JANGAN DIBACA!!!
ASLI, BUKAN TIME TRAVEL, YA!
HANYA KISAH ASAL PENUH PERKETYPOAN!
KALAU UDAH BACA, YA JANGAN NYESEL! BISA MENYEBABKAN MUAL DADAKAN, GANGGUAN SUSAH TIDUR, DIABETES BERLEBIHAN, DAN BUCIN DADAKAN.
(Gejala di atas berdasarkan survey dari zaman kuno hingga saat ini).
Bagai bulan yang tertutup awan, aku harus membuang semua hal tentangku, semua jati diriku, dan melanjutkan hidup sebagai kembaranku sendiri.
Terasa susah. Namun, itulah yang harus kulakukan. Hanya karena paksaan sang ayah dan juga kesalahan yang sepenuhnya bukan milikku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggrek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia, sangat berbeda.
Sehabis menemui mamaku di ruang kerja papa, kami bertiga menuju meja makan bersama. Kebiasaan keluarga kami untuk menghabiskan waktu bersama, minimal seminggu sekali kami akan berkumpul untuk makan bersama. Itu jika papaku sibuk dengan urusan perusahaan, kadang kedua orang tuaku harus ke luar negeri untuk urusan bisnis.
Aku kebanyakan akan bercerita tentang apa yang aku jalani hari ini, seperti saat ini, aku menceritakan soal Adrian pada papa dan mamaku. Mereka sedikit kaget mendengar temanku itu kembali kemari, maklum saja orang tuaku lumayan kaget mendengar apa yang kukatakan, keluargaku dan keluarga Adrian bisa dikatakan saling kenal dan cukup dekat. Namun, tiba-tiba Adrian sekeluarga malah pergi tanpa mengatakan apa-apa.
Setelah menikmati makan malam bersama, aku pamit lebih dulu kembali ke kamar. Aku membuat alasan aku ingin mengulang pelajaran. Padahal di dalam kamar aku merenung, memikirkan temanku yang kurasa sedikit berbeda.
Apa iya aku yang banyak berubah, sehingga dia sama sekali tak mengenaliku tadi. Aku saja masih bisa mengenalinya, atau dia kehilangan sebagian memori karena trauma berat soal kematian adiknya. Itu mungkin saja, aku juga pernah membaca kasus serupa dari sebuah buku. Dikatakan, seseorang akan melupakan ingatan yang paling menyakitkan. Dan dalam proses tersebut, terkadang ingatan yang dimiliki di satu waktu yang sama akan ikut terhapus juga. Kalau memang itu yang terjadi, lebih baik aku tak menanyakan hal ini pada Adrian, bisa gawat jika dia kembali mengingat hal menyakitkan bukan.
Aku melirik jam di atas nakas, jam yang memiliki figura. Di dalam figura tersebut, terdapat foto diriku dan temanku Adrian saat kita masih kecil. Foto terakhir yang kami ambil saat bermain di taman. Tak terasa hari semakin malam, sudah pukul sepuluh ternyata. Ini termasuk malam untuk pelajar sepertiku. Aku pun memutuskan untuk tidur. Sebelum berbaring, kulirik lagi ponselku, siapa tahu ada pesan yang masuk. Ternyata tak ada, akhirnya aku pun memejamkan mata dan jatuh terbuai ke alam mimpi.
Keesokan harinya, aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Wajahku tak bisa menutupi rasa senang, aku pun lebih bersemangat, tak seperti biasa aku yang selalu tiba ke sekolah saat bel masuk hampir berbunyi, kini telah memakai seragam lengkap dan siap berangkat setelah sarapan.
Di meja makan, ibuku menatapku dengan tatapan takjub., pasti ibuku pun sadar kalau aku sedikit lebih bersemangat hari ini "Tumben?" ucap ibuku dengan nada heran, lucunya ibuku sampai melirik dua kali ke arah jam yang menempel di dinding. Yah, siapa tahu baterai jamnya sudah tak bekerja sehingga jam di rumahku tak berdetak sesuai waktu.
"Kenapa, ma? Ada yang salah?" tanyaku pura-pura tak tahu.
Ayahku hanya tersenyum kecil, sedangkan ibuku mengangkat bahu sambil menggeleng pelan. Ibuku pasti berpikir, aku menjadi lebih baik hari ini. Oleh karena itu, ibuku tak mempermasalahkannya sama sekali. Bukankah perubahan yang lebih baik itu termasuk prestasi dan kabar yang baik, buat apa dipertanyakan bukan.
"Raf hari ini ada kelas pagi, jadi Raf berangkat lebih awal, ma, pa," kataku beralasan.
