NovelToon NovelToon
Asphyxia

Asphyxia

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Sci-Fi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Chicklit / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: xrubberbandx

“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”

“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."


genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY

tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE


[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?

"We get dirty so the world stays clean."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Reset

Kaló tengah menunggu seseorang di seberang sana untuk mengangkat panggilannya, mendengarkan bunyi 'tut' dengan kesabaran di ujung tanduk.

"Bos?"

"Ada apa?"

"Misi malam ini harus dibatalkan, tolong kabari Juni. Kami akan tiba di rumahmu dalam lima belas menit. Noro terluka parah."

Tersisip jeda, "... oke."

Panggilan terputus, Kaló menjejalkan ponselnya ke saku jeans. Mata sipitnya tertuju pada Zeze yang sedang duduk membelakanginya sambil berpeluk lutut, menyimak wajah damai Norofi yang terlelap di atas tanah dengan sebuah jaket denim dibentangkan di atas tubuhnya.

Menoleh ke kanan, Kaló menemukan Rhea yang tengah beristirahat, bersandar pada sebatang pohon dengan kedua kaki terulur ke depan dan mata dipejamkan. Jeans hitamnya koyak di lutut, sementara hoodie yang seharusnya putih menjadi bercak cokelat muda.

Kaló berdecak tak suka melihat penampilan kedua gadis itu. Seharusnya ia datang lebih awal. Seharusnya ia bisa mengantisipasi semua hal sebelum terjadi. Apa yang telah ia lakukan!? Ia membiarkan keluarganya berjuang melawan monster itu sendirian!

Ck, dasar tidak berguna, rutuknya pada diri sendiri.

Kaló berjongkok di sisi Norofi, membawa tubuh lemahnya di atas punggung. "Kita naik taksi," usulannya dibalas anggukan lemah oleh Zeze.

Usai mengenakan kembali jaketnya, Zeze membangunkan Rhea, merasa kasihan terhadapnya yang kelelahan sehabis menggunakan kemampuan spesialnya untuk mengobati Norofi mati-matian.

Dua puluh menit kemudian, akhirnya mereka berdiri di depan sepasang gerbang baja besar dengan patung burung hering bertengger di sisi atas kanan dan kirinya.

"Kau baik-baik saja?" Kaló menatap bekas sapuan darah di bawah hidung Zeze. Antoni Barier pasti terlalu berlebihan untuk ditanganinya seorang diri.

Zeze hanya mengangguk, mengusap hidungnya. Ibu jarinya menyentuh tombol hologram yang tiba-tiba muncul di dinding gerbang saat mendeteksi seseorang mendekat. Sedetik kemudian, tubuh mereka dipindai oleh cahaya merah. Lalu gerbang pun terbuka lebar, menyajikan jalan beraspal yang berujung di sebuah pekarangan mansion bergaya neoklasik. Dinding-dindingnya mengkilap, berwarna merah tua beraksen oranye dan cokelat terang, seolah baru dicat untuk menutupi warna membosankan yang selama berpuluh-puluh tahun menjadi identitasnya. Di tengah pekarangan terdapat dinding tumbuhan yang mengitari sebuah kolam ikan beku dengan patung berwarna emas.

Mereka berjalan di atas tanah yang telah dijajah salju setinggi mata kaki, seakan rumah sebesar itu tidak memiliki pengurus. Semakin dekat dengan mansion, semakin jelas terlihat visual seorang lelaki muda berambut pirang cerah yang tengah menyandar di dinding tumbuhan. Dia mengenakan kaus merah gelap berlengan pendek yang dipadukan dengan ripped jeans biru meskipun suhu di luar sedang berada di titik terendah.

"Lewat sini." Ia berjalan memimpin rombongan menuju sebuah pintu cokelat kecil yang terpatri di sisi samping mansion. Pintu dibuka dan tampilah secuil ruangan berisi satu sofa panjang dan dua set sofa single yang saling berhadapan, dipisahkan dengan sebuah meja kaca di bagian tengah. Lukisan abstrak aneh dan menyeramkan menjajah nyaris seluruh permukaan dindingnya yang terbuat dari batu. Tak lupa pula dengan guci-guci dan keramik yang mendiami ceruk-ceruk di tembok. Tebakan Zeze adalah gudang, atau mungkin museum koleksi pribadi.

Setelah membaringkan tubuh Norofi di atas sofa panjang, Kaló merosot duduk di lantai yang dilapisi bentangan karpet hitam.

