Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Cemburu
Suara tawa itu menggema di antara deretan rak kayu perpustakaan pusat yang tinggi. Bau kertas tua yang menguning bercampur dengan uap panas siang hari Jakarta merayap di sela lorong meja baca. Kipas angin gantung di langit-langit berputar dengan bunyi berdecit konstan, hanya memindahkan udara gerah tanpa mendinginkan suasana.
Regan duduk tenang di meja sudut dekat jendela kaca yang buram oleh debu. Jari jemari mudanya memegang pulpen Parker hitam, mengetuk permukaannya ke atas buku kas Toko Sinar Jaya yang terbuka lebar. Matanya datar, terkunci pada pemuda berambut klimis dengan minyak rambut Brisk yang sedang condong ke arah meja Nara.
Tomy menggeser sebuah kaset pita Maxell teranyar ke hadapan Nara. "Gue baru kelar rekam lagu-lagu KLA Project sama Dewa semalam, Ra. Ini khusus buat lu."
Nara menaruh pensil kayunya. Ia menyeka keringat tipis di pelipisnya dengan punggung tangan. "Makasih, Tom. Tapi gue lagi pusing mencocokkan bon gantung toko bokap nih."
"Duh, lu jangan terlalu kaku dong, Ra," Tomy terkekeh, tangannya aktif bergerak memamerkan arloji Casio G-Shock hitam di pergelangan tangannya. "Bokap lu kan udah dapet pasokan barang baru kemarin. Sekali-sekali hiburan, nonton konser minggu depan yuk? Gue punya tiket barisan depan."
Tomy memutar tubuhnya sedikit, baru menyadari keberadaan Regan yang sedari tadi membisu di seberang meja Nara. Ia memindai kaos oblong putih polos dan celana jeans pudar yang Regan kenakan dengan pandangan mengevaluasi.
"Eh, ada teman lu juga ya, Ra?" Tomy mengangkat dagunya, senyumnya mengandung keangkuhan khas anak orang kaya Jakarta pusat. "Siapa nih? Anak kelas sebelah?"
Nara melirik Regan sejenak sebelum menjawab. "Ini Regan. Dia yang bantuin pembukuan kas ruko Glodok."
Tomy mendengus hambar, bersedekap dengan gaya pelindung yang dipaksakan. "Gue dengar lu bikin usaha biro jasa kecil-kecilan di Tebet ya, Re? Bokap gue punya firma logistik besar di pelabuhan Tanjung Priok. Kalau lu butuh sisa kertas kupon atau bantuan modal receh buat beli komputer bekas, bilang aja ke gue. Pasti gue bantu."
Regan meletakkan pulpen miliknya dengan presisi sempurna di atas garis buku kas. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi jati yang berat.
Otak pria lima puluh delapan tahun di dalam dirinya sedang memindai wajah Tomy Pradana. Ingatan kelam dari masa lalu langsung menghantam kepalanya.
Di garis waktu yang lama, tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh empat, pria manis ini adalah hubungan singkat yang menyakitkan bagi Nara. Saat ayah Nara pertama kali terkena serangan jantung dan toko mereka terbelit utang, Tomy datang dengan senyum menawan. Ia berpura-pura menjadi penyelamat, memacari Nara selama empat bulan, lalu diam-diam mencuri seluruh daftar klien grosir milik Pak Wirawan untuk dialihkan ke bisnis percetakan keluarganya sendiri. Setelah Nara bangkrut total, Tomy mencampakkannya di peron stasiun tanpa belas kasihan.
Dada Regan berdesir dingin. Sebuah dilema moral bergolak di bawah kulit mudanya. Di kehidupan kedua ini, ia berjanji menjadi gravitasi absolut yang menjaga Nara dari segala tragedi. Apakah ia berhak mengintervensi takdir romantis Nara bahkan sebelum pria di depannya ini melakukan kesalahan?
Ya. Regan tidak peduli soal keadilan takdir. Obsesi protektifnya sudah melampaui batas moralitas orang waras. Ia tidak akan membiarkan ular ini menumbuhkan taringnya di dekat Nara.
"Logistik Pradana Mandiri?" suara Regan mengalun rendah, berat, memotong keangkuhan Tomy seketika.
Tomy berkedip kaku. "Iya. Kok lu tahu?"
Regan memiringkan kepalanya sedikit, menatap ulu hati mental Tomy dengan pandangan menilai sebuah barang rongsokan. "Bokap lu menaruh seluruh uang kas operasional perusahaan untuk memborong saham spekulatif di Bank Industri Negara dua hari lalu."
Wajah Tomy berubah datar, tawanya mati. "Lu jangan ngarang ya. Bisnis bokap gue aman."
"Kapal kargo kiriman dari Singapura milik bokap lu membawa dua kontainer suku cadang otomotif tanpa dokumen manifes resmi hari ini," lanjut Regan tanpa mengubah ritme napasnya. "Aparat bea cukai Tanjung Priok bakal menyegel seluruh armada truk bokap lu besok pagi jam sembilan tepat."
