"Apa kamu tidak keberatan berbagi suami denganku?"
Anyelir menipiskan bibir. "Pertama, pelajari lagi tata bahasa. Pertanyaanmu bikin salah paham. Kedua, hanya saya Istri satu-satunya. Ketiga, saya tidak pernah peduli dengan urusan pribadinya."
"Oh, My Darling love you too. Thanks untuk pujian manisnya," balas Axton dengan nada mencibir.
Axton dan Anyelir adalah korban perjodohan dari ketamakan orang tua masing-masing. Keduanya tidak saling mencintai, tidak saling menginginkan, tidak juga ingin terikat terlalu lama. Akan tetapi, suatu hari, baik Axton maupun Anyelir justru sepakat menjalani 'open marriage'.
Di mana, masing-masing dari mereka bebas menjalin hubungan dengan orang lain di luar pernikahan itu. Terkecuali di depan media dan keluarga, Axton dan Anyelir akan tetap menunjukan hubungan yang manis, berlagak sebagai pasangan ideal dan serasi.
Benar, seharusnya mereka hanya perlu berpura-pura tanpa harus saling menyakiti akan perasaan terlarang itu.
Cover by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilwa Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jurang Neraka
"Mau duduk di mana? Di depan aja temani Axton. Mama butuh ruang luas."
"Masih muat buat aku."
"Di depan, Sayang," desis Margaretha seraya melempar tatapan sengit pada Anyelir. Hanya gara-gara yang membawa mobil Axton sendiri, Anyelir tidak mau duduk di samping kemudi. Mau ikutan Margaretha duduk di kursi belakang yang tentu saja tidak akan dibiarkannya.
Ini salah satu momen penting untuk mendekatkan kembali pasangan suami istri itu. Sebelumnya bersama sang besan, Margaretha sudah menyusun serangkaian rencana. Undangan jamuan makan malam ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin, kalau bisa sanggup meluluhkan hati Axton dan Anyelir.
Lelah mendebat, Anyelir pasrah saja. Membuka pintu mobil bagian depan, lekas masuk dan duduk di samping kemudi, di mana Axton sedari tadi tetap berdiam di sana. Ketika mamanya menyuruh masuk lebih dulu, Axton menolak halus.
Sepertinya masing enggan bicara dengan Anyelir. Masih dalam mode perang dingin.
Tak mau mengalah karena semuanya murni kesalahan Axton, Anyelir mengikuti saja permainan suaminya. Malu melihat sampai sejauh mana Axton betah mendiamkannya.
"Nanti Mama sama Anye menginap saja, ya. Kalau pulang, kasihan kamu dan Anyelir yang sedang hamil muda. Pasti kecapean kalau dibuat perjalan jauh terus." Saat mengatakannya, Margaretha melirik Anyelir yang tampak tak acuh. Kedapatan masih kesal dipaksa ikut memenuhi undangan makan malam keluarga besannya. "Mama juga sudah lama nggak mengobrol banyak sama ayah-bundamu. Jadi, boleh, 'kan kalau kami menginap satu malam?"
"Boleh-boleh aja sih, Ma. Selamanya pun boleh. Asal ada tip-nya, apa sih yang nggak boleh."
Margaretha tertawa-tawa. "Kamu nih bisa aja. Candaanmu nggak pernah gagal bikin Mama dan orang lain ketawa."
"Pernah ada yang gagal sih, Ma."
Mobil Axton menepi ke kiri sebelum memasuki jalan arteri. Menaikkan kecepatannya di atas 60km/jam.
"Malahan, kayaknya selalu gagal. Entah selera humor kami yang memang berbeda, ada anaknya aja yang hidupnya kelewat serius dan lurus."
"Tinggal bilang aku kenapa pakai mutar-mutar segala," tanggap Anyelir melirik Axton sekilas. Menoleh lagi keluar jendela yang agak dibuka sedikit. "Pelankan laju mobilmu kalau nggak mau terjadi apa-apa lagi sama anak-anakmu."
Axton tak menyahut, namun kecepatan jalannya berkurang. Kembali ke awal perjalanan dari rumah dengan agak menepikan mobilnya agar tidak menggangu kendaraan lain.
