NovelToon NovelToon
LOVE ME, PLEASE!

LOVE ME, PLEASE!

Status: sedang berlangsung
Genre:Patahhati / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / BTS
Popularitas:167.4k
Nilai: 4.7
Nama Author: Min Ziy. Minfiatin FauZiyah

"Cerai, atau kamu mau jadi yang kedua!"

Pagi itu Elena dan Arsen suaminya tengah melakukan sarapan bersama seperti biasanya, namun satu kalimat tanya dari Arsen sukses menghancurkan hati Elena berkeping-keping.

Arsen memiliki wanita lain yang ia cintai, dan Arsen akan menikahinya. Menduakan Elena yang sudah setia menunggunya selama dua tahun bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Min Ziy. Minfiatin FauZiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

#29

Kuterima berkas hasil pemeriksaan hari ini dari Dokter, aku baru saja menjalani pengobatan Radioterapi, sebuah pengobatan menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh dan menghentikan sel kanker.

Aku tak berniat membukanya, percuma. Karena aku juga tidak bisa membaca data kesehatan yang seringkali menggunakan bahasa yang tak mudah dimengerti.

"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyaku pada Dokter Excel yang menanganiku sejak awal aku datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.

Dokter Excel menggeleng pelan.

"Saya sarankan agar kamu segera melakukan kemoterapi, Elena!"

Aku tersenyum getir mendengar jawaban yang Dokter Excel katakan.

Kemoterapi, memakan banyak waktu, biaya dan tenaga, di mana itu artinya melakukan tiga pengobatan sekaligus, Radioterapi dan juga Imunoterapi.

Tubuh pasien benar-benar terforsir selama menjalani pengobatan itu, badan kurus, nafsu makan hilang, rambut rontok hingga botak. Membayangkannya saja aku tidak sanggup.

Aku menggeleng. Menyeka air mataku yang jatuh.

"Dan nanti Dokter akan menyarankan saya agar menjalankan operasi?" air mataku berlinang saat mengatakannya.

"Aku hanya menunggu kapan hari itu tiba, hari di mana Tuhan akan membawaku pulang, bertemu Mamah, Papah, dan Ayah."

"Elena,,,,"

Aku tersenyum, tapi juga menangis. Melihat keluar melalui jendela kaca menatap nanar langit yang nampak cerah hari ini.

"Dokter tahu, seringkali pandanganku buram dan kabur, telingaku berdengung tinnitus dan terkadang aku tak bisa mendengar apa pun, dan yang paling sering terjadi, hidungku yang selalu mimisan tiba-tiba. Aku tidak mau merusak tubuhku lagi dengan kemoterapi ataupun operasi, dengan melakukan serangkaian pengobatan yang hanya akan menyiksaku."

"Elena, kau masih memiliki kesempatan untuk sembuh, kau seharusnya semangat."

Semangat, untuk apa? Bahkan hidupku sudah berakhir sebelum aku mati.

"Baiklah, Dok. Terimakasih atas waktunya hari ini, saya permisi." Kuulurkan tangan untuk berjabat tangan. Mengakhiri pertemuan kami hari ini. Dokter Excel menerima uluran tanganku.

"Jangan lupa makan dan minum obat tepat waktu, jika sesuatu terjadi, hubungi saya segera."

Aku mengangguk, membawa berkas pemeriksaan dan kantong obat yang diberikan Dokter Excel.

***

Kulajukan motor dengan kecepatan sedang menuju cafe. Meski waktu sudah sangat sore dan mungkin anak-anak sudah mulai beberes untuk tutup. Tapi aku ingin pergi ke sana, tak ada alasan, hanya saja, pulang ke rumah juga tak ingin.

Kuparkir motor di tempat biasa, melepas helem dan menaruhnya, kemudian berjalan melangkah masuk ke dalam cafe. Nampak Sisca dan Hadi yang tengah merapikan kursi.

"Sore,,,," seruku saat masuk.

Langkahku terhenti melihat pria yang duduk di salah satu kursi yang juga langsung membalikkan tubuhnya melihatku.

"Mbak Elena kok kemari? Kami padahal sudah bersiap untuk tutup." Yoyo yang berada di meja kasir lekas menghampiriku yang masih berdiri di depan pintu kaca.

