Asep seorang pemuda biasa saja, yang selalu tersisih dari kancah dunia percintaan, ditolak ciwi-ciwi karena selalu tongpes, bokek dan misquin.
Tiba-tiba suatu hari Asep ketiban Durian runtuh sepohon-pohonnya. Walhasil Asep dalam sekejap jadi OKB.
Yuk kita intip, apa yang membuat Asep bisa memperbaiki nasibnya... Hihihi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Pesta Ayam
Setelah maghrib, Asep mengajak Emak ke tempat Bu Retno Guntara.
Tempat makan dengan menu serba-serbi Ayam, dan yang paling terkenal lintas alam dan galaksinya adalah Ayam Bakar, khususnya ayam bakar taliwangnya.
Bu Retno Guntara membuka usahanya sebetulnya belum terlalu lama, masih sekitar lima tahunan, tapi karena rasanya memang juara kecamatan, akhirnya laris manis tanjung kimpul, dagangannya laris duitnya pun kumpul.
"Duh Emak deg degan nih Sep mau makan ayam bakar Taliwang langsung di tempat makan, sudah lama sekali Emak tidak bisa makan di tempat makan sejak Bapakmu meninggal Sep."
Kata Emak.
Asep menggandeng Emak masuk ke tempat makan yang kini tampak ramai orang santap malam.
Tempat makan yang tak begitu besar itu, ada yang menggunakan meja kursi, dan ada yang hanya lesehan saja.
Asep memilih yang lesehan karena rasanya lebih nyaman.
Kebetulan Bu Retno Guntara tampak hari ini ada di tempat, ia terlihat duduk manis semanis gula di belakang meja kasir menunggu datangnya para pelanggan membayar makanan mereka.
Bu Retno Guntara yang melihat Emak datang bersama Asep tentu saja langsung menyambut ramah.
Bu Retno memang kadang juga menjahit baju di tempat Emak, terutama seragam anak-anaknya.
"Eh ada Bu Lisa, senang sekali Bu Lisa akhirnya mau mampir."
Bu Retno Guntara berbasa basi ria.
"Iya ini Bu Retno, si Asep katanya lagi pengin ajak Emaknya makan enak, jangan makan mie rebus sama telor terus, takut nanti cacingnya bosan."
Kata Emak.
"Aduh ada-ada saja, sampai mikirin cacing."
Bu Retno terkekeh.
"Silahkan duduk Bu Lisa, silahkan, silahkan..."
Bu Retno seolah menyambut isteri mantan presiden saja.
Tapi memang Bu Retno ini terkenal begitu.
Ramah pada tetangga yang datang ke tempat makannya, itu sebabnya, banyak tetangga belakang tempat makannya juga jadi suka makan di tempatnya.
Apalagi setiap mau puasa, Bu Retno ini hampir selalu bagi-bagi nasi kotak isi nasi ayam.
Kadang ayam goreng, kadang ayam bakar, kadang ayam geprek, pokoknya ayam yang sudah disembelih lalu di masak.
Kalau ayam masih hidup, loncatlah dari kotak. Ya kaaaaan...
"Mau pesan apa ini Bu Lisa, Bang Asep yang kasep pisan?"
Bu Retno tersenyum manis sekali.
"Kami ingin pesan ayam bakar taliwangnya Bu Retno."
Kata Asep.
"Waaaah... pilihan yang tepat sekali, malam hari begini, saat gerimis tipis-tipis, makan ayam bakar taliwang memang pilihan yang paling bijaksana."
Kata Bu Retno.
Lalu Bu Retno tak lupa memanggil pelayan.
"Suuur... Gusuuuur."
(Duh namanya gusur, semoga tidak jadi doa ya Bu Retno)
Gusur, pelayan andalan tempat makan Bu Retno yang tubuhnya gendut itu sebetulnya nama aslinya adalah Warjo, anak saudara Bu Retno dari Jawa.
Hanya saja karena tubuhnya gendut luar biasa, akhirnya dia mendapat julukan Gusur.
Itu lho Gusur, tokoh di serial Lupus yang ditulis Babang Hilman. Penulis yang melahirkan banyak sekali karya remaja yang remaja banget di eranya, dan masih bagus jika kalian kasih ke anak remaja buat bacaan daripada remaja baca yang mengandung adegan gulang guling sambil ngos-ngosan. Hihihihi...
"Sur, bawakan ayam bakar taliwang untuk Bu Lisa dan Bang Asep, yang paling spesial ya."
Kata Bu Retno.
"Nah minumnya apa ini Bu?"
