Menjadi istri kedua bukanlah keinginan Erina, wanita muda yang baru saja kehilangan suami dan anaknya dalam waktu yang berdekatan.
Akibat hutang suaminya yang begitu banyak, Erina terpaksa menikah dengan seorang CEO bernama Adrian yang saat ini istrinya sedang koma dan anaknya yang baru lahir membutuhkan ASI.
Keadaan Erina dimanfaatkan Adrian untuk menyusui anaknya yang baru saja lahir.
Namun ibu Adrian yang bernama Heni malah memaksa Adrian menikahi Erina karena ia sangat membenci menantunya yang saat ini sedang koma.
"Hutang almarhum suamimu akan ku anggap lunas, jika kau mau menyusui anakku sampai dia tidak membutuhkan mu lagi." Adrian.
"Tidak! Jangan hanya itu. Kau juga harus menikahi dia, Adrian!" Heni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belum siap
"Bukan itu maksud ku. Aku tidak merasa keberatan menjaga Arga karena aku sangat menyayanginya. Tapi, aku miris Melia seorang anak yang sama sekali tidak dipedulikan oleh ibu kandungnya sendiri."
"Erina, jangan membahas masalah ini. Aku tahu mungkin Cintya belum terbiasa atau bahkan belum siap menjadi ibu. Bahkan dulu aku sengaja mencuri pil KB yang dia minum sehingga dia bisa hamil. Tapi tolong mengertilah, dia butuh waktu untuk ini semua. Jika kau merasa keberatan, aku kan sudah menyarankan pengasuh untuk Arga."
"Bukan pengasuh yang aku pikirkan. Aku hanya memikirkan tumbuh kembang Arga nantinya jika tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya." Erina terlihat semakin kesal saja.
"Apa masalahnya? Kau juga ibunya. Kau menyayangi dia. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang."
Kini Erina hanya mampu terdiam. Betapa ia tidak ingin mendengar hal ini. Adrian benar-benar sangat menyebalkan. Ia mendukung perbuatan Cintya yang nyatanya memang salah. Ia bahkan menyayangkan kenapa ibu mertuanya pergi selama dua Minggu ke luar kota.
"Berikan Arga padaku. Tidak perlu memanggil dokter. Luka seperti ini bisa diatasi seorang ibu yang sayang pada anaknya."
Adrian menurunkan Arga. Erina langsung mengajaknya ke kamar mereka. Sebenarnya ia ingin menggendongnya, tapi kehamilannya yang sudah semakin membesar membuatnya kesulitan melakukan hal itu.
Sesampainya di kamar, ia mengobati sendiri luka Arga sesuai petunjuk dokter yang telah ia tanyakan sebelumnya.
Seusai mengobati Arga, ia menidurkan Arga di atas ranjang bersamanya. Ia mengusap kepala Arga yang sudah ditumbuhi rambut yang cukup lebat. "Kasihan sekali kau, Sayang. Ibumu sama sekali tidak mencintai mu. Kalau sudah begini, Bunda tidak punya pilihan lain. Bunda akan terus menjadi istri ayahmu agar kau tidak kekurangan kasih sayang dari ibumu. Kau masih kecil, tapi sudah diperlakukan seperti ini."
Tanpa terasa air mata Erina pun jatuh berlinang. Betapa ia sangat sedih melihat Cintya yang sama sekali tidak memperdulikan anaknya. Sedangkan Adrian selalu menuruti keinginan Cintya hanya karena Cintya mengungkit perjuangannya melahirkan Arga.
Arga sudah tertidur pulas. Erina pun bangkit dari posisinya, lalu pergi ke dapur untuk minum. Saat sudah sampai di dapur, ia melihat beberapa paper bag milik Cintya di atas sana.
"Pelayan? Bukankah ini milik Cintya?" tanya Erina pada salah seorang pelayan.
"Ya, Nyonya, sepertinya tertinggal saat Nyonya Cintya ke sini tadi," sahut pelayan.
"Kenapa kau tidak mengantarnya?"
"Saya tidak berani menyentuh apapun barang yang berhubungan dengan Nyonya Cintya, Nyonya. Saya takut tangan saya akan dipukul seperti pelayan yang lama karena berani menyentuh barang-barangnya."
Erina mengernyitkan dahinya. Benarkah Cintya sekejam itu? Lalu kenapa dia masih ada di sini? Kenapa Adrian seakan buta akan semua kesalahan Cintya?
Setelah minum, Erina pun mengambil paper bag milik Cintya. Bermaksud membawanya ke kamar Cintya. Saat masih di dalam lift, ia penasaran dengan isi paper bagnya. Ia pun mengintip sedikit isi paper bag. Matanya langsung membulat seketika saat melihat isinya yang ternyata satu box ****** ***** pria. Ia kembali melihat ukurannya untuk memastikan. Dan ternyata ukuran itu tidak sesuai dengan ukuran Adrian karena lebih kecil.
"Untuk siapa ****** ***** ini?" gumam Erina.
Tak puas dengan hal itu, Erina kembali mengintip lagi isi dari paper bag yang ternyata juga barang untuk pria. Isinya tak lain adalah beberapa pasang dasi, kemeja, dan celana bahan. Saat melihat ukurannya, Erina lagi-lagi dibuat heran karena ukuran yang lebih kecil. Ia juga tahu warna kemeja dan dasi serta jenis dasi seperti apa yang Adrian sukai.
Sesampainya di depan kamar Cintya, Erina langsung mengetuk pintu.
Cintya keluar dan langsung terkejut melihat paper bag yang ia kira ketinggalan ada pada Erina.
"Dimana kau dapatkan ini?"
"Ada di atas meja makan. Jadi aku antarkan."
"Terima kasih, aku tadi lupa. Oh ya, apa kau sudah melihat isinya?" tanya Cintya.
"Belum."
"Soalnya ini milik temanku. Terbawa olehku. Untuk suaminya katanya. Nanti malam, aku akan membawanya," sahut Cintya.
"Oh, aku tidak tahu apa isinya. Ya sudah, aku kembali ke kamar dulu." Erina hendak pergi ke kamarnya. Namun, Cintya memanggilnya dan membuatnya menghentikan langkahnya.
"Aku minta maaf atas keegoisan ku. Jujur, aku memang belum siap punya anak. Maafkan aku, aku memang bukan ibu yang baik."
"Aku mengerti, kau hanya belum terbiasa." Erina tersenyum pada Cintya.
Setelah itu ia pun kembali ke kamarnya sambil berkata dalam hati, 'Aku tahu mana air mata kejujuran, dan mana air mata palsu, Cintya,' Tersenyum penuh makna.
Gw suka sama ceritanya..