"Mau papa antar sekalian?" tawar papaku, sepertinya dia juga senang melihat aku yang lebih semangat menimba ilmu.
"Raf diantar supir aja seperti biasa, pa. Tapi makasih udah ditawari tumpangan, hehe," aku menolak, jelas aku tak ingin papa menanyakan apapun di perjalanan nanti. Yah, siapa yang tahu pertanyaan apa yang akan papa ajukan saat melihat ada kesempatan.
"Raf berangkat ma, pa!" pamitku setelah meneguk habis semua susu cokelat yang ada di dalam gelas. Aku berlari kecil saat ayah dan ibuku memberi izin untuk berangkat. Tentunya dengan pesan lengkap untuk hati-hati, jangan pulang terlambat, jangan mampir kalau pulang sekolah lebih cepat, jangan membolos, dan juga tak boleh bandel. Pesan yang sudah kuhapal di luar kepala, kenapa, karena aku mendengar pesan seperti itu secara berulang sejak duduk di bangku SD.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Aku sampai lebih cepat dari biasanya di sekolah, aku langsung ke kelas untuk menaruh tasnya. Saat aku tak melihat Adrian, aku kembali ke dekat gerbang. Menunggu teman di gerbang ternyata menyenangkan juga, walaupun aku mendapati banyak tatapan mata yang menatapku heran, aku akan menganggap tatapan kalian sebagai bonus untuk hari ini. Mereka pasti sedang bingung kenapa aku bisa berada di gerbang sepagi ini. Bisik-bisik mulai berdengung sambil menatap diriku, aku tetap tak peduli dan terus menunggu Adrian, sahabat lamaku dengan penuh semangat.
Tepat pukul tujuh, Adrian turun dari mobil. Aku melihat dari kejauhan dia berbicara dengan wanita paruh baya, aku sangat yakin itu Tante Desita, ibu dari sahabatku itu. Saat Adrian berjalan ke arahku dengan langkah yang terlampau santai menurutku, aku pun melambaikan tangan, tak lupa senyum cerah kusunggingkan untuk sahabatku itu. "Pagi, Ian!" sapaku dengan ceria, aku semakin memperlebar senyumku.
"Pagi," balasnya, dapat kulihat senyum kecil menghiasi bibir sahabatku ini. Kenapa dia tak memanggil namaku seperti biasa, ya. Ian biasa memanggilku dengan panggilan El, katanya lebih mudah daripada menyebutkan Raf atau Fa dari namaku.
"Ayo, kita ke kelas bersama!" ucapku mencoba tak terlalu menggubris masalah dia tak memanggil namaku sama sekali. Ian hanya mengangguk, dia terlihat terlalu datar dan tak tersentuh, meski terlihat bersahabat dan juga murah senyum. Senyum yang ditawarkan oleh temanku itu terasa hambar, tak sampai menyentuh hatinya.
Aku mengikuti ritme langkah kaki Ian yang sangat santai, dia berjalan dengan tatapan mata lurus menatap ke depan. Ian yang sekarang lebih terasa seperti mengontrol seluruh emosi dan mimik di wajahnya. Dia tak lagi sama seperti Ian yang aku kenal dulu, apa sepuluh tahun bisa mengubah seseorang seperti ini. Aku tahu dan aku sangat paham, sepuluh tahun bukan waktu yang sedikit, tapi menurutku, Ian masih bisa menjadi dirinya sendiri di sekitar orang-orang yang mengenal dirinya. Dia tak perlu menjadi pribadi asing di saat dirinya di dekat sahabatnya bukan.
Aku mengambil tasku saat kulihat Ian kembali duduk di bangku kemarin. "Geser, kita tukaran tempat mulai sekarang, ya," pintaku pada salah satu teman sekelas ku yang duduk di bangku sebelah Ian. Tentunya permintaanku langsung disetujui, aku kan murid yang tak pernah mengganggu sesama teman, jadi tak ada yang tak menyukai diriku di sini, ya kecuali mereka memiliki rasa iri yang mendalam.
"Kita bersebelahan!" aku mengangkat tanganku ke arah Ian.
Ian menatap sekilas ke arahku, kemudian dia kembali fokus menatap keluar jendela. "Aku tahu, aku lihat sendiri bagaimana kamu membajak kursi orang tadi," katanya yang terdengar tak enak, aku seperti disamakan dengan preman saja. Baru mau membalas, bel pelajaran pun berbunyi, terpaksa aku menunda, aku tak mau kena marah oleh guru.
ayang bebeb disuruh jd tukang parkir 😝😝😝😝