Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 29
Jika ada yang bertanya kenapa Krystal begitu tidak disuka oleh Papa dan juga keluarganya, maka jawaban yang akan Krystal ucapkan adalah dia anak yang tidak diinginkan.
Bukan, ia bukan anak haram atau anak di luar nikah. Ia anak yang gender-nya tidak diinginkan. Papa dan keluarganya ingin Mamanya melahirkan seorang anak laki-laki sebagai penerus tahta mereka namun sayangnya takdir berkata lain. Mama Krystal melahirkan sosok anak perempuan yang tidak lain adalah Krystal.
Awalnya memang baik-baik saja, semua masih bisa menerima Krystal karena mengira Mamanya masih bisa melahirkan anak laki-laki di kehamilan selanjutnya.
Sayangnya, bertahun-tahun berlalu. Sebuah kecelakaan terjadi. Sebuah kecelakaan yang merampas semua kebahagiaan Krystal dan Mamanya.
Di kecelakaan itu, tubuh Mamanya terbentur sesuatu dengan sangat keras pada bagian bawah tubuhnya. Hingga kata Dokter, rahim Mamanya harus diangkat untuk mencegah terjadinya cidera serius.
Berawal dari sana, semua keluarganya mulai bersikap dingin pada Krystal. Kenyataan bahwa Mamanya tidak bisa hamil lagi membuat keluarga besar Krystal kecewa dan memutuskan untuk menjauh darinya.
Mamanya pun hanya bisa pasrah. Hidup dalam kekosongan dan juga pengasingan keluarga sendiri bahkan suaminya sendiri.
Menghentikan cerita menyakitkan itu, Krystal membuka pintu mobil di bagian penumpang kemudian turun bersama gadis seusianya.
Sontak, dua cewek berseragam putih abu-abu yang baru saja turun dari mobil sport putih itu mencuri perhatian siswa-siswi yang masih seliweran di parkiran.
Tampilan keduanya tidak jauh beda dengan seragam yang nyaris kekecilan. Rok lipit abu-abu beberapa senti di atas lutut, kaos kaki pendek semata kaki, kemeja putih yang dipendekkan dan memperlihatkan lekuk tubuh sukses membuat kaum adam meneguk ludah sendiri.
Seorang Krystal Raquelnesya—cewek yang sosoknya selalu dipertanyakan karena selama ini hanya namanya yang diketahui orang-orang hingga dijuluki Queen Shadow SMA Garuda—sekarang terang-terangan menunjukkan sosoknya yang benar-benar mempesona.
Dengan lekuk tubuh indah, tinggi semampai dan wajah nyaris seperti dewi, siapa yang tidak terpesona?
Mungkin hanya sosok ber-jersey futsal yang tengah berdiri di tengah lapangan itu. Tatapannya sama sekali tidak memperlihatkan keterpesonaan atau kekaguman, melainkan tatapan dingin namun penuh kekecewaan.
Krystal memalingkan wajahnya sekilas lalu melangkah ke dalam sekolah bersama sosok cewek di sampingnya yang tersenyum miring melihatnya.
"Gue kangen lo yang kayak gini, Tal," ujarnya membuat Krystal tersenyum tipis.
Mereka berjalan di koridor untuk mencapai tangga menuju lantai tiga. Saat berada di depan koridor yang menjadi belokan ke warung belakang sekolah, mereka berpapasan dengan tiga inti The Lion.
Ezra, Tian dan Adnan yang awalnya saling melempar tawa dan saling menggeplak kepala masing-masing kontan menghentikan langkah, begitupun dengan kedua cewek itu.
"Ini ... beneran Krystal bukan, sih?" celetuk Ezra terlebih dahulu. Mata cowok yang juga memakai jersey futsal itu meneliti Krystal dari bawah hingga atas. Tidak percaya sekaligus takjub.
"Lo buta, ya?" sahut cewek di samping Krystal.
"Dih, nyaut aja lo kayak tokek. Orang gue nanya sama diri gue sendiri," balas Ezra sinis.
Cewek itu mendengus kemudian menarik lengan Krystal untuk pergi dari sana, tapi sebelum itu Tian maju kedepan menghadang jalan dengan merentangkan tangan.
Krystal diam-diam menghela napas.
"Jangan pergi dulu," kata Tian. "Lo kenapa bisa sama dia, Tal?" tanyanya terlebih ke Krystal yang kini sudah mengangkat alis kanannya. Menatap Tian keheranan.
"Harus banget lo tau?" sahut Krystal seperti biasa. Ketus.
Tian meringis menggaruk kecil telinganya.
Krystal dan cewek yang bersamanya melengos begitu saja dari hadapan Tian.
Adnan? Tidak usah ditanya. Sejak melihat Krystal tadi, semua kata-kata di kepalanya seolah hilang terbawa angin. Ia terperangah melihat perubahan Krystal. Bahkan, Krystal tidak mau menatapnya sejak tadi.
Tian kembali ke dekat Ezra lalu ketiganya berjalan ke lapangan. "Kok, Krystal bisa sama Naila, ya?" tanya Tian.
Ezra juga mengangguk keheranan. "Apa mungkin karna adanya gravitasi bumi?" tanyanya dengan ekspresi bodoh.
Tian menoyor kepalanya ke samping. "Apa hubungannya bodoh?!"
"Mana saya tau, saya kan ganteng."
####
Sekumpulan orang-orang di kantin membentuk lingkaran mengerumuni sesuatu yang menjadi objek keributan di sana.
"Jilat sepatu gue sekarang juga!"
Semua orang di sana membekap mulut, menatap kasihan pada sosok cowok berkacamata bulat yang berlutut di depan Krystal yang berdiri angkuh.
