Di hari ulang tahun suaminya, Nadia berjalan dengan hati penuh bunga. Dua garis merah di tangannya adalah hadiah terindah yang ingin ia persembahkan untuk Arkan–suaminya.
Namun, kejutan manis itu berubah menjadi mimpi buruk yang menghancurkan dunianya.
Di balik pintu sebuah restoran mewah, Nadia memergoki Arkan tengah memeluk mesra Ghea—kakak tirinya sendiri.
Bukan hanya dikhianati, Nadia juga harus menelan pil pahit saat mendengar kenyataan bahwa pernikahan mereka hanyalah kedok busuk Arkan untuk menguras habis seluruh harta warisan mendiang ayah Nadia.
Di ambang keputusasaan, di bawah guyuran hujan yang menyamarkan air matanya, Nadia hampir kehilangan nyawanya dan bayi di kandungannya. Tepat saat itu, sebuah tangan kekar menyelamatkannya.
Devan Alister. Pria berkuasa, sekaligus musuh bebuyutan suaminya di dunia bisnis, hadir dan menawarkan sebuah aliansi berbahaya.
"Ikut denganku, kita hancurkan mereka bersama. Sebagai gantinya, jadilah istri sandiwaraku selama satu tahun."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayamgoreng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pindah rumah
Suara solasi plastik yang ditarik kasar bergema nyaring di dalam ruang tamu yang dulunya megah, kini berantakan bak gudang kumal. Berbagai macam kardus cokelat, kantong plastik hitam raksasa, dan koper-koper pakaian menumpuk acak-acakan di dekat pintu depan.
Ghea menyapu peluh yang menetes di dahi dan lehernya dengan pinggiran kaosnya yang sudah basah oleh keringat. Tangannya yang biasa terawat halus karena rajin body care kini terasa kasar, lengket dan kotor akibat seharian mengemas barang. Tatapan matanya menatap nanar ke arah tas-tas branded miliknya yang terpaksa ia jejal sembarangan ke dalam kantong plastik hitam karena kekurangan koper.
Kehidupannya benar-benar hancur lebur. Setelah Arkan mendekam di sel tahanan akibat jeratan hukum tanpa ampun dari Devan Alister, kini mereka harus hidup miskin. Tapi syukur kemarin ada satu mobil yang di kembalikan, jadinya dia jual untuk bertahan hidup.
Klek!
Pintu kamar mandi utama terbuka. Siska—ibu Arkan sekaligus calon mertua Ghea—keluar sambil mengibas-ngibas tangannya yang basah dengan wajah memasang raut jijik luar biasa. Wajah wanita paruh baya itu tampak kusam tanpa riasan mahal, namun gaya hidup hedon dan kepribadiannya yang angkuh sama sekali belum hilang.
"Aduh, Ghea! Kamu gimana sih kemas-kemas nya?! Ini koper-koper mahal Tante kenapa cuma diikat pakai tali rafia gini?!" amuk Siska dengan suara melengking tinggi, Ia melemparkan baju ke dalam kantong plastik hitam. "Panas banget lagi ini rumah! AC-nya kenapa di matiin?!" tanya Siska sambil melirik sekitar karena hawa yang terasa panas.
Ghea yang sedang menekan kardus tebal untuk memasang lakban langsung menghentikan gerakannya. Napasnya terengah-engah, dadanya naik-turun menahan kejengkelan yang sudah di ubun-ubun sejak subuh.
"AC mati karena listriknya udah diputus bank, Tante" sahut Ghea, berusaha menahan diri. "Jadi nggak usah manja, Tante pikir Ghea nggak kepanasan juga apa?" dengus Ghea lalu lanjut mengemas barang lagi.
Siska berdecak tak senang, dia melempar tas kulitnya ke atas tumpukan kardus hingga debu beterbangan. "Tante tu nggak kebiasaan panas kaya gini, kan tiap hari ada ac jadinya dingin. Kalo nggak ada ac Tante nggak bisa hidup rasa—
Brak!
Ghea membanting rol lakban ke lantai marmer sampai terpental jauh entah ke mana. Suara benturan keras itu membuat Siska tersentak kaget.
Ghea membalikkan badan dengan mata merah menyala. "Bacot banget sih, Tante!"
Siska membelalakkan mata, terperanjat. "Ghea! Kamu berani ngomong gitu sama Tante?!" tanya Siska syok karena dulu Ghea selalu sopan dan lembut jika berbicara dengannya.
"Kenapa?! Nggak suka?!" tanya Ghea membentak, matanya menghunus tajam. "Dari pagi Tante cuma duduk, kipas-kipasan sama ngomel! Bukannya bantuin angkat barang ini malah leha leha nggak jelas!" kata Ghea menegur.
"Tapi kan memang gitu, kamu aja tau sendiri kalo Tante nggak bisa kepanasan sama kerja berat!" rengek Siska lagi membuat Ghea semakin jengkel.