Margaretha yang tak lepas mengawasi Axton dan Anyelir, tak sungkan mengembuskan napas kasar begitu rencana pertamanya sudah menunjukkan gejala kegagalan. Membuka ponsel dan langsung masuk room chat dengan sang besan, Margaretha mulai menyusun rencana selanjutnya. Tidak boleh dibiarkan terus, malam ini juga Axton dan Anyelir harus bisa baikan.
Menempuh setengah perjalanan, mobil Axton berhenti di lampu merah. Sembari menunggu berubah hijau, Axton bersenandung asik sendiri. Jari-jarinya tak ketinggalan, membuat aransemen musik dadakan dengan mengetuk-etuk di setir mobil.
Entah Anyelir yang akhir-akhir ini terlalu hyper sensitif atau memang suara Axton saja yang kelewat berisik dan sangat menggangu, Anyelir tak segan menegur suaminya. Menepuk lumayan keras paha Axton yang hanya mengenakan celana pendek selutut. Melempar tatapan malas, ditanggapi Axton dengan putaran bola mata malas.
Pikir Anyelir, Axton bertambah marah. Jadi yang dilakukan Anyelir, memilih segera antisipasi diri dengan menempel penuh pada jendela mobil. Jaga-jaga jika Axton akan membalas perbuatannya. Sekalipun ada sang mama yang pasti tak putus mengawasi gerak-gerik keduanya, sepertinya Axton berani-berani saja melakukanya. Mengingat suaminya itu bukan tipe orang yang mudah dikendalikan, apalagi dikekang.
Namun, lagi-lagi Anyelir terlalu cepat berburuk sangka. Alih-alih memarahi atau membalas memukul pahanya, Axton justru meletakkan sebatang cokelat ukuran sedang di atas tangan kanan Anyelir yang kebetulan terbuka. Tanpa mengatakan apa-apa, Axton kembali fokus menjalankan mobilnya.
Menundukkan kepala, Anyelir mengamati sebatang cokelatnya. Lumayan lama sebelum diambil menggunakan kedua tangan. Lalu, dibukanya sesegera mungkin untuk dilahapnya. Seraya bolak-balik melirik Axton yang lebih kalem dari sebelumnya.
Di jok belakang, senyum Margaretha terurai dengan sendirinya. Lega menyeruak rongga dada. Akhirnya bisa mendapati sang putri dan menantunya akur lagi.
Tak mau senang sendiri, Margaretha langsung membaginya kepada sang besan. Mengetik pesan dengan senyuman kian bertambah lebar.
[Mission completed]
***
Makan malam selesai dengan khidmat. Sempat berbincang-bincang ringan sebentar sebelum masuk kamar masing-masing dikarenakan sudah terlalu malam. Sudah waktunya beristirahat supaya besuk ketika dibuat beraktivitas, bisa berjalan dengan lancar.
Mamanya jelas langsung menuju kamar tamu. Sementara Anyelir yang tadinya mau ikut menyusul, tentu saja ditentang keras. Anyelir diperintahkan tegas untuk tidur satu kamar dengan Axton. Dalam artian, juga satu ranjang mengingat di kamar Axton tidak ada yang namanya sofa.
"Ayo masuk. Bisa kesemutan kalau terus berdiri di situ."
Berusaha menekan ego, Anyelir mengikuti langkah Axton memasuki kamar suaminya. Yang tadinya masih gelap gulita, begitu Anyelir masuk berubah terang benderang. Menunjukkan suasana kamar Axton yang tak jauh beda dari terakhir kali Anyelir tidur di sini. Hanya motif bed cover yang telah diganti dan posisi ranjang yang kini agak menjorok masuk. Berdekatan dengan pintu balkon.
Anyelir sukses tersentak ketika mendapat dorongan tak bersahabat dari belakang. Tentu pelakunya Axton, memang mau siapa lagi yang tengah berada di kamar itu selain mereka berdua.
"Kamu aku suruh maju nggak bergerak, ya aku dorong."
"Nggak sampai kayak gitu juga. Kalau aku jatuh gimana?"
Axton mengedikkan bahu, main berlalu dari hadapan Anyelir setelah menutup pintu. Menghampiri ranjang duluan dan langsung menghempaskan diri di sana. Tidur terlentang dengan kedua lengan direntangkan memenuhi seisi kasur.
"Aku nggak mau tidur sama kamu. Bisa kasih solusi?"
Anyelir mendekat, berhenti di ujung ranjang. Mendudukkan diri di tepinya setelah dirasa perutnya agak kram.