Naila bersandar di tembok dengan bersidekap. Bibir merah mudanya terangkat membentuk senyum miring. Senang karena Krystal sudah kembali.
Ya, Krystal dan Naila adalah dua gadis bersahabat sejak kecil. Keduanya selalu membuat keributan sejak berteman dulu, sayangnya, Krystal tiba-tiba berubah dan menjauh dari Naila tanpa alasan yang jelas hingga membuat Naila semakin gencar membuat keributan untuk membuat sahabat kecilnya kembali lagi padanya.
"Ta-tapi saya gak se-sengaja, Kak. Na-nanti saya bersihin, kok." Cowok cupu itu berbicara dengan nada putus-putus, takut.
Naila maju, menekuk lutut di samping cowok cupu itu kemudian mengangkat dagu cowok tersebut dengan cengkeraman. "Selain pengliatan lo yang bermasalah, pendengaran lo juga ikut bermasalah?" kata Naila dengan jahatnya.
"Lo gak denger apa yang Krystal bilang? Bersihin pake lidah lo!"
Sebenarnya masalahnya sepele, cowok itu tidak sengaja menumpahkan es krimnya ke sepatu Krystal karena kakinya yang sengaja disandung oleh kaki orang iseng di meja yang ia lewati. Alhasil, es krimnya mendarat sempurna di sepatu hitam Krystal.
"Ma-maafin saya, Kak. Sa-saya mo-"
Cowok itu tidak melanjutkan ucapannya karena merasa tarikan kuat dari dirinya. Ia mendongak, dan seorang Bagus Baskara ada di depannya dengan wajah mengeras. Terlihat menahan emosi.
"Lo pergi sekarang," kata Bagus, namun cowok itu bergeming dan kembali menunduk. Bagus menghela napas. "Pergi. Biar gue yang urus dia."
Cowok itu masih pada posisinya.
"PERGI ATAU GUE TONJOK LO?!"
Naila memutar mata malas, Krystal berdecak tidak suka. Sial sekali cowok ini merusak pertunjukan perdananya di SMA Garuda.
Cowok cupu itu segera pergi dari sana dengan kepala yang tetap menunduk. Bagus menatap punggungnya sekilas lalu beralih berdiri di depan Krystal yang enggan melihatnya.
"Ikut gue," titah Bagus, segera berbalik dan beranjak dari sana.
Bukan Krystal namanya jika ia langsung patuh pada seseorang. Bukannya mengikuti langkah Bagus, ia malah mengambil langkah dengan arah yang berbeda.
Bagus yang merasa tidak ada yang mengikutinya pun menghentikan langkahnya. Menoleh kebelakang sebelum ia mendengus karena Krystal yang tidak mengikutinya.
Bagus kembali masuk ke kantin, menghampiri cewek yang duduk di sudut kiri kantin dengan Naila yang tampak tertawa kesenangan.
"Gila, sih, lo. Nyaris sempurna kalau aja Bagus gak nongol."
Mendengar perkataan Naila dari jarak yang cukup dekat membuat Bagus mengepalkan tangan diam-diam.
Apa saja yang telah medusa itu lakukan hingga Krystal masuk ke kubunya?
"Gue mau ngomong sama Krystal," ujar Bagus setelah dirinya berdiri di dekat meja yang ditempati Naila dan Krystal.
Naila mengerjap sekali menatap Bagus lalu beralih ke Krystal. "Lo mau ngomong sama dia, Tal?" tanya Naila.
Krystal menggeleng dengan wajah datar sembari menatap mejanya dengan raut dingin.
"See?" Naila bersidekap, melemparkan tatapan mengejek pada Bagus. "Doi gak mau ngomong sama lo. Gimana dong?"
Rasa ingin meloloskan bogemannya pada pipi Naila besar. Sayang sekali Naila adalah perempuan, jika bukan, maka bukan Bagus namanya jika pipi itu masih mulus.
"Gue gak ada urusan sama lo."
"Krystal juga gak ada urusan tuh sama lo."
"Diam aja bisa gak, sih, lo? Pengang kuping gue denger lo!"
Kedua bahu Naila terangkat. "Gak bisa. Kalau Krystal dideketin sama makhluk berengsek mana bisa gue diem aja."
Bagus menatap Naila dengan tatapan bingung. Krystal telah menceritakan semuanya pada Naila? Sedekat apa sebenarnya keduanya?
Krystal memilih beranjak dari sana. Bagus ingin mengejarnya namun Naila mencekal lengannya.
"Mau gue bantu gak biar Krystal maafin lo?"
Bagus mengangkat alis.
"Caranya gampang, lo tinggal ngebuat gue pacaran sama Alka, setelah itu gue jamin Krystal bakal maafin lo."
Bagus mendecih, ia menyeringai sinis ke Naila. "Kalau pun satu-satunya orang yang bisa ngasih gue bantuan di dunia ini cuma lo, gue gak bakal sudi buat nerima bantuan lo. Ngerti?"
Bagus keluar dari kantin mengejar Krystal, meninggalkan Naila yang mengumpat di tempatnya.
.
.
.
Masih ingat Naila siapa, kan?
Ituloh yang suka sama Alka dan sering bully Meira di Senior.
Maaf karna saya selalu ngaret dan seperti menganaktirikan cerita Crazy Dare, hehe😭
Karna jujur, ide di cerita ini susah muncul, pas muncul eh suka ilang pas mau ngetik huhu😭
Jangan lupa, vote, komen, like dan share!
Untuk ceritanya Aa, aku bakal lanjutin pas Crazy Dare tamat ya wkwk🤪
See u guys!
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..