novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wiwik dan Fani
"Sekalinya ada yang mau, manusia siluman," ucap Fani meluncur begitu saja di bahu sofa sambil menghela napas. Wiwin mengerti, Fani seolah kehilangan semangat setelah putus dari pacarnya. Beda jalan Fani bilang tempo hari.
"Fan, Fani, semangat Fan, semangat," hibur Wiwik.
"Menyesal gue belajar angka, statistik dan ekonomi. Gara-gara itu gue putus dari Didan," ucap Fani dengan angan yang melayang.
Rupanya Fani masih menyimpan sesal karena pernah memutuskan hubungan asmara dengan seorang Didan.
Fani sedang mengejar gelar sarjana matematika dan ahli ekonomi. Sedangkan Didan, anak seorang kolektor benda-benda purbakala yang sedari kecil sudah dijejali hal-hal berbau sejarah dan jelas mengesampingkan masalah ekonomi.
"Fan, gue jadi mikir deh, kenapa yah, Kapten lu itu bisa jadi polisi? apa sekarang polisi-polisi khusus diharuskan punya ilmu kesaktian gitu yah," tanya Wiwik mengalihkan lamunan Fani yang sedang hambar.
"Tau Wik, gue juga bingung. Dia bilang, dia hidup dan besar di hutan. Tapi dia ngaku polisi."
"Yah, kata temennya yang nganterin kado itu, mereka adalah polisi rahasia. Semacam buru sergap gitu," lanjut Wiwik.
"Wik, apa gue ditakdirkan untuk menjadi pacar manusia-manusia aneh?" Ucap Fani menatap hiba kepada Wiwik.
"Dulu gue pacaran sama mahasiswa yang terobsesi benda-benda kuno dan tidak ada gambarannya untuk masa depan. Sekarang gue terlibat dengan seseorang yang entah datang dari mana, ngaku polisi, punya kekuatan super dan sebagainya dan sebagainya," cecar Fani pada diri sendiri. "Gak bisa gitu gue dapet pengusaha muda yang tampan, sukses, ekonominya stabil-"
"Orangtuanya tajir melintir, sahamnya kuat, warisannya berjibun gitu!" potong Wiwik.
Fani jadi terdiam.
"Hidup tidak selalu soal angka. Kadang kenyataan bisa berubah total dalam satu detik. Lu bilang sendiri, kalo dia tidak datang. Lu udah di kubur sekarang Fani, tubuh lu remuk karena di lempar dari lantai tiga. Bayangkan itu." Ucapan Wiwik ada benarnya juga.
"Maaf, sedikit banyak gue belajar filsafat. Tapi yang paling penting, gue percaya Tuhan. bahkan selembar daun yang jatuh tidak lepas dari kuasa Tuhan," ucapan Wiwik menggetarkan hati Fani.
Bersyukur Fani punya teman kerja dan sahabat seorang Wiwik. Meski suka ngandangin cowok di kamarnya, toh ia masih percaya Tuhan dan punya falsafah hidup. Manusia memang tidak ada yang sempurna. Kini Fani jadi menilai diri sendiri. Terlalu sempurna dirinya itu ia rasa kalo mendapatkan kekasih seperti yang ia khayalkan, seperti dalam novel yang suka ia baca. Tentang CEO yang tampan dan tak kekurangan suatu apapun atau pangeran yang gagah perkasa dan jago bikin cewek meleleh.
"Fan, Fani, lu perlu hiburan deh," celetuk Wiwik.
"Secara biologis, lu itu udah waktunya-"
"Stop, stop! jangan ke situ-situ, kebiasaan, gak bisa di ajak serius," tolak Fani. Ia sudah paham kemana arah pembicaraan yang Wiwik tawarkan.
"Lha, emangnya urusan biologi bukan urusan serius? oh iya Fan, gue sempet liat itu nya," ucap Wiwik berangsur jadi bisikan dan wajahnya mendekat. Seketika Fani hendak kabur. Tapi Wiwik menahannya.
"Itunya gede banget, kebayang kalo lagi berdiri."
"Udah udah ah, kalo mau lo ambil aja, gue mau sendiri dulu."
"Kayak terong ungu hahaha!" Fani berhasil kabur dan Wiwik terbahak-bahak.
"Bayangkan Fani, bayangkan woy, hahaha!" Wiwik melempar Fani dengan bantal sofa. Tapi tidak kena, Fani begitu gesit.
up
up