Axton melirik sekilas, lanjut memejamkan mata dan bergumam-gumam kelewat lirih.
"Tinggal tidur aja pakai drama. Kalau nggak mau, sana tidur di bawah."
Masih bisa mendengar, Anyelir bergegas beranjak berdiri. Berlalu menuju almari, mengambil bed cover yang rencananya akan dijadikan alas tidur di bawah.
"Kakimu angkat," titah Anyelir menendang pelan kaki Axton yang masih menggantung di tepian ranjang.
Tak protes, Axton menurut. Menarik diri sampai sepenuhnya berada di atas kasur. Ekor mata Axton kontan mengamati gerak-gerik Anyelir yang mulai merentangkan bed cover di lantai vinyl.
Gerakan Anyelir terhambat sewaktu Axton mencekal pergelangan tangan kanannya. Berlanjut berbicara dengan intonasi kelewat rendah. Seperti tengah menekan emosi.
"Nggak usah aneh-aneh. Tidur di kasur."
"Aku nggak mau tidur sama kamu."
"Alasannya?"
"Ya nggak mau aja." Menggeliatkan tangannya, Anyelir berusaha melepaskan cekalan Axton. "Lepas, aku mau lanjut beresin dan tidur."
Alih-alih melepaskan, cekalan Axton bertambah menguat. Mengingatkan Anyelir pada kejadian tempo hari di kantor.
"Kamu kenapa sih? Masih marah nggak jelas sama aku? Sampai kapan? Lama-lama aku bisa marah betulan, ya sama kamu kalau masih nggak jelas gini."
"Marah aja." Seakan sedang menyulut api di kubangan minyak, Anyelir tak sampai berpikir jika tantangannya akan berimbas pada dirinya sendiri. Membuat kekacauan lebih besar. "Bukannya itu yang kamu harapkan. Agar bisa bebas jalan sana-sini sama para koleksi perempuanmu."
"Picik banget pikiranmu," desis Axton penuh penekanan. Cengkeramnya menguat, sementara jari telunjuk Axton di satu tangan bebasnya, dibuat mengacung tegak di depan wajah Anyelir. "Jangan salahin aku kalau nanti pikiran picikmu ini bakal jadi kenyataan. Jangan hakimi aku seolah-olah tetap aku yang bersalah dan paling berengsek di sini. Ingat Anyelir, aku nggak pernah main-main sama ucapanku. Kalau maumu memang begitu, okay ... terserah. Akan aku kabulkan secepatnya. Selamat bersenang-senang dengan isi kepala berisikmu sendiri yang sebentar lagi bakal aku kabulkan. Selamat datang di jurang neraka yang kamu inginkan sendiri."
Tak menyahut, yang dilakukan Anyelir hanyalah balas menatap tepat manik mata Axton. Bola mata cokelat terang itu, biasanya menghantarkan kehangatan yang menyenangkan. Akan tetapi, kini telah berbeda. Yang ada hanya tatapan penuh kemarahan yang tersirat jelas dari bagaimana cara memandang Axton yang tak lagi bersahabat.
Anyelir masih sanggup membisu meski cengkeraman Axton seperti tengah berusaha meremukkan tulang-tulangnya. Pun dengan tatapan mematikan Axton, yang seakan-akan sanggup membunuh Anyelir detik itu juga.
Masih kuat menahannya hingga pertahanan Anyelir tanggul dengan sendirinya. Bulir bening yang tidak dinginkan keluar, tanpa bisa ditahan lagi, luruh lancar mengaliri wajah Anyelir.
Berkedip, bulir bening itu bertambah banyak dan mengalir deras. Merebak luas membasahi keseluruhan wajah Ajyelir.
Menangis terisak, Anyelir merasakan nyeri tertusuk di rongga dada. Yang kian menghimpit sesak dan membuat napasnya mulai tersendat-sendat. Apalagi ketika Axton melepaskan cengkeramnya dan berlalu tanpa aba-aba, tangisan Anyelir pecah-sepecahnya.
Tak ada lagi pelukan hangat, tak ada lagi sisipan kalimat menenangkan, juga tak ada lagi ... panggilan menggelikan yang sekarang begitu Anyelir inginkan.
Axton berubah, pria itu ingin menciptakan neraka sungguhan di dalam pernikahan mereka.
****
Halo, aku kembali 👋