Masalalu,
Semuanya berasal dari masalalu.
Masalalu yang mengubah hidupku.
Mengobrak abrik hati yang telah lama tersakiti.
Sebuah rahasia yang berawal dariku, membuat berbagai macam pertikaian dan perebutan terjadi. Mencari titik celah untuk mendapatkan rahasia yang tersimpan rapat dalam memori.
Aku...
Adalah titik pemicu peperangan terjadi.
Barang berharga yang mereka incar yang telah lama hilang kini mulai terkuak kembali.
Memaksaku untuk melindungi diri dari para musuh yang berniat ingin mencelakai.
Dia...
Suamiku.
Pria yang dengan tulus mencintaiku, meski harus melalui masa panjang untuk akhirnya bersama.
Pun tak luput melindungiku hanya untuk harta berharga.
Apa aku...
Hanya barang yang diperebutkan?
Atau hanya manusia yang perlu dimusnahkan?
follow akun ig author : @maulidamaulida84
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MA84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan Nana
Aku memasuki pekarangan rumah kostan yang menjadi tempatku tinggal saat ini. Menyapa sebentar tetangga kamarku, akupun masuk kedalam dan mulai membersihkan diri lalu keluar sambil mengeringkan rambut menggunakan handuk.
Aku duduk di pinggiran kasur sambil menatap ponsel yang terletak di atas nakas dengan sedikit mengeryit. Kok kayak ada hal penting yang aku lupain ya? Tapi apa?
Aku meraih benda pipih itu dan membukanya. Ku scroll pesan pesan masuk dari grup chat alumni SD, SMP, sampai SMA. Belum lagi pesan dari teman teman masa kecilku yang sekedar basa basi menanyakan kabar. Tapi, pusat perhatianku justru tertanam pada satu notif pesan chat dari Arkan.
Arkan?
Seketika aku membulatkan mataku sempurna saat mengingat meninggalkan Nana bersama Arkan di pinggir jalan. Cepat cepat aku menelfon pria itu dengan perasaan kalut. Semoga saja Nana ada bersama Arkan, dan semoga pria itu tidak berbuat macam macam padanya.
" Yes, Arkan handsome ada di--- "
" Mana Nana?! " potongku cepat tak ingin mendengar ocehan narsisnya yang terkadang terlalu berlebihan memuji dirinya sendiri.
" Ya elah mbak, kalo orang ngomong itu ucap salam dulu ngapa? Gak baik tahu motong omongan orang! "
" Gue tanya dimana Nana?! "
" Selow ril... Nana ada kok. Tuh lagi masak bareng Bunda. Tadi, waktu mau gue anterin. Dia jawab jujur kalo dia di usir dari rumah. Trus gue tanya, 'kok bisa di usir? "
" Dia jawab apa? "
" Dia di usir karna terlalu manja. Papanya mengusirnya dari rumah agar dia bisa mandiri dan tidak selalu bergantung pada orangtua. Ya udah karna gak ada tujuan mau nganter dia kemana, gue bawa aja pulang. Lagian Bunda juga keliatannya seneng banget karna ada teman bicara. "
Aku terdiam sejenak. Memang benar, Nana merupakan anak Mami, itu karna dia sangat di manja kedua orangtua dan juga kedua Kakaknya. Jadi, aku dapat memaklumi om Hardi yang mengusir Nana agar bisa mandiri.
" Huft.. ya sudah. Nanti sore gue bakal jemput Nana. " jawabku lalu mematikan panggilan sepihak. Mulai sekarang, Nana akan menjadi tanggung jawabku. Dan aku akan mengajarinya perlahan untuk bisa dewasa sesuai keinginan om Hardi.
Sorenya, sesuai janji aku datang kekediam keluarga Bagaskara untuk menjemput Nana pulang kekostanku. Untuk saat ini aku akan menampungnya sampai nanti dia mendapatkan pekerjaan dan bisa menyewa kamar yang ada di kostan tempatku tinggal. Yah, aku ingin Nana tinggal di lingkungan yang sama denganku. Agar aku bisa mengawasinya dan menjaganya.
