Dicintai dua orang yang mereka adalah kakak beradik membuat Arra bimbang bukan main. Awalnya ia jatuh cinta dengan sang adik, namun kebersamaan Arra dengan sang kakak, Edo Ajiwasita, membuat cinta itu lambat laun tumbuh.
Edo yang terlalu mencintai sang adik, lebih memilih mengalah, meskipun Arra protes dan merasa di permainkan.
Bagaimana kisah mereka? Apakah benar Edo ikhlas melihat gadis yang ia cintai bersanding dengan sang adik? Atau ada jalan lain yang membuat mereka bisa bersatu?
Spin off dari Novel pertama saya di platform ini "CINTA JAS PUTIH"
Sangat disarankan untuk mampir kesana sejenak supaya tahu awal mula kisah ini berawal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elza Veronika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ragu
Enam bulan kemudian ...,
Edo benar-benar risau, koas nya sudah berakhir mulai hari ini. Ia sudah harus bergelut dengan UKMPPD untuk kemudian diambil sumpahnya dan pergi internship.
Lalu bagaimana dengan Arra? Siapa yang akan menjaga dia? Dia masih harus kuliah beberapa semester. Edo sangat khawatir dengan gadis itu, ia benar-benar tidak mau kalau sampai Arra kenapa-kenapa.
"Kak, melamun?" Arra sudah berdiri di sisi pintu mobilnya, dengan senyuman yang begitu manis.
"Ah sedikit, cepat masuk sini. Makan yuk! Kakak yang traktir karena masa koas kakak sudah berakhir."
Arra masuk dan memakai seat belt-nya, "Perasaan selama ini kakak terus deh yang traktir Arra makan."
Edo tersenyum, ia hanya melirik sekilas lalu mulai menjalankan mobilnya. Pikirannya masih berkecamuk memikirkan nasib gadisnya itu. Ia belum dapat titik terang untuk bagaimana caranya Edo supaya tetap internship di Jogja.
"Kakak mikir apa sih?" tanya Arra yang heran kenapa Edo lebih banyak diam.
"Mikir UKMPPD, habis ini harus internship, kakak mikir itu, Ra." guman Edo lirih.
"Semangat kak, aku percaya kakak bisa lolos UKMPPD one shoot!"
Edo tersenyum, ia tidak khawatir dengan ujian itu, ia khawatir dengan Arra, kenapa Arra tidak merasa sih kalau dia selalu jadi prioritas Edo?
"Doakan ya, nanti kalau kakak internship, kamu yang jagain siapa, Ra? Kakak khawatir."
Arra terdiam, senyumnya mendadak hilang, "Kakak pengen internship dimana memangnya?"
"Pengennya di sini aja, biar bisa jagain kamu, tapi kita kan nggak tahu juga nanti nembak wahana dapatnya apa kan, Ra?" Edo benar-benar risau, ia tidak rela Arra sampai kenapa-kenapa.
"Arra juga berharap kakak tetap di sini," desis Arra lirih.
Edo menoleh, tampak wajah Arra begitu sedu, membuat Edo tersenyum kecut. Ia juga tidak mau jauh dari Edo? Apakah benar dia tidak mau jauh-jauh dari Edo?
"Kalau kakak nanti pergi, Arra sama siapa? Selama ini cuma kakak yang selalu ada buat Arra, selalu baik sama Arra dan selalu melindungi Arra."
Edo tertegun, itulah yang membuat Edo ragu dan takut bukan jauh dari Arra, dan kata-kata Edo tadi membuat Arra benar-benar tidak ingin pergi dari kota ini! Tidak!
"Kakak akan berusaha buat tetap di sini, Ra. Apapun akan kakak lakukan," guman Edo mantab.
Arra menoleh, setitik senyum mengembang di wajahnya, "Janji?" Arra menyodorkan kelingkingnya.
"Janji, bantu doakan kakak ya," Edo menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya. Senyum Arra makin lebar, membuat ada setitik perasaan haru muncul di dalam hati Edo.
"Pasti, kakak semangat terus ya, tinggal selangkah lagi jadi dokter."
"Kamu juga, perjalanan kamu masih panjang, jangan patah semangat ya, kakak tunggu sumpah jabatanmu besok."
***
"Kak, setelah selesai internship kakak mau ngapain?" mereka sudah duduk berdua di salah satu resto siap saji yang ada di Ambarukmo.
"Balik Solo, papa yang suruh. Nanti kalau bisa lanjut sekalian PPDS," Edo mengunyah burgernya, sementara Arra sibuk dengan nasi ayamnya.
Arra tersenyum, "Ambil PPDS apa kak?"
"Bedah, kakak kepengen kayak papa, Arra besok ambil spesialisasi apa?"
