Walaupun semua berawal tanpa didasari oleh rasa Cinta dan hanya sebuah perwujudan rasa berbaktinya kepada sang ayah, Cinta terpaksa harus menerima perjodohan dari orang tuanya.
Namun keterkaitan ia dengan lelaki itu membuat sedikit demi sedikit terkuaknya masa lalu yang kelam dan juga sebuah kenyataan yang mulai terbongkar.
Apakah Cinta mampu menghadapi itu semua dan menerimanya?
Ataukah ia memilih untuk mundur dan menyerah begitu saja akan takdir yang mempermainkannya.
Ikuti terus "Takdir Cinta," novel romance dengan cerita yang akan menguras emosi kalian!
Np : Mungkin, "Takdir Cinta" akan terus berlanjut akan tetapi kemungkinan besar slow update dikarenakan Author pindah lapak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bungaspt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Munculnya Kekhawatiran
Di lain tempat, Iqbal sedang duduk di bangku penumpang mobil taksi sambil mengotak-atik layar ponselnya, setelahnya ia bedecak kesal, menyandarkan kepalanya di telapak tangan yang bertumpu pada pintu mobil taksi.
Sang supir taksi yang berumur sepertiga abad itu melirik Iqbal melalui cermin depan mobilnya.
"Maaf, cuma dua tempat itu yang saya tau Tuan," tutur sang supir pria itu.
"Apa perlu kita berhenti dulu Tuan, dan bertanya dengan beberapa penduduk di sekitar sini?" tambahnya menawarkan.
Iqbal mengangguk, "Maaf merepotkan."
Pak supir itu menggeleng pelan, "Tak masalah Tuan."
Supir itu memberhentikan mobil taksinya saat melihat dua orang pejalan kaki. Keluar ia dari dalam taksi, berjalan mendekati kedua orang remaja sekolah itu. Dari dalam taksi dapat Iqbal lihat supir itu seperti sedang bertanya sesuatu pada kedua remaja wanita itu.
Setelah kurang lebih dari 5 menit di luar, supir itu kembali masuk ke mobil.
"Bagaimana?" tanya Iqbal.
Supir itu menggeleng, membuat Iqbal menghembuskan nafasnya kasar. Kembali sang supir menyalakan mesin mobil taksi dan menjalankannya.
Sudah tiga kali supir itu memberhentikan taksi miliknya dan mencoba bertanya pada setiap orang, namun jawaban mereka tetap sama. Itu semakin membuat Iqbal hampir frustrasi dibuatnya.
"Apakah kita kembali saja Tuan?" tanya supir taksi menepikan taksinya ke pinggir jalan.
Iqbal menggeleng, "Tolong coba sekali lagi."
Sang supir mengangguk, dan menjalankan mobilnya. Dilihat Iqbal dari kejauhan seorang nenek yang sedang menyapu halaman rumahnya, "Coba tanya nenek itu," pinta Iqbal.
Sang supir itu menurut, dan kembali turun dari mobilnya untuk yang kesekian kalinya, berharap kali ini mereka menemukan tempat yang dicari. Tak sama seperti tadi, supir itu terlihat begitu lama berbincang-bincang dengan nenek tua itu. Supir itu mengangguk ke arah Iqbal, membuat Iqbal tersenyum lega.
°°°
Saat di meja makan Cinta terus menghitung jumlah orang yang sarapan pagi itu, ia merasa ada yang kurang, tapi apa?
"Kak Iqbal mana Ma?" celetuk Aldi bertanya.
"Ah iya, Iqbal. Di mana dia?" batin Cinta.
"Tidak tau, tadi dia bilang mau keluar." jawab ibu Fitri.
"Keluar? Apa dia lupa kalau kita akan pulang hari ini?" ini pak Suryadi yang bertanya.
"Tau kok Mas, dia bilang sudah menyiapkan tas kopernya. Dia minta kita membawakan kopernya dan dia bilang akan langsung menyusul kita ke bandara," tutur ibu Fitri menjelaskan.
Pak Suryadi mengangguk paham.
"Kalian semua sudah merapikan koper untuk pulang belum?" tanya pak Wahyudi pada anaknya juga teman-teman Cinta di sela-sela makannya.
°°°
Mereka semua sudah selesai sarapan pagi, tinggal membereskan koper mereka agar tak ada barang yang ketinggalan saat mereka pulang.
Gerakan Cinta membereskan kopernya begitu lambat, pikirannya melayang entah kemana.
"Cin, kamu kenapa?" Henny bertanya saat ia telah selesai membereskan koper putih miliknya.
Cinta menghentikan kegiatannya. Cinta yang tadinya berdiri jadi ikut duduk di samping Henny, yaitu di atas kasur.
"Menurutmu ke mana Iqbal pergi?"
"Aku pikir kenapa, ternyata kamu memikirkan Iqbal ya?"
Cinta berdiri dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda tadi.
"Bukan seperti itu, aku hanya memikirkan jika ia terlambat ke bandara ia akan membuat kita semua batal pulang hari ini," kelit Cinta sambil menarik ritsleting kopernya yang ia letakkan di atas kasur.
"Kita tinggal pulang lebih dulu, dan Iqbal menunggu jadwal pesawat berikutnya saja, kenapa kamu harus repot-repot memikirkan itu? Atau...,"—Henny berdiri mendekati Cinta—"aku tau kamu pas–"
"Sudah ayo kita keluar, sebentar lagi kita berangkat," tukas Cinta memotong omongan Henny, mencoba mengalihkan pembicaran.
Di ruang tamu, Aldi, Eko dan juga Rayhan sudah siap dengan koper di tangan mereka masing-masing. Cinta dan Henny keluar kamar dengan menyeret koper mereka. Keduanya ikut duduk di sofa seperti ketiga remaja lelaki itu. Menunggu para orang tua yang masih berkemas.
Setelah 7 menit lebih menunggu, akhirnya mereka semua sudah siap berangkat ke bandara. Tak lupa pak Wahyudi menyerahkan kunci vila pada salah seorang pegawai di sana.
Mereka pergi ke bandara Internasional Ngurah Rai dengan menggunakan tiga mobil taksi, sama seperti di awal kedatangan mereka yang menempuh waktu perjalanan 30 menit untuk sampai ke bandara. Sepanjang perjalan ke bandara Cinta terus saja seperti merasa gelisah, entah kenapa ia mulai merasa khawatir pada lelaki dingin itu.
"Cin," panggil Henny berbisik kecil saat melihat Cinta yang terlihat sedang cemas.
Henny dan Cinta berada di taksi yang sama.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Henny mulai khawatir terhadap sahabatnya.
Cinta menggeleng pelan dan tersenyum, "Tidak, aku baik-baik saja," bohong Cinta.
Sebenarnya gadis berparas cantik itu tak ingin membohongi sahabatnya, hanya saja jika ia berkata jujur jikalau sedang mengkhawatirkan Iqbal, Henny pasti akan malah menggodanya.
"Baiklah, jika kamu mengantuk kamu bisa tidur. Aku akan membangunkanmu di saat sudah sampai bandara nanti," ujar Henny, ia berpikir Cinta mungkin sedang tidak enak badan karena kurang tidur. Tadi malam mereka sedikit begadang menonton drama korea.
Cinta menggangguk, ia hanya mengiyakan agar Henny percaya bahwa ia sedang baik-baik saja.
Cinta kembali hanyut dalam pikirannya, mencoba menerka-nerka. Melirik ia keluar kaca mobil, merasa tak ada hal lain yang bisa ia lalukan.
To Be Continue...