"Kai, ini gawat. Entah bagaimana pria itu bisa mengetahui rencana kita," Rhea mulai mengungkapkan masalah yang mereka hadapi setelah mengambil duduk di lantai, bersandar pada kaki sofa, membelakangi kepala Norofi.

"Apakah pergerakan kita terlalu mudah dibaca?" Tukas Kaló, memandang Kai tak kalah serius. "Yang lain baik-baik saja dengan misi mereka masing-masing."

"Apa kau lupa bahwa sekarang kita sedang berada di Aplistia?" Rhea membela Kai. "Harus kau ingat, bergerak di sini tidak semudah di tempat lain."

"Setuju," Zeze, yang sejak datang berdiri memunggungi orang-orang, ikut berpihak membela Kai. Ia menghadap ke dinding, mencoba mengagumi lukisan yang ia tidak paham makna di baliknya.

"Belajar dari kasus-kasus sebelumnya," katanya. "Insiden lima tahun lalu berakhir dengan kekacauan; kita kehilangan Afrodi sesudah Tera. Pada misi pembersihan Walikota Madora, kekuatan Kak Rhea berhasil mencegah Mia dari mengalami trauma otak permanen. Beruntung pada saat penyerangan itu terjadi, prioritas para Ipotis tingkat tinggi tengah mengarah ke hal lain, yakni Pertemuan Tahunan Bangsawan. Dan untuk penyerangan pada pertemuan tahunan tersebut, Kak Leah ada bersama kita. Sangat membantu—seperti yang diharapkan dari attacker terbaik kita—dia berhasil menahan Antoni sampai Juni selesai membereskan target, meskipun dia mengoleksi banyak luka memar setelahnya.

"Untuk penyerangan ke kediaman Arwin Laktisma dua tahun silam, Raja sendiri yang memimpin, sehingga tidak mengherankan bila berjalan dengan mulus. Raja bahkan berhasil menyingkirkan Ueva Irdante, yang notabenenya selalu disandingkan dengan Antoni Barier. Dan perlukah kita membahas insiden satu tahun lalu di kaki Gunung Gorgon?"

Semua terdiam. Tidak ada yang mau mengenang itu meski masih terasa segar di ingatan. Hari dimana Sageta tiada.

Zeze lalu melanjutkan, "Kakiku terluka pasca penyerangan ke kediaman Earl Swarovske beberapa waktu lalu, tidak sampai perlu amputasi, tapi tetap saja menyakitkan untuk berjalan selama seminggu. Kami beruntung karena keluarga itu tidak memiliki prajurit pribadi. Mengingat itu adalah serangan mendadak, para Ipotis yang muncul hanya yang berpangkat rendah—kemungkinan dikirim hanya karena post mereka yang paling dekat dari TKP. Juni dan aku berhasil kabur sebelum para pangkat tinggi menyusul."

Kemudian, Zeze teringat akan faktor tersembunyi yang menjadi penyebab keberhasilan misi-misinya. Dan sisanya beres berkat Kion, batinnya. Harus kuakui, semenjak bersekutu dengan Kion, aku mampu memperoleh informasi yang sebelumnya sulit diperoleh.

Zeze melanjutkan setelah berdeham, "Kalian harus mengakuinya, tempat ini berada di level yang berbeda jika menyangkut pengguna dýnami. Ilmuan penemu energi itu berasal dari sini lagipula. Tidak menutup kemungkinan tempat ini menyembunyikan banyak hal, dan hanya membagi sedikit kepada dunia yang masih memulihkan diri dari dampak perang. Mungkin mereka ingin mengembalikan bangsa Yunani ke masa kejayaannya."

"Kakimu," Kaló menatap kaki Zeze, ia terlihat cemas, "Bagaimana keadaannya sekarang?"

"Mustahil aku selamat melawan Antoni jika masih sakit," Zeze mengangkat bahu, berusaha menunjukkan sikap enteng agar keluarganya tidak khawatir.

"Tunggu," kata Rhea, "kau menyebutkan soal pangkat tadi."

"Kau tidak melihat informasi yang Zeze kirim sepulangnya kita dari restoran Jepang?" Kaló menaikkan sebelah alis padanya.

"Seingatku itu hanya untukmu?" Rhea berpaling ke Zeze, "Artinya kau sudah melengkapi informasi tentang hierarki mereka?"

