Dibuang dan dikhianati oleh para saudaranya sendiri, membuat Jin Mu seorang pangeran dari kekaisaran Tengah, berada di ambang kematian.
Namun pertemuannya dengan seekor mahluk yang menjadi legenda, membuat hidupnya saat itu mulai berubah. Perjalan untuk balas dendam, akan mengiringi langkahnya dalam usaha memperebutkan kursi kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginzhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Informan
"Teknik Sepuluh Pedang Malam!"
Hembusan angin membuat salju yang berada di tanah berhamburan. Selayaknya tarian yang bergerak dengan indah, Jin Mu melakukan lagi gerakan yang sama dan masih tidak bisa dia lakukan dengan sempurna.
Gerakannya terlihat sangat indah, namun masih terlihat sebuah kecacatan. Disaat jurus pedang yang menuju angka sepuluh, entah kenapa teknik tadi terlihat seperti memiliki kekurangan, yang Jin Mu sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya kurang.
"Haah ... Kenapa rasanya masih belum bisa aku lakukan dengan benar? Bukankah dalam buku yang ku baca, sudah sangat benar jika gerakannya seperti tadi, tapi kenapa masih terasa kurang?" Pikir Jin Mu yang tidak berkeringat ditengah suasana dingin.
Namun disaat Jin Mu tengah sibuk berlatih, seorang gadis terlihat mengintip dari balik pintu. Dia memperhatikan Jin Mu sedari tadi nampaknya, namun terlihat cukup pemalu untuk bisa menyapa.
"Ah, halo?" Sapa Jin Mu melambaikan tangan nya kearah gadis tadi.
"Ahh?!" Pekiknya yang melihat Jin Mu melihat dan melambaikan tangan kearahnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Jin Mu berjalan mendekat.
Melihat langkah Jin Mu yang mendekat, gadis tadi terlihat salah tingkah. Dia segera berjalan pergi meninggalkan Jin Mu, dengan langkah yang tergesa-gesa.
"Hm? Kenapa dia pergi, apa..." Jin Mu melirik kearah tubuhnya, yang tidak menggunakan pakaian atas sama sekali.
Melihat dirinya sendiri, cukup membuat Jin Mu menjadi salah tingkah. Dia menggaruk kepalanya, dengan wajah memerah malu akan kelakuannya sendiri.
"Haah, padahal aku merasa lebih nyaman jika berlatih seperti ini. Nampaknya aku sampai lupa tempat, hehe..."
***
Malam itu terasa cukup dingin, Zhenzi terlihat tengah mengajak Jin Mu menuju suatu tempat yang dia sendiri tidak tahu. Namun Jin Mu hanya berusaha mengikuti, Zhenzi tidak menjelaskan perihal apa yang akan mereka lakukan malam ini dan kemana.
- Pasar Bagian Barat
"Guru, apa kita kemari untuk membeli sesuatu?" Tanya Jin Mu melihat sekitarnya.
"Tidak, lebih penting dari itu."
Jin Mu tak kembali bertanya, dia sendiri hanya diam dan kembali mengikuti. Baginya tidak perlu bertanya, jika sebentar lagi juga akan segera tahu apa tujuan mereka untuk datang kemari.
Menuju sebuah gang gelap, Jin Mu terlihat semakin penasaran namun berusaha untuk tetap diam tak bertanya. Hingga akhirnya keduanya berhenti dihadapan seorang pengemis, yang tengah menggunakan sebuah jubah untuk menghangatkan tubuh.
"Tuan, apa kau datang kemari untuk memberikan aku sedikit uang mu?" Tanya pengemis tadi
"Bukan memberi, namun membeli." Ucap Zhenzi dengan tenang.
Pengemis menatap kearah mata Zhenzi yang seolah mengerti maksudnya. Dia tersenyum dan berdiri, lalu berjalan entah kemana sambil diikuti oleh Zhenzi dan Jin Mu dibelakang.
Beberapa saat berlalu, mereka berhenti di sebuah tempat. Yang terlihat seperti rumah sederhana, cukup buruk dan juga hampir terlihat hancur.
"Masuklah, pastikan kau benar-benar datang untuk membeli." Ucapnya mempersilahkan Zhenzi masuk.
Tersenyum, Zhenzi memberikan pengemis tadi sebuah koin emas. Mengambil pengemis tadi berjalan pergi, Jin Mu benar-benar terlihat semakin tidak mengerti.
*Kringg!
Suara lonceng berbunyi, saat Zhenzi membuka pintu di hadapannya. Dan seorang pria yang tengah duduk terlihat menatap kearahnya, menyambut kehadiran Zhenzi.
"Selamat malam, dan selamat datang wahai pembeli?"
"Terimakasih, aku kemari untuk membeli sebuah informasi yang berharga?" Zhenzi berjalan kearah sebuah kursi, yang mana di hadapannya terdapat tirai tipis pembatas.
Sementara dihadapan tirai, terdapat seorang pria yang berdiri. Melihat dari tingkatan yang dimiliki pria tersebut, dia berada di alam raja bintang lima.
Zhenzi mengetahui hal itu, dia tersenyum tipis dan mengerti. Orang dari balik tirai merupakan seorang pemain penting, tak mungkin seorang informan biasa memiliki pengawal yang berada di dalam tinggi seperti ini.
"Oh ya ... Katakan apa yang kau mau, ingat tergantung dari nominal yang kau miliki aku akan memberikannya?"
"Hooh, kau rupanya lebih menghargai uang daripada pelanggan mu ya?" Zhenzi tersenyum tipis.
Pria di hadapan Zhenzi menghunuskan pedang di tangannya. Menatap kearah Zhenzi dengan sangat tajam, namun segera pemilik melarangnya melakukan hal itu.
"Hentikan, kau akan membuat kita semua mati jika menyerangnya..." Lirihnya dengan suara lembut.
"Maaf Nyonya." Jawabnya segera memasukkan pedang itu kembali.
Thor lucu... menghibur