EKSKLUSIF HANYA DI NOVELTOON.
Jika menemukan di tempat lain artinya plagiat. Tolong laporkan🔥
Baru dua bulan menikah, Arumi Safitri harus rela mengikhlaskan kepergian suaminya yakni Letda Laut (P) Yuda Kusuma yang meninggal dalam tugas. Pahami jati diri sebagai prajurit angkatan laut bahwa air yang memiliki semboyan wira ananta rudira, yaitu tabah sampai akhir.
Hidup Arumi selepas kepergian suaminya, diterpa banyak ujian. Dianggap pembawa sial oleh keluarga suaminya. Ada benih yang ternyata telah bersemayam di rahimnya, keturunan dari mendiang suaminya. Beberapa bulan kemudian, Arumi terpaksa menikah dengan seorang komandan bernama Kapten Laut (E) Adib Pratama Hadijoyo hanya karena kejadian sepele yang menyebabkan para warga salah paham dengan mereka berdua.
Bagaimana kehidupan pernikahan Arumi yang kedua?
Apakah Kapten Adib menjadi dermaga cinta terakhir bagi seorang Arumi atau ia akan menyandang status janda kembali?
Simak kisahnya💋
Update : setiap hari🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 - Pertemuan Kedua
Enam bulan berlalu.
Keduanya tanpa sengaja bertemu kembali untuk yang kedua kalinya setelah kejadian perdebatan sengit kasus kehilangan tiket di dermaga. Kini keduanya berpapasan di sebuah jalanan yang cukup sepi dan masih berada di kawasan kota J.
Adib yang tengah mengendarai mobil pribadinya mendadak terkejut melihat seorang wanita yang wajahnya ia rindukan beberapa bulan terakhir ini. Selepas pertemuan pertama dengan Arumi, dirinya kembali bertugas seperti biasa. Kemudian ia harus berdinas di wilayah timur selama beberapa bulan. Alhasil ia baru kembali ke kota J karena dirinya akan menempuh pendidikan di Seskoal ( Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut ).
Di mana sekolah tersebut bertujuan mencetak para perwira siswa kalangan prajurit angkatan laut agar di masa depan menjadi pemimpin yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga memiliki integritas, inovasi dan mampu beradaptasi dengan situasi yang berkembang.
"Loh itu kan Mbak Judes. Ban motornya kenapa?" gumam Adib seraya memberhentikan mobilnya cukup jauh dari tempat Arumi berada agar tidak curiga.
Setelah ia melihat dengan seksama dari kejauhan, sepertinya ban motor Arumi tengah kurang angin atau kempes. Beruntung saat ini dirinya sedang free dan tidak memakai seragam dinasnya. Ia hanya mengenakan kaos polo tanpa motif warna biru navy.
"Sepertinya dia butuh bantuan. Kasihan anak orang lontang-lantung di jalanan sepi begini," batin Adib yang iba melihat Arumi resah dan bingung.
Ia pun segera mengambil masker dan kacamata hitam miliknya yang memang selalu ada di tas ranselnya. Namun ia lupa membawa topinya. Alhasil ia menyambar jaket parasit miliknya yang punya topi di bagian atasnya.
Setelah siap dengan penampilannya yang tak akan mudah dikenali Arumi, ia pun menekan pedal gasnya lalu mobilnya berjalan perlahan menghampiri tempat Arumi berada. Dirinya sengaja belum mau menunjukkan identitas dan wajahnya dengan blak-blakan pada Arumi.
Keyakinannya masih setipis tisu. Terlebih dirinya belum pernah pacaran dan juga belum mengenal Arumi lebih dalam. Lalu ia menepikan mobilnya, setelah itu keluar.
☘️☘️
"Eh, ketemu Mbak Judes di sini. Motornya kenapa, Mbak?" tanya Adib sekaligus menyapa wanita yang mengusik hatinya beberapa waktu terakhir ini.
Arumi yang tengah melihat ban motornya, mendadak terkejut kala telinganya seakan familiar dengan suara yang menyapanya sekarang. Namun batinnya ragu. Ia pun mendongak dan melihat sosok yang penampilannya mirip laki-laki iseng beberapa bulan lalu tetapi ia tak begitu yakin.
Wajarlah jika Arumi meragu karena keduanya sudah enam bulan tak bertemu. Terlebih setiap hari Arumi bertemu dengan banyak penumpang di dermaga dengan karakter dan problem yang berbeda-beda. Terlebih Adib bukan temannya juga. Hanya orang asing di benaknya yang tak sengaja bertemu.
"Siapa kamu?" tanya Arumi.
"Wah, Mbak Judes amnesia ya. Memangnya apa ada orang lain yang manggil kamu dengan sebutan yang sama denganku?"
Seketika otak Arumi berpikir cepat dan tertuju pada seseorang yang menyebalkan.
"Jadi, ini kamu. Laki-laki messyuumm bin iseng di dermaga tempo lalu,"
"Selamat, Mbak Judes. Anda benar. Dapat sebungkus kuaci dari aku. Nanti kubelikan di mini market kalau ada di depan ya. Hehe..."
