Dendam kesumat yang terselubung, mengintai sebuah keluarga. Tak ada yang sadar kalau mereka tengah diincar ajalnya. Sampai saat sang anak sulung pulang dari merantau.
Takdir membuatnya mewarisi kekuatan gaib dari leluhurnya. Namun takdir itu juga memaksanya untuk menjadi tameng hidup bagi keluarganya. Santet dan sihir keji silih berganti menimpanya.
Siapa sebenarnya yang menyimpan dendam kesumat itu? Dan akankah si anak sulung ini bertahan?
stay tune!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Dharris S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu pendamping
Di rumah sakit, masih dalam guyuran hujan deras, bu Sari tampak gelisah. Dia berjalan mondar-mandir sambil mencoba menelepon seseorang, tapi tidak mendapat jawaban. Tika menatapnya penuh rasa curiga.
“Kenapa?”
Bu Sari yang risih ditatap terus, akhirnya melontarkan pertanyaan.
“Nelpon siapa? Masih kurang puas? Masih mau ditambahin?” sahut Tika.
Merah wajah bu Sari mendengar pertanyaan itu. Matanya menunjukkan kemarahan karena tersinggung dengan pertanyaan Tika. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Tika.
“Apa cuman itu yang ada di otakmu?” tanya bu Sari. Tika ikut meninggi emosinya.
“Apa udah kamu pikirin biaya CT scan ibumu? Biaya UGD kakakmu? Mereka nggak dicover BPJS lho”
“Itu emang maunya kamu, kan?” bantah Tika. Semakin memerah mata bu Sari.
“Keluarga Ibu Maryati”
Seorang suster berseru dari pintu UGD. Sontak pandangan mereka teralihkan pada suster itu.
“Ya, sus?” sahut bu Sari.
Suster itu mendekati bu Sari.
“Pasien atas nama ibu Maryati harus segera dioperasi lagi. Ada sobekan di lehernya yang harus segera ditutup. Kami membutuhkan persetujuan keluarga, tentang resiko operasi, dan juga mengenai biayanya” kata suster itu.
Bu Sari tidak segera menjawab. Dia menatap Tika. Salah tingkah Tika mendapat tatapan itu.
“Dia anaknya, sus. Dia yang lebih berhak” kata bu Sari.
Terbelalak mata Tika mendengar kalimat bu Sari. Belum pernah dia berurusan dengan berkas legal, apalagi ini berkaitan dengan uang dan keselamatan ibunya.
“Maaf, bapaknya kemana, bu?’ tanya suster itu.
“Ada apa sus?”
Sebuah sapaan membuat mereka mengalihkan pandangan. Pak Sigit datang bersama beberapa anak buahnya.
“Bapaaaak”
Tika langsung menghambur memeluk bapaknya. Dia ketakutan.
“Kenapa? Ada apa?” tanya pak Sigit lagi.
Suster tadi menjelaskan apa yang terjadi. Tanpa ragu pak Sigit menanda-tangani surat persetujuan itu.
“Puas?” tanya bu Sari.
Pak Sigit bingung dengan pertanyaan itu. Terlebih tatapan mata bu Sari terlihat tajam padanya.
“Dapet apa mas di sana?” tanya bu Sari lagi.
Pak Sigit menggelengkan kepalanya.
“Dia kekeh nggak ngaku” jawab pak Sigit.
“Aku bilang juga apa? Mbak Mar lebih butuh mas di sini, ketimbang ke sana-sana”
“Nggak usah sok-sokan marah, deh!” celetuk Tika.
“Tika!” tegur pak Sigit.
Bu Sari tidak bisa menyembunyikan kemarahannya. Matanya melotot saat Tika menatapnya dengan penuh ketidaksukaan. Diapun memutar tubuhnya.
“Sari” panggil pak Sigit
“Aku mau ke toilet, mas” pamit bu Sari.
Tanpa menunggu ijin dari pak Sigit, dia langsung pergi. Pak Sigit masih mengikuti bu Sari dengan tatapannya, sampai bu Sari menghilang di ujung koridor. Kini tatapannya berganti ke arah Tika. Dia pandangi wajah putri bungsunya. Mereka saling menatap beberapa saat.
“Apa pernah, bapak nggak sopan sama Tika?” tanya pak Sigit
Tika terkesiap. Perasaan marahnya kini berganti dengan perasaan takut. Tatapan itu, dan suara tegas itu, dia tahu, bapaknya sedang marah padanya.
“Enggak” jawab Tika.
