Rumput liar itulah julukanku
Cacian, hinaan dan makian menjadi makanan sehari–hari Raisa
Memiliki otak yang cerdas dan wajah cantik justru membuatku menjadi sasaran bullying bagi semua orang hanya karena kondisi keluarganya yang miskin
Setelah kembali dari kematian tragisnya Raisapun bertekad untuk membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakitinya dimasa lalu, terutama mencari dalang dibalik kematianku yang mengenaskan
Mata dibalas dengan mata, siapapun yang menyakiti dirinya dan keluarganya akan Raisa balas berkali - kali lipat
Dengan bantuan kekuatan kalung liontin biru yang dia temukan sebelum kematian menjemputnya dan kini telah menyatu dalam tubuhnya, Raisa pun mulai membalaskan dendamnya satu persatu
Dalam perjalanannya membalas dendam,Raisa banyak menemukan fakta yang mengejutkan salah satunya adalah fakta jika dia dan sang kakak adalah pewaris asli keluarga Wu yang sedari awal berusaha untuk disingkirkan.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERDEBATAN KECIL
“Apa maumu ?", tanya Laura sinis.
“ Laura, kenapa kamu jadi begini ?”
“Ada apa denganmu ?”, tanya Caterine binggung.
Sejak datang, Laura yang biasanya banyak berbicara dengannya tiba-tiba saja mengacuhkannya.
Bahkan sikap gadis itu begitu dingin kepadanya hingga membuat Caterine merasa ada yang salah dengan Laura sehingga diapun menarik gadis itu ke belakang sekolah untuk menginterogasinya.
"Ayolah Laura, katakan padaku ada apa ?"
"Jangan membuatku khawatir seperti ini ?",ucap Caterien dengan kedua mata berkaca-kaca.
Air mata dan menampilkan wajah penuh kesedihan selalu menjadi senjata ampuh Caterine untuk digunakan kepada lawan bicaranya demi bisa mendapat simpati dari mereka sehingga pada akhirnya mereka pun luluh dan menuruti semua keinginannya.
“Disini hanya ada kita berdua jadi jangan bersandiwara karena itu membuatku muak”, jawab Laura tajam.
Laura menatap Caterine dengan dingin karena menganggap jika kesialan yang didapatkannya karena kesalahan gadis itu.
Sebagai orang yang sudah mengikuti Caterine sejak sekolah dasar Laura sangat tahu bagaimana watak asli gadis itu.
Semua hal yang Caterine tampilkan dipermukaan selama ini hanyalah topeng penuh kepalsuan.
Gadis itu akan terus berakting dimanapun dan kapanpun, bahkan bersama keluarganya dia juga akan mengenakan topeng untuk menarik simpati.
Laura bisa melihat wajah asli Caterine juga tanpa sengaja dan tentu saja hal itu membuatnya memperlakukan Laura sedikit berbeda dari yang lain karena mengetahui rahasia yang dimilikinya.
“Bukan seperti itu Laura”
“Aku benar–benar mencemaskanmu karena kamu sama sekali tak ada kabar setelah pergi ke club malam itu”, ucap Caterine dengan wajah sedih.
Melihat Caterine masih saja bersandiwara sebagai sahabat baik yang mencemaskannya membuat Laura memutar bola matanya dengan malas.
“Tak ada yang ingin aku katakan kepadamu, jadi berhentilah menggangguku”, ucap Laura ketus.
Setelah mengatakan hal tersebut Laura pun berjalan sambil menabrak sebagian bahu Caterine dengan kasar dan berlalu, meninggalkan Caterine yang masih membeku ditempat.
“Apa yang sebenarnya terjadi ?"
“Kenapa sikap Laura berubah seperti itu ?”, batin Caterine resah.
Untuk mencari tahu apa yang membuat sikap Laura berubah, Caterine pun segera menghubungi kedua temannya yang dia perintah untuk membantu Laura masuk kedalam club.
Sisil dan Gina hanya mengatakan bahwa mereka tak tahu apa yang terjadi dengan Laura karena setelah masuk keduanya meninggalkan Laura menjalankan misinya sendiri.
Tentu saja semua yang Sisil dan Gina ungkapkan adalah kebohongan. Mereka tak bodoh dengan mengatakan hal yang sesungguhnya karena itu berkaitan dengan Alfonso, teman dari sugar daddy mereka.
“Brengsek !!!”
