“Hhmmm… wangi,” lirih seorang pria tua usai menceruk leher gadis yang ada di depannya.
Menatap lamat. Diam-diam mengagumi iras cantik mempesona milik gadis ranum tersebut. Tersenyum miring, sembari membayangkan hal indah yang selanjutnya akan ia lakukan ketika sudah berhasil membuat gadis itu sadar.
Membelai rambut. Ujung helai lurus itu kemudian di pilin, memainkannya. Tak lupa juga ikut ia endus, menikmati sensasi aroma segar yang menguar. Cukup menguji adrenalin, mendegupkan detak jantung dua kali lipat dari biasanya.
“Kau sangat cantik, Naira. Sudah sejak dulu aku menunggu saat-saat seperti ini bisa bersamamu.” Lelaki tua itu kembali berujar, lirih dengan suara serak, akibat tekanan batin yang kian membuncah. Tak sabar ingin melahap habis makan malamnya yang kali ini sudah ditunggu sejak lama.
Apa yang selanjutnya akan terjadi pada Naira? Penasaran ingin tahu cerita selengkapnya? Kalau begitu yuk ikuti segera kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F A N A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TMTK — BAG 28
“Apa yang sudah anda lakukan? Kenapa kita jadi menginap di sini? Seharusnya saya pulang. Saya harus membersihkan rumah untuk menyambut kepulangan Mamak dari rumah sakit,” ucap Naira.
Saat kini keduanya sudah berada di dalam sebuah ruangan yang cukup privasi. Kamar Boy jika ia menginap di rumah Halbert.
Boy berdecak. Kalimat Naira menyunggingkan senyumnya. Berani-beraninya bertanya. Apa gadis itu lupa akan statusnya?
“Hei… apa kau lupa? Kau itu sudah sah menjadi istriku sekarang. Jadi, apapun yang aku lakukan dan inginkan, tidak ada hak mu untuk menolak. Termasuk menghabiskan sepanjang hari kita di rumah ini,” ucap Boy memperingatkan.
“Tapi anda sudah keterlaluan, Tuan. Anda telah merampas banyak hak dalam hidup saya. Anda sudah,—”
Cup!
Kecupan itu berhasil membungkam mulut Naira. Bergerak sangat liar bahkan sampai membuat gadis muda itu kesulitan bernafas. Sungguh diluar prediksi, atau mungkin memang seperti ini caranya? Tidak mau mendengarkan keluh kesahnya dengan langsung melakukan hal mesum ini terhadapnya?
Naira berusaha berontak. Kedua tangannya berusaha mendorong tubuh tegap Boy yang hampir mengungkungnya. Langsung ditarik kedua tangan Naira oleh Boy dengan menahan pergerakan tangannya. Membawa keduanya pada belakang pinggang dan mencengkeramnya dengan kuat di sana.
Bukan tanpa alasan. Boy melakukan hal tersebut karena kini maniknya menangkap siluet manusia yang berdiri di depan pintu kamarnya. Perlahan membuka daun pintu berukir nan tinggi itu. Pasti sedang berusaha curi dengar tentang apa yang saat ini sedang ia lakukan berdua dengan Naira.
“Cup… cup… cup… cup!” Tidak memberi jeda. Bahkan kini Boy sudah menyibak atasan kebaya yang Naira kenakan, sembari kedua matanya terus menilik ke arah depan—yang akhirnya ia tangkap jika itu Chintya!
Naira meradang. Gadis muda itu benar-benar dibuat resah oleh tindakan Boy sekarang. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menganggap Boy orang yang tak punya hati. Sedang membahas apa, malah melakukan apa? Hanya mementingkan keinginan bi rahinya saja!
‘Dasar pria tua. Apa yang sudah ia lakukan? Kenapa ia harus melakukan hal ini padaku? Kenapa aku harus berakhir dengannya!’
Sementara Boy semakin bringas. Naira yang sudah tak kuasa memberontak hanya bisa pasrah. Berbeda dengan Chintya yang saat ini malah semakin cemas. Tidak kuasa membayangkan kelanjutan apalagi yang akan dilakukan oleh Kakak Sepupunya itu terhadap istrinya.
Chintya geram. Ia gelisah. Sama sekali tidak menginginkan adegan malam itu kembali berulang. Dan ternyata benar seperti apa yang pernah Boy katakan padanya, jika hal tersebut bukanlah murni has rat terlarang Naira. Melainkan diri Boy sendiri yang terlalu bernaf su terhadap gadis muda tersebut.
Chintya memejam. Sejenak membayangkan posisinya ada pada diri Naira. Sangat menyenangkan sembari memegang lehernya, daerah yang saat ini menjadi area kekuasaan Boy mengecup gemas sampai meninggalkan tanda merah di sana.
Sejenak ia tersadar. Ia tidak boleh membiarkan hal yang seharusnya menjadi miliknya itu benar-benar dimiliki oleh gadis sialan itu. Segera membuka pintu, meski sedikit agak takut terhadap hentakan Boy seperti tempo hari.
Tapi tak apa. Bukankah area ini merupakan area kekuasaan Kakeknya? Jadi nanti ia bisa meminta bantuan Halbert dalam melawan ocehan Boy. Sehingga kini ia tidak perlu khawatir dalam melakukan misinya untuk memisahkan dua orang yang sudah sah menjadi pasangan suami istri tersebut!
“Kak Boy hentikan!” sentak Chintya yang saat ini sudah berdiri dengan sangat lantang di antara per cum buan Boy dan Naira.