempat Amara dirawat. Ketika sampai sama, Ambar ibunya yang sudah sadar. Gadis itu menghambur begitu saja ke pelukan ibunya.
Sedangkan Riyandra berjalan perlahan mendekat lalu ketika berada dihadapan Amra, lelaki itu menatap lekat sembari mengelus puncak kepala istrinya. Sebenarnya Riyandra mendapat telfon dari rumah sakit bahwa istrinya sudah sadar karena itulah dia sampai kebut-kebutan demei melihat Amara.
“Mama kenapa bangunnya lama, banget. Mama gak boleh gitu lagi, nanti Ambar kangen sama sarapan buatan Mama.” Amra mengelus rambut dari anaknya yang masih memeluknya erta itu.
“Maaf kalau Mama buat kamu khawatir, ya.”
🍒🍒🍒
“Ambar ngapain aja selama Mama tidur?” tanya Amara setelah Ambar bersih-bersih badan di kamar mandi rumah sakit.
Jawaban Ambar tertahan saat Riyandra lebih dulu menjawab pertanyaan itu. “Gak ngapa-ngapain dia, berhari-hari kerjaannya Cuma nemenin kamu. Gak inget rumah, padahal tiap hari ngeluh kalau badannya sakit semua gara-gara tidur di sofa.”
Amara melebarkan matanya nyaris tidak percaya. “Kamu gak sekolah, dong? Mama gak pernah ajarin kamu buat bolos sekolah, ya. Kamu juga gak bantu Mama bersih-bersih rumah, dong?”
“Eh … Ambar tadi udah berangkat sekolah, kok. Mama juga lihat sendiri kalau tadi Ambar baru pulang, kan? Terus nanti Ambar bakal pulang pakai taksi buat bersih\-bersih rumah, kok. Ambar jamin waktu Mama pulang nanti, rumah kita jadi kinclong.” Melihat kepanikan putri tunggal mereka, Riyandra dan Amara justru tertawa.
Setelah itu Ambar benar-benar pulang dengan naik taksi. Akan tetapi sebelum pulang, Ambar sempat bersih-bersih pakaian kotor yang dia bawa ke rumah sakit untuk dicuci di rumah sekalian. Akan repot jika pulang nanti mereka juga harus membawa pakaian kotor itu sekaligus. Selain itu Ambar juga sepertinya sudah nyaris tidak punya pakaian bersih lagi karena berhar-hari tidak mencuci pakaian.
bagus banget sumpah 😍😍
secara mereka LDR jd bisa buat pemanis cerita angga Nova n lala
Rate-5 ku juga sudah mendarat ya🛬
Jangan lupa feedback ke karyaku 🥰🥰
❤"Meisya & Randi "❤
Kisah sahabat kecil jadi cinta 💕
Terima kasih🙏🙏