" Assalamu'alaikum Bunda... " salamku mengecup punggung tangan calon mertuaku itu sopan.
" Wa'alaikumussalam. Eh, April... apa kabar kamu sayang? Kamu sibuk banget ya sampe sampe gak ngunjungim Bunda? " rengek beliau manja, dan aku mulai terbiasa dengan hal itu.
" Iya bun, maaf. April lagi banyak banget tugas kampus yang harus di selesaiin. Belum lagi setelahnya April harus kerja sembilan. Jadi gak sempet ngunjungin Bunda. Maaf ya bun.. " sesalku. Memang benar akhir akhir ini tugas kampus semakin banyak dan membuatku kewalahan. Belum lagi harus mengurus masalah pernikahan dan pekerjaan yang membuatku bahkan hampir tak tidur malam.
" Ya ampun sayang... kenapa tidak berhenti saja? Sebentar lagi kamu akan menikah, dan suamimu akan bertanggung jawab untuk menafkahimu. Jadi kamu gak perlu khawatir soal uang. Bunda benar benar gak tega lihat kamu kelelahan gini sayang... " tutur Bunda menatapku sendu.
Memang benar sebentar lagi aku menikah dan nafkahpun suamiku yang akan berikan. Hanya saja, aku masih ragu dengan calon suamiku itu. Wajahnya saja aku tidak pernah lihat, bagaimana aku bisa tahu sifatnya bagaimana? Galakkah? Pelitkah? Mesumkah? Dingin? Atau pecicilan bisa jugakan? Manusia siapa yang bisa menebak? Saat ini aku hanya sedang berjaga jaga saja, takut tak di nafkahi. Setidaknya aku memiliki uang simpanan untukku sendiri. Bukan maksud su'uzon, hanya berjaga jaga saja. Seperti pepatah...
Sedia payung sebelum hujan.
Begitulah aku...
" Nanti April pikirin lagi, " jawabku agar tidak mengecewakan Bunda karna aku yang tetap bertahan pada pekerjaanku yang sederhana itu.
" Ya sudah kalau begitu.. "
" Oh ya bun, April datang kesini sebenarnya mau jemput teman April. Kata Arkan dia disini, kemana dia bun? " aku kembali teringat pada tujuan awalku yang ingin menjemput Nana. Ku sapu pandangan keseluruh ruangan, namun tak tampak sedikitpun batang hidung gadis polos itu.
" Oh... jadi Nana teman kamu? Ihhh dia gemesin ya. Bunda ampe ketawa lihat dia yang banyak nanya. " kekeh Bunda di balas senyum tipis dariku.
" Iya. Nananya mana bun? "
" Ada kok. Kayaknya dia kelelahan abis bantuin Bunda masak, sampe ketiduran. Dia ada dikamar tamu sekarang. " tunjuk bunda pada kamar tamu yang terletak di lantai dua.
" Ya udah, tunggu dia bangun aja baru kita pulang. " gumamku tak tega jika harus membangunkan gadis kecil itu.
" Yah... kok pulang? Ini sudah sore. Kamu nginep disini aja ya? Nana juga pasti mau nginep disini. Yah yah.. please... " jika Bunda sudah menampakkan pupy eyes 'nya maka aku hanya bisa mengangguk mengiyakan karna tak tega menolak.
" Horee... makasih ya sayang... " aku tersenyum kecil dan membalas pelukan Bunda yang menurutku bersifat kekanak kanakan. Mungkin karna dulunya beliau sepolos Nana makanya waktu besar masih tetap seperti itu. Aku yakin beliau sangat menyayangi Nana, apalagi melihat Nana yang polos itu. Setidaknya Nana bisa diterima disini.
bikin aku gemes.
jadi pengen masukin ke kantong,
buat dibawa pulang.
'yes lampu ijo'
Thor novelnya gak dipromosikan?
padahal bagus loh
Me : Dingin Dingin bikin meleleh ya, ril?😆
tetap semangat nulisnya.
Aku suka dengan gaya bahasanya
ku udah ngirim kopi untuk kakak
semangat.....