Ghea berdecak. "Nggak usah sok elite deh! Tante itu udah bangkrut! Rumah ini udah disita, Arkan membusuk di penjara, jadi nggak usah manja!"
Muka Siska merah padam bercampur malu. Tapi dasarnya tidak mau kalah, ia menunjuk wajah Ghea dengan jari gemetar.
"Tapi kan ini semua gara-gara kamu!" tuding Siska berapi-api. "Coba kalau kamu nggak gatel godain Arkan sampai dia nyerong dari Nadia! Arkan nggak bakal kena karma kayak gini!" kata Siska, lagi.
Ghea justru terkekeh sinis tanpa merasa tersindir—sebuah tawa remeh yang tajam keluar dari bilah bibirnya.
"Tante amnesia, yah?" tanya Ghea menyindir dengan mata melotot. "Lupa sama kejadian di Mapolda kemarin pas Arkan baru ditangkap?! Kemarin Tante nangis-nangis sambil debat sama aku, mau aku ungkit lagi debat kemarin biar Tante sadar diri, hah?!"
Siska bungkam seketika. Bibirnya gemetar, tak bisa membalas perkataan Ghea.
Ghea menunjuk Siska dengan jari telunjuk. "Dengar ya, Tante Siska!" tekan Ghea. "Uang kontrakan itu pake uang tabungan pribadi Ghea! Kalau bukan karena sisa uang Ghea, hari ini Tante udah jadi gelandangan di pinggir jalan!" jelas Ghea skakmat.
Siska menunduk, ia melihat barang barang yang bertebaran berantakan di lantai. "Ta-tapi kan bisa cari yang ada AC-nya ghe..." cicit Siska dengan sisa gengsinya.
Ghea mendesah kasar. "Uang dari mana lagi?!" tanya Ghea. "Mau bayar pakai apa?! Pakai daun?!"
Siska terhenyak, air mata sedihnya menetes ke pipinya yang keriput.
Ghea menghela nafas pelan melihat Tante Siska yang mulai menitikkan air mata. "Kalau Tante nggak mau tinggal di sana, ya udah" pungkas Ghea capek sambil menunjuk pintu keluar. "Angkat kaki sekarang! Cari hotel bintang lima sendiri, atau pergi sana sujud di kaki Nadia! Minta ditampung di mansion mewahnya Devan Alister! Mau Tante?!"
Nama Nadia bagaikan hantaman palu godam yang menghancurkan sisa harga diri Siska.
Berlutut di kaki mantan menantu yang dulu kerap ia hina adalah hal yang mustahil sanggup ia lakukan lagi. Dia sudah membenci Nadia hingga mendarah daging karena permohonan nya di rumah sakit beberapa hari lalu malah di abaikan oleh wanita tak tau diri itu.
Mana mau dia memohon lagi dengan si keparat Nadia. Cih, sampai mati pun Siska tidak akan sudi berlutut lagi, dan kemarin mungkin dia khilaf karena saking takutnya akan jadi orang miskin.
Jadinya siska hanya terdiam dan membisu total dengan dada naik-turun menahan malu yang amat dalam, sialan memang ancaman Ghea kali ini.
Bip bip!
Tiba tiba klakson mobil pick up sewaan terdengar berbunyi nyaring dari luar pagar.
Ghea menyambar dua kantong plastik besar tanpa melirik Siska lagi. "Cepet angkut koper Tante, terus taro ke dalam mobil kalau masih mau punya tempat tinggal!"
Ghea melangkah lebar meninggalkan ruangan. Siska—yang biasanya selalu dilayani pembantu dan diperlakukan bak ratu—terpaksa harus membungkuk dengan napas terengah-engah, menyambar koper lusuhnya yang terikat tali rafia.
Sambil menyeret koper itu dengan susah payah menuju mobil pick up di luar pagar, Siska bersungut-sungut pelan dengan wajah bertekuk masam.
"Aduh... nasib, nasib..." gerutu Siska lirih, menyapu air matanya kasar dengan lengan baju. "Punya calon menantu kok galak amat... Lebih galak menantu dari pada calon mertua" dumel Siska pelan sambil terus berjalan tertatih tatih karena kopernya yang berat. "Udah kek setan aja, mana nggak ada sopan-sopan nya sama sekali lagi..."
Ghea yang mendengar samar-samar bisikan ngedumel dari arah belakang langsung menghentikan langkahnya di dekat bak mobil pick up. Ia menoleh sekilas, menatap Siska dengan lirikan mata maut yang begitu tajam.
"Ngedumel sekali lagi, Tante saya tinggal di sini!" ancam Ghea dingin tanpa ampun.
Siska seketika mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia langsung menunduk dan buru-buru menaikkan koper di tangannya ke atas bak mobil pick up berdebu itu, menyadari bahwa kini hidupnya sepenuhnya ada di bawah kendali cengkeraman Ghea.
.
.
.
.
★★★