"Berdasarkan informasi yang kudapat dari... seorang informan," wajah Kion melintas dan Zeze segera mengusirnya, "Mereka berbeda dengan legiun militer yang dimiliki keluarga bangsawan. Mereka ini adalah badan independen yang bergerak langsung di bawah komando Raja dan Ratu Aplistia ketika masih berkuasa. Sampai sekarang mereka masih memiliki independensi itu, yang membuat mereka tidak terikat dengan suatu kepentingan jika itu tidak menyangkut keamanan negri. Dipimpin oleh seorang Komandan Besar yang merupakan kepala keluarga marquess dalam periode tertentu. Dua periode berturut-turut masih dipegang oleh keluarga Barier. Aku tidak paham bagaimana mereka menunjuk pimpinan. Mungkinkah melalui voting? Entahlah, ini urusan di antara mereka. Raja-raja terdahulu mempercayakan penilaian kepada para marquess untuk memilih yang terbaik dari yang terbaik. Pangkat tertinggi Ipotis adalah Cheimazo, atau yang biasa dikenal dengan Penyidik Spesial. Antoni Barier adalah salah satunya, Bintang Tiga. Di bawahnya secara berurutan adalah Bintang Dua Afeith, Bintang Satu Zertais, dan terakhir Bulan Sabit Gafeus. Setiap pangkat ada level turunannya lagi. Tidak ada ketentuan umur dan asal keluarga untuk pelantikan pangkat tertentu. Keputusan diambil berdasarkan pencapaian dan kemampuan di lapangan. Kau dapat membedakan mereka melalui semacam logam berwarna silver berbentuk huruf C yang diselipkan di belakang telinga mereka dan bisa menyala. Punya Antoni berwarna merah. Afeith biru, Zertais hijau, Gafeus kuning. Aku masih belum bisa mengatakan secara persis apa fungsi dari alat ini."

"Siapapun informanmu itu, dia benar-benar sakti! Aku bahkan tidak bisa mendapatkan apapun dari ruang kerja ayahku," Kaló berdecak kagum.

"Jadi sekarang kita bisa memperkirakan dengan siapa kita berhadapan," Rhea mengangguk bangga kepada Zeze, "Cocok dijadikan indikator untuk mengukur kemampuan kita."

Suara hela napas seorang lelaki terdengar dari balik punggung Zeze, diikuti dengan ucapan, "Tidak heran bila Aplistia dinobatkan sebagai negara dengan kekuatan militer terbaik abad ini."

Zeze menoleh ke belakang, kepada Kai yang sedang duduk di pangkuan single sofa. Sebelah alisnya terangkat ketika dia menggoda lelaki itu, "Apa kau takut?"

Kai balas melirik. Dua pasang mata berwarna biru mengunci satu sama lain. Belum berjalan lima detik, Zeze telah mendobrak sunyi di antara mereka dengan tawa. Kai hanya menghela napas, tahu adiknya mustahil bersikap serius terlalu lama di hadapan orang-orang terdekatnya.

"Misi kali ini tidak sesederhana ekspektasiku," Kaló mendesah frustrasi, "Hanya dengan kita bertujuh tidak akan berhasil. Percaya padaku, cepat atau lambat kita akan berhenti di tengah jalan. Seharusnya memang para 'Penjaga Gerbang' saja yang melakukannya."

"Kau bicara apa? Memangnya apa menurutmu alasan Raja memilih kita bertujuh untuk menggantikan para 'Penjaga Gerbang'?" Kening Rhea berkerut pada Kaló. "Justru karena itu kita, misi ini memiliki probabilitas keberhasilan lebih besar dibanding jika dilakukan oleh para 'Penjaga Gerbang'."

Zeze mengangguk setuju. Lagipula, dirinyalah yang telah mengusulkan perombakan anggota tim kepada rajanya. Ia menuju sofa single di hadapan Kai dan mendudukinya.

"Baiklah, baiklah. Ngomong-ngomong, Bos, bagaimana dengan penyerahan gelarnya?" Kaló bertanya kepada Kai.

Kai menyilangkan kaki saat berkata, "Tanggalnya belum ditetapkan."

"Seharusnya tidak dalam waktu dekat," ucap Rhea. "Baru berjalan setengah tahun sejak wafatnya Duke Arthares. Apalagi Kai baru menginjak usia 18 tahun."

"Tidak," sanggah Kai, "Aku memiliki rencana. Gelar itu akan aku serahkan kepada adik dari ayahku untuk sementara waktu. Dia yang telah mengisi kekosongan jabatan selama setengah tahun ini."