"Ngapain kamu ke sini? Ganggu saja. Pergi sana," usir Arumi.
"Loh piye toh, Mbak. Aku datang dengan niat baik loh. Ban motornya kenapa? Bocor?" tanya Adib.
"Aku, enggak butuh bantuan kamu." Arumi menolaknya.
"Mbak pasti mau berangkat kerja. Nanti terlambat loh kalau enggak segera ditangani motornya. Kalau terlambat nanti kena potong gaji loh. Kan sayang, Mbak." Adib langsung paham situasi jika Arumi akan berangkat kerja. Sebab, Arumi mengenakan seragam kerja dan sudah dandan rapi saat ini.
Adib pantang menyerah. Ia pun langsung j0ngkok dan mengecek ban motor milik Arumi tanpa menunggu bantahan dari sang pemiliknya. Tidak bocor, hanya saja kurang angin. Jika motor kurang angin seperti ini cukup berbahaya untuk melanjutkan perjalanan. Beruntung Arumi berhenti sejenak guna memastikan motornya. Dan di daerah tersebut sangat jauh dari tukang pompa ban.
"Motornya kurang angin, Mbak. Saya coba bantu. Kebetulan di mobil ada pompa elektrik khusus buat ban kendaraan," jawab Adib usai mengecek ban motor milik Arumi.
Tanpa menunggu Arumi berbicara, Adib menuju ke mobilnya lalu membawa sebuah pompa ban elektrik warna hitam berukuran kotak sedang namun multifungsi. Arumi hanya bisa terpelongo melihat ini semua.
"Apa dia orang kaya? Beli tiket kelas VIP, punya mobil bagus, eh sekarang bawa pompa ban elektrik yang seumur-umur aku enggak tahu ada alat canggih model begini. Mainku hanya sebatas ke tukang pompa ban di jalan yang harganya cuma lima ribu perak doang," batin Arumi.
☘️☘️
Adib pun langsung melakukan tugas dadakan menjadi tukang pompa ban motor Arumi.
"Kamu anak orang kaya ya?" tanya Arumi yang mulai curiga pada Adib.
"Maksud Mbak?"
"Mobilmu bagus, bisa beli tiket VIP terus bawa alat pompa ban canggih begini yang pasti harganya sangat mahal. Benar bukan?"
"Haha..." Adib langsung tertawa.
"Saya bukan anak orang kaya, Mbak. Tiket VIP kapal yang waktu itu hilang, saya belinya pun ngutang ke majikan. Biar saya bisa pulang kampung. Nanti bayarnya dipotong dari gaji. Mobil ini bukan punya saya tetapi punya majikan. Pekerjaanku cuma sopir pribadi, Mbak. Ini pompa mahal juga punya majikanku, pemilik mobil ini. Yang penting kerja halal, Mbak. Daripada nganggur toh," ucap Adib terpaksa berbohong. Ia hanya ingin mengetes Arumi tipe wanita seperti apa.
"Oh, begitu. Ternyata sopir toh," ujar Arumi.
"Kenapa Mbak? Apa ada masalah dengan pekerjaanku yang mungkin terlihat di mata sebagian orang, rendahan ya Mbak?"
"Oh, bukan begitu Mas. Saya tidak pernah menganggap pekerjaan sopir itu rendahan kok. Cuma saya terkejut saja dengan pekerjaan Mas ternyata sopir pribadi. Soalnya saya agak anti dekat-dekat sama orang kaya," jawab Arumi berusaha meluruskan pada Adib agar tidak salah paham dengan ucapannya barusan.
"Dapat pacar atau suami orang kaya enak loh, Mbak. Tinggal duduk manis terus kipas-kipas uang yang sangat banyak. Uangnya enggak pakai seri. Hehe..."
"Saya cuma dari keluarga tak berpunya, Mas. Jadi, ya cari pasangan yang sederajat saja. Tak perlu muluk-muluk ketinggian. Takutnya nanti dihina-hina dan direndahkan hanya karena saya miskin," jawab Arumi.
Bip...
Suara pompa elektrik ban pun berbunyi. Menandakan telah selesai memompa.
"Nah sudah selesai. Maaf sebelumnya, saya harus pergi jemput majikan. Mbaknya juga segera harus berangkat kerja kan. Pamit dulu ya, Mbak. Hati-hati di jalan," ucap Adib sedikit terburu-buru seraya menenteng pompa elektriknya dan berjalan menuju mobilnya.
Arumi yang saat itu sedang tak fokus, terlambat menyadari mobil Adib sudah pergi dari sana.
"Ya ampun, aku lupa tanya namanya siapa. Mana belum ucapin makasih," gumam Arumi terdengar lesu dan merasa tak enak hati pada laki-laki iseng tersebut yang justru baru saja membantunya secara sukarela di jalan.
Bersambung...
🍁🍁🍁
MAAF YA THOR AKU KADANG KASAR NGOMONGIN KEL TOXIC HABIS EMOSI GREGETAN 🙈😂