Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29
Sepertinya perempuan yang satu ini urat malunya sudah putus. Perempuan gila ini tetap bersikukuh meminta suami orang untuk menjadi miliknya seutuhnya.
Disini Frida punya hak atas Yoga. Dia tidak ingin cintanya Yoga terbagi dengan perempuan lain. Betapa tidak relanya seorang Frida jika Yoga memilih istri yang sudah Yoga campakan.
Keadaan semakin tidak kondusif, ketika Yoga sudah ada di sana. Frida segera mendekati Yoga dan sang pelakor menangis tersedu-sedu seolah dirinya lah adalah korban dari keegoisan Kinanti dan yang lain. Namun, Yoga tidak serta-merta percaya dengan air mata buaya Frida.Yoga sudah sangat muak dengan Frida.
"Mas ... Istri kamu jahat benget sama aku. Padahal kedatanganku ke sini mau minta maaf sama istrimu, tapi istrimu itu malah memarahiku dan mengatai aku perempuan murahan." Adu Frida. "Tadi aku dijambak sama dia, sampai-sampai rambutku rontok."
Lihatlah si rubah licik ini sangat pandai sekali memutarbalikkan fakta. Seakan-akan dia yang tersakiti. Andai Frida masuk nominasi pemeran antagonis terbaik, mungkin dia pemenangnya.
"Dasar wanita gila! Pandai sekali mulutmu bersilat lidah," geram ibu Rohayani.
Yoga menghela napas panjang, seraya menatap manik coklat Frida. "Terus aku percaya sama ucapan kamu," ujar Yoga. "Perempuan mana pun pasti akan marah jika suaminya direbut sama wanita lain. Kamu nya saja yang tak punya malu dan terus menginginkan suami orang. Padahal aku sudah membuangmu seperti sampah."
Perkataan Yoga bagai sembilu yang sangat melukai hatinya. Yoga, lelaki yang ia cintai begitu tega berkata tajam kepadanya dan menyamainya dengan seogok sampah.
"Mas ... Kamu tega ngomong kayak gitu sama aku!" pekik Frida tak terima. Matanya memancarkan kilatan amarah yang siap membakar tubuh seseorang.
"Pergi kamu dari sini dan jangan lagi menampakkan dirimu di hadapanku." Usir Yoga.
"Mas ...."
"Pergi!" Bentak Yoga sambil mendorong tubuh Frida dari hadapannya.
Tanpa kata, Frida pergi membawa rasa sakit hati dan juga amarah yang semakin mengungkung hatinya.
'Awas kamu mas. Aku gak bisa diginiin sama kamu, mas!' pekik Frida di dalam hatinya.
Setelah Frida pergi, Yoga mendekati Kinanti. Yoga khawatir kalau Frida menyakiti Kinanti. Yoga harus memastikan kalau Kinanti tidak diapa-apain sama Frida.
"Kamu tidak apa-apakan?" tanya Yoga sambil terulur menyentuh bahu Kinanti, tapi belum sempat tangannya menyentuh bahu Kinanti, Raka lebih dulu menarik Kinanti ke belakang tubuhnya.
"Jangan pegang-pegang kakakku!" sinis Raka.
Yoga mendengus melihat sikap posesif Raka.
"Aku mau meriksa Kinanti, takut Kinanti diapa-apain sama Frida," jawab Yoga, berusaha bersikap seperti biasa.
Melihat keduanya yang tidak mau mengalah, Kinanti menyetuh bahu Raka.
"Sudah jangan berdebat lagi, malu sama tetangga. Dari tadi pada ribut terus disini," cetus Kinanti menengahi keduanya.
"Ayo Bu masuk," ajak Kinanti kepada mertuanya.
Yoga pun akan mengikuti Kinanti masuk ke dalam rumah, tapi langkahnya harus terhenti ketika Raka menghalangi langkahnya.
"Apa lagi?" Ujar Yoga.
"Aku tidak akan membiarkan kamu terus menerus hidup bersama kak Kinan. Aku tidak akan rela jika kakakku terus bersama mu," ucap Raka.
Yoga tersenyum miring. Perkataan Raka bukanlah sebuah ancaman baginya. Ia yakin Usahanya akan membuahkan hasil dan Kinanti akan kembali kepelukannya.
"Sudah kan ngomongnya. Aku mau masuk," jawab Yoga.
Lalu Yoga segera masuk ke dalam rumah. Sementara Raka menatap bengis punggung Yoga.
***
Malam pun tiba, ibu dan Raka sudah pulang dari rumahnya. Yoga mendekati Kinanti yang tengah duduk di atas ranjang. Perempuan itu tengah memijit kakinya yang terasa pegal.
Yoga memposisikan dirinya di samping kaki Kinanti, lalu mengangkat kedua kaki sang istri ke pangkuannya.
"Pegal ya?" tanya Yoga, yang langsung di jawab dengan anggukan kepala. Lalu Yoga memijit kaki Kinanti lembut.
Kinanti tersentak saat tangan lebar Yoga menyentuh kulit kakinya.
"Tidak perlu dipijit," ujar Kinanti menahan tangan Yoga.
"Tidak apa-apa," sahut Yoga.
Kinanti menatap lekat wajah Yoga. Ada rasa hangat dengan perhatian kecil dari Yoga. Perhatian yang sudah lama tidak ia dapatkan dari sosok lelaki yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
"Kalau kamu sudah ngantuk, tidur saja," ucap Yoga, tanpa menghentikan pijatannya.
"Aku belum ngantuk," jawab Kinanti.
Keduanya lalu diam dan tercipta keheningan di kamar tersebut. Yoga masih memijat kaki Kinanti.
"Mas ...."
"Iya, kenapa?"
"Andai aku tetap menceraikan kamu, apa kamu akan berhenti mencintaiku dan mencari pengganti diriku?"
Seketika Yoga menghentikan tangannya dan menatap wajah Kinanti. Kemudian Yoga memajukan duduknya lebih dekat dengan Kinanti dan menggenggam tangan Kinanti.
"Aku tidak akan berhenti mencintaimu dan aku akan terus berjuang mendapatkan kamu lagi," ucap Yoga. "Karena bagiku kamu wanita satu-satunya yang aku cintai."
"Kalau kamu mencintaiku, kenapa kamu berselingkuh?"
Yoga menghela napasnya. Berselingkuh memang kesalahan terbesarnya, dan ia sangat menyesali kebodohannya itu.
Yoga bungkam dan tidak bisa berkata-kata lagi. Benar kata Kinanti, kalau memang mencintainya kenapa berselingkuh.
"Berarti selama ini kamu tidak pernah tulus mencintaiku," lanjut Kinanti berkata. "Bodohnya aku yang terus bertahan hidup sama kamu."
"Sstt ... Kamu jangan bicara seperti itu. Kamu tidak bodoh, aku lah yang bodoh. Seharusnya aku bersyukur memiliki kamu. Maafkan aku yang sering menyakiti kamu."
"Kinan, aku mohon maafkan kesalahanku. Izinkan aku untuk terus bersamamu sampai akhir hayat ku."
"Maaf, aku tidak menjawabnya."