"Maksudmu, menciptakan boneka?" Tebak Zeze, menatap Kai dengan sebelah alis terangkat.

Kai menatap balik Zeze saat menganggukkan kepalanya.

Zeze bergumam, "Aku sempat bertanya-tanya mengapa waktu itu kau membunuh ayahmu sendiri. Sekarang terjawab. Hei, ayo pesan makanan. Aku lapar."

"Jadi, kau bermaksud menghilangkan titel Duke dari keluarga intimu? Apakah setelah penobatan, kita bertujuh akan bebas berinteraksi di tempat terbuka?" Kaló bertanya untuk memastikan; Kai mengangguk.

"Baiklah, kurasa kita sekarang sepakat untuk tidak lagi mempermasalahkan siapa yang menggantikan siapa, karena keputusan Raja bukanlah permainan dadu, dia memilih kita dengan alasan yang jelas. Dan jangan lupa, leader kita kali ini adalah Ares, 'dewa perang'-nya Énkavma," kata Rhea sambil melirik Kai penuh arti.

"Tidak adakah yang ingin memesankanku makanan?"

"Kau tidak akan pernah diam sampai keinginanmu terkabul, bukan begitu? Ini," Rhea menyodorkan ponselnya ke Zeze, yang menerimanya sambil nyengir. "Pesan makanan berporsi besar agar bisa dibagi-bagi," titah Rhea.

"Roger!"

“Ngomong-ngomong, soal Hexa Andromeda... apakah kita akan tetap mengurusnya?” Kaló bertanya kepada Kai, suaranya yang diliputi keraguan nyaris berupa bisikan.

"Mempergunakan kesempatan," Kai mendesah, semakin memendam punggungnya ke sofa, "Tidak perlu terburu-buru, yang penting berproses. Aku akan mencari waktu yang tepat. Akan kita bahas lebih lanjut di meja makan."

"Wanita itu seperti ensiklopedia berjalan. Aku penasaran seberapa banyak fakta yang akan terungkap olehnya jika dia tidak mati," gumam Kalo.

Pintu terbuka mendadak, menampilkan wujud seorang gadis berambut panjang tanpa poni yang sedang terengah di ambang pintu. Serbuk putih yang menumpuk di puncak kepalanya terlihat kontras dengan rambutnya yang gelap. Pakaiannya adalah sebuah long coat dengan warna senada rambutnya dan dipadukan dengan celana legging berwarna ungu gelap.

"A... apa... apa yang terjadi!?" Tuntutnya. Kecemasan terangkum di wajahnya yang tirus.

"Tenanglah, Juni." Suara lembut Rhea membuai lubang telinganya.

Juni mengambil napas panjang dan membuangnya perlahan. Ia lakukan itu berulang-ulang sampai tempo jantungnya melambat. Begitu tatapannya menemukan Norofi yang terbaring di sofa, sorot mata Juni langsung menggelap. "Noro..."

"Si Antoni sialan itu pelakunya," Kaló menggeram dengan tangan terkepal di atas paha.

Juni menyapukan pandangan ke arah teman-temannya, mencoba menemukan apakah ada lagi yang terluka. Matanya terpaku di lengan kanan Zeze, terdapat noda merah yang kontras dengan serat biru di jaket denimnya.

"Ze, tanganmu...."

Zeze mengangkat tangan yang dimaksud dan menggoyang-goyangkannya, "Baik seperti baru." Ia melirik penuh makna ke arah Rhea.

Akhirnya Juni dapat benar-benar menghela napas lega. Berjalan mendekati mereka, high heels-nya menimbulkan gema. Dia berhenti di dekat Zeze dan menduduki lengan sofa yang ditempati Zeze.

"Ngomong-ngomong soal Antoni Barier—" Zeze memulai, membuka ikatan rambutnya yang berantakan dan membiarkannya mengalir ke pinggang, "—ada hal penting yang hendak kuberitahukan kepada kalian."

Punggung keempat orang itu kompak menegak. Mereka paham apabila Artemis telah berbicara seperti itu, pastinya hal itu benar-benar penting.

"Aku menyadari ini setelah bertarung satu lawan satu dengannya."

Mata Juni melebar mendengarnya. Juni sering mendengar kebolehan Zeze dari mulut yang berbeda. Dia memiliki kemampuan refleks yang bagus dan kreatif dalam bertarung. Hasil yang sepadan berkat latihan ilmu bela diri dan pengendalian dýnami sejak berumur 9 tahun.