“Terus, siapa yang ngajarin nggak sopan?”
Tika terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Apapun jawabannya, dia berpikir akan terdengar salah di telinga bapaknya.
“Ya udahlah, pak. Bapak emang selalu bener” jawab Tika.
Dia melepaskan pelukannya, lalu berjalan menjauh.
“Mau kemana?” tanya pak Sigit.
“Beli minum” jawabnya.
“Ini uangnya”
“Nggak usah, pak. Tika ada” jawab Tika.
Air matanya tidak bisa dia bendung saat hendak berbalik arah. Membuat pak Sigit bertambah pusing.
***
Icha kebingungan. Saat dia membuka mata, dia merasa berada di sebuah tempat yang asing. Sama sekali dia tidak mengenal tempat itu. Bukan ruang rawat, bukan juga rumah. Tempatnya terbuka, seperti pinggiran taman.
“Icha”
Sebuah sapaan mengejutkannya. Sontak dia memutar badannya. Dia mengernyitkan keningnya, saat dia melihat sesosok wanita berdiri di depannya. Dia tidak mengenal wanita itu. Terlebih pakaian kebayanya, seperti seorang putri kerajaan jaman dahulu. Tapi jariknya, Icha merasa sangat mengenal jarik itu.
“Tidak usah bingung, Icha. Kita lagi berada di alam mimpi” kata wanita itu.
“Hem?”
Icha bingung. Bagaimana bisa orang sadar mengatakan kalau dirinya sedang berada di alam mimpi?
“Aku Murda Ningrum” lanjut wanita tadi. Dia mengulurkan tangannya.
“Nyai?” Icha terkejut mendengar wanita itu menyebut nama Murda Ningrum.
“Akhirnya kita bisa bertemu, ya” kata nyai Murda Ningrum, saat berjabat tangan dengan Icha.
“Nyai. Ibu saya bagaimana?” tanya Icha. Tiba-tiba dia teringat ibunya.
“Tenang Icha! Ibumu akan segera pulih. Dia sedang ditangani orang-orang baik” jawab nyai Murda Ningrum.
“Nyai. Siapa yang udah tega nyelakain ibu saya? Orang yang kemarin marah-marah, kah?”
Nyai Murda Ningrum tersenyum.
“Sesembahanmu sendiri yang akan memberi tahumu. Aku tidak berani mendahuluiNya”
“Yah, nyai. Bocorin dikit, kenapa?” pinta Icha.
“Icha. Luasnya jagat raya ini, belum aku temukan ujungnya. Padahal di atasnya masih ada jagat yang lebih luas lagi. Yang luasnya, ibarat rumahmu dibandingkan dengan pulau jawa. Dan diatasnya lagi, masih ada lagi seluas perbandingan tadi”
“Maksud Nyai, apa?” potong Icha. Dia tahu soal itu. Dan dia takut kalau ingat bagaimana dia akan berhadapan dengan yang Maha Kuasa, suatu saat kelak.
“Aku takut sama sesembahanmu”
Icha terdiam. Bahkan yang punya kekuatan besarpun, tahu akan kebesaran Tuhan.
“Lalu kenapa nyai ngajak Icha ketemu di sini? Kenapa juga nyai nggak bilang kalo yang akan Icha ambil itu mata panah? Kan bisa Icha masukin ke paha” tanya Icha. Nyai Murda Ningsih tergelak mendengar pertanyaan itu.
“Memangnya kalau menancap di paha, tidak sakit?” tanya nyai Murda Ningsih sambil tergelak.
“Ya, ya, sakit sih” jawab Icha. Nyai Murda Ningsih tergelak lagi.
“Tapi mungkin nggak bakal sesakit tadi, nyai. Mana darah Icha mancur, lagi” lanjut Icha.
“Memang itu tujuannya, Icha” jawab nyai Murda Ningsih.
“Maksud nyai?”
“Darah kamu kotor oleh makanan yang tercampur ramuan jahat”
“Apa? soto itu?”
“Ya. Ramuan itu akan membuat kamu cenderung merasa takut. Dan akan menghalangi perkembangan adaptasi kamu dengan kemampuan barumu”
“Ooh. Apa sudah keluar semuanya, nyai?”
“Belum. Tapi tinggal sedikit. Akan keluar sendiri dengan darah kotormu”
“Syukurlah” ucap Icha lega.
“Apa benar ibu tiri Icha yang ngasih ramuan itu ke dalam soto itu, nyai?”