Tanya Bu Retno lagi.
"Saya jeruk anget saja."
Kata Emak.
"Saya es teh."
Kata Asep.
"Wah anak muda memang beda ya, es selalu terdepan."
Kata Bu Retno.
"Bu... Bu, mau bayar."
Tiba-tiba ada pelanggan memanggil Bu Retno dari arah meja kasir.
Wah Bu Retno akhirnya permisi pada Emak dan Asep, kemudian terburu-buru kembali ke meja kasir.
"Ramah sekali ya Mak."
Kata Asep.
"Iya, dia memang terkenal ramah sekali orangnya, makanya banyak yang suka makan di sini, apalagi kalau pelanggan lagi tak terlalu banyak, makan sambil ngobrol, nanti pulangnya dikasih bungkusan juga."
Kata Emak.
"Wah berarti harus hafalin waktu-waktu keramat itu Mak."
Kata Asep yang jadi kena tabok Emaknya.
"Mana boleh begitu, yang namanya rejeki kalau sudah rejekinya ya pasti nanti dapat saja."
Asep cengar-cengir.
Asep masih menunggu datangnya pesanan, manakala ia melihat sebuah mobil pajero yang ia kenali berhenti di depan tempat makan Bu Retno.
Tak lama setelah mobil itu berhenti, turunlah laki-laki yang Asep ketemu di rumah Anggita.
Dia turun dari mobil, lalu disusul pula turun seorang gadis cantik dari mobilnya.
Mereka berjalan bergandengan masuk ke tempat makan.
Asep terus mengikuti gerak gerik keduanya, di mana mereka mulai memilih tempat duduk tak jauh dari Asep bersama Emak duduk lesehan.
"Kamu lihat apa?"
Tanya Emak sambil nabok lengan Asep.
Asep yang kaget sampai "Njumbul".
"Apa Mak?"
Asep menoleh pada Emak.
"Kamu lihat apa?"
Tanya Emak.
"Ooh tidak Mak, kirain itu teman Asep."
Kata Asep bohong.
"Ooh, kirain lihat apa, sampai matanya seperti mau copot."
Ujar Emak.
"Jangan dong Mak, Asep kan baru saja ganteng, masa harus copot matanya, yang ada jadi horor."
Kata Asep.
Tak lama berselang, munculah pesanan Asep yang dibawakan oleh Gusur.
Ayam bakar taliwang, sang bintang tempat makan Bu Retno Guntara.
Emak yang melihat langsung matanya berbinar-binar.
Sambelnya...
Petainya...
Ayam bakarnyaaaaa...
Oh My God, aku tak tahan, aku tak tahaaaan. Begitulah kira-kira.
"Yuk Mak, hajar sampai habis, kalau masih kurang Asep nanti pesankan lagi Mak, tenang."
Kata Asep.
Emak tak menyahut, ia sudah sibuk cuci tangan di air kobokan, dan mulai menyantap ayam bakarnya.
Wah... Yummiiiiiiiii...
Emak senang sekali akhirnya bisa merasakan anak laki-lakinya berguna. Hihihi...
Saat mereka asik menikmati makan malam spesial, masuk Bu Arinda dan Bu Putri.
Mereka memang termasuk pelanggan setia di tempat Bu Retno, hampir setiap malam beli nasi ayam di sana.
"Weeeeh ada Bang Asep sama Bu Lisa."
Bu Arinda surprise melihat Emak dan Asep sedang pesta ayam bakar.
"Bu Putri, Bu Arinda, sini gabung."
Kata Asep.
Kedua ibu itupun akhirnya dengan senang hati ikut bergabung.
"Pesan Bu, mau apa, Asep yang bayar malam ini, jangan lupa bungkus juga buat di rumah."
Kata Asep.
"Waah beneran ini?"
Bu Putri sampai ternganga.
Jangan-jangan ini prank...
"Beneran Bu, pesan saja."
Kata Asep semangat.
Jika selama ini Bu Arinda dan Bu Putri yang selalu rajin kasih makanan enak buat Emak dan Asep, kali ini tentu saja Asep ingin gantian.
"Sayang ya Bu Resti tidak ikut, katanya tadi masak ayam opor."
Kata Bu Arinda.
"Nanti kita bungkuskan saja."
Kata Asep.
"Waduh."
Bu Arinda dan Bu Putri sampai tertoweng-toweng.
**------------**
Bismillahirrahmanirrahim
izin maraton thor . . . .
Aq mampir nih...
sukses buat penulisnya karya yg bagus