"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."
Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik di Balik Pagar TK
Dua bulan telah berlalu sejak badai kehancuran melanda hidup Rendra Wijaya. Perlahan, roda nasibnya mulai bergeser sedikit lebih baik secara ekonomi. Berkat kerja kerasnya yang tidak mengenal lelah dari pagi hingga malam di sebuah proyek pembangunan perumahan baru, sang mandor melihat potensi dan kejujuran Rendra. Kini, Rendra tidak lagi menjadi kuli panggul semen yang dekil, melainkan sudah diangkat menjadi asisten mandor lapangan.
Pakaiannya kini jauh lebih bersih dan layak. Kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins yang ia kenakan sudah tidak berbau matahari lagi.
Kamar kontrakan petaknya pun kini sudah memiliki kipas angin kecil, dan ia bisa rutin mengirimkan uang saku serta makanan yang layak untuk Ibu Ratna dan Tyas di dalam rumah tahanan.
Dengan kondisi ekonomi yang mulai merangkak naik, ego dan keangkuhan Rendra yang sempat remuk redam perlahan-lahan mulai tumbuh kembali. Rasa bersalahnya kepada Rania kini mulai bergeser menjadi sebuah obsesi nekat. Dia tidak rela jika takhta kedudukannya sebagai seorang ayah digantikan begitu saja oleh Elang Danuarta.
"Abid itu darah dagingku. Sampai kapan pun, dia harus tahu kalau akulah ayahnya, bukan si Elang sialan itu," bisik Rendra dengan seringai tipis yang mulai kembali menghiasi wajahnya.
Siang itu, dengan menggunakan sepeda motor bebek seken yang baru ia beli dari uang cicilan pertamanya, Rendra nekat mendatangi sebuah Gedung TK Internasional di kawasan Jakarta Selatan, tempat Abid bersekolah. Rendra tahu betul jadwal pulang anak TK jauh lebih awal daripada anak SD, dan biasanya mobil jemputan Rania atau Elang baru akan tiba mepet dengan jam keluar kelas. Ini adalah celah yang sempurna.
Rendra memarkirkan motornya agak jauh dari gerbang. Di tangannya, ia mendekap sebuah kotak mainan robot-robotan seri terbaru yang cukup mahal.
Suasana di depan gerbang TK tampak ramai oleh barisan pengasuh dan supir pribadi. Memanfaatkan situasi yang agak lengah saat bel pulang berbunyi, Rendra berjalan mengitari pagar pembatas samping yang agak sepi dan rimbun oleh pohon pelindung.
Mata Rendra bergerak liar ke arah area bermain luar ruangan. Jantungnya berdegup kencang saat melihat sesosok bocah laki-laki berpipi tembam dengan seragam TK yang bersih dan rapi sedang duduk sendirian di bangku taman dekat pagar, menunggu jemputan. Itu Abid.
Rendra dengan cepat melangkah mendekati celah pagar besi, berjongkok agar posisinya sejajar dengan tinggi anak itu.
"Abid... Abid, Sayang... Ini Ayah, Nak..." panggil Rendra dengan suara yang dilembut-lembutkan, memasang wajah paling ramah dan penuh kerinduan.
Abid yang sedang memainkan ujung sepatunya spontan menoleh. Sepasang mata bulatnya yang polos menatap bingung ke arah pria di balik pagar. Karena usianya yang masih sangat kecil, Abid belum paham esensi pertengkaran atau perceraian orang tuanya. Yang dia ingat samar-samar, pria di depannya ini adalah sosok yang dulu tinggal serumah dengannya.
Abid berdiri, melangkah ragu-ragu mendekati pagar. "Ayah?"
Mendengar sebutan itu, Rendra merasa menang. Senyum kebahagiaan tipis muncul di sudut bibirnya. Rendra langsung menyodorkan kotak mainan robot itu melewati celah besi pagar.
"Iya, ini Ayah, Sayang. Lihat, Ayah bawakan mainan robot yang bagus banget buat Abid. Abid suka, kan? Ambil, Nak, ini buat Abid," ucap Rendra memancing perhatian sang anak.
Mata kecil Abid seketika berbinar. Bocah polos itu menerima kotak mainan besar itu dengan kedua tangan kecilnya. "Wah... bagus banget! Makasih, Ayah."
