Clarissa Joanna Lyon Watson, seorang putri Duke satu-satunya yang awalnya punya sifat manja serta lemah berubah menjadi karakter wanita bar-bar setelah siuman dari tidur panjangnya. Dengan jiwa yang berbeda. Konflik antara ayahnya yang seorang Duke dengan Putra Mahkota yang merupakan tunangannya menjadi pemicu ketidak stabilan duchy (wilayah) Lyon yang membuat Clarissa harus turun tangan dengan memberi pelajaran pada Putra Mahkota atau membuatnya mencintai setengah mati.
jangan lupa like, komen, rate dan vote ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erofantic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 : Pertemuan
Seorang kepala pelayan mendampingiku berjalan menuju istana pangeran, tepatnya istana pangeran kedua. Megahnya istana pangeran kedua tidak jauh berbeda dengan istana Putra Mahkota, hanya saja yang sedikit berbeda, kemewahan di istana pangeran kedua tidak terlalu menonjol, malah terkesan sederhana. Apakah pangeran kedua memang orang yang sederhana? atau mungkin ada diskriminasi anggaran dari kekaisaran? Tapi melihat baginda Kaisar yang rendah hati, sepertinya itu tidak mungkin.
Beda lagi cerita kalau anggaran itern istana kekaisaran dipegang Ratu. Diskriminasi anggaran bisa saja terjadi. Aku sedikit tahu bahwa Pangeran kedua merupakan putra kaisar yang lahir dari seorang wanita count bangsawan desa, bangsawan yang dianggap tidak layak untuk menduduki seorang istri kaisar dan dinobatkan sebagai selir pertama. Perlakuan diskriminasi Ratu pun ditunjukan secara terang-terangan. Baik kepada selir maupun kepada pangeran kedua. Apalagi pangeran kedua merupakan anak yang lahir secara resmi sebagai keturunan kaisar membuatnya mendapatkan hak sebagai pewaris tahta juga. Dan merupakan ancaman buat Ratu serta Putra Mahkota dalam pewarisan tahta. Dalam kondisi perebutan tahta, akan sangat wajar pastinya Ratu akan menunjukan sikap ketidaksukaannya. Sekedar asumsiku, tapi kemungkinan itu bisa saja ada.
Ketika memasuki ruangan pribadi pangeran kedua ada pemandangan yang tampak unik. Ketika aku berkunjung ke istana Putra Mahkota, berbagai kemewahan terlihat menonjol, mulai dari lukisan dengan bingkai emas, barang pajangan yang bernilai tinggi serta kemewahan lainnya. Tapi di ruangan pangeran kedua tidak terlihat kemewahan itu, yang ada malah di dinding ruangannya beberapa terpajang berbagai jenis senjata api. Sangat kontras dengan dirinya yang seorang pangeran untuk mengoleksi berbagai jenis senjata.
Seketika pandanganku tertuju pada sebuah senapan laras panjang. Dilihat dari bentuk dan penampilannya ini merupakan senjata sejenis M1 Carbine. Senjata ini merupakan senjata mematikan pada masanya yaitu perang dunia serta senjata pertama yang memiliki kotak peluru dengan kapasitas banyak. Tapi kenapa senjata jenis ini sudah ada di jaman ini? Harusnya senjata jenis ini pertama kali tercipta sekitar 100 tahun mendatang.
"Aku tidak tahu ternyata nona mempunyai ketertarikan dengan senjata." sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku. Suara pangeran kedua.
Aku membungkuk memberi hormat.
"Salam Yang Mulia pangeran kedua."
Terlihat pangeran kedua berjalan mendekat ke arah senjata yang aku pandangi sesaat lalu.
"Dari bentuknya aku yakin ini merupakan sejenis senjata yang sudah dilakukan modifikasi, tapi aku kurang yakin bagaimana kemampuan dari senjata ini." ujarnya menjelaskan.
Rupanya pangeran kedua tidak mengetahui jenis senjata ini dan kemampuannya. Kalau dia sampai tahu bisa jadi dia akan memproduksi senjata ini secara besar-besaran. Untuk jaman sekarang ini senjata jenis ini memang sangat berbahaya karena kemampuan mengeluarkan butiran proyektil dalam sekali serangan akan banyak karena memiliki kotak peluru dengan kapasitas banyak.
"Darimana anda mendapatkan senjata ini?" tanyaku penasaran.
Pangeran kedua sesaat menatapku heran. Wajar saja, sangat jarang untuk seorang wanita memiliki ketertarikan pada sebuah senjata. Bahkan kebanyakan wanita merasa enggan berhubungan dengan sesuatu yang berbahaya.
"Nona lebih tertarik pada senjata ini daripada hal yang akan aku sampaikan?" Ujarnya seraya tersenyum.
Ah, iya. Sesaat aku lupa tujuan aku datang ke istana pangeran kedua. Aku sedikit terkejut melihat senjata yang harusnya tidak berada di jaman ini ada.
"Silahkan duduk, nona. Maaf atas ketidak sopananku yang terlambat menjamu nona." timpalnya lagi.
Aku mengangguk perlahan lalu melangkah menuju kursi yang sudah di sediakan oleh kepala pelayan. Seorang pelayan wanita menyajikan secangkir teh serta terlihat hidangan manis tersaji di meja. Pangeran kedua tampak memberi aba-aba kepada para pelayan untuk keluar dari ruangan. Aku tahu alasan dia menyuruh semua pelayan keluar karena obrolan yang akan diperbincangkan bersifat pribadi.
