Kisah cinta dua remaja yang membawa mereka pada impian untuk sehidup sesurga.
“Lima tahun lagi aku akan datang melamarmu, tunggu aku” kalimat itu meluncur begitu lantang dari lisan seorang pemuda berseragam putih abu, di hadapannya seorang perempuan berjilbab putih yang menjulur menutupi hampir seluruh tubuhnya tengah tertunduk malu.
“Tak perlu mengikatku dengan janji. Bila aku takdirmu, kita pasti akan bertemu. Untuk sekarang, kita kerjakan bagian kita masing-masing, aku dengan hidupku, kamu dengan hidupmu. Perihal temu, datanglah bila sudah benar-benar siap. Itu juga bila belum ada yang mendahuluimu.” Helaan nafas terdengar menjadi pamungkas dari ucapan gadis itu.
Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia?
Atau justru hadir orang yang mendahului?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lailatus Sakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Lega
Sesakit apapun hari ini, selama Allah menghendaki ruh masih menyatu dengan jasad maka selama itu pula hidup masih berpihak pada kita. Sejatuh apapun hari ini selama Allah menghendaki kita bertahan maka tidak ada alasan untuk menyerah.
Rencana semasa putih abu-abu Ariq ternyata tidak semulus yang dibayangkan. Kerinduan yang sengaja ditabung selama lima tahun kini harus dikubur dalam-dalam, cinta yang dimilikinya sudah tak layak dia tujukan pada orang yang sama, Allah sudah menjodohkan pujaan hatinya dengan laki-laki lain dan dirinya hanya menjadi serpihan masa lalu yang berakhir dengan kenangan.
Selalu ada momen indah dari setiap perjalanan, walaupun akhirnya hadiah dari waktu adalah kenangan.
Ariq tiba di kantor tiga jam lebih lama dari seharusnya. Dia meminta Mirza mengantarnya ke sebuah tempat yang cukup jauh dari hiruk pikuk suasana perkotaan. Sebuah danau buatan di pinggiran kota menjadi tempat yang ditujunya.
Setibanya di sana Ariq turun dari mobil tanpa kata, dia berdiri di tepian danau memandang riak air yang tersinari matahari pagi.
Berdiri dengan kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celananya, hanya itu yang Ariq lakukan selama hampir satu jam. Mirza tidak berani mengganggu, dia memilih tetap berada dalam mobil mengawasi dari jarak yang cukup terjangkau penglihatannya sambil mengecek beberapa email yang masuk melalui ponselnya.
Brugh ...Ariq menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Sejak membaca langsung surat undangan pernikahan Kamilia yang tertuju pada dirinya, keadaan hati dan pikirannya kacau. Terlihat dari raut wajah yang tidak lagi menampakkan senyumnya.
Wajah rupawan nan ramah itu kini tiada, sejak memasuki pintu lobby rumah sakit, beberapa karyawan yang menyapanya diabaikan begitu saja. Mirza yang akhirnya menjawab setiap sapaan dari para pegawai rumah sakit.
"Maaf Pak, jadwal Bapak hari ini ..." sekretaris Ariq datang tanpa disadarinya.
"Batalkan semua agenda hari ini, keluarlah, aku tidak mau diganggu dan tolong jangan biarkan siapapun masuk ke sini" dengan nada datar Ariq memberi perintah, sang sekretaris mengerutkan keningnya heran dengan perubahan sikap sang direktur yang menurutnya berubah drastis.
Mirza menghembuskan nafasnya kasar mendengar penjelasan sekretaris Ariq yang mencegahnya saat akan masuk ke ruangan atasan sekaligus sahabatnya itu, dia faham suasana hati Ariq saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Hari berlalu, berganti setiap detiknya tanpa bisa di jeda walau sejenak. Apa yang terjadi dalam hidup Ariq telah merubah dirinya. Sadar atau tidak kehilangan yang dirasakan Ariq terlalu sakit untuk bilang jika dirinya baik-baik saja dan dengan jelas semua orang dekatnya merasakan perubahan sikap Ariq saat ini.
Wajah tampan yang selalu tersenyum, menyapa ramah pada setiap orang yang ditemuinya kini benar-benar menghilang. Waktunya pun lebih banyak dihabiskan untuk bekerja. Pernah beberapa kali dia bahkan sampai lupa pulang hingga sang mommy heran sekaligus khawatir dengan perubahan sikap putranya itu.
"Assalamu'alaikum" Tiara memasuki ruang kerja sang putra dengan tersenyum lebar, dia melihat Ariq sangat serius menekuri berkas yang ada di hadapannya, sampai tidak menyadari kedatangan sang mommy terbukti tak ada jawaban salam dari Ariq.
Saat ini Ariq sedang berada di kantor pusat El-Malik Grup, sebagaimana kesepakatannya dengan sang ayah jika dirinya akan mulai terjun ke perusahaan dan dalam jangka waktu enam bulan akan memahami dan mengambil alih semuanya, bukan hanya rumah sakit.
'Lho, mommy ...kapan datang?" Ariq menyimpan berkas-berkas yang sedang dipegangnya ke atas meja, dia berdiri dan keluar dari balik meja kerjanya menuju sang mommy yang berdiri tepat di hadapannya.
Tiara hanya tersenyum, kedatangannya ke kantor untuk memastikan jika ada yang berubah dari Ariq akhir-akhir ini, kini dia pun menyimpulkan jika putranya sedang tidak baik-baik saja. Kalau sudah pasti begini, Tiara tinggal bertanya pada Mirza.
"Baru saja, kamu terlalu fokus sampai gak jawab salam mommy" Tiara menerima pelukan sang putra dan mereka pun bercipika cipiki.
