"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 28
"Seseorang yang tahu semua kebusukan kamu sudah memberitahuku semuanya, Arga! Orang yang memindahkan uang perusahaan ke rekeningku untuk menjebakku!"
Jeritan Rena menggema keras di dalam ruang kerja CEO tersebut. Arga mematung di tempatnya berdiri. Urat-urat di leher pria itu menonjol, sementara matanya membelalak lebar menatap selingkuhannya itu.
"Orang bayaran? Coba tunjukkan pesannya ke aku sekarang juga, Rena!" bentak Arga, mengulurkan tangannya dengan kasar.
"Nggak! Kamu pasti mau menghapus buktinya, kan?! Ini satu-satunya jaminanku supaya kamu nggak bisa membunuhku hari ini!" Rena memeluk ponselnya erat-erat ke dadanya. Wanita itu melangkah mundur hingga punggungnya menabrak rak buku di sudut ruangan.
"Kasih lihat HP itu ke aku, Rena! Jangan bikin kesabaranku habis!"
Arga menerjang maju. Tangannya mencengkeram kedua bahu Rena dengan brutal dan membanting wanita itu ke dinding kaca.
Bruk!
"Aw! Sakit, Arga! Lepasin aku!"
Arga sama sekali tidak memedulikan rintihan Rena. Dengan paksa, ia merebut ponsel dari tangan wanita itu, membuka kuncinya, dan membaca rentetan pesan anonim di layar.
Mata Arga bergerak cepat. 'Arga menyuruhku melakukannya untuk menjebakmu... Kacul dan Bi Titin juga rekan kerjanya di rumah, tapi mereka sudah mati... Tasya sahabat istrinya juga baru saja dibikin kecelakaan...'
Napas Arga memburu kencang. Namun, bukan isi pesannya yang membuat darah Arga seakan membeku, melainkan deretan nomor pengirim di bagian atas layar. Itu adalah nomor yang sangat ia kenal.
"Kamu dapat pesan ini dari nomor ini, Rena?!" suara Arga tiba-tiba berubah menjadi sangat pelan, namun bergetar hebat menahan amarah yang tidak masuk akal.
"Iya! Itu orang suruhan kamu sendiri, kan?! Jangan mengelak lagi, Arga! Dia yang meretas sistem perusahaan kita!" isak Rena sambil memegangi bahunya yang memar.
Arga tertawa. Tawanya terdengar kosong, menyeramkan, dan diiringi oleh tatapan mata yang benar-benar kehilangan kewarasan.
"Kamu ini bodoh atau bagaimana, Rena?! Ini bukan nomor peretas! Ini nomor pembantu di rumahku! Nomor Marni! Pembantu kasar yang baru saja aku bayar kemarin sore untuk menjaga Kirana!" teriak Arga.
Pria itu membanting ponsel Rena ke atas meja kerjanya hingga layarnya retak seribu.
Rena terkesiap, air matanya berhenti menetes. "P-pembantu? Kamu jangan bercanda, Arga! Pembantu mana yang bisa tahu soal Kacul, Bi Titin, dan Tasya?! Pembantu mana yang bisa meretas sistem bank internasional?!"
"Itulah yang mau aku cari tahu sekarang!" rahang Arga mengeras, giginya bergemeretak menahan emosi yang siap meledak kapan saja.
Pikirannya berputar liar. Marni hanyalah preman pasar yang disewa dari agen penyalur. Tidak mungkin wanita gempal itu memiliki otak untuk meretas keamanan bank. Tapi nomornya yang mengirim pesan itu! Siapa yang memegang ponsel Marni semalam?
Kirana?
Tidak, tidak mungkin, batin Arga menepis keras. Kirana itu buta total. Dia bahkan tidak bereaksi saat pisau hampir menusuk matanya. Dia juga tidak bereaksi saat kakinya menginjak genangan darah semalam.
Lalu siapa? Apa Marni diam-diam disuap oleh pengacara tua itu, Pak Darmawan, untuk menyadap rumahnya?
"Arga... kalau bukan kamu yang menyuruhnya, terus siapa yang mau mengadu domba kita?" tanya Rena, suaranya kini mencicit ketakutan melihat wajah Arga yang semerah darah.
"Kamu diam di sini. Kunci pintunya dari dalam. Jangan keluar dari ruangan ini sampai aku kembali. Kalau kamu berani kabur dan buka mulut ke polisi, aku pastikan mereka akan menemukan mayatmu di selokan besok pagi!" ancam Arga sambil menunjuk wajah Rena.
