Kisah tentang Gayatri dari Dwipajaya yang dinikahkan dengan Siddarth dari Astapura untuk mempererat hubungan dagang antara Nusantara dan Hindustan. Suatu ketika karena sebuah kesalahan, Gayatri dikuasi oleh kemarahan dan dendam. Gayatri bermeditasi mohon pertolongan Dewi Durga agar menurunkan karma bagi suaminya. Ketika karma itu datang, justru menyentuh sisi kemanusiannya. Akankah Gayatri bertahan dengan dendamnya?
DISCLAIMER
Cerita ini merupakan cerita fiksi, murni karangan penulis dan terinspirasi dari kisah kolosal India dan Indonesia. Apabila ada kesamaan latar, tokoh, alur, dll bukan merupakan unsur kesengajaan. Cerita ini juga tidak bermaksud meremehkan salah satu budaya, adat, kebiasaan, dan agama. Diharapkan pembaca bijak menyikapi isi cerita.
Terima kasih.
Credit Cover Picture : "Maya - Illusion" By Jahnavi Jaya, Samadhi Collective
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elsje Artemis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jiwang (2)
Gerobak air tersebut di bawa menuju sungai terdekat dari Jiwang. Sungai itu persis di dekat lembah Wilisgiri. Bansheer memperhatikan lembah Wilisgiri di seberang sungai. Lembah itu tampak tenang diantara derasnya arus sungai. Tidak terdengar suara burung atau serangga lain layaknya lembah-lembah yang pernah Bansheer jelajahi.
“Hey apa benar raksasa itu tinggal di sana” tanya Bansheer pada salah satu prajurit Dwipajaya.
“Benar Tuan. Kami menyebutnya raksasa abang, dalam bahasa Dwipajaya abang berarti merah. Konon kulit raksasa tersebut berwarna merah”.
Bansheer hampir lupa, Nusantara yang dia kunjungi ini memiliki bahasa yang berbeda di tiap daerahnya. Sama seperti di Hindustan, bangsa tertentu memiliki bahasa ibu mereka, namun sebentar lagi Astapura akan menduduki daerah-daerah tersebut dan mengganti semua bahasa dengan bahasa Hindi.
Dwipajaya adalah salah satu kerajaan yang mengandalkan hubungan dagang
sebagai sendi perekonomiannya, tidak heran jika hampir semua penduduk Dwipajaya mampu berbahasa Hindi dan dapat menulis dalam aksara sansekerta dengan baik.
“Isi kolam pertama, kolam yang lain akan diisi setelah kolam pertama penuh” ujar Bansheer.
Kolam yang di gali cukup lebar, air yang diisi terasa sangat lama untuk penuh. Bansheer tidak membiarkan seorang pun istirahat sampai kolam pertama benar-benar penuh. Pekerja mulai kelelahan, kuda-kuda penarik gerobak
mulai memberontak karena kecapaian. Prajurit Astapura mengabil alih pengemudi
kuda. Mereka mencambuki kuda-kuda yang mogok jalan. Satu persatu kuda mulai
tumbang. Air yang berada dalam tempayang tumpah isinya hingga setengah.
Kuda-kuda membaringkan diri di jalan. Meskipun dicambuki hingga berdarah kuda-kuda tersebut tidak mampu lagi untuk berjalan.
Rintihan kuda tersebut terdengar hingga hutan belantara. Raksasa Abang yang tengah bertapa di dalam hutan terbangun. Matanya terbuka, pendengarannya dipertajam. Urat-urat halus muncul di di sekitar bola matanya. Kemarahan menguasai dirinya.
“Tuan, kuda-kuda ini adalah kuda terbaik yang kami punya. Mereka telah dilatih bekerja selama berjam-jam. Tapi Tuan, Kuda-Kuda ini juga perlu makan, istirahat, dan minum. Sama seperti manusia” ujar Patih Mahesa yang menyusul Bansheer pergi ke sungai.
“Biarkan mereka istirahat!” perintah Bansheer matanya menatap tajam ke arah Patih Mahesa sedangkan Patih Mahesa membalas tatapan Bansheer dengan penuh kehangatan. Sekali menatap mata Mahesa, Bansheer langsung tahu, Mahesa memiliki ilmu kanuragan yang tidak bisa dianggap enteng. Pekerjaannya belum selesai, Bansheer harus menahan diri hingga Astapura memperoleh keuntungan.
Suara rintihan kuda perlahan menghilang dan langkah kaki kuda perlahan menjauh. Urat-urat yang muncul di dalam bola mata raksasa Abang perlahan menghilang. Kemarahannya perlahan mereda. Dia kembali terlarut dalam meditasinya.
“Tuan Bansheer, aku rasa bantuan kami cukup sampai di sini. Pekerjaan sudah mulai berjalan dan prajuritku sudah melakukan tugasnya dengan baik. Selanjutnya kami menyerahkan pengolahan lahan ini ke tangan Astapura” ujar Raja Daneswara.
Sebelum bertemu Bansheer Raja Daneswara telah mendapat laporan sikap Bansheer yang semena-mena. Raja Daneswara mengundang ketiga kerajaan yang berbatasan dengan Jiwang agar mereka tidak memberikan bantuan
kepada Bansheer. Tindakan tidak manusiawi Bansheer menimbulkan kecemasan di hati Raja Daneswara.
Raja Daneswara menarik semu prajurit dan membawa pulang kuda-kuda yang terluka.
Dalam hati Bansheer mengecam Raja Daneswara. Dia harus mengeluarkan uang lagi untuk membeli kuda dan bahan makanan yang mulai menipis.
Bansheer tidak punya pilihan lain selain mengirim utusan ke Astapura.
...----------------...