Menjadi berbeda bukanlah menyenangkan bagi Tazkia, gadis kelas sebelas yang baru saja pindah ke sekolah asrama. Sebab dengan berbeda, ia harus berurusan dengan makhluk-makhluk astral yang selalu mengganggunya.
Di tempat baru, Kia berharap bisa hidup normal. Tapi nyatanya, ia malah mendapat teror arwah bayi setiap malam. Apa sebenarnya yang diinginkan ruh bayi itu dari Kia? dan bagaimana cara Kia mengatasi gangguan ini?
***
Sambung silaturahmi yuk. 😁
Ig: @eriyyalma_4
TT : ERiyy Alma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TBB 28
SMAHI 2024
Motor melaju pelan di tengah kota, berputar entah yang keberapa kalinya, tapi Husin dan Nia belum juga menemukan keberadaan Dewa.
“Dek, kita coba ke arah sana,” tunjuk Nia pada sebuah pertigaan, tempat itu sepi tapi ia ingat disana ada jembatan dengan pemandangan malam yang indah, Dewa suka mengajaknya kesana dulu saat masih pengantin baru.
Husin mengangguk, membelokkan motornya menuju tempat sepi yang dimaksud sang kakak. “Kak, kakak baik-baik saja kan? perutnya udah nggak sakit kan?”
“Alhamdulillah sudah sembuh Dek, ini juga sudah mulai normal.”
“Kakak tahu, itu mirip santet kak menurutku. Sebenarnya siapa sih kak yang buat kakak seperti ini? tidak, maksudku aku nggak paham dengan apa yang terjadi, kakak bisa jelaskan?”
“Ceritanya panjang Dek, nanti aja. Sekarang kita fokus temukan kak Dewa dulu ya,” pinta Nia.
“Ini juga, lagian kak Dewa kemana sih? istrinya sakit malah keluyuran.”
“Maaf Husin, kamu akan tahu semuanya nanti, tapi kakak mohon jangan terkejut.”
Husin memilih diam, meski sebenarnya ia sudah sangat penasaran dengan maksud sang kakak. Motornya berhenti tepat di samping jembatan, sepi hampir tak ada satupun kendaraan yang lewat di tempat itu, padahal pemandangan di sisi jembatan tampak sangat indah, banyak tanaman bunga bermekaran yang menimbulkan aroma wangi di sekitar.
“Sepi kak, nggak ada orang,” kata Husin, menatap sekeliling dengan seksama. Nia turun dari motor, berjalan pelan di sepanjang jembatan, sedangkan Husin mengikutinya pelan dari atas motor. Langkah kaki Nia mendadak terhenti, air mukanya tiba-tiba berubah seolah melihat sesuatu yang mengejutkan.
Husin mengikuti arah pandangannya, dan menemukan sang kakak ipar tengah menatap sungai besar dibawah jembatan, dan seorang wanita yang hendak mendorongnya dari arah belakang.
“Mas Dewa!”
Suara Nia menggema, menghancurkan keheningan malam. Hal itu tentu menarik atensi pasangan suami istri itu, lebih-lebih Nur yang tampak salah tingkah.
“Nia? kok kamu disini? ngapain kamu nyusul mas, kamu kan sakit.” Dewa berjalan pelan mendekati istri pertamanya, wajahnya tampak khawatir. Namun seolah baru sadar, Dewa segera mundur dan merangkul pundak Nur.
“Mas Dewa, siapa dia?” tanya Husin, tak terima melihat kakak iparnya memeluk wanita lain, apalagi itu di depan sang kakak, “kenapa mas memeluknya di depan kami? mas sudah gila ya!” hardik Husin lagi.
“Ssst, Dek, kan kakak sudah bilang, jangan terkejut.”
Tangan Husin terkepal, ia sangat marah melihat semuanya. Tapi, entah kenapa melihat pandangan wajah Dewa yang seolah layu Husin bisa menyimpulkan apa yang terjadi. Orang normal tak akan berbuat seperti ini, pasti ada segan dan malu, tapi kakak iparnya tak malu sama sekali.
“Mas, kita pulang ya. ayah dan ibu sudah di rumah, mas diminta untuk segera pulang.”
“Sekarang?”