“Kenapa semua hal selalu kacau seperti ini !!!”, guman Caterine penuh amarah.
Sambil menghentakkan kakinya beberapa kali ditanah, Caterine pun meninggalkan halaman belakang sekolah dengan wajah gelap.
“Apa cukup menarik menonton pertunjukan sambil makan mangga seperti itu ?”, tanya Bagas dengan senyum mengejek.
Bukannya menjawab, Raisa malah turun dari pohon mangga dan berlalu pergi mengabaikan Bagas yang hanya bisa menatapnya dengan geram.
“Sial !!!”
“Lihat saja Raisa, aku akan membuatmu mencintaiku seperti dulu lagi”
"Dan jika saat itu tiba maka jangan harap kamu bisa lepas dariku", batin Bagas penuh ambisi.
Bel pulang telah berbunyi, Raisa dan Lili yang baru saja keluar dari gerbang sekolah tiba–tiba dihentikan oleh sebuah mobil mewah yang melintas disamping keduanya.
Turun seorang lelaki paruh baya dengan pakaian formal yang langsung membungkuk hormat kepadanya membuat Raisa mengkerutkan kening sejenak, berusaha untuk menggali ingatannya mengenai sosok yang ada dihadapannya saat ini.
“Selamat siang nona Raisa, perkenalkan saya Marco assiten tuan Alexander. Saya kesini ditugaskan untuk menjemput anda”, ucapnya sopan.
Kasak–kusuk pun mulai terdengar karena Raisa dan Lili berasal dari keluarga miskin yang tinggal diwilayah kumuh, jadi begitu ada mobil mewah yang menjemputnya tentu saja hal itu menimbulkan banyak tanda tanya dibenak para siswa yang melihatnya.
“ Maaf, saya tidak mengenal anda dan tuan anda jadi saya tidak bisa pergi”, jawab Raisa tegas.
Marco hanya tersenyum mendengar penolakan yang diberikan oleh Raisa yang menatapnya dengan waspada.
“Tuan Alexander adalah lelaki yang anda selamatkan kemarin malam nona dan saya kemari ditugaskan untuk menjemput anda karena tuan ingin memberi ucapan terimakasih kepada anda”, ucap Marco menjelaskan.
Setelah mendengarkan penjelasan Marco barulah Raisa setuju untuk ikut dengan syarat Lili juga ikut pergi mendampinginya.
“Raisa sungguh beruntung, siapa orang kaya yang dibantunya. Pasti dia akan mendapatkan imbalan besar”
“Benar juga, melihat mobilnya sangat mahal tidak mungkin jika orang yang ditolongnya tak memberikan ucapan terimakasih yang sepadan kepadanya”, semua murid yang melihat dan mendengar percakapan Raisa dan Marco mulai menyuarakan apa yang mereka pikirkan dalam benak mereka masing-masing.
Bisik–bisik tentang Raisa pun terdengar ditelinga Laura yang sedang menunggu jemputan didepan gerbang sekolah.
Meski dia tak mendengar secara langsung, tapi melihat interaksi yang terjadi tak jauh dari tempatnya berdiri membuat darahnya mendidih karena merasa iri.
Bagaimana bisa gadis yang dia benci bisa seberuntung itu sedangkan dirinya malah ketiban sial pada malam itu.
“Brengsek kamu Raisa !!!”
“Lihat saja, kali ini aku akan benar–benar mencari cara untuk menghancurkanmu !!!”, batinnya penuh kebencian.
Sebenarnya banyak pertanyaan muncul dalam benak Lili, tapi melihat sahabatnya duduk terdiam diapun mengurungkan niatnya untuk bertanya sekarang dan berencana akan menginterogasi Raisa setelah kembali nanti.
Begitu tiba dirumah sakit, Marco segera membawa keduanya pergi keruang rawat Alexander yang sudah menunggu kedatangannya dengan cemas karena asistennya itu sudah pergi cukup lama dan belum kembali.
Alexander takut Raisa tak ingin menemuinya, padahal saat ini banyak hal yang ingin dia bahas dengan gadis itu.
Ceklekkk
Begitu pintu terbuka dan sosok yang ditunggunya sedari tadi datang membuat Alexander tersenyum lega dalam hati.
Melihat jika Raisa tak datang sendiri, Alexander pun segera mengkode Marco untuk pergi teman Raisa sebentar agar dirinya bisa berbicara empat mata dengan gadis penyelamatnya itu.