"Kuyakin Kak Rhea dan Kak Leah melihat fenomena ini dari sudut pandang yang berbeda. Itu wajar karena kecepatan pria itu memang tidak manusiawi. Tapi aku berhasil menemukan kesimpulan yang lebih akurat."

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Semua mata di kantin indoor lantai satu terbelalak saat menemukan tiga penghuni tambahan di meja keramat, sementara suasana canggung dirasakan oleh para penghuni lama meja tersebut. Beda halnya dengan Zeze yang justru semakin bersemangat semenjak Obi, Juni, dan Rhea bergabung dengannya. Akhirnya harapannya terkabul, kini ia memiliki teman ngobrol!

"Kau makan banyak kali ini," komentar Airo yang duduk di sebelah kiri Zeze.

"Wajahku meningkatkan nafsu makanmu, bukan begitu?" Juni mengerling penuh arti pada Zeze.

"Yah, hingga membuatku ingin memakannya juga," balas Zeze dengan mulut penuh pancake. "Ah, dia Junigra ngomong-ngomong," Zeze menjelaskan kepada Airo yang sejak tadi memperhatikan. "Bukankah namanya terdengar keren?"

Airo menatap Juni yang duduk di hadapan Zeze dengan ekspresi rumit, kemudian berkomentar, "Aku sudah pernah mendengar tentangnya."

"Kau dengar itu? Kau terkenal!" seru Zeze dengan kesan meledek, sementara Juni hanya memutar bola mata, seakan tahu apa yang akan terjadi setelahnya.

"Well, siapa pula yang tidak mengenal pel*cur terbaik di Exousia?"

Begitu kalimat itu terucap dari mulut Zeze, semua orang di meja kompak tersedak.

Juni berdecak dengan mata terpejam, "Jangan memancingku, Rozeale."

"Bukankah itu panggilan kesayangan yang mereka berikan untukmu?"

"Setidaknya aku tahu aku bukan seorang 'anak haram'," Juni menjulurkan lidahnya.

Orang-orang di meja saling pandang, terkecuali Kion yang terperangkap dalam bukunya, Froura yang fokus menyantap makanan, serta Obi dan Rhea yang sudah kebal terhadap cekcok kekanakan kedua teman mereka.

Tak dipungkiri adegan antara dua orang manusia yang saling melempar ejekan itu adalah pemandangan langka bagi mereka, apalagi tak ada satu pun yang menunjukkan ketersinggungan. Terlebih lagi, putri semata wayang Earl Mavros itu baru saja menghina Putri Ankhatia! Bukankah itu termasuk pelanggaran undang-undang penghinaan terhadap keluarga kerajaan?

"Lumayan," Zeze tampak mengapresiasi hinaan Juni. "Ah, baiklah, saatnya berkenalan. Di sini kita punya Lady Rheanes, dan ini adalah Tuan Robian."

"Aku suka itu," Obi nyengir, "Tuan Robian... Entah mengapa itu terdengar seksi."

"Tolong panggil kami dengan nama panggilan kami; aku Rhea, dan dia Obi," Rhea tersenyum.

Kemudian Zeze menyapukan pandangan ke orang-orang di sebelah kirinya. "Lelaki berambut emas di sampingku ini adalah Tuan Airo, gamer terburuk sepanjang masa."

"Itu karena gear-nya rusak!" Airo memprotes.

Zeze mengabaikannya dan beralih ke Saga yang duduk di sebelah Juni. "Dia adalah Tuan Suga—"

"Saga," ralat Saga sambil mendengus.

"—yang mahir dalam menggunakan gear yang katanya rusak itu." Zeze menekankan kata 'rusak' sambil melirik Airo. "Lalu, yang berambut hitam di ujung sana adalah Tuan Driko. Aku tidak tahu banyak tentangnya, tapi dia tampaknya sangat akrab dengan Obi. Jadi, yang penasaran tentangnya bisa langsung menghubungi Obi."

Driko dan Obi saling pandang, tahu Zeze tengah berbohong tapi tidak mengerti alasan di baliknya. Zeze bergegas menghindari tatapan kedua orang itu dengan melanjutkan acara perkenalan, "Di hadapan Tuan Driko adalah Lady Volta, dia orang terjujur yang pernah kutemui."