Bibir Tomy bergetar kecil. Rahasianya ditelanjangi begitu saja.
"Lu mending pulang sekarang, Tom," ucap Regan dingin. Ia kembali meraih pulpennya, membuka tutupnya dengan ketukan pelan. "Cek nomor manifes kontainer seri JKT-sembilan-tiga-nol-dua siang ini. Telepon bokap lu sebelum terlambat. Simpan tiket konser lu, jual nanti buat ongkos naik angkot bulan depan."
Nara menatap Tomy, lalu beralih menatap wajah tenang Regan. Ia menangkap ketakutan nyata yang tiba-tiba membekukan raut wajah Tomy.
Tomy berdiri dari kursi hingga posisinya terhuyung mundur menabrak meja sebelah. Tangannya meraba saku celana dengan panik, mencari Pager miliknya yang mendadak bergetar nyaring. Baris angka pesan masuk dari sekretaris bokapnya muncul di layar kecil.
*DARURAT. BEACUKAI PRIOK MASUK GUDANG UTAMA.*
Darah seakan tersedot habis dari wajah Tomy. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pemuda manis itu menyambar kaset Maxell miliknya di meja dan berlari kencang keluar dari pintu perpustakaan, meninggalkan kepulan debu di lorong rak buku.
Suasana sudut perpustakaan kembali sunyi. Hanya derit kipas angin gantung yang terdengar menggeram lambat.
Nara menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menghela napas panjang. Ia menatap Regan lamat-lamat dengan sorot mata yang dipenuhi rasa takjub sekaligus kebingungan yang pekat.
"Lu selalu tahu rahasia terdalam orang lain sebelum kejadian, Re," Nara membuka suara, nadanya melembut namun menuntut penjelasan. "Itu menakutkan buat ukuran cowok umur sembilan belas tahun."
"Gue cuma tahu siapa saja yang bakal menyakiti lu, Ra," jawab Regan flat. Ia menarik buku kas Nara mendekat, memeriksa lajur kolom angka lajur ganda yang sudah dikerjakan gadis itu. "Format neraca lu udah bagus. Selisih tiga juta dari agen Roxy sudah lu pisahkan ke kolom piutang berjalan."
Nara tidak membiarkan Regan mengalihkan topik pembicaraan. Ia condong ke depan meja, menumpukan kedua lengannya di atas kayu jati yang berdebu. Jarak wajah mereka menyempit, membiarkan aroma parfum melati murahan milik Nara kembali menguasai rongga penciuman Regan.
"Lu cemburu sama Tomy?" tembak Nara langsung, matanya menyela penuh selidik. Semburat merah muda muncul di kedua pipinya, namun ia menolak untuk memalingkan wajah.
Regan menghentikan gerakan pulpennya di atas kertas. Otak pria lima puluh delapan tahun di dalam dirinya menolak untuk berpura-pura naif khas remaja. Ia mendongak, mengunci iris cokelat terang gadis di hadapannya dengan intensitas predator yang sabar.
"Gue nggak cemburu sama orang yang bulan depan bakal gembel di jalanan, Ra," kata Regan, suaranya berat, stabil, mematikan semua ruang candaan. "Gue cuma memastikan lu tidak membuang waktu mendengarkan bualan kurator fiktif."
Nara tertegun. Jantung di tubuh mudanya berdegup lebih cepat menabrak tulang rusuk. Dominasi mental Regan selalu berhasil meruntuhkan seluruh perisai kemandirian yang selama ini ia pasang tinggi-tinggi di hadapan cowok lain. Rasa hangat yang ganjil menjalar di sekujur tubuhnya.
"Gue bisa menjaga diri gue sendiri, Re," bisik Nara, suaranya melemah namun tetap mempertahankan prinsip keras kepalanya. "Gue bukan cewek lemah yang butuh diselamatkan tiap jam."
"Gue tahu," Regan menutup buku kas kasir tersebut, menyodorkannya kembali ke pelukan Nara. "Lu cerdas. Lu punya nyali. Itu alasan kenapa gue mau menaruh modal sepuluh juta untuk agensi periklanan yang lu gambar di buku cokelat lu kemarin."
Mata Nara membelalak lebar, pensil kayu di genggamannya nyaris terlepas ke lantai. "Lu... lu serius soal modal itu? Lu dapet uang sepuluh juta lagi dari mana, Regan?!"
"Herman bakal datang ke rumah lu nanti malam membawa dokumen investasi resmi dari CV Net Baru Indonesia," Regan berdiri dari kursinya, menyampirkan tas ranselnya di satu bahu. "Urus legalitas kontraknya besok pagi. Jangan biarkan agensi iklan lu kalah cepat dari pemain Sudirman."