Nyai Murda Ningrum tidak menjawab. Dia hanya tersenyum manis. Icha mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia tahu arti dari senyuman itu. Jawabannya masih sama.
Lalu buat apa dia bersamaku?
“Aku diutus untuk melindungimu, Icha” kata nyai Murda Ningrum
Icha terkejut mendengar ucapan itu. Dia lupa kalau nyai Murda Ningrum bisa membaca kata hatinya.
“Tapi aku dilarang menyampaikan apa yang harus kamu jalani sebagai takdirmu” lanjut nyai Murda Ningrum.
Icha mengernyitkan keningnya. Dia masih belum memahami hubungan antara melindungi, dengan membiarkannya menjalani takdirnya. Kalau takdirnya celaka, lalu apa yang boleh dilakukan nyai Murda Ningrum?
“Kamu pasti tahu, bahwa takdir itu ada dua. Takdir yang tidak bisa diubah, seperti kenyataan kalau Icha adalah seorang perempuan, dan takdir yang masih bisa diubah. Seperti dua kejadian yang baru saja Icha alami”
“Maksud nyai?” sahut Icha. Dia ingin sedikit menutupi keterkejutannya, bisa ditebak lagi oleh nyai Murda Ningrum.
“Aku memang dilarang untuk memberitahumu apa yang akan terjadi. Karena apa yang menimpa ibumu, adalah ujian yang sudah ditakdirkan Sesembahanmu untuk ibumu. Kalaupun aku beritahu kamu lebih awal, tidak akan ada yang bisa menghentikan takdir itu untuk menghampiri ibumu, Icha. Yang terjadi justru aku akan binasa saat itu juga”
“Lalu?”
“Apa yang terjadi setelahnya, adalah masuk pada takdir yang masih bisa dirubah. Di situlah, aku diperbolehkan untuk memperingatkanmu. Sehingga ibumu tidak perlu merasakan sakit dalam waktu yang lama. Sudah ada kamu di sampingnya, untuk melakukan penyelamatan saat takdir itu telah menghampirinya”
Icha termenung mendengar penjelasan nyai Murda Ningrum. Sampai segitu saja, dia sudah mengucap syukur. Dia merasa beruntung. Dia merasa tidak bisa membayangkan, apa jadinya kalau tidak ada bantuan dari nyai Murda Ningrum?
“Bukan karena aku, Icha. Tapi takdirmu yang mempertemukan kita. Sesembahanmulah yang mengatur semuanya”
Icha tersenyum mendengar ucapan itu. lagi-Lagi kata hatinya bisa didengar khodamnya itu.
“Aku juga ingin mengeluarkan lendir, yang belum waktunya berada di dalam tubuhmu”
Ucapan itu membuat Icha tersentak.
“Lendir? Lendir apa?”
“Tidak perlu berbohong Icha. Aku juga wanita”
Icha menutupi wajahnya karena malu. Dia tidak menyangka akan ditebak dengan tepatnya seperti ini.
“Walaupun itu sudah berbulan-bulan yang lalu, jangan dianggap lendir itu seperti air yang akan segera keluar lewat air seni. Selalu saja ada yang mengendap di dalam tubuh”
Icha semakin tak bisa berkata-kata. Bahkan waktunyapun, nyai Murdaningrum bisa menebaknya.
“Jangan lakukan lagi, ya! Kamu juga pasti tahu, kalau sesembahanmu sangat benci dengan hal itu”
“I, iya, nyai”
“Ya sudah. Bangunlah, Icha! Jangan jauh-jauh dari ibumu!”
“Apa akan ada santet lagi, nyai?”
“Apapun itu, badanmu sudah lebih kuat dari sebelumnya. Kalau ada yang mengejutkan dirimu, coba saja tempeleng dari jauh!”
“Mana bisa?” sahut Icha tergelak.
“Coba saja!” jawab nyai Murda Ningrum sambil tersenyum.
“Baik, nyai. Terimakasih”
“Sampai ketemu lagi”
TIIIKK
“AAAAAA”
Hanya dengan satu jentikan jari, dunia Icha kini berputar-putar tak karuan. Dia seperti jatuh ke dalam sebuah lubang yang semakin lama semakin gelap, gelap, gelap, dan kemudian Icha tak merasakan apapun.
ada kelanjutan nya gak????
💪💪💪
makasih atas cerita HEBAT mu
see u next time
😍😍😍👍👍👍👍
makanya nyawanya d tahan SM demit sembahannya ..
jahat