Melihat Zeze tersenyum kepadanya, Volta seketika tercekat. Pengalaman pertamanya dihadiahi senyuman malaikat oleh Putri Rozeale. Volta menunduk kepadanya, "Sebuah kehormatan bagi saya, Yang Mulia."

"Lalu, gadis di samping Tuan Driko adalah Lady Froura. Well, tidak banyak yang bisa kukatakan tentangnya, tapi menurutku dia adalah orang yang baik."

Froura sama sekali tidak bereaksi saat Rhea tersenyum padanya. Dia sangat diam.

"Lady berambut pirang di antara Lady Froura dan Tuan Airo adalah Lady Luna Vierhent. Aku tidak banyak bicara dengannya, karena kurasa dia tidak ingin berbicara denganku."

Kalimat terakhir itu terlalu mengejutkan untuk Luna sehingga membuatnya hampir tersedak. Ia tidak pernah menyangka Zeze berani menyinggung hal sensitif di meja makan. "Itu—"

"Setiap orang berhak untuk tidak menyukai sesuatu, karena pada dasarnya kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kau pun termasuk." Zeze menyela, terdengar tidak terlalu peduli.

Luna yang merasa canggung memilih menyantap makanannya lagi dengan kepala tertunduk; Rhea menatapnya prihatin dan gatal sekali ingin mengomeli adiknya itu.

"Kau melewatkan seseorang, Ze," kata Obi. Lelaki bertopi hitam yang duduk di hadapan Rhea itu berusaha menahan senyum yang pada akhirnya terukir di bibir.

"Haruskah aku memperkenalkannya kepada kalian? Aku yakin kalian pasti sudah mengenalnya."

Juni mengangguk, "Tentu saja! Aku sama sekali tidak tahu siapa lelaki yang luar biasa tampan itu!" Ia menoleh pada Rhea, "Kau bagaimana?"

Rhea menggeleng dengan senyum tertahan, "Aku juga tidak tahu."

"Ayolah, Ze. Aku sangat penasaran sampai rasanya mau mati," desak Obi dramatis.

Zeze menusuk Obi dengan tatapan sengitnya. "Ck, kalau begitu mati saja sana!"

"Jangan mati. Apa kau tega membuat Charlotte sedih?" kekeh Juni.

"Haruskah kau membawa namanya di setiap topik tentangku?" Sergah Obi, jengkel.

Juni terkikik sebelum kembali menggoda Zeze, "Aku penasaran ada apa dengan lelaki itu? Sampai-sampai adik kita yang manis ini menolak untuk memperkenalkannya kepada kita."

Rhea melirik Zeze dan berkata, "Aku juga penasaran."

Zeze mendengus kasar, tanda bahwa ia telah menyerah terhadap godaan ketiga setan di dekatnya. Berdeham, ia menjatuhkan pandangan saat berbicara dalam satu tarikan napas, "Dia Kion, sepupuku."

"Cuma itu?" Obi menuntut dengan sebelah alis terangkat.

Zeze mendelik padanya, "Ya, cuma itu! Apa yang kau harapkan?"

Juni meletakkan alat makannya. "Rhea, Obi, sayang sekali kita berhalangan hadir di pesta ulang tahun Pangeran dua minggu lalu. Kudengar pangeran itu berdansa dengan seorang putri. Sayang sekali kita melewatkan pemandangan itu," sesalnya dengan nada murung yang dibuat-buat.

"Aku penasaran apakah putri itu menginjak kaki sang Pangeran?" timpal Rhea.

Akhirnya meja itu dipenuhi gelak tawa. Suasana canggung menjadi hidup berkat pengorbanan Zeze sebagai bahan lelucon.

Akan tetapi, rupanya perubahan suasana tak cukup untuk menegakkan kepala Luna. Suara tawa itu membuatnya pening. Bagaimana mereka bisa tertawa selepas itu sedangkan dirinya tidak? Mengapa mereka bisa sebebas itu? Benar, 'bebas'. Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sejak kecil, dan mungkin tidak akan pernah.

Tawa kecil seseorang menyusupi ratapan Luna. Ia mengangkat wajah dan membeku, terkejut saat menemukan bahwa sumber tawa itu adalah Kion yang tatapannya masih belum meninggalkan buku.