“Ya, sekarang. Ayo Nur, tunggu apalagi. Jangan cegah mas Dewa, kita semua ditunggu jadi jangan buang-buang waktu.”
Nia berbalik badan, berjalan menuju motor Husin seraya membuka ponsel, mengetikkan beberapa pesan untuk mertuanya. Ayah dan dua ibu mertua sangat menyayanginya, tak sulit membuat mereka datang jika itu ingin Nia. Meski beberapa waktu lalu tiba-tiba mereka merestui hubungan Dewa dan Nur di belakang Nia.
“Eh mas, boleh Nia gabung di mobil saja? ini sudah malam, anginnya terlalu kencang. Nia takut makin sakit nanti.” Tiba-tiba saja Nia berbalik badan dan meminta bergabung di dalam mobil bersama mereka.
“Baiklah, ayo,” jawab Dewa.
“Dek, kamu pulang sendiri ya.” Nia tersenyum penuh arti saat mengucapkan satu kalimat ini. Dan detik itu juga mereka berempat kembali ke rumah, dengan motor Husin memimpin di depan dan mobil Dewa mengikutinya di belakang.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di gerbang rumah, saat itu jam dinding menunjukkan hampir pukul sepuluh malam, Nia harap-harap cemas mertuanya akan datang. Ia tak ingin Dewa tau bahwa dirinya berbohong.
Keberuntungan kali ini memihaknya, ayah dan ibu Dewa ternyata telah menunggu mereka. Nia merasa sangatlah lega, sebab di perjalanan tadi ia memang dengan sengaja mengulur waktu dengan minta mampir-mampir ke beberapa toko untuk memberi kesempatan mertuanya datang.
Benar saja, tanpa banyak bertanya raut wajah ayah dan ibu Dewa sudah sangat bisa dibaca. Di samping mereka masih ada Lastri, Dara, Kia, Zaina dan Shella, Nia yakin lima perempuan itu pasti sudah menceritakan segalanya.
“Assalamualaikum, ayah ibu.” Dewa dan Nia segera sungkem, tampak bahagia melihat kedatangan mereka. Hanya Nur yang tampak sedih dan ingin segera berlalu. Hal itu membuat dua ibu Dewa segera mencegahnya.
“Tunggu Nur, duduklah. Ada yang ingin ibu katakan pada kalian,” ucap Bu Endang tegas.
“Nur, ibu akan langsung saja pada intinya. Apa benar kamu adalah Cahya? gadis yang melahirkan bayinya di kamar mandi asrama beberapa tahun lalu? dan apakah benar kamu juga yang membuat Nia sakit dan bahkan hendak mencelakai suamimu sendiri?”
“A-Apa maksud ibu? Nur nggak ngerti deh,” ucapnya berlagak bodoh.
“Mengaku saja Nur, kami sudah tahu semuanya. Ayah sudah meminta bagian pengelola data untuk mencari data lengkapmu, dan memang benar adanya kamu adalah Cahya. Apa yang kamu inginkan dari merusak keluarga putra kami?”
“Ibu, ayah apa bukti yang kalian miliki menuduhku seperti itu? didunia ini bahkan banyak orang mirip. Lagian membuat mbak Nia sakit? bagaimana itu caranya? kalian semua tega menuduhku yang bukan-bukan.”
Saat itu juga, Nur berpura-pura menangis. Dewa yang tak tahu menahu hendak membela istri keduanya. Tapi sigap Lastri berdiri dan mengaku sebagai saksi. Disusul beberapa gadis lain dan juga Husin.
“Kamu tak bisa lagi berbohong Nur,” sambung pak Hadi, ayah Dewa.
“Oke, oke, baiklah aku mengaku. Aku memang berniat mencelakai Nia, karena aku tak suka wanita ini! dia jahat! tapi, satu yang kalian salah besar. Aku bukan Cahya! aku memang Nur, hahahahaha.”
Tawa berderai dari mulut Nur, semua yang hadir dalam ruangan pun merinding mendengar suara tawa Nur yang seolah berubah, bahkan Dewa tiba-tiba saja merasa pusing sebab baru saja minum air yang diberikan Lastri padanya.
“Apa maksud kamu dengan kalimat bukan Cahya?” tanya Nia
“Itulah, kalian memang bodoh! entah dulu atau sekarang. Aku benci kalian semua!”