Tanpa menunggu jawaban, Arga berbalik dan berlari keluar dari ruangannya. Pria itu mengabaikan tatapan para staf di lorong, masuk ke dalam lift, dan melesat menuju tempat parkir. Mobil SUV hitamnya melaju dengan kecepatan penuh, membelah padatnya jalanan ibu kota menuju rumahnya.
Di kediaman keluarga Larasati, Marni sedang asyik menonton televisi di ruang tengah sambil mengunyah camilan. Ponselnya yang sudah ia temukan kembali tergeletak di sampingnya.
Di lantai atas, Kirana duduk tenang di tepi ranjang. Telinganya yang tajam menangkap suara decitan rem mobil yang sangat kasar di halaman depan.
'Sayangku sudah pulang. Pertunjukannya akan segera dimulai,' batin Kirana tersenyum dingin. Ia segera mengacak-acak rambutnya sendiri, meremas piyamanya agar terlihat kusut, dan memasang ekspresi ketakutan yang sempurna.
BRAK!
Pintu utama rumah ditendang dari luar hingga terbuka lebar.
"MARNI! KE SINI KAMU SEKARANG JUGA!"
Suara raungan Arga menggema hingga ke lantai dua. Marni yang sedang makan langsung tersedak. Ia buru-buru berdiri dan berlari menghampiri majikannya dengan wajah kebingungan.
"A-ada apa, Pak Arga? Kenapa Bapak teriak-teriak? Nyonya Kirana aman di kamar atas, saya sudah kunci pintunya—"
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Marni sebelum wanita gempal itu sempat menyelesaikan kalimatnya. Marni terhuyung mundur hingga menabrak ujung meja kaca, sudut bibirnya langsung sobek dan mengeluarkan darah segar.
"Pak! Kenapa Bapak menampar saya?!" jerit Marni sambil memegangi pipinya, matanya melotot tidak terima.
Arga tidak menjawab. Pria itu menerjang maju, merogoh saku celemek Marni dengan kasar, dan merampas ponsel milik pembantu itu.
"Buka kunci layarnya! Buka sekarang, atau aku patahkan tanganmu!" bentak Arga, menyodorkan layar ponsel itu ke wajah Marni.
"I-iya, Pak! Ampun, Pak!" Marni yang ketakutan setengah mati segera menempelkan sidik jarinya ke layar.
Arga langsung membuka aplikasi pesan. Ia mencari riwayat pesannya. Kosong. Tidak ada pesan apa pun ke nomor Rena. Kirana sudah menghapusnya bersih semalam.
"Kamu menghapus pesannya ya, anjing?!" maki Arga. Ia mencengkeram kerah baju Marni dan menariknya hingga wanita itu jinjit. "Siapa yang membayar kamu?! Berapa pengacara tua itu membayar kamu untuk menyadap rumah ini dan meneror sekretarisku, hah?!"
"Pengacara siapa, Pak?! Sumpah demi Tuhan, saya nggak ngerti Bapak ngomong apa! Saya cuma nonton TV dari tadi!" tangis Marni pecah, tubuh besarnya gemetar hebat.
"Jangan pura-pura bodoh di depanku! Semalam HP kamu dipakai untuk mengirim pesan ke kantorku! Pesan soal Kacul dan Bi Titin! Kamu yang mengirimnya, kan?! Kamu bekerja sama dengan Pak Darmawan buat menghancurkan ku?!"
"Kacul? Bi Titin? Saya baru kerja kemarin sore, Pak! Saya nggak kenal siapa mereka! Semalam HP saya hilang waktu saya ketiduran di kamar Nyonya Kirana! Baru tadi pagi saya temukan jatuh di kolong meja makan! Sumpah, Pak, bukan saya!" Marni merengek memohon ampun.
Arga melepaskan cengkeramannya, membuat Marni jatuh berdebum ke lantai. Pria itu memijat pelipisnya yang berdenyut keras.
HP-nya hilang semalam di kamar Kirana?
Arga mendongak menatap tangga menuju lantai dua. Tanpa aba-aba, pria itu berlari menaiki tangga dengan langkah panjang-panjang.
Di dalam kamar, Kirana yang sudah mendengar semuanya dari bawah, segera merangkak ke sudut ruangan. Ia memeluk lututnya, menyembunyikan wajahnya, dan mulai gemetar hebat.
Ceklek!
BRAK!
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,