Aku tidak fokus padanya dan tak menanggapi, sosok pria yang duduk kemudian berdiri di sana menatapku nanar menjadi titik fokus utamaku.

Semua terasa hening. Sangat hening, bahkan Sisca yang bicara hanya dapat kulihat gerak bibirnya, hingga aku menggeleng sambil memejamkan mata lalu membukanya kembali, baru mendapatkan pendengaranku kembali.

"Elena? Hei, ada apa? Kau baik-baik saja?" tanya Sisca yang sudah berdiri di depanku, begitupun Hadi, dan dia, pria yang beberapa satu bulan lalu pergi meninggalkanku.

"Apa kabar, Elena?"

"Kak Hengky?"

***

Aku dan Kak Hengky duduk saling berhadapan dalam diam. Sisca, Yoyo dan Hadi sudah pulang. Sedangkan aku dan Kak Hengky masih di cafe yang sepi ini.

"Aku merindukanmu," ucap Kak Hengky membuatku sedih.

"Apa kabar?" tanyaku lirih, tanpa melihatnya, hanya menatap datar pada meja.

"Baik, kau?" jawab sekaligus tanya Kak Hengky padaku.

Aku tersenyum, memberanikan diri menatapnya, mata Kak Hengky merah dan sayu, seakan ada desakan air mata yang ingin ia tumpahkan.

"Aku juga baik," jawabku kemudian.

"Kenapa Kak Hengky kembali? Apa pekerjaan Kak Hengky di Amsterdam sudah selesai?"

"Belum, masih ada beberapa bulan lagi, tapi, Kak Hengky tidak tahan untuk tidak menemuimu."

"Maksud Kak Hengky? Jangan katakan jika Kak Hengky pulang hanya demi Elena."

"Tapi itu kenyataannya. Kak Hengky sangat merindukanmu, Kak Hengky juga mengkhawatirkanmu."

"Kenapa? Siapa Elena bagi Kak Hengky?"

"Kau adalah gadis yang membuat tidurku tidak nyenyak, kau adalah gadis yang membuatku tersenyum sendiri hanya dengan mengenang kebersamaan kita, dan kau adalah gadis yang membuatku sedih hanya dengan melihat matamu yang sendu, wajahmu yang sembab."

Kupalingkan muka tak kuasa melihat keseriusan yang terpancar dari sorot mata Kak Hengky.

"Elena...." Kak Hengky meraih tanganku di atas meja. Aku melihatnya.

"Lepaskan Arsen, aku mencintaimu, dan aku siap menikahimu, menghapus semua luka yang pernah Arsen berikan padamu, percayalah padaku,"

Aku menarik napas dalam, dadaku sangat sesak tiba-tiba, di sana ada pria yang sangat aku cintai yang hanya menyakitiku setiap saat, tak pernah mempedulikanku sama sekali, dan di sini, ada seseorang yang sangat mencintaiku, namun perasaanku seakan mati untuknya.

Perlahan kulepaskan tanganku dari genggamannya. Kak Hengky nampak terkejut akan sikapku.

"Jangan mencintaiku, Kak. Karena kita tidak akan pernah bisa bersatu." ucapku lirih.

"Kenapa? Karena Arsen?"

Aku menggeleng pelan.

"Bukan,"

Dahi Kak Hengky mengernyit dengan kedua sudut matanya yang menyipit.

"Aku akan meminta Kak Arsen untuk menceraikanku setelah malam ini. Aku sadar, aku hanya sebagai duri penghalang dalam hubungan Kak Arsen dan Nindy, dan sekarang, aku sudah siap untuk melepasnya."

"Elena, ada apa?" raut muka Kak Hengky nampak berubah.

Aku hanya tersenyum sambil menggeleng.

"Ini sudah malam, Kak. Aku mau pulang,"

"Elena, tunggu." Kak Hengky kembali meraih tanganku.

"Aku antar, besok pagi aku jemput."

"Itu merepotkan,"

"Kakak tidak merasa repot."

Pandangan kami saling mengunci cukup lama. Akhirnya aku mengalah dan mengangguk. Setuju pulang diantar oleh Kak Hengky.