"Pengen BTKV, kak. Papa sih dulu nyuruh interna, tapi entahlah belum bisa mantab mau ambil spesialisasi apa," cerita Arra panjang lebar.
"Mantab kan dulu, masih banyak waktu. Nanti waktu koas kan bisa buat pemantaban hati Arra juga kan?" Edo tersenyum, dia sosok luar biasa, Edo yakin mau spesialisasi apapun ia mampu kok.
"Kalau kakak kenapa pengen jadi ahli bedah?"
"Yang pertama terinspirasi papa, yang kedua makin yakin ketika koas kemarin. Stase bedah membuat kakak makin yakin mau ambil PPDS bedah," cerita Edo sambil tersenyum.
Arra sendiri sebenarnya juga terinspirasi papanya sih, awalnya kan ia menolak menjadi dokter bukan? Namun kemudian luluh melihat bagaimana profesi orangtuanya tapi untuk jenis spesialisasi yang mau dia ambil, ia tidak mau ambil interna, mau lingkup lain.
Arra dan Edo asyik mengobrol sambil sesekali tertawa, sampai Arra tidak sadar iPhone-nya berdering. Jauh disana ada seseorang yang berusaha menghubunginya. Namun sayang, obrolan Arra dan Edo mengalihkan semuanya.
***
"Pengen beli apa lagi?" tanya Edo ketika mereka melangkah hendak ke parkiran.
"Udah kenyang ah kak, emang kakak mau beli apa lagi?" Arra menatap Edo yang tampak begitu keren dengan jaket warna army-nya itu.
"Anterin kakak beli roti yuk, mau?" mata Edo melihat gerai roti itu.
"Okelah, mau stock buat sarapan?" tanya Arra yang mengikuti langkah Edo menuju gerai roti itu.
"Iya nih, kalau pagi kakak malas makan nasi," Edo tersenyum, rasanya ia belum rela berpisah dengan gadis itu, ia masih ingin menghabiskan banyak waktu dengan Arra.
"Kok sama kayak papa? Papa kalau pagi cuma sarapan roti aja," cerocos Arra panjang lebar, benar-benar mirip Yudha!
"Iya kah?" Edo tersenyum, terserah lah mau dikatakan mirip Om Yudha, asal itu bisa membuat Arra jatuh hati kepadanya.
"Iya, papa nggak pernah makan nasi kalau pagi," mereka sudah masuk ke gerai roti itu, Edo sudah mengambil nampan, kemudian meraih roti tawar tanpa kulit yang menjadi menu kesukaannya setiap pagi.
"Arra mau apa? Ambil aja sekalian."
Arra tersenyum, ia menatap deretan roti basah yang terpajang di etalase. Semuanya tampak menggoda, kemudian ia meraih sebuah roti Bun dengan keju dan sosis.
"Ini aja deh," guman Arra lalu meletakkan roti itu di nampan yang Edo bawa.
"Cuma itu? Yakin? Yang cokelat enak juga lho," guman Edo yang kemudian mengambil beberapa roti basah lain.
"Ahh ... itu aja deh," tiap keluar sama Edo, Arra selalu kenyang plus pulang bawa banyak makanan. Selalu!
"Bener nih?" guman Edo sambil tersenyum menggoda.
"Iya bener kak, sudah ini aja!"
Edo mengangguk, ia kemudian mengambil sepack roti tawar tanpa kulit lagi dan membawanya ke kasir. Di dekat kasir ada botol selai yang di display di sana, Edo mengambil dua botol, satu stroberi satu blueberry.
"Mbak, jadiin dua plastik ya!" guman Edo lalu menyodorkan debit card miliknya.
Kasir itu tersenyum lalu melakukan seperti yang Edo minta, setelah selesai ia menyodorkan dua plastik berisi roti dan selai serta beberapa roti lainnya itu pada Edo.
"Nih, Arra satu!" guman Edo sambil tersenyum manis.
Arra tertegun, menatap plastik berisi roti tawar tanpa kulit, selai blueberry dan roti yang tadi Arra ambil itu.
"Kok jadi Arra dibeliin juga?" protes Arra sambil menatap Edo lekat-lekat.
"Buat sarapan, biar kayak papa dirumah," senyum Edo merekah, mau tidak mau Arra ikut tersenyum lalu menerima plastik dari tangan Edo.
"Tau dari mana kakak kalau aku lebih suka selai blueberry daripada stroberi?" tanya Arra penasaran.
"Kakak tahu banyak hal tentang kamu," guman Edo sambil mengacak lembut rambut Arra.
Arra tersenyum, menatap wajah Edo dengan seksama. Kenapa ada laki-laki sebaik ini?