NovelToon NovelToon
INVESTASI CINTA YANG SALAH

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: AwandaMw

INVESTASI CINTA YANG SALAH

Oleh: AwandaMw

"Dia mengira aku cuma pelengkap, sampai dia sadar seluruh kerajaannya berdiri atas namaku."

Sinopsis:

Demi mendukung impian Reno, Nadia rela menyembunyikan kejeniusannya dan menyerahkan seluruh asetnya untuk membangun Apex Media dari nol. Namun, begitu bisnis bernilai puluhan miliar itu berada di puncak kejayaan, Reno justru berpaling pada Sella—seorang wanita glamor yang menghasutnya bahwa Nadia hanyalah beban.

Dicampakkan dan dihina tanpa harta gono-gini, Nadia memilih pergi tanpa sepatah kata dendam. Reno merasa menang, tanpa tahu satu rahasia besar: Nadia adalah pemilik tunggal PT Cakrawala Capital, pemegang saham mayoritas 60% yang memegang leher bisnisnya.

Saat Reno dan Sella sibuk merayakan kesuksesan semu, Nadia siap melancarkan takeover dingin dan menagih kembali setiap sen yang telah dicuri darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

**Bab 1 Puncak pesta

🌸🌸🌸

Suara denting gelas kristal bertabrakan lembut dengan dentangan sendok perak di ballroom hotel bintang lima malam itu.

Lampu gantung chandelier raksasa berpendar megah, memantulkan cahaya keemasan yang menyinari deretan gaun malam glamor dan setelan jas buatan penjahit kelas atas. Aroma parfum mahal dan kemewahan merebak di setiap sudut ruangan.

Malam ini adalah puncak perayaan lima tahun berdirinya Apex Media, sebuah agensi kreatif dan media digital yang tengah berada di puncak popularitas industri.

Di atas panggung utama yang megah, berdiri seorang pria dengan postur tubuh tegap. Setelan jas navy blue berbahan wool premium melekat sempurna di tubuhnya. Sorot lampu spotlight sepenuhnya mengarah pada pria berusia 29 tahun itu: Reno Pratama.

"Lima tahun lalu, Apex Media hanyalah sebuah gagasan nekat di dalam kepala saya," suara Reno menggelegar melalui mikrofon bernuansa emas, disambut tepuk tangan riuh dari ratusan tamu undangan yang terdiri dari para investor, mitra bisnis, hingga awak media nasional.

Reno memamerkan senyum penuh percaya diri. Ia merapikan jam tangan mewahnya sejenak—sebuah aksesori seharga ratusan juta rupiah yang baru ia beli bulan lalu—sebelum melanjutkan pidatonya.

"Banyak orang bilang, membangun bisnis di industri yang sangat kompetitif ini membutuhkan keajaiban. Tapi malam ini, saya berdiri di sini untuk membuktikan... keajaiban itu bernama kerja keras dan kejeniusan tunggal." Reno menepuk dadanya pelan, menatap lurus ke arah puluhan kamera wartawan.

"Saya merintis perusahaan ini murni dari nol, dari sebuah ruangan garasi sempit tanpa bantuan modal dari siapa pun. Murni dengan visi, keringat, dan insting bisnis saya sendiri. Dan malam ini, saya dengan bangga mengumumkan bahwa Apex Media resmi mencatatkan nilai valuasi melampaui lima puluh miliar rupiah!"

Gemuruh sorak-sorai dan tepuk tangan kembali pecah mendominasi ruangan. Kamera-kamera pers berkilat tiada henti, menangkap setiap sudut ekspresi sang CEO muda yang baru saja dinobatkan sebagai salah satu Young CEO of the Year. Wajah Reno tampak begitu jumawa. Di matanya, dunia malam ini seperti bertekuk lutut di bawah kakinya.

Namun, di sudut paling belakang ballroom, agak tersembunyi di balik pilar marmer yang menjulang, berdiri seorang wanita yang menatap panggung itu tanpa ekspresi.

Nadia Kirana.

Nadia mengenakan gaun hitam panjang yang sangat sederhana. Tanpa payet berlebih, tanpa perhiasan mencolok. Rambut hitamnya hanya disanggul rapi ke belakang, dan riasan wajahnya begitu tipis.

Penampilannya sangat bertolak belakang dengan para tamu wanita lain yang berlomba-lomba tampil glamor dan memamerkan barang bermerek.

Nadia mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir suaminya. Ada senyum tipis—hampir tak terlihat dan amat dingin—mengukir bibirnya.

“Murni dari kejeniusanmu sendiri, Reno?” batin Nadia pelan.

Jemarinya yang halus memutar-mutar gelas berisi jus jeruk. Benak Nadia melayang kembali ke masa lima tahun lalu. Masa-masa kelam yang tampaknya sudah dihapus sepenuhnya dari ingatan Reno.

Nadia ingat betul bagaimana Reno terduduk di lantai kamar kosnya yang sempit, menangis tersedu-sedu karena dikejar penagih utang. Nadia ingat bagaimana Reno berlutut memohon bantuan saat proyek pertamanya terancam batal karena kekurangan modal operasional.

Saat itu, siapakah yang menangani semuanya?

Nadia.

Dialah sosok di balik layar yang merancang seluruh rumus manajemen risiko, menyusun analisis keuangan yang rumit, hingga mentransfer seluruh tabungan masa depannya dan menjual perhiasan peninggalan almarhum ibunya demi membayar gaji karyawan pertama Apex Media.