"Kenapa diam saja? Putar satu lagu, apa kau lupa energi positif yang bisa kau dapatkan dari mendengarkan musik?" ucap Kak Hengky saat kami sudah berada dalam perjalanan menuju rumahku.

"Ehmm,,,," aku mulai menyalakan screen MV, lagu yang dinyanyikan seokjin BTS berjudul Epiphany menjadi pilihanku. Dan aku pun mulai larut menyanyikannya.

Lagu ini mengisahkan tentang seseorang yang begitu sangat mencintai kekasihnya, hingga ia melupakan dirinya sendiri, menjadi seperti yang kekasihnya inginkan, dan kemudian ia baru sadar, bahwa dirinya sendirilah yang seharusnya ia cintai.

"Elena?"

"Hemm?" aku berhenti bernyanyi, melihat Kak Hengky yang mengajakku bicara.

"Apa,,,, kau serius dengan yang kau katakan di cafe tadi? Kau akan meminta cerai dari Arsen?"

Aku menatap lurus ke depan, ingin menangis, namun bibirku justru mengulas senyuman.

"Kak Hengky tahu? Titik terlemah mencintai adalah, ketika seseorang memohon kepada Tuhan, namun bukan lagi tentang ingin memiliki, melainkan agar Tuhan melapangkan hatinya untuk mengikhlaskan. Itu yang akan kulakukan, melepaskan Kak Arsen. Dan mengihklaskannya bersama Nindy."

Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Tapi aku akan mencoba. Melepaskan Kak Arsen meski cintanya masih membelenggu hatiku yang semakin rapuh.

"Aku senang mendengarnya, kau berhak bahagia." ucap Kak Arsen. Dan kuulas senyum tulus padanya.

***

Saat kami memasuki halaman rumah, mobil Kak Arsen sudah terparkir lebih dulu. Aku tahu, kenapa dia datang, pasti karena keributanku kemarin bersama Nindy di cafe.

Aku keluar, begitu pun Kak Hengky, Kak Arsen sepertinya sudah menungguku, ia berdiri di dekat mobilnya melihat tajam ke arahku yang baru datang.

Aku melangkah ke depan diikuti Kak Hengky yang berjalan di sampingku.

"Kak Arsen,"

"Plak!"

"ARSEN!"

'Dugh!'

***

1
Via
awal yg jelek memilih kedua goblok
Alfin Alfiari
seumur hidup,tumben aq tau ada wanita super duper goblok,trllu mghamba pd cinta,
Srihartati
kok gk pernah up lagi Thor
Putri Moon
kapan upnya thor😭
sandi Gelau
yg bodoh disini c Arsen..kata tk cinta..knpe menghalang Elena sma Hengky
sandi Gelau
alah dh mcm bodoh plk..biar tegas sikit hati mu Elana..
MamaKenzo
sedih bgt ceritanya klo kita yg ngalamin sendiri blm. tentu kuat ya tor...

btw lanjut donk yg banyak up nya.
amilia amel
kapan up lagi thor... ceritanya seru ni
sayang kl nanggung
Nina
nanti udah kehilangan baru akan tau rasa sakitnya
Fawas Aficieanna
ayo kak semangat dah ku kasih kopi😊
Diah Cantika
bagus
Nurihwana
lumayan
Ita Tojeng
udah deh, matikan saja elena secepatnya, biar ceritanya juga ending, baca novel ini bikin emosi, bikin malas, karakter perempuannya terlalu lembek seperti bubur
Ita Tojeng
bodoh, hanya itu kata yg tepat untuk elens
Ita Tojeng
terus terang, aku tuh emosi banget dgn sikap elena, jd perempuan tuh jangan lemah n mau ditindas hanya karena Cina
Ita Tojeng
bodoh elena, ngapain bertahan dengan suami seperti itu, ceraikan saja sih n cari penggantinya,
Adinda Wianda
up donggg
Rini Mustika
yh habis
Rini Mustika
biasa nya di novel kak Author ini cewek nya tangguh ko ini bikin lemes si.
Rini Mustika
kaya nya ga baik buat darah q ...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!