Mata Luna melebar. Bukan sekedar untuk memenuhi kesantunan seperti biasa, itu adalah sejenis tawa yang jarang sekali diperlihatkannya kepada dunia. Driko adalah orang yang sering kali Luna lihat berhasil membangkitkan tawa itu dari lubuk hati sang Pangeran. Harus Luna akui, akhir-akhir ini Kion memang lebih sering tertawa. Seperti halnya di pesta ulang tahunnya kemarin, sering kali Luna memergoki Kion sedang terkekeh tanpa sebab. Mungkinkah semua terjadi semenjak gadis itu datang? Atau Luna hanya berimajinasi?

Cahaya di mata Luna meredup. Kenapa kau tidak pernah menunjukkan senyum dan tawa itu kepadaku?

"Senang bertemu dengan kalian," ungkap Rhea dengan senyum ramah, terutama ke Luna yang langsung memalingkan pandangan. "Terima kasih karena sudah menjaga Zeze. Aku tahu dia sedikit merepotkan."

"Ngomong-ngomong, kalian sepertinya cukup akrab. Itu mengejutkan, sungguh," celetuk Juni dengan kasual.

"Mungkin karena kami berbagi hobi yang sama?" Airo menyeringai penuh arti kepada Zeze, Saga, dan Obi.

Zeze mengangkat bahu, "Airo dan Saga ternyata juga merupakan seorang player di sebuah game yang aku dan Obi mainkan. Kami sering membentuk party bersama, well, meskipun,” mata birunya melirik lelaki berambut emas di sebelah kirinya, “sebenarnya ada sedikit hambatan di sini.”

"Sudah kubilang gear-ku rusak!" Bantah Airo, tidak terima.

"Omong kosong, kita telah berkali-kali bertukar gear namun kau tetap saja mengatakan hal yang sama."

Percakapan mengalir bagaikan air. Topik yang satu merambat ke topik yang lain. Terus berlanjut hingga mereka mulai dapat saling mengenal pribadi satu sama lain. Rhea sepertinya memfokuskan seluruh perhatiannya untuk memperbaiki suasana hati Luna; ia terus mengajaknya bicara. Awalnya Luna menanggapinya dengan setengah hati, menjawab singkat-singkat, tapi pada akhirnya ia luluh setelah merasakan upaya yang diberikan Rhea hanya untuk membuatnya merasa lebih baik.

Keempat orang itu membawa warna baru ke waktu istirahat mereka, dan semua mengakuinya. Itu adalah pengalaman pertama mereka mengobrol dengan lepas di tempat ramai, tanpa dibebani reputasi dan semacamnya.

Kejutan juga dirasakan oleh Juni dan Rhea. Terutama Juni. Ternyata orang-orang kelas atas yang selalu Juni lihat dari jauh itu tidak seburuk prasangkanya. Dengan dialog, mereka mendapat kesempatan untuk saling berbagi sudut pandang.

Kesibukan kantin teredam oleh gelak tawa dari meja 'keramat'. Tak ada yang dapat menyangkal fakta bahwa meja yang biasanya memancarkan kepriayian tersebut menjadi lebih lepas dan hidup semenjak kedatangan Zeze dan kawan-kawannya.

Saat sedang terbahak oleh lelucon yang dilontarkan Volta, ekor mata Juni mendadak menangkap sosok Kai yang berjalan memasuki kantin diikuti Kaló dan lima siswa lain di belakangnya.

Mata mereka bertemu dan tawa Juni seketika punah. Kai mengambil persinggahan di sudut ruangan, agak jauh dari meja yang ditempati Juni. Namun tatapan mereka masih enggan untuk saling melepaskan bahkan meski jarak telah memburamkan pandangan mereka.

Tiba-tiba Juni teringat dengan rencana Kai tadi malam. “Tidak hanya Obi,” kata Kai, “Juni dan Rhea juga akan berperan sebagai orang yang berteman baik dengan Putri Rozeale Ankhatia. Dengan begitu, otomatis ketiganya akan dipandang dekat dengan kelompok Pangeran Mahkota. Aku akan menyusul setelah urusan penyerahan gelar duke kepada pamanku selesai. Sampai saat itu, Roze dan aku adalah orang asing untuk satu sama lain. Kalian pasti bertanya-tanya mengapa tiba-tiba aku mengubah strategi. Ini penting agar Roze tidak dicurigai saat hendak berkomunikasi dengan kita dalam urusan mendadak. Karena sebagai tunangan Pangeran Mahkota, aku yakin Dewan pasti sudah mulai menempatkan mata yang akan selalu sedia mengawasi gerak-geriknya. Jadi lebih baik merancang skenario bahwa kalian telah berteman dekat. Selain itu, Antoni Barier sudah mengendus keberadaan bukan hanya Artemis dan Aphrodite di Aplistia. Kita harus saling menjaga dan ekstra hati-hati. Bertindaklah seperti remaja pada umumnya."