Melihat Abid masuk ke dalam perangkap jinaknya, Rendra mulai melancarkan aksi liciknya. Ia mengulurkan tangannya melewati celah pagar, mengusap kepala Abid dengan lembut sembari memasang wajah yang dibuat sesedih mungkin, memosisikan dirinya sebagai korban yang teraniaya.
"Abid... Ayah kangen banget sama Abid. Maaf ya kalau Ayah jarang pulang dan baru bisa nemuin Abid sekarang," ucap Rendra dengan nada suara yang bergetar dramatis.
Abid mendongak dengan polosnya. "Bunda bilang Ayah lagi kerja jauh. Tapi... kok Ayah gak tinggal di rumah baru Abid? Di rumah baru ada Om Elang juga yang sering main sama Abid."
Mendengar nama Elang disebut, rahang Rendra sempat mengeras menahan cemburu, namun dia dengan cepat mengendalikan ekspresi wajahnya. Rendra menarik napas dalam-dalam, menatap Abid dengan tatapan yang penuh hasutan halus.
"Abid... Ayah gak bisa tinggal di sana karena Bunda lagi marah sama Ayah. Dan tentang Om Elang... Abid harus dengerin kata-kata Ayah ya," bisik Rendra sambil mendekatkan wajahnya ke besi pagar.
Abid mengangguk kecil, menyimak dengan kepolosan anak TK.
"Om Elang itu... sebenarnya bukan orang baik, Sayang. Dia itu orang asing yang mau misahin Ayah dari Abid dan Bunda. Om Elang sengaja baik sama Abid supaya Abid lupa sama Ayah kandung Abid sendiri," hasut Rendra dengan nada berbisik yang manipulatif. "Nanti, kalau Om Elang udah berhasil, dia bakal jahat sama Abid dan Bunda. Jadi, Abid jangan terlalu dekat dan jangan terlalu nurut ya sama Om Elang. Abid harus ingat, ayah kandung Abid yang sayang sama Abid itu cuma Ayah Rendra. Paham, Sayang?"
Otak kecil Abid yang masih suci seketika tampak kebingungan. Benih-benih keraguan yang ditanamkan Rendra mulai bekerja di dalam kepalanya yang polos. "Tapi... Om Elang sering beliin Abid es krim dan mainan banyak, Ayah..."
"Itu cuma pura-pura, Nak. Biar Abid sayang sama dia, terus Ayah gak boleh ketemu Abid lagi," potong Rendra cepat, memantapkan hasutannya.
"Nanti kalau Om Elang kasih barang lagi, Abid rahasia-in aja ya. Dan pertemuan kita hari ini, Abid jangan bilang-bilang ke Bunda atau Om Elang, ya? Ini rahasia cowok antara Ayah dan Abid. Kalau Abid bilang ke Bunda, nanti Bunda bakal marah dan Ayah gak bisa beliin robot baru lagi buat Abid. Abid mau kan dapet mainan lagi?"
Mendengar ancaman tidak akan mendapat mainan lagi, ketakutan khas anak kecil langsung menyerang Abid. Bocah itu mengangguk patuh dengan wajah agak tegang. "Iya, Ayah... Abid janji gak bakal cerita ke Bunda atau Om Elang."
Rendra tersenyum sangat puas di balik pagar. Kebahagiaan kecil karena berhasil memanipulasi anak kandungnya sendiri membuat Rendra merasa di atas angin. Dia merasa sudah berhasil menaruh "bom waktu" di dalam hubungan Rania dan Elang melalui tangan Abid sendiri.
Tiiit!
Suara klakson mobil Alphard hitam yang Rendra kenali sebagai jemputan Rania terdengar dari arah gerbang utama depan sekolah.
"Nah, jemputan Abid udah dateng. Inget ya janji kita, simpen mainannya di dalam tas sekolah, jangan sampai kelihatan Bunda. Ayah pergi dulu ya, Sayang," ucap Rendra terburu-buru.
"Iya, Ayah dadaaah..." jawab Abid pelan sambil memasukkan kotak mainan itu ke dalam tas ransel besarnya dengan gerakan gugup.
Rendra langsung berbalik badan, berjalan cepat menuju motor sekennya dengan perasaan menang dan puas. Dia merasa langkahnya hari ini adalah awal yang sangat bagus untuk merebut kembali posisinya dan menghancurkan ketenangan hidup Rania secara perlahan dari dalam.
pst dapat cap pelakor😄🤭