"Senjata itu aku dapatkan dari orang asing yang sedang melintas ke negara ini. Karena aku tertarik pada akhirnya aku membeli tanpa tahu kemampuannya senjata ini seperti apa." ujarnya memulai obrolan.
"Apa anda tidak menanyakan jenis senjata ini atau kemampuannya? anda hanya membelinya begitu saja?" tanyaku penasaran.
"Tentu saja aku menanyakan semua itu, tapi sepertinya dia pun tidak tahu asal usul dari senjata itu. Dia hanya bilang menemukan senjata itu begitu saja dan karena bentuknya unik jadi aku pajang saja." sahutnya menjelaskan.
Ah, begitu ternyata. Mungkin senjata ini terlempar melewati dimensi yang sama sepertiku. Karena aku yakin, senjata jenis ini belum lahir di masa saat ini.
Akan lebih baik kalau pangeran kedua benar-benar tidak mengetahui kemampuan senjata ini. Aku sangat tidak ingin melihat perang dalam waktu dekat. Apalagi perang dalam memperebutkan tahta.
"Saya yakin anda tahu maksud kedatangan saya kesini dengan tujuan apa." ujarku.
Pangeran kedua tersenyum lalu menyeruput teh yang dihidangkan sedari tadi.
"Karena saya bukan tipe orang yang banyak basa basi, jadi saya akan langsung ke intinya. Bisa anda jelaskan maksud ucapan anda tempo hari apa?" ucapku tegas seraya menatap tajam pangeran yang berada di hadapanku.
Pangeran kedua tersenyum. Sorot matanya begitu tajam namun lembut dalam waktu bersamaan.
"Sebelum aku menjelaskan hal yang ingin aku sampaikan, ada yang ingin aku tanyakan."
Aku mengernyit heran sebelum akhirnya mengangguk.
"Silahkan, Yang Mulia."
"Apa nona masih mencintai kakak?" tanyanya tak terduga.
Aku terdiam. Entah harus menjawab apa. Kalau Clarissa yang dulu diberi pertanyaan seperti ini, sudah pasti jawabannya 'iya, Clarissa mencintai Putra Mahkota'. Tapi karena pertanyaannya ditujukan pada aku yang Clarissa saat ini, entah harus menjawab apa.
"Kenapa anda menanyakan hal itu?" tanyaku.
"Aku hanya ingin memastikan bahwa hal yang akan aku sampaikan tidak membuat nona kehilangan rasional dalam menilai seperti apa kakak dimata nona nantinya."
"Bagaimana pun Yang Mulia Putra Mahkota adalah tunangan saya, jadi apapun yang akan anda sampaikan pada saya akan otomatis melibatkan perasaan saya juga. Untuk hilangnya rasional pada saya tergantung hal apa yang akan anda sampaikan."
Pangeran kedua tersenyum menanggapi ucapanku. Atau mungkin tidak menduganya karena aku yakin pangeran kedua tahu bagaimana Clarissa yang cinta mati pada Putra Mahkota.
"Lalu, bisa anda jelaskan apa maksud ucapan anda yang mengatakan bahwa Yang Mulia Putra Mahkota membunuh rakyat Lyon, rakyat ayahku." timpalku lagi.
"Aku menganggap kakak membunuh rakyat Lyon karena sebenarnya bencana yang terjadi bisa dicegah, bukan bencananya tapi tingkat kematian dan penderitaan dari rakyat Lyon sendiri." pangeran kedua mulai menjelaskan.
"Apa maksud Yang Mulia? Saya masih belum paham."
"Sebelum bencana di wilayah Lyon terjadi, bencana sudah terjadi di benua bagian barat dan merembet ke benua bagian selatan dalam beberapa minggu setelahmya. Dan kemungkinan akan merembet ke benua kita dengan wilayah yang pertama terdampak adalah wilayah Lyon. Kakak mengetahui itu semua."
Aku tercengang mendengar penuturan pangeran kedua. Mulai mengerti kenapa pangeran kedua menganggap bahwa Putra Mahkota membunuh rakyat Lyon.
"Jadi maksud Yang Mulia bahwa Putra Mahkota mengetahui bencana itu akan terjadi di wilayah Lyon? Bukannya mengevakuasi rakyat wilayah Lyon yang terdampak tapi malah membiarkannya begitu saja?" ujarku penuh penekanan. Ada gemuruh amarah dari nada suaraku.
"Benar." jawabnya.
(Ini pendapat pendapat aku pibadiya)
( ・∀・)
⊂_へ つ
(_)| 🙋♀️ 💕 янǟ࿔ янǟ࿔ ☘
◦•●◉✿ Terima kasih ✿◉●•◦
ʕっ•ᴥ•ʔっ 💜 ⭕ ( ͡°ᴥ ͡° ʋ) (๑•́ ₃ •̀๑)
💐🌻🌹🥀🌻⚘🦋🎀💎💘⚘🌻
✾༊᭄◉absent 🆁🄷🅰✿🆁🄷🅰 ∘̥⃟⸽⃟ ೄྀ
mirip loh tp aq suka
sehingga meleleh kan hatiku😂😂😂🥰🥰🥰🥰
Pokoknya gk rela bngt clasisa sm si pengecut putra mahkota