"Lady Mavros, perlu bantuanku memilih gaun pengantin?"

Tawaran yang terkesan jahil itu melenyapkan fokusnya dari Kai. Juni mendelik kesal ke arah si pelaku, siapa lagi kalau bukan Zeze si usil.

"Kau mau kubunuh sekarang atau nanti?" Juni menudingkan pisau makannya ke arah Zeze.

"Jangan bertengkar di sini," Rhea melotot kepada mereka, "Jika kalian ingin saling bunuh, tunggu sampai Piala Musim Semi."

"Apa itu?" Tanya Zeze.

"Semacam turnamen," kata Rhea. "Kau bisa memanfaatkannya untuk mendongkrak nilai-nilai rapormu, pamer, memesona lawan jenis, pokoknya banyak hal."

"Kau akan habis di tanganku, Junigra."

"Aku belum pernah kalah darimu, jika kau lupa. Kita selalu berakhir seri. Dan sayangnya aku tidak akan mengambil perlombaan bertema pertarungan," Juni menjulurkan lidahnya.

"Takut, aku paham," Zeze bersedekap dengan tampang mengejek.

Begitu melihat sesosok lelaki yang sangat dikenalnya memasuki area kantin untuk pertama kali, humor yang sempat menguasai Zeze langsung menguap ke udara bebas. Apalagi saat Zeze mendapatinya tidak sendirian; di sisinya terdapat seorang gadis berambut cokelat, seorang gadis yang dulu pernah hampir mati di tangannya.

Mereka berdua duduk agak jauh dari meja kramat. Pada saat yang sama, sepasang mata hitam milik lelaki itu tertumbuk pada Zeze. Datar dan dingin, seperti biasa.

Sebagai balasan, Zeze tersenyum miring kepadanya.

"Kau lihat apa, Ze?" Tanya Rhea yang bingung melihat senyum anehnya.

Zeze menggeleng, tanpa melonggarkan senyum yang membingkai wajahnya, senyum pahit khas seseorang yang tengah dilanda patah hati.

1
Nu razizah
bener Thor nyari nyari ternyata gk ada lanjutannya
Chronos
lah tamat cuman sampai sini kah? gak ada lanjutannya gitu? gimana keadaan Rhea sama Norofi 😭
Chronos
Imphy?
Chronos
ada Indonesia coy
Chronos
oh jadi piper pied of hamelin itu mereferensikan organisasinya ya (nyulik anak-anak)?
Chronos
ada Indonesia coy
Azera
kapan update lagi kak lin, aku udah kangen banget sama zeze😭 udah berkali-kali aku lupa alur dan baca dari awal tapi belum ada updatenya lagi🥺
jeji hoha
kak kok gaada lanjutan,ini ceritanya masi gantung bgt. pliss lanjut
Nia Indawasih
kak lin ini novel dr tahun kapan si seingetku dr anakku belum ada sampe udah mau 5thn, dr pasang copot app nya 😂😂 gak kelar2
jeji hoha
thor,,,, ga update
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
Amethys: Samaaa, udh lumutan nih aku
total 1 replies
penyuka novel <3 :D
kak knapa g d lanjut bkin karya lain knp dri dlu cuma ada aspyxia ini?!
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
oceanad.
authornya suka bts kah?
Naturelight
kyaknya byk othor yg kcewa dg platform ini y
Nana Bee: betul
total 1 replies
Naturelight
1st love always fail in real life😟
Naturelight
pnsaran, Lin udh baca seri Red Queen blum y
Naturelight: iy, ad 4 buku, othorny Victoria Aveyard
total 4 replies
Alvia Maharani
thor.. uda setahun, ga mau update?
Alvia Maharani: lin, belum mau ada update??
total 3 replies
Naturelight
luv this story so much
brasa bca novel trjemahan
Naturelight
ap motif Glen?🤔
Naturelight
kyakny bkal ska ma ni crita, dh lama nyari² fanfic yg detail. smoga aj gk brenti d tengah jln
kika
bgus bgt thor karyanya...semangat thor...tpi jgn sampe lulus kuliah bru lanjut lagi update nya ya thor... wkwk...
L I N: makasih udah dukung kak 😺💕
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!