"Maaf mommy ..." cicit Ariq sembari memalingkan wajah, tak ingin kegalauannya terlihat Tiara.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Tiara mengusap bahu sang putra yang tampak lelah,
"Boleh mommy mendengar ceritamu? Ada apa, curhat dong Kak!" seru Tiara lembut, dia menuntun sang putra untuk ikut duduk di sofa dan Ariq pun menurut.
"Mommy ..." Ariq tampak ragu, selama ini dia memang selalu terbuka tentang apapun pada mommy nya kecuali satu tentang kisah asmaranya.
"Bicaralah Kak, mommy siap mendengarkan" Tiara masih menatap sang putra dengan tatapan meyakinkan jika dirinya akan menjadi pendengar yang baik.
Ariq menundukkan kepala, matanya tiba-tiba memanas, namun dia berusaha keras menahannya, tak ingin terlihat lemah di hadapan sang mommy yang berujung pada kekhawatiran wanita yang sangat disayanginya itu.
"Haha ..." Ariq mendongak dengan tertawa sumbang, dia benar-benar berusaha keras menyembunyikan kesedihannya.
"Mommy, mommy sekarang harus tahu kalau putra mommy ini ternyata sudah dewasa sekarang Mi, putra mommy ternyata sudah bisa merasakan sakit" Ariq menjeda ucapannya dengan kembali terkekeh,
"Aku sakit My ..." lanjut Ariq,
"Sakit yang enggak bisa dijelaskan" Tiara memilih diam mendengarkan sang putra mengeluarkan unek-unek di hatinya.
"Sudah lama aku jatuh cinta, My, sejak SMA, dia adalah wanita pertama yang membuat aku ingin menyayanginya setelah mommy, kakak dan adik-adik. Tapi ..."
"Tapi rasa sayang yang aku rasakan padanya berbeda, aku ingin selalu melindunginya, aku ingin memilikinya dan aku ingin membahagiakannya. Hatiku merasakan rindu saat berjauhan, bergetar saat berdekatan. Itu artinya cinta kan Mi?" tanya Ariq memastikan perasaannya pada sang mommy dan dijawab anggukan oleh Tiara.
"Dan karena itu cinta, ternyata sesakit ini ketika kehilangannya, Mi" Ariq kembali menundukkan kepalanya,
"Sakit sekali rasanya Mi, dada ini terasa sesak"
"Ternyata putus di usia matang, padahal dia adalah harapan untuk tempatku pulang, energiku rasanya habis Mi" Ariq semakin menunduk menopang wajah dengan kedua telapak tangannya.
Tiara mengusap-usap bahu Ariq, memberi ketenangan untuk putra tersayangnya itu.
"Jadi putra mommy benar-benar sudah dewasa ya, sudah merasakan jatuh cinta dan merasakan sakitnya juga" hibur Tiara, dan berhasil Ariq membuka telapak tangannya sambil terkekeh malu dengan penilaian mommy nya.
"Tapi kalau boleh mommy tahu? Kenapa kalian putus?" tanya Tiara penasaran,
"Dia sudah menikah dengan orang lain Mi, aku bukan jodohnya" Ariq mengatakan itu sembari beranjak, dia kembali ke meja kerjanya dan mengambil cangkir kopi yang sudah tampak dingin.
"Sudahlah mommy, jangan khawatir, seiring waktu aku akan baik-baik saja, semua yang terjadi adalah qadarullah. Mommy tenang ya, lebih baik sekarang kita ngeteh, mommy mau teh apa?" Ariq mengalihkan pembicaraan, setelah bercerita pada sang mommy ada sedikit kelegaan dalam hatinya. Sejak dulu apapun masalah yang dihadapinya akan lebih tenang setelah bercerita pada sang mommy.
Tiara tersenyum menerima ajakan putranya, untuk saat ini dirinya cukup menjadi pendengar yang baik saja dulu. Nanti jika sudah tepat dia akan bertanya banyak hal pada Mirza sahabat Ariq yang sudah dianggap seperti anak olehnya dan suami.
Ariq melangkah menuju mejanya, menekan interkom dan memerintahkan sekretarisnya untuk membuatkan teh untuk sang mommy dan dirinya.
'Sesudah tahu bahwa kamu adalah takdir orang lain, sebaiknya memang berhenti berharap. Jika tidak maka aku selamanya hanya akan menyiksa diri. Berusaha ikhlas itu harus, meski hati belum seutuhnya merela' Ariq menghembuskan nafasnya kasar seiring monolog di hatinya usai.
nyesek banget saya thorr.
dl mantan lakiku jg gt, pas bebenah nemu foto mantan cewenya. Malah di motor yg sering dinaikin bareng masih ada stiker nama mantan. Dan waktu itu aku ga ambil pusing untungnya aku jg ga baper, yg penting sikap pasangan
LUAR BIASA, DEEP banget kisahnya.
Konsepnya bagus banget.
Alur dan konfliknya fokus ga kemana2 bikin tenggelam di ceritanya.
Dijamin baper, aku ampe terngiang2 walau udh selesai baca.
Bahasanya rapi bgt lagi.
MAKASI KAK udah luangin waktu, pikiran, perasaan ke karya ini.
SEHAT SELALU, MAKIN SUKSES, BAHAGIA ❤️
Kalo boleh saran kak, misal ada spin off atau sequel gitu ditulis di deskripsi. Biar enak baca sesuai urutan walau sebenernya ga tll masalah sih tp jd nyaman.
Tp ga mengurangi rasa kagum dan terimakasihku untuk karyanya ❤️
Semoga ada cctv dan liat plat motornya