Bahkan, seluruh sistem arus kas yang membuat Apex Media tetap bernapas saat krisis ekonomi dua tahun lalu adalah hasil karyanya.

Namun malam ini, di depan puluhan media dan jajaran pengusaha papan atas, nama Nadia sama sekali tidak diucapkan.

Tidak ada sepatah kata pun ucapan terima kasih untuk istri yang menyokongnya dari bawah. Bagi Reno, Nadia hanyalah bayangan yang tidak perlu diberi panggung.

"Nadia?"

Sebuah suara berbisik pelan dari arah samping. Nadia menoleh dan menemukan Bimo, Manajer Keuangan Senior Apex Media yang sudah bekerja sejak perusahaan itu masih berupa ruangan sempit berdebu. Bimo menatap Nadia dengan pandangan serba salah dan sarat akan rasa prihatin.

"Kamu... kamu nggak mau naik ke atas panggung?" tanya Bimo pelan, sedikit ragu.

"Semua orang senior di kantor tahu betul, Nadia. Tanpa perhitungan analisis kamu dan suntikan dana dingin yang kamu atur secara independen, Apex Media sudah gulung tikar dari tiga tahun lalu."

Nadia tersenyum tenang, mengibaskan tangannya dengan gerakan halus. "Nggak perlu, Bimo. Biarkan Reno menikmati momen puncaknya. Bagi saya, yang paling penting adalah perusahaan ini bisa berjalan stabil dan semua karyawan bisa menerima haknya dengan baik."

Bimo mendesah berat, menggelengkan kepala. "Tapi pidato Reno tadi... sungguh keterlaluan. Dia bicara seolah-olah kamu cuma istri rumah tangga yang cuma bisa duduk manis di rumah dan menikmati uang hasil kerja kerasnya."

"Biarkan saja," sahut Nadia santai, lalu menyesap jus jeruknya sedikit. "Setiap orang punya perannya masing-masing. Biarkan Reno menjadi wajah di depan layar yang dipuja publik, dan biarkan saya tetap menjadi pemegang kendali di balik layar."

Bimo menatap Nadia dengan takjub sekaligus heran. Di mata Bimo, Nadia adalah wanita paling sabar sekaligus paling misterius yang pernah ia kenal.

Bimo tahu betul betapa jeniusnya Nadia dalam mengolah angka dan membaca arah pergerakan pasar saham, namun wanita itu selalu memilih berada di balik bayang-bayang Reno.

Di atas panggung, acara berlanjut ke sesi penyerahan plakat penghargaan. Reno menerima piala kristal berukir emas itu dengan senyum lebar yang merekah.

Tepat di sebelah panggung, seorang wanita dengan gaun merah menyala berpotongan rendah melangkah mendekati Reno.

Wanita itu adalah Sella Anindya, seorang investor minoritas baru yang akhir-akhir ini kerap terlihat mendampingi Reno dalam berbagai pertemuan bisnis.

Sella memberikan buket bunga mawar merah raksasa kepada Reno, lalu memberikan kecupan di kedua pipi Reno—tindakan yang terlalu intim untuk sekadar rekan bisnis, tepat di depan sorotan kamera media.

Para tamu bertepuk tangan, menganggapnya sebagai bentuk keakraban antar mitra bisnis kelas atas.

Dari jarak puluhan meter, mata Nadia menangkap pergerakan tangan Reno yang sempat merengkuh pinggang Sella dengan sedikit terlalu erat sebelum akhirnya dilepaskan kembali.

Tidak ada raut bersalah di wajah Reno. Pria itu justru tampak menikmati perhatian dan pesona Sella.

Nadia menghela napas pelan. Ditinggalkannya gelas jus jeruk yang masih tersisa separuh di atas meja tinggi di sebelahnya. Ada getaran dingin yang perlahan menjalar di dada Nadia—bukan lagi rasa sakit hati karena diabaikan, melainkan sebuah kesadaran yang sangat jernih.

Kesombongan Reno malam ini bukan lagi sekadar bentuk kebanggaan atas pencapaian bisnis, melainkan racun yang mulai menggerogoti akal sehatnya.

Reno merasa dialah sang penguasa tunggal atas kerajaan bisnis Apex Media. Pria itu sudah benar-benar lupa bahwa tanah tempatnya berdiri, gedung yang ia sewa, dan panggung tempatnya dipuja malam ini... semuanya berdiri di atas pondasi yang dibangun oleh jemari Nadia.

Nadia merapikan gaun hitamnya, membalikkan badan, dan melangkah perlahan meninggalkan ballroom yang bising itu tanpa mengucap pamit pada siapa pun.

Saat ia berjalan melewati lorong hotel yang dingin dan sepi, Nadia mengambil ponsel dari tas kecilnya.

Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah dokumen digital yang tersimpan rapat dalam folder bersandi khusus: Sertifikat Kepemilikan Saham Utama PT Cakrawala Capital.

Nadia menatap layar itu dengan pandangan tajam tanpa keraguan.

“Kamu boleh menikmati panggungmu malam ini, Reno,” gumam Nadia dalam hati. “Tapi ingat... aku yang membangun kerajaan ini, dan aku juga yang punya kuasa untuk meruntuhkannya saat kamu mulai lupa diri.”

🌸🌸🌸

Hayu besti cerita baru nihh masih fresh 🫰🫰

1
falea sezi
lanjut
Arieee
laki" mokondo yang terlalu percaya diri🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!