Lili yang pada awalnya sedikit binggung ketika Marco mengajaknya mencari minuman di kantin rumah sakit pada akhirnya mengikuti langkah lelaki paruh baya itu ketika melihat tatapan tajam Alexander kepadanya.
Begitu mereka hanya berdua, Raisa pun segera memecah kesunyian dalam ruangan dengan berbicara lebih dulu kepada Alexander.
“Apa yang anda inginkan tuan Alexander, langsung saja karena saya masih banyak agenda hari ini”, ucap Raisa lugas.
Bukannya Raisa sok sibuk hanya saja hari ini dia sudah berjanji kepada ibunya untuk membantu dirumah makan sambil membantu memasak beberapa menu yang Raisa tahu akan booming dimasa depan.
Karena Reliana tak familier dengan bahan–bahan yang Raisa sebutkan maka diapun ingin anaknya itu mengajarinya agar dia bisa memasaknya sendiri nanti kedepannya.
Alexander yang mendengar keterusterangan Raisa tak lagi terkejut karena Raymond juga seperti itu kepadanya, langsung bicara to the point.
“Baiklah. Karena nona Raisa tampaknya sangat sibuk maka saya akan langsung bicara pada poin intinya saja”
“Terimakasih atas bantuan anda malam itu, jika tidak ada anda mungkin nyawa saya sudah melayang”
“Dan sebagai ucapan terimakasih saya ingin menawarkan sebuah kesepakatan dengan anda karena menurut saja mengganti biaya saja tidak cukup untuk membalas budi ini”, ucap Alexander tulus.
Raisa cukup terkejut mendengar jika Alexander ingin menawarkan sebuah kesepakatan dengannya.
Hal yang sedari awal ingin dia minta sebagai balasan dari pertolongan yang diberikan malam kemarin.
Meski terkejut dan merasa senang, tapi Raisa tetap menampilkan wajah datar dan tenang dipermukaan sehingga hal itu menjadi nilai plus dimata Alexander.
“Kesepakatan apa yang ingin anda tawarkan ?”, tanya Raisa to the point.
“Bekerjalah padaku"
"Aku membutuhkan seseorang yang bisa membuat keamanan berlapis pada perusahaanku dan aku yakin kamu mampu melakukannya"
"Karena bekerja menggunakan teknologi maka kamu tak perlu datang kekantor setiap hari. Cukup pantau dari rumah dan laporkan padaku jika ada hal yang mencurigakan"
"Bukan hanya akan memberikan gaji besar kepadamu tiap bulan, aku juga akan membantumu menyelidiki mengenai masa lalu ayahmu serta memberikan informasi apapun yang kamu butuhkan mengenai keluarga Wu”, ucap Alexander tepat sasaran.
“Anda mematai–matai saya”, ucap Raisa tak senang.
Melihat gadis dihadapannya sedikit tersinggung, Alexander pun menjelaskan agar tak ada kesalahpahaman diantara mereka.
“Masa lalu ayahmu tak sederhana begitu juga dengan keluarga Wu. Tanpa aku, kamu tak akan bisa mendapatkan apapun meski kamu bisa membobol data mereka dengan mudah”, ucap Alexander telak.
Wajah Raisa semakin gelap melihat bagaimana dengan entengnya Alexander mengulitinya, membuka tabir rahasianya dengan santai.
Melihat perubahan ekpresi Raisa, Alexander masih dengan santainya berkata “Pikirkanlah dulu penawaranku. Aku percaya kamu bukanlah gadis yang implusif sehingga menolak manfaat yang kuberikan padamu”
Melihat sikap tenang yang ditunjukkan Alexander membuat Raisa memasang sikap waspada karena menurutnya laki–laki yang ada dihadapannya ini cukup berbahaya.
“Saya kan memberikan kepada Marco rincian biaya rumah sakit dan nomor rekening. Jika tak ada hal yang lain saya pamit undur diri”, ucap Raisa tegas.
Sudut bibir Alexander tertarik keatas begitu tubuh mungil Raisa menghilang dibalik pintu sambil berguman pelan “Menarik”
raisa msh 14 thn.. pentilnya aja bru numbuh ya ampunn
klo othor dr aqal jodohin sama alex knp di bkn umurnya sangat tuir.. 34